Jumat, 12 Februari 2010

Cintaku Menyeberangi Lautan Maluku











Cintaku jauh di seberang lautan.... melompati pulau-pulau..... melewati batas waktu......


Aku merindukanmu, dan ku tahu kau menungguku.... Aku ingin bersamamu, namun aku harus pergi untuk mencari pengetahuan tentang kehidupan. Aku berjanji, aku tidak akan meninggalkanmu selamanya......












Kirim seribu SMS padaku setiap hari, dari ladang atau tepian sungai.....

Sementara ku sedang terjebak macet di Jalan Sudirman atau terhimpit bis kota Jakarta, mencari kerja....

Kau tak tahu betapa ku mendamba indahnya kampung halaman kita, saat ku terpuruk di kamar sempit di kota metropolitan. Cinta tak punya ruang untuk kubawa ke sini....

Tanah pun tak cukup untuk pohon dan rumput. Sayangku, janganlah mencariku di sini.... karena aku akan pulang untukmu.....












di Dermaga Waipirit, tunggulah aku kan datang untukmu....

(Bandung-Jakarta-Ambon-Seram Bagian Barat. Des-2009).


Tersesat di Kalimantan

Suatu hari kampung itu diserbu. Karena mereka adalah kafir, liar, berdosa, dan harus disadarkan. Karena mereka primitif, tidak bisa dengan diajak bicara, terpaksa dengan cara keras. Mereka harus diislamkan. Kalau tidak mereka akan meneruskan upacara-upacara orang kafir. Menjadi kewajiban kita untuk menolong mereka dan anak keturunannya.

Mereka kemudian menghilang di balik gunung. Menjauh dari peradaban. Sekolah. Puskesmas. Dokter. Pasar. Dilupakan keberadaannya.

Sebuah gerbang yang tak terlihat. Pintu masuk yang jarang dimasuki orang luar kecuali yang tersesat. Jalan menuju ke sana tak nampak. Sungai yang primitif dinaungi goa yang panjang terbentuk dari tajuk-tajuk pohon dan akar-akarnya yang terjalin. Sebuah maha karya alam yang tak mungkin ditandingi manusia.

Semak belukar dan bunga-bunganya yang eksotik. Pohon-pohon rindang dan akar-akarnya yang gemulai dan kuat. Tebing-tebing dan batu hitam. Air jernih mengalir di sepanjang jalan setapak.

Kabut tebal turun dari gunung seperti mengulurkan tangan ke arah perkampungan yang asri. Apabila hujan sangat besar turun, sebuah danau raksasa terbentuk di kaki gunung itu dan meneggelamkan pepohonan di bawahnya.

Kabut membuat orang-orang kampung takut ladang padi dan jagungnya rebah karena kehilangan daya. Banjir menghantui. Gagal panen yang mengancam. Alam yang tak ramah. Angin yang jahat. Hujan badai yang tak kenal ampun.

Penduduk kampung itu punya cerita tentang orang-orang kafir di masa dulu. Orang-orang yang tak mengenal agama. Mereka tak pernah terlihat lagi. Mungkin sudah punah. Sebagian sudah membaur dengan warga kampung dan entitas asal mereka tak lagi ada.

***

Wajah-wajah yang ramah dan manis. Aku berada di tengah lingkaran manusia yang sedang duduk bercengkerama sambil menikmati kopi dan umbi-umbian yang baru direbus. Udara dingin tidaklah menghalangi kehangatan suasana.

Seseorang yang Berbahasa Indonesia, menerjemahkan ceritaku. Anak-anak memandang dengan wajah penuh perhatian. Seolah-olah melihat hal ajaib. Matanya terbelalak. Apalagi ketika kutunjukkan gambar-gambar dunia luar sana dari kamera dijitalku.

Perasaan ajaib yang sama kurasakan terhadap mereka. Masyarakat yang tidak mengenal listrik, TV, sekolah, dan dokter. Tidak mengenal kain buatan pabrik. Kain-kain tenun buatan para wanita itu sangat indah. Seperti lukisan dalam bentuk jalinan benang. Bebungaan, dedaunan, fauna, yang menonjol seperti ukiran di atas kain atau kulit hewan.

Pria-prianya berwajah tampan. Tubuhnya keras berotot. Atletis. Berkulit bening, mengkilap dan jernih. Kulitnya berhias indah dengan lukisan flora dan fauna. Bulu-bulu burung di atas topi anyaman dan tombak kayunya menjadikan kejantanan mereka indah dipandang. Mereka manusia-manusia penyuka keindahan yang tentunya berhati lembut.

Wanitanya cantik, berotot namun gemulai. Rambut hitam legam kontras dengan kulitnya yang bersih. Bayi-bayinya bulat dan bermata sipit. Tergantung di kantong anyaman yang membuatnya nyaman dalam kehangatan tubuh ibunya.

Bertelanjang kaki. Berdandan dengan perhiasan dari batu alam, kayu-kayuan, dan gigi hewan. Kecantikan yang membuatku terpana. Meskipun wajah mereka berbedak lumpur beras yang ditumbuk.

Anak-anaknya, lelaki dan perempuan memiliki kaki yang kokoh. Kecepatan berjalan di jalan-jalan setapak yang berbukit dan berlumpur saat hujan, sangat menakjubkan. Tertawa terkikik-kikik melihat aku bersusah payah berjalan dengan sepatu penuh tanah liat yang basah. Mereka meletakkan batu-batu berat agar aku bertumpu saat melangkah dan tidak tergelincir.

Sungguh berlimpah hidup mereka. Duku (langsat) yang sangat enak, manis-asam, setiap hari kunikmati. Lengkeng hutan yang bijinya besar, berkulit kasar dengan warna coklat kemerahan. Pisang yang tandannya luar biasa besar. Buah cempedak yang wangi dan buahnya kuning ranum diambil saat jatuh karena terlalu matang. Ikan segar yang diangkat dari sungai dan daging rusa segar. Umbi, beras ladang dan sayur yang lezat.

Hmmmmm. Aku tak mau melupakan rasa, wangi, warna, dan rupa yang tak akan lama menjadi milikku. Suara musik dan nyanyian terindah yang pernah singgah di gendang telingaku.

Aku menyesal tidak dilahirkan sebagai mereka. Kecantikan yang asli. Kebahagiaan yang murni. Alam mencintai mereka sepenuhnya dan melimpahi kehidupan mereka dengan semua yang dibutuhkan.

***

Akhirnya kami sampai di kampung setelah perjalanan yang sangat panjang. Melewati gunung, hutan, sungai, belukar, tebing.

Orang-orang kampung terkejut melihat wajah-wajah kami yang merah terbakar matahari. Baju yang berdebu. Baju yang dicuci, dijemur, dan dipakai tanpa tersentuh setrika. Ransel yang menjadi coklat oleh tanah.

Orang-orang kota yang aneh. Apa yang mereka cari di puncak gunung sana dan berminggu-minggu menghilang di balik hutan rimba. Mungkin itu yang ada di benak orang kampung. Cerita tentang orang-orang kafir yang tak mengenal agama di atas gunung itu, dan mungkin sudah punah, menjadi obrolan kami di malam hari.

Aku tidak berkata apa pun. Temanku tidak berkata apa-apa. Kami telah tersesat ke sebuah tempat yang sangat indah. Namun itu tak perlu diberitakan kepada orang-orang yang justru takut pada kemurniannya.

***

Sebuah Kenangan di Kota Dili

Beritakan pada orang-orang bahwa kami ingin kemerdekaan, katanya padaku. Aku baru saja menginjakan kaki di Kota Dili. Belum lagi mengenalnya kecuali bahwa dia dari sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Koran dan TV Indonesia itu bohong semua bila memberitakan bahwa kemerdekaan bukan kehendak rakyat Timor Timur tapi hanya keinginan segelintir pemberontak, lanjutnya. Aku memandang wajahnya yang “lokal”. Tipe tidak banyak bicara, tampan, dingin, dan teguh. Tatapan matanya sangat tajam dan dalam. Paulo da Silva namanya. Aku merasa bahwa dia orang baik. Aku merasa aman dengannya.

Aku tidak mengira begitu cepat bertemu seseorang yang berbicara hal seperti itu. Paulo menyampaikannya saat ia menyetir mobil yang menjemputku di Bandara Comoro dan meluncur menuju Hotel Tourismo. Bangunan hotel itu tua, peninggalan Portugis, menghadap langsung ke laut.

Jangan pergi kemana pun tanpa saya atau teman lain menyertai, katanya sambil menatapku dalam-dalam untuk meyakinkanku bahwa apa yang dikatakannya adalah serius. Pemberontak berbahaya untuk orang Jawa, dan mereka mungkin ada di jalan sana. Setiap kalimat yang keluar dari bibirnya begitu dingin, kata demi kata sepertinya penuh tekanan, sepertinya penting untuk kucamkan. Tetapi otakku mencernanya dengan susah payah. Tentara Indonesia juga berbahaya untuk orang luar, lanjutnya.

Setelah Paulo pergi, aku duduk di atas tempat tidurku.
Termangu-mangu sendirian.

Saat itu Tahun 1994.

***

Mereka bersahabat dan ramah. Kawan-kawan LSM yang berkumpul bersamaku. Aku tidak ditolak. Pelatihan berjalan menyenangkan dan penuh antusias. Saat istirahat minum kopi kami duduk berbincang dan mereka berkata kepadaku sama seperti apa yang disampaikan Paulo, bersahutan, saling menguatkan, menambahkan. Kalimat demi kalimat untuk meyakinkanku dan membuat aku –si Orang Jawa- mengerti.

Aku Orang Sunda. Kataku. Mereka tidak memperhatikan karena terlalu bersemangat memberiku pengetahuan ”untuk disampaikan kepada orang-orang yang ada di Jawa”. Karena yang disampaikan selama ini adalah berita palsu.

Selama 2 minggu aku di Dili, Paulo mengajak aku berkunjung ke beberapa kantor LSM. Sejumlah tokoh LSM di sana berwajah indo seperti Xanana Gusmao dan Jose Ramos Horta. Paulo da Silva –meskipun namanya menunjukkan dirinya berdarah campuran juga- memiliki wajah coklat tua orang Timor. Sangat ”lelaki” buatku.

***

Suatu sore, aku melangkahkan kaki ke luar kamar hotel. Menyeberangi jalan dan menginjakkan kaki dia atas pasir pantai di sepanjang jalan Kota Dili.

Aku sedang berjalan pelan ketika serombongan anak-anak melempariku dengan pasir. Pergi, Orang Jawa, anak-anak itu berteriak sambil melewatiku dan berlari menjauh. Dan kelompok orang-orang dewasa memandang tajam kepadaku dari kejauhan. Tersenyum mengejek dengan sorot mata membenci.

Aku menatap ke arah mereka dan berusaha tidak takut. Lalu aku melangkah pulang ke gerbang hotel dan masuk ke dalam.

Mataku berkaca-kaca. Oh, Indonesiaku.

***

Aku kembali ke Dili pada tahun 1995.

Kali ini aku mengalami perjalanan mencekam menuju ke sebuah desa pegunungan. Seperti kata Paulo, pemberontak berbahaya dan mereka bisa menghadang di jalan. Tentara pun berbahaya dan juga bisa menghadang di jalan. Begitulah perang.

Aku bertemu dengan tentara yang seluruh tubuhnya dipenuhi senjata seperti Rambo di base camp mereka. Mendengar suara berbahasa Sunda, aku pun buru-buru menyapa dan itu membuat mereka tercengang mendengarnya. Orang Sunda. Perempuan. Mereka memeriksa KTP kami. Sepertinya kesal padaku karena melakukan sesuatu yang tak seharusnya. Penelitian, kataku. Ketimbang menjelaskan berpanjang-panjang soal pekerjaan LSM developmentalis.

Gila, seorang perempuan dari Bandung ada di wilayah pemberontakan. Pasukan tentara itu rupanya berasal dari Gegerkalong Bandung. Berhati-hatilah, kata seorang tentara padaku. Tatapan wajahnya sepertinya menganggap aku bodoh atau konyol. Tak kenal bahaya.

Paulo selalu bersikap tenang. Wajahnya lembut dan penampilannya seperti orang pemerintah sehingga tentara tidak bersikap galak padanya.







Pada setiap kesempatan, dia menjadi pencerita untukku. Berawal pada peristiwa Balibo pada tahun 1975. Pembantaian Santa Cruz, Dili, 12 November 1991. Penangkapan Xanana Gusmao pada bulan November 1992 yang kemudian dijatuhi hukuman seumur hidup oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1993

Untaian ceritanya bagaikan suara-suara yang mendengung di telingaku. Benakku tak mudah menerimanya. Bukankah aku saudaramu, Paulo? Apakah aku jahat? Kalimat yang tak terucapkan dari bibirku. Karena tak ada gunanya.

***

Celakalah referendum pada tahun 1999.

Bangsa Indonesia harus menghadapi kenyataan pahit ketika pada September 1999 hasil referendum di Timor Timur diumumkan dengan hasil hampir 80% suara pro kemerdekaan. Wilayah ini terlepas dari Indonesia.

Aku membaca koran dan menemukan namanya, walau tak banyak diulas. Paulo da Silva, bukan tokoh sangat penting, tertembak mati pada suatu bentrokan bersenjata pasca referendum. Kutelepon beberapa teman dan yakinlah Paulo yang pernah bersamaku di Kota Dili itu, telah tiada.

Aku terkenang padanya. Terkenang saat kami berdiri di depan monumen kemerdekaan Timor Timur dari penjajahan Portugis. Suatu saat akan dibangun monumen kemerdekaan dari Indonesia, kata Paulo seraya menoleh kepadaku.

Aku menatap wajahnya. Mengapa engkau begitu benci, Paulo? Apakah aku tak baik? Pertanyaan yang tidak terucapkan dari bibirku. Karena aku tahu, hanya sia-sia.

Kenangan yang tak terlupakan di Kota Dili. Kenangan tentang seorang Paulo da Silva. Aku ingin dia cinta padaku. Tetapi cintanya untuk hal lain.

***

Kamis, 05 Maret 2009

ANJING

Neng Eli. Neng Eli….” Suara panik menggedor-gedor pintu. Eli sedang memandikan anak bungsunya. Tidak segera membuka pintu. Gedoran di pintu semakin keras membuatnya meninggalkan anaknya di kamar mandi. Pintu dibuka. Di hadapannya berdiri seorang wanita separuh baya berwajah kusut masai, wajah bersimbah air mata, berkeringat. Begitu pintu dibuka, segera wanita itu menerobos masuk ke dalam. Bruk. Duduk terpuruk di atas lantai dan menangis tersedu-sedu.

Ada apa Yuk Minah?? Masya Allah, ada apa?” tanya Eli. Yuk Minah tak dapat menjawab karena tak bisa berhenti menangis. Ingus dan airmatanya bercampur sehingga terpaksa Eli memberikan serbet dari atas meja. Tidak ada tisu di rumah. Setelah agak tenang, Yuk Minah berkata terpatah-patah. ”Tolong saya.... Tolong saya....” Lalu menangis lagi dengan pilu.

Tolong kenapa? Ada apa?” Eli mengguncang bahunya.
Suami saya.... Suami saya jatuh dan kejang-kejang...."
Kapan? Dimana?” Kenapa?” Eli bertanya bertubi-tubi.

Tadi siang.... Saya tidak tahu kenapa.... Tolong saya. Tolong saya, Neng Eli. Huhuhuhuuuu...” Yuk Minah memegang kedua bahu Eli sambil menangis tersedu. Tolong. Tolong. Kata itu diucapkannya terus.

Setelah menyelesaikan mandi anaknya, Eli menyuruh anak sulung perempuannya yang kelas 1 SMP, untuk menjaga adiknya sambil menyuapi makan. Juga menunggu adik lainnya yang sebentar lagi pulang dari sekolah. Kemudian Eli berjalan tergopoh-gopoh dengan Yuk Minah menuju ke kamar kost Yuk Minah.

Si sakit terbaring dengan tubuh bergetar dan bergerak-gerak seperti orang terkena listrik. Busa keluar dari mulutnya. Tiba-tiba tangannya menyentak menarik rambut. Eli terperanjat dan berteriak meminta kain pada Yuk Minah. Menyumpalkannya ke mulut si sakit. Eli berkutat mencoba melepaskan tangan si sakit yang keras menjambak rambutnya sendiri. Darah dari dahi ketika sejumput rambut tercabut. Yuk Minah menjerit-jerit. Anak lelakinya yang berumur 11 tahun, memandang terpana. Eli berteriak memintanya mencari tali atau sesuatu untuk mengikat tangan bapaknya. Anak itu lama kebingungan tak tahu apa yang harus dilakukan. ”Tali sepatumu!!!!” bentak Eli yang terengah-engah menahan si sakit. Anak itu melompat mengambil sepatu warior, sepatu anak sekolah, dan menarik talinya keluar. Memberikannya kepada Eli.

Keduanya bergulat mencoba mengikat ke dua tangan lelaki yang meronta itu. Tangan itu mencoba mencakar muka dan menjambak rambutnya.

Hari sudah sangat sore menjelang maghrib. Gelap mulai turun.

Eli tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Setengah sadar, dia berjalan ke luar menuju ke rumah para tetangga. Kamar-kamar kost maksudnya.

Sepi. Tidak nampak seorang pun. Kebanyakan lelaki. Pedagang bubur ayam. Pedagang bakso. Pedagang cilok. Pedagang mie ayam. Penjual VCD/DVD bajakan di kaki lima. Biasanya sebagian besar dari mereka duduk-duduk di depan kamarnya -kecuali yang jualan malam.

Ada juga kamar yang ditempati suami istri dengan anak kecil. Istrinya ada yang pedagang jamu. Ada yang tukang pijit. Ada yang pembantu rumah tangga setengah hari.

Mereka tinggal di kotak-kotak sempit di dalam sebuah perkampungan raksasa yang ada tepat di tengah Kota Bandung. Eli pun tinggal di kamar kost. Tempat yang sama seperti itu, tapi blok yang lain. Eli mengenal Yuk Minah saat mereka tinggal berdekatan. Tapi Yuk Minah, suami, dan anak lelakinya yang kelas 5 SD, pindah ke blok lainnya yang lebih kumuh. Demi harga sewa yang lebih murah.

Hampir tanpa sadar, Eli mengetuk sebuah pintu. Tidak ada yang menyahut. Eli berteriak, ”Tolong.... Tolong.... Ada yang sakit....” Kepanikan menyergap dirinya karena telah melihat wujud si sakit yang mengerikan.

Eli hampir tidak menyadari bahwa dia telah mengetuk dari satu pintu ke pintu. Tidak terbuka. Tidak ada orang. Bumi ini kosong.
***

Sepanjang malam, Eli menemani Yuk Minah dan anaknya, Roni, bersama-sama kebingungan menghadapi si sakit yang terkapar. Sementara suami Eli bersama anak-anak di rumah. Esok pagi, suami Eli harus berangkat kerja memburuh.

Kamar kos Yuk Minah sangatlah lembab. Entah bau apa. Barang-barang lusuh dan dinding yang penuh bekas bercak air menjadi dekorasi ruangan itu. Meja buatan sendiri di sudut, di atasnya dipenuhi dengan perkakas: piring, gelas, termos, wadah-wadah plastik, dan TV 14 inch yang sudah berpenampilan kumuh. Panci dan katel di atasnya, dikaitkan ke paku. Kardus pakaian di bawah meja. Sepatu sekolah dan berbagai benda lainnya diletakkan berjejalan disamping kardus.

Subuh masih gelap, Eli mendengar suara pintu berkelotak dibuka. Bergegas dirinya bangkit, terhuyung-huyung karena hampir semalaman tidak tidur. Eli membuka pintu dan memburu keluar. Berharap menemukan tetangga yang semalam hilang lenyap semua. Orang-orang itu seperti bayangan-bayangan yang telah berdatangan. Mereka pergi dan sekarang sudah kembali. Begitu yang ada dalam benak Eli. Atau bayangan dalam pikirannya. Tiba-tiba dunia ini seperti sebuah dunia bayangan.

Ketika Eli berjalan di lorong sempit dan gelap di antara tembok basah dan berlumut, dia tidak menemukan siapa pun. Eli terpana memandang ke muka. Kakinya yang ramping berjalan, selangkah demi selangkah. Di pagi dingin yang gelap.

Setengah sadar apa yang terjadi. Eli menuju sebuah pintu lagi. Sepertinya dirinya terkepung pintu-pintu yang kumuh dan sobek-sobek itu. Eli mengetuk pintu. Mengetuk dan mengetuk. Pintu-pintu tak terbuka. Seperti dalam mimpi buruk yang kerap dialaminya, Eli meledak dalam kemarahan karena disakiti. Menendang pintu. ”Jelema koplok. Buka siah pantona...” (Orang berengsek. Buka pintunya.) teriaknya. Pagi yang sunyi terbelah suaranya. ”Setan siah....” (Setan kamu). Tidak puas dengan luapan kemarahannya, Eli menggebrak-gebrak pintu. ”Anjing. Anjing maneh. Anjing, jelema-jelema teh. Sing modar siah maneh kabeh.” (Manusia anjing kalian. Semoga mati kalian semua).

Suara Eli seperti sebuah gempa sesaat. Kemudian sunyi. Sepi. Eli menangis mencucurkan air mata. Kembali lagi ke kamar yang kumuh dan mengenaskan itu.

Eli teringat saat dia dia belum menikah dan bekerja di tempat billiard, ucapan kotor berhamburan dari mulutnya bila memperoleh kekurangajaran keterlaluan dari tamunya. Lelaki-lelaki berbadan kekar dan berbau alkohol dari mulutnya itu tertawa terbahak-bahak kepadanya. Awalnya Eli menangis setelah kejadian semacam itu. Berkali-kali kemudian tidak perlu lagi ada tetesan air mata terhadap hal demikian. Bila sebuah colekan mendarat di payudaranya, ia akan mengumpat: ”Anjing. Koplok. Sing modar katabrak mobil siah.” (Brengsek. Semoga mati ditabrak mobil kamu). Wajahnya mengeras. Matanya menyala. Dengan sikap dingin, dia akan duduk sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Tapi, tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi murung sepanjang kerja karena perasaan terhina bila menghadapi pelecehan begitu.

Eli sendiri. Ruangan yang penuh dengan orang –lelaki dan perempuan- tidak akan membantunya. Eli sendiri, saat kemarahan bagai api membakarnya karena payudaranya dipegang seorang lelaki kurang ajar. Itu biasa.

Eli sendiri. Melampiaskan kemarahannya kepada pintu-pintu yang tertutup. Eli ingat bahwa saat kemarahannya meledak, pada akhirnya dia hanya sendiri. Tidak seorang pun tahu mimpi-mimpi kemarahannya yang kerap datang bila menghadapi kejadian yang menyakitkan atau membuatnya terhina. Suaminya pun tidak tahu. Tidak ada pentingnya menceritakannya.
***

Kemudian Eli mengajak Roni ke jalan untuk mencegat taksi. Suaminya semalam menyuruhnya meminta tetangga membawa suami Yuk Minah ke rumah sakit dengan taksi atau mobil angkot. Eli dan Roni berdiri hampir satu jam sampai sebuah taksi berhenti. Kalau Roni yang mencegat taksi mungkin sopirnya tidak mau berhenti.

Eli bergegas masuk ke dalam mobil –di sebelah sopir- setelah mendorong Roni masuk ke tempat duduk belakang. Kemudian dimintanya sopir masuk ke dalam gang. Mula-mula gang yang agak besar. Kemudian masuk ke gang yang sempit. Sopir terperanjat dan mulai menolak ‘perintah’ penumpangnya. Eli bersikukuh meminta sopir masuk ke dalam gang dengan mengatakan bahwa tidak jauh lagi tempatnya. Kemudian mobil tidak dapat masuk lagi karena jalan sudah benar-benar sempit.

Pak, tolong bantu, Pak. Ada orang sakit, tolong, Pak....” Eli meminta sopir taksi ikut dengannya. Sopir taksi kebingungan dan mulai mengumpat karena kesusahannya menyetir masuk gang-gang. Namun Eli memegang tangannya. ”Tolong, Pak..... Tolong....” Eli memohon-mohon. Sepanjang jalan sopir itu melangkah setengah ditarik oleh Eli. Ketika langkahnya seperti terhenti, Eli akan mengatakan ”tolong, pak”. Mereka berjalan ke dalam lorong-lorong. Sampai akhirnya sampai di lorong menuju depan pintu kamar. Kata ”tolong, pak” entah sudah berapa kali diucapkan Eli.

Eli melihat berkeliling. Roda-roda bubur ayam dan lainnya itu tadi masih ada, sekarang sudah tak ada. Dia meludah dan menendang satu pintu. ”Jelema gelooo, siaah....” (Orang-orang gila kamu) teriaknya. Sopir itu matanya membelalak melihatnya. Dan lebih membelalak lagi ketika ditarik Eli masuk ke kamar, melihat orang sakit mengenaskan yang wajahnya sulit digambarkan, sedang kejang-kejang dengan kedua tangan terikat di depan tubuhnya.

Bertiga mereka bersusah payah menggotong si sakit melewati lorong gang yang sepertinya sangat panjang berliku. Sepanjang jalan, orang-orang yang lewat atau orang yang muncul dari rumah yang mereka lewati, memandangi mereka. Tiba-tiba dunia ini dipenuhi orang yang keluar dari sarang-sarangnya. Entah dimana liang mereka. Seperti semut atau lalat dalam jumlah banyak yang kita tidak tahu asalnya. Mereka menontoni sampai akhirnya orang sakit itu dimuatkan ke dalam mobil dengan susah payah.

Eli melompat ke arah orang-orang. ”Lalajo naon, anjing?” (Menonton apa anjing?) teriaknya. Orang-orang itu blingsatan menjauh. Seperti binatang yang lari kena gebuk. Berhenti di suatu jarak untuk melihat lagi ke arah manusia yang menyerangnya.

Mobil berangkat dengan orang sakit berbaring di antara istri dan anaknya. Eli duduk di samping supir. Anjing. Anjing. Jelema anjing (manusia anjing). Modar siah (mati kamu). Anjing. Anjing siah kabeh (anjing kamu semua). Eli bersandar dan memejamkan mata dengan sumpah serapah kotor yang bermuncratan dari benaknya. Mulutnya terkatup. Kepalanya berkunang-kunang. Seluruh tubuhnya berkeringat karena mengangkat beban tadi.

Sopir melirik ke arahnya. Terdiam. Menyadari penyebab kemarahan perempuan di sebelahnya. Menyadari kekejaman keadaan yang terjadi.
***

Si sakit lama terbaring di atas brankar di depan UGD. Orang-orang yang berlalu lalang, bisa melihat si orang malang yang terkapar itu. Orang-orang bergidik. Yuk Minah terpuruk di lantai dengan tatapan mata kosong. Air matanya sudah habis. Anaknya duduk di dekat pot bunga sambil memandang lantai. Wajahnya dingin. Dia tidak menangis sejak pertama kali melihat ayahnya sakit. Juga tidak mengatakan apa-apa kecuali ditanya Eli.

Setelah 2 jam menunngu, baru suami Yuk Minah mendapat tempat di ruang UGD. Petugas mengatakan bahwa mereka sedang mencari ruang kosong. Harus menunggu. Pasien dipasangi infus. Eli melihat Yuk Minah dan anaknya. Mereka dalam keadaan tidak sadar. Bangun tapi tidak sadar. Eli melihat berkeliling dan bertatapan mata dengan seorang lelaki yang sedang memperhatikannya. ”Kang, nyuhungkeun bantos....” (Bang, minta tolong) kata Eli. Lelaki itu bangun dari duduknya dan tersenyum ramah. ”Ngabantos naon, Teh....” (Membantu apa, mbak). Eli mengajak lelaki itu membetulkan ikatan tangan si sakit yang sudah menyebabkan luka di pergelangan tangannya. Masing-masing tangan diikat ke sisi tempat tidur yang merupakan plang penghalang besi. Kedua kaki si sakit berkejut-kejut. Kedua tangannya pun demikian, namun lebih keras. Mencoba mengangkat ke depan. Mata terpejam. Buih di mulutnya sudah tidak keluar lagi.

Teu damang naon....?” (sakit apa?) tanya lelaki itu. ”Saur petugas tadi, keuna stroke....” (Menurut petugas tadi, kena stroke) jawab Eli. ”Saha kitu?” (Siapa dia) tanya lelaki itu lagi. ”Tatanggi..... Akang oge ngantos pasen?”(Tetangga. Akang menunggu pasien juga?) jawab Eli. Lelaki itu menunjuk ke sebuah tempat tidur. ”Anak saya kena demam berdarah....” Eli merasa lega karena menemukan manusia. Akhirnya. Sejak kemarin dia dijemput Yuk Minah, dia hanya menemukan anjing-anjing yang membuatnya ketakutan dan marah karenanya. Seperti dalam sebuah mimpi. Bukan kenyataan.

Lelaki itu memberi Eli air mineral dalam kemasan gelas plastik yang dibelinya dari pedagang asongan yang berseliweran di rumah sakit. Eli membeli lagi dua untuk Yuk Minah dan Roni, lelaki itu dengan sigap membayar semuanya. Mereka kemudian duduk di depan ruang UGD. Lelaki itu menghibur Eli dengan menceritakan pasien-pasien apa saja yang masuk ke ruang UGD. Mereka semua sedang menunggu ruang kosong. Ada anak yang ketabrak motor. Ada yang kena stroke juga. Ada yang kena hepatitis. Diare. Tumor ganas. Usus buntu. Dan entah apa lagi.
***

Eli terduduk di sudut. Jenasah terbujur di tengah mesjid kecil yang letaknya di tengah-tengah pemukiman padat, tidak jauh dari tempat tinggal Yuk Minah. Yuk Minah sedang menangis tersedu-sedu dalam rangkulan seorang perempuan tetangganya. Sementara Roni, duduk menunduk di hadapan jenasah bapaknya. Mengenakan baju koko dan kopiah hitam, Roni nampak meneteskan air mata. Tidak banyak.

Lelaki dan perempuan berdatangan ke medjid. Lelaki memakai kemeja atau baju koko. Sebagian memakai kopiah. Perempuan memakai kerudung di kepalanya. Seorang perempuan tetangga lain menyediakan baskom besar dan baskom kecil yang masing-masing ditutupi serbet kotak-kotak. Baskom besar untuk menaruh beras, baskom kecil untuk menaruh uang yang diberikan para pelayat.

Pak Ustad menyiapkan kain kafan, kapas, dan minyak wangi, yang diserahkan Ketua RT kepadanya. Mengatur sejumlah lelaki yang akan berbagi tugas saat memandikan dan mengkafani jenasah. Sementara para perempuan berembug untuk mengumpulkan uang dan menugaskan seorang pria untuk membeli daun pandan dan bunga yang akan dironce. Ronce bunga itu akan diletakkan berjajar di atas tandu jenasah.

Eli memperhatikan wajah-wajah mereka. Mereka adalah manusia, katanya kepada dirinya sendiri. Wajah-wajah mereka tidaklah nampak ramah karena kesusahan hidupnya telah mengguratkan garis-garis yang buruk, kerut-merut, bercak hitam, dan tarikan wajah dingin. Seperti wajahku sendiri, kata Eli dalam hatinya, wajahku telah begitu cepat tua pada usia 30 tahun. Setelah melahirkan 3 anak, noda-noda hitam di wajah akibat menggunakan KB suntik, tidak pernah hilang. Urat-urat di tangannya menonjol karena kerja mencucikan baju sejumlah keluarga yang ada di pinggir jalan besar, untuk memperoleh tambahan uang penghasilan suaminya yang hanya buruh bangunan.

Ketika tatapan mata Eli beradu dengan salah seorang tetangga Yuk Minah yang masuk ke dalam mesjid, lelaki penjual bubur ayam itu menundukkan wajahnya. Bergegas menaruh uang di dalam baskom dan kemudian pergi lagi.

Eli melihat tetangga lainnya, yaitu perempuan tukang jamu yang suaminya penjual mie ayam, duduk di antara warga lainnya. Perempuan itu mengambil benang dan jarum untuk ikut meronce kembang dan daun pandan di pojok ibu-ibu. Dia juga telah menaruh uang di dalam baskom. Suaminya bersama para lelaki lain mulai mengumpulkan air di dalam ember-ember, ditaruh di bawah meja pemandian jenasah. Digulungnya celana dan lengan baju kokonya saat mengangkut ember-ember air itu.

Wajah demi wajah berkelebat di dalam pandangan Eli. Wajah-wajah manusia biasa.
***

Selasa, 03 Maret 2009

Isah

Airmata Isah bercucuran saat menceritakan anak bungsunya yang sakit. Sebentar kemudian uang lima puluh ribu rupiah telah berpindah tangan padanya. Bulan yang lalu anak sulungnya membayar SPP. Bulan sebelumnya menunggak listrik. Sebelumnya lagi anak tengah masuk sekolah. Sebelumnya membeli sepatu sekolah. Aku memberinya pinjaman hanya bila hutang sebelumnya sudah lunas. Dicicil per minggu Rp 25.000. Gaji mingguannya Rp 100.000. Kebiasaan Isah adalah meminjam Rp 200.000. Berdasarkan karakternya yang demikian, aku menetapkan pembayaran gajinya mingguan, bukan bulanan.

Terkadang aku harus menghibahkan sebagian hutangnya agar tidak terakumulasi melebihi kemampuannya membayar. Kalau meminjam uang untuk membawa anak sakit ke Puskemas atau bayar uang sekolah, lebih sering diberikan bantuan tetapi terkadang menjadi pinjaman bila bantuan sudah diberikan sebelumnya. Ini untuk membuatnya tidak gampang meminta.

Isah seperti pembatu rumah tangga lainnya tidak pernah putus dirundung kekurangan uang. Seperti cerita-cerita teman-teman dan keluargaku tentang pembantu mereka. Ada seribu satu alasan untuk berhutang. Nampaknya Isah selalu membuat prioritas agar ajuan hutangnya bisa berhasil. Juga secara tekun menunggu cicilan hutangnya terdahulu untuk bisa mengajukan hutang baru. Hari ini lunas, besok sudah mengajukan pinjaman. Selalu dimulai dengan pendahuluan dari kasusnya secara ringkas. Isah sudah terampil presentasi dan menjabarkan dasar alasan bagi proposalnya.

Terkadang Isah meminta ijin untuk membawa anak bungsunya ikut bekerja. Anak berumur 1,5 tahun itu kurus dan kecil. Makannya hanya nasi, kerupuk aci, dan kecap. Kalau diberi ikan dan sayur, dia tidak mau makan. Ibunya hanya tersenyum kalau melihatku mencoba memerintah anak itu makan lauk dan sayur saat aku melihatnya makan. “Iman, hayo makan sayur....” kataku. Dia meninggalkan piringnya di lantai dan bersembunyi di belakang ibunya yang sedang menyapu lantai. Anak itu tidak bisa disuruh makan ikan atau opor ayam, apalagi sayur. ”Pupuk nana...” (Kerupuk mana?) katanya kepada ibunya.

Ketika Isah baru mulai bekerja, istriku terkejut karena dia tidak bisa memasak sama sekali. Bahkan sayur bayam yang paling sederhana pun tidak bisa. Itu karena Isah orang kota. Orang miskin di yang lahir di kota, tidak memasak lauk dan sayur. Mereka menanak nasi, menggoreng tahu atau tempe, membuat sambel bledag hanya dengan bahan cengek dan garam, dan membeli kerupuk aci di warung. Terkadang hanya bala-bala atau tempe goreng yang dibeli di tepi jalan sebagai lauk makan. Atau telor ceplok sesekali. Memasak terlalu mewah bagi orang miskin perkotaan. Seperti Isah.

Berbeda dengan pembantuku yang dari sebuah kampung di Banyumas, si Mar. Dia pinter masak, gudeg dan sambalnya mak nyus, dan kalau menggoreng ikan terasa kering dan gurih. Tangannya seperti punya magic. Apa pun yang dibuatnya selalu lezat. Masakan baru yang dipelajarinya dari istriku atau tetangga, dengan mudah diserapnya dan diberinya sentuhan tangan ajaibnya. Menjadi hidangan yang membuat lahap saat kita menyantapnya. Si Mar juga terheran-heran dengan teman sejawatnya yang tidak bisa memasak sama sekali. Bahkan dia jadi tahu penyebabnya. ”Orang miskin di kota tidak pernah masak. Makannya cuma nasi, sambal mentah dan kerupuk aci....” katanya pada istriku. Pembantu yang satu ini sebenarnya cerdas dan kalau saja bisa kuliah seharusnya menjadi sosiolog atau antropolog. Tapi si Mar nyaris buta huruf karena hanya lulus SD dan sudah puluhan tahun jarang membaca dan menulis.

Setiap gajian mingguan, yang pertama kali dibeli Isah adalah 5 Kg beras untuk stok. Harganya Rp 5.000 per Kg. Selebihnya uang menjadi biaya sehari-hari termasuk untuk sekolah dan jajan anaknya. Suaminya memberikan uang harian hasil kerjanya sebagai buruh bangunan. Suaminya, sebagai anggota tim buruh bangunan rumah yang bekerja dari pagi sampai sore, mendapat upah Rp 60.000 kotor per hari karena tidak disediakan makan dan rokok. Isah mendapat Rp 45.000 dari suaminya dan disimpannya untuk keperluan-keperluan besar seperti membayar uang kos Rp 200.000 per bulan, urunan listrik Rp 25.000 per bulan, biaya sekolah, membeli pakaian dan sepatu sekolah, dan sebagainya. Pekerjaan memburuh tidak selalu ada. Terkadang orderan sepi.

Untuk pakaian sehari-hari, Isah tidak sungkan meminta baju bekas. Baik untuk dirinya sendiri, suami, maupun anak-anaknya. Dengan sikapnya yang santun dan tutur katanya yang baik, tetangga pun bisa dengan senang hati memberinya pakaian bekas yang masih baik. Memulung barang bekas dari rumah pun dilakukannya untuk melengkapi perkakas rumah tangganya. Panci yang sudah lama, hitam, patah pegangannya sebelah, dan istriku membeli yang baru untuk menggantikannya, dengan segera dipintanya. Bantal kursi yang sudah kempes dan sobek, ketika diganti yang baru, juga dibawanya pulang. Kasur Palembang yang sudah dekil dan banyak bercak karena si Tedy suka jorok dan menumpahkan segala minuman atau makanan sambil main play station di depan TV-nya, juga diboyongnya karena diganti dengan yang baru.

Istrikuku terkadang merasa kehilangan sendok dan garpu. Tapi istriku tidak cerewet bertanya, dia hanya membeli saja lagi satu-dua lusin sendok dan garpu saat berbelanja.

Terkadang si Mar yang suka sengak berkomentar. ”Kamu jualan barang bekas ya. Dasar pemulung...” Isah tidak menanggapinya. Terkadang terjadi rebutan barang bekas dengan si Mar. Jadi, harus seadil-adilnya dibagi. Hanya si Mar lebih pemilih dan selalu ingin mendapat hak menentukan. Misalnya ketika ada botol bekas jus jambu yang bentuknya bagus dan ukurannya besar untuk menyimpan persediaan air minum, si Mar marah-marah ketika Isah sudah menaruhnya di tas keresek untuk dibawa pulang. Diambilnya botol itu karena Isah lebih sering mendapatkan barang, katanya. Isah biasanya mengalah saja terhadap koleganya itu.

Suatu hari Isah menghadap lagi padaku. Duduk di lantai. Kemudian bercerita bahwa suaminya melamar ke mall yang baru dibangun itu untuk menjadi satpam. Diterima. Tapi harus membeli baju seragam, sepatu bot, ikat pinggang, dan pentungan sendiri. Sudah tanya harga di Kosambi. Dia menyerahkan kertas lusuh yang terlipat-lipat, diambil dari saku bajunya. ”Kenapa tidak dikasih dari perusahaan?” tanyaku sambil membaca daftar harga tersebut. ”Katanya harus modal sendiri....” jawab Isah. ”Terus harus bayar Rp 900.000 supaya diterima kerja...” kata Isah. ”Aaahh, yang bener...” kataku. ”Betul, Pak....” jawab Isah sambil menunduk. ”Sama siapa bayarnya?” tanyaku lagi. ”Sama yang masukin kerja....” jawab Isah. ”Bayarnya nanti kalau sudah kerja, dicicil Rp 200.000 dibayar tiga kali....

Aku menggeleng-geleng kepala. ”Memangnya berapa gaji satpam?”Katanya Rp 600.000 sebulan, Pak.... sudah dijamin makan sekali....” kata Isah. Aku menyerahkan kertas itu ke tangan Isah. Menunggu. Sementara Isah menarik nafas panjang dulu.

Pak, saya minta bantu lagi pinjam uang buat beli perlengkapan si akang...” kata Isah. Suaranya penuh harap. ”Berapa?” tanyaku. Aku sebenarnya sudah melihat di kertas yang tulisannya seperti anak SD kelas 1 itu, daftar belanja senilai dua ratus ribu lebih. ”Dua ratus lima puluh ribu, Pak....” kata Isah. ”Saya cicil seperti biasa dua puluh lima ribu seminggu, Pak....”

Kok, semua? Memangnya suami kamu gak punya uang sama sekali? Kan hutangmu belum lunas....” kataku. Tahan harga. Proses deal yang harus selalu ada bila menghadapi pembantu yang selalu berhutang. ”Tidak ada, Pak.... Suami saya sedang gak banyak dapet order....” katanya. ”Tolong ya, Pak.... supaya suami saya punya pekerjaan tetap....” Aku tidak mau kelihatannya terlalu mudah, jadi aku harus memberi persyaratan. ”Kalau suamimu nanti sudah gajian, cicilannya ditambah jadi lima puluh ribu yah.... supaya cepat lunas....”. Bagaimana kalau ada anaknya yang sakit dan harus berhutang lagi, sementara hutangnya masih banyak? Atau anaknya harus beli sepatu sekolah karena sudah jebol lagi? Atau sekolah memberikan daftar buku pelajaran yang harus dibeli? Hutang Isah memang harus diatur supaya cepat lunas, agar dia bisa berhutang lagi untuk sesuatu yang seperti itu.

Dengan cepat Isah menyetujui untuk mempercepat cairnya dana. ”Iya, Pak.... nanti kalau suami saya sudah gajian, cicilannya bisa ditambah....” Selesai sudah proses deal yang sering terjadi dengan Isah. Uang dua ratus lima puluh ribu rupiah berpindah ke tangannya. Isah bergegas pulang karena hari sudah gelap. Biasanya bila bermaksud meminjam uang, Isah akan terlambat pulang dan membiarkan si Mar pulang duluan. Dia tidak mau temannya tahu.

Sebulan pertama, setelah suaminya bekerja sebagai satpam di mall, Isah kemudian mengundurkan diri. Berhenti kerja dengan alasan mengurus anak-anaknya. Selama ini dititipkan ke neneknya bila dia kerja, dan itu betul-betul repot. Si Mar mengomel-ngomel karena harus kerja sendirian. Tapi tidak lama kemudian seseorang datang mengetuk pintu, namanya Lilis. Menurutnya, dia diberi tahu Isah bahwa ada keluarga yang membutuhkan pembantu rumah tangga baru. Lilis punya dua anak, kelas 3 SD dan adiknya yang berumur 3 tahun. Suaminya kena PHK dari pabrik garmen dan sekarang kerja serabutan. Lilis juga orang kota. Lahir dan besar di kampung Kota Bandung secara turun temurun. Kota ini terus dipadati para pendatang, sementara orang asli seperti dirinya semakin tersingkir di wilayah slum yang padat, sempit, dan terdesak ke dalam lorong-lorong yang tertutup bangunan-bangunan dan gedung baru. Kawasan baru rumah tinggal, pertokoan, atau perkantoran telah dibangun dan kampung-kampung itu menyempit ke belakang ditutupi benteng tembok.

Sisa hutang Isah tak pernah dibayar lagi. Aku sudah terbiasa. Setiap pembantu rumah tangga yang berhenti, selalu meninggalkan ratusan ribu hutang yang belum sempat dibayar cicilannya. Atau sebelum pamit berhenti, memang dia membuka hutang yang baru dan kemudian ditinggalkan tak terbayar. Dulu, begitu juga Nunung. Juga Enok, pembantu yang sebelumnya. Juga Eli yang meninggalkan hutang ke beberapa tetangga yang berhasil dilumerkan hatinya untuk meminjamkan sejumlah uang.

Setahun kemudian, aku mendengar berita bahwa suami Isah berhenti kerja sebagai satpam karena jatuh sakit. Tidak kuat kerja shift malam. Isah yang semula berjualan kecil-kecilan di dekat rumah kosnya, kembali bekerja menjadi pembantu rumah tangga. Di keluarga lainnya.

Aku terbayang wajahnya yang manis, sikapnya yang santun dan agak pendiam. Menekuni hidupnya tanpa pernah mengomel. Tersenyum sumringah bila istriku memberi hadiah sekantung plastik kue kiloan untuk dibawa pulang. Berkaca-kaca matanya bila memberitakan anaknya sakit. Bekerja seharian diperintah si Mar tanpa pernah membantah atau banyak mengobrol. Menyapu. Mengepel. Mencuci piring. Menyeterika. Membersihkan bahan masakan.

Umurnya 18 tahun saat menikah. Umurnya 27 tahun sekarang ini.

Senin, 19 Januari 2009

SI TETEH

Oktober 2008. Setiap lebaran aku tinggal di rumah ibuku. Aku, suamiku, dan kedua anak-anak, berangkat subuh untuk shalat ied dan mempersiapkan meja makan di rumah ibu untuk menyajikan hidangan lebaran bagi para tamu. Sebagai anak yang rumahnya terdekat dengan ibu, ini kulakukan setiap tahun. Mudik ke rumah ibu yang jaraknya hanya 10 menit naik mobil atau angkot. Hari pertama, ibu menunggu seluruh anak, menantu, dan cucu-cucunya datang untuk menikmati ketupat lebaran bersama. Hari kedua, ibu diantar berkeliling ke rumah saudaranya yang lebih tua. Yang tersisa, masih hidup. Kakak dan adikku subuh hari kedua lebaran, ada yang berangkat mudik ke kampung suami atau istrinya.

Aku mudik hanya di rumah ibu dan di Ujung Berung –rumah mertua- karena suamiku juga lahir dan dibesarkan di Bandung. Suamiku aslinya orang Minang tetapi keluarganya sekarang lebih berbahasa Sunda ketimbang berbahasa Minang.

Lebaran terasa semakin sepi bagiku. Semakin sedikit tetangga yang kukenal. Semakin sedikit kerabat yang berkunjung dan dikunjungi. Satu per satu orang tua yang kukenal meninggal. Saat bersalam-salaman setelah shalat lebaran, aku bisa bertemu dengan bapak dan ibu tetanggaku yang sekarang sudah menjadi kakek dan nenek tua.

Para orang tua, tetangga, yang kukenal baik semasa kecil sampai aku SMU, kukunjungi rumahnya untuk bersalaman lebaran. Sekitar sepuluh rumah yang tersebar di dalam kampung Kota Bandung tempat aku tumbuh di masa kecilku sampai berangkat ke Yogya untuk kuliah di UGM. Aku bersama suami dan anak-anakku mampir selama 5 menit per rumah dan selalu pamit dengan mengatakan: ”Mangga atuh, masih bade nguriling...” (Permisi/pamit, saya masih akan berkeliling rumah lagi...).

Tradisi berkeliling tetangga untuk bersalaman lebaran kepada yang lebih tua nampaknya juga sudah tidak dilakukan generasi anak-anakku. Semasa aku kecil, tradisi ini masih kental. Juga tradisi mengirim nasi kuning dengan baki untuk para tetangga dan dengan rantang untuk para kerabat.

Para manula itu sudah ditinggal anak-anaknya yang tentu saja telah memiliki rumah tangga masing-masing. Beberapa, masih ada anak yang masih tinggal dengan orang tuanya. Ada yang masih berdua menjalani masa tua. Ada yang salah satunya sudah meninggal, dan kebanyakan ayah yang sudah meninggal.

Seperti ibuku yang tinggal sendiri. Ayah sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Ibuku sudah berumur 75 tahun. Tinggal sendiri di rumah yang sudah ditinggalinya sejak tahun 1965. Sebuah pemukiman di tengah Kota Bandung yang semasa aku masih kecil merupakan perkampungan dengan rumah-rumah khas orang Sunda dari dinding bambu dan memiliki kaki. Rumah-rumah semacam itu sudah lenyap sama sekali.

Keluarga Sumpena merupakan salah satu keluarga lama yang kukenal seluruh anggota keluarganya. Ada ayah dan ibu, nenek, dan delapan anak –tiga lelaki dan lima perempuan. Anak sulungnya lebih tua dari anak sulung keluargaku yang memiliki lima anak. Anak yang sebaya dan menjadi teman masa kecilku bernama Neneng, anak nomor empat keluarga Sumpena. Aku sendiri anak ketiga.

Ayah dan ibu keluarga Sumpena itu sudah meninggal keduanya. Anak sulungnya pun sudah meninggal. Rahmi namanya. Adik-adiknya menyebutnya Teteh. Aku pun menyebutnya Teteh. Aku selalu terkenang betapa cantiknya si Teteh. Teh Rahmi.

Aku sering ke rumah Neneng untuk main dan menghabiskan waktu berbaring di atas tempat tidur anak-anak perempuan keluarga itu. Sambil membaca cerita dan majalah atau mengobrol. Bila si Teteh masuk ke kamar dan mulai berdandan, kami memperhatikannya dengan rasa ingin tahu. Bagaimana cara memoles warna di kedua pipi. Dan meratakan polesan lipstik. Si Teteh tidak pernah merasa terganggu dengan anak-anak perempuan yang merubunginya dan mencobai lipstiknya.
***

Tahun 1979. Aku mimpi buruk. Betul-betul menakutkan. Tapi aku tidak bisa menceritakannya pada ibuku yang biasanya tidak dapat membantu memberi pendapat apa pun apabila aku menyampaikan suatu masalah. Juga pada kedua kakak perempuan yang akan mencibirkan bibir atau mengucapkan kata mengejek.

Saat umurku 9 tahun dan suatu hari aku menemukan bulu halus tumbuh di vaginaku. Saat umurku 10-11 tahun, bulu itu tumbuh tebal dan lebat dan aku merasa ini memalukan dan menakutkan. Bagaimana kalau ketahuan orang tua dan saudara-saudaraku? Bagaimana kalau bulunya keluar dari celana dalamku. Dalam mimpiku, bulu vaginaku bertambah panjang terus sampai ke lantai. Keluar dari celana dalamku. Benar-benar mimpi yang menakutkan. Aku selalu memakai celana pendek sejak itu, meskipun memakai rok sekolah. Atau celana panjang di rumah.

Aku bahkan tidak berani membicarakannya dengan teman-teman mainku, ”gank” cewek yang terdiri dari 5 orang: aku, Neneng, Wenny, Tita, dan Ami. Aku merasa tubuhku berkembang lebih cepat dari mereka. Aku takut melihat mata mereka melotot dan kemudian serentak berbicara: ”Kamu sudah....” Wah, kalau aku satu-satunya yang berbulu, tentunya akan jadi memalukan.

Dalam mimpiku sepertinya semua orang yang kukenal memandang dengan tatapan aneh padaku. Orang-orang dewasa. Anak-anak sebaya. Anak yang lebih besar. Anak-anak kecil. Ada yang berbisik-bisik. Orang dewasa dengan rasa iba. Anak-anak sambil tertawa cekikikan. Aku mendengar mereka mengatakan ”berbulu”. Anak itu baru 9 tahun tetapi vaginanya sudah berbulu, semakin lebat dan panjang.

Aku memutuskan hanya aku sendiri yang tahu.

Biasanya kami teman se-gank punya acara mandi bareng. Karena kami teman bermain di rumah, tetangga, kami bisa mengambil alat mandi masing-masing dan mandi bareng di salah satu rumah.

Gara-gara bulu itu aku menghindari acara mandi bareng ini. Tapi teman-temanku pun sudah kurang mengajak mandi bareng lagi.

Suatu sore, di malam Minggu, kami berkumpul di rumah Neneng dan asyik merencanakan acara jalan-jalan hari Minggu. Saat kami sedang asyik bercengkerama di tempat tidur si Neneng, di dalam kamar yang merupakan kamar bersama semua anak perempuan keluarga itu, Teh Rahmi keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk. Jam 17.00 baru selesai mandi.

Dia melirik ke arah anak-anak perempuan yang bertumpuk di atas tempat tidur. Tersenyum kecil. Anak-anak itu tidak merasa segan lagi karena berada di kamarnya. Teh Rahmi memang peramah dan pengertian. Beda dengan kakak perempuanku yang ketus dan suka mengusirku agar menjauh darinya. Apalagi kalau membawa teman-temanku ke rumah, paling hanya di teras atau ruang tamu. Tidak pernah sampai ke dalam kamarku, karena seperti keluarga lainnya kamarku adalah kamar semua anak perempuan di keluargaku. Beda dengan anak laki-laki, masing-masing punya satu kamar.

Aku memperhatikan Teh Rahmi. Dia membuka laci dan mengeluarkan celana dalam dan BH. Dengan gerakan yang lembut dan pasti dikenakannya celana dalamnya dari bawah handuk. Handuk itu lepas dan jatuh ke atas lantai.

Aku melihat vagina dan bulu lembutnya. Payudara yang bulat dan lembut. Tubuh yang semampai dan memiliki garis bentuk yang lembut. Serba lembut, seperti warna pakaian dalamnya. Kami anak-anak perempuan memperhatikan tetapi pura-pura asyik melanjutkan pembicaraan kami. Aku pertama kali melihat seorang perempuan ’dewasa’ telanjang. Aku pertama kali melihat payudara itu seperti apa.

Teh Rahmi melirik. Gerakannya begitu pasti ketika ia merapikan posisi celana dalam dan BH. Nampaknya melekat di tubuhnya dengan sempurna. Aku tidak bisa menahan bicara lagi. ”Teteh, kapan anak perempuan tumbuh payudara?” Tanyaku. Teman-temanku mengangakan mulut, terkejut dengan keberanianku.

Teh Rahmi dengan gerakan luwes, lentur, dan feminin, mengenakan pakaiannya. Sebuah rok yang panjangnya sampai di atas lutut dan kaos yang melekat di bentuk tubuhnya. Setiap anak perempuan berbeda, katanya. Tertawa kecil. Aku mulai tumbuh pada waku SMP kelas 2. Menstruasiku kelas 1 SMP.

Kemudian Teh Rahmi berdiri di depan kami berlima. Kalian, sudah menstruasi belum? Sudah tumbuh rambut vagina belum? Sudah ada pentil susunya belum? Kami berpandang-pandangan dan hanya menggeleng-gelengkan kepala keras-keras. Berharap pembicaraan yang menakutkan ini berakhir.

Teh Rahmi berjalan melenggang ke luar kamar. Hatinya selalu berbunga-bunga menyambut malam Minggu, waktu kunjung pacar (wakuncar) yang dinanti-nanti.
***

Tahun 1983. Gank anak perempuan mencoba menemukan acara bersama untuk hari Minggu. Mungkin ke Alun-alun untuk cuci mata dan makan bakso. Mungkin ke Kebun Binatang sambil sekalian olah raga jalan kaki. Mungkin ke sawah untuk mencari ikan kecil dan tutut. Kami ini seperti Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, novel yang telah diangkat ke layar lebar itu. Hanya saja, yang kami perjuangkan adalah mengisi hari-hari supaya lebih menarik di luar kegiatan sekolah. Membuat acara kelompok anak perempuan 12-13 tahun selalu mengalami hambatan: aturan maupun biaya. Karena kamu anak perempuan tidak pantas jarambah (pergi jauh-jauh dari rumah), begitu kata orang tua atau kakak-kakak yang lebih tua. Bada maghrib harus sudah masuk ke rumah.

Berjuang agar anak perempuan berumur 12-13 tahun bisa memiliki hal menarik dalam kehidupan sehari-harinya, bukanlah mudah bagi kami. Ayah dan ibu tidak cukup memberi uang saku karena penghasilan terbatas dan punya anak banyak. Ingin ikut perkumpulan pencak silat atau club karate saja sulit memperoleh biaya beli pakaiannya. Memasak, merupakan kegiatan kelompok yang paling sering dilakukan dengan cara mengumpulkan bahan dari dapur rumah masing-masing dan melengkapinya dari warung sayuran. Kemudian kami makan sama-sama di atas loteng dan naik ke atap rumah. Mie goreng atau lotek atau rujak cuka serba pedas. Itu yang biasa kami buat untuk mengisi hari Minggu bersama.

Aku menstruasi pada umur 12 tahun, kelas 6 SD. Lebih cepat dari teman-teman yang lain. Pertama kali aku masih menggunakan kain handuk berbentuk saputangan kotak yang dilipat dan dilekatkan di celana dalam dengan menggunakan peniti di ujung atas dan bawah. Aku bersyukur tidak lama kemudian ibuku membelikan apa yang disebut ’pembalut wanita’. Untunglah ada seseorang yang menciptakan benda ini. Teh Rahmi yang pertama kali memberitahuku. Kamu harus minta dibelikan ibumu, katanya. Benda yang bernama pembalut itu, maksudnya. Para ibu masih belum terbiasa dengan benda itu sehingga anak-anak remaja harus memberitahu mereka. Saat itu masih tebal dan terasa mengganjal di selangkangan. Tapi lebih baik ketimbang harus mencuci kain handuk yang penuh darah. Susah sekali mencucinya, butuh tenaga ekstra. Harga pembalut terasa mahal bagi ibu-ibu yang memiliki banyak anak perempuan.

Aku lega bahwa menghadapi menstruasiku itu aku tidak merasa takut. Tidak dihantui perasaan malu. Aku lebih siap menghadapinya setelah aku tahu bahwa setiap perempuan akan mengalaminya. Setiap anak perempuan berbeda.

Begitu kata Teh Rahmi.
***

Tahun 1979. Kami tertawa-tawa di antara suara siraman air. Acara mandi bersama itu selalu menyenangkan. Entah kenapa, tetapi banyak anak melakukan acara mandi bersama dengan teman-teman baiknya. Kamar mandi di rumah Neneng cukup besar untuk kami berlima. Kali ini ditambah dengan Teh Rahmi yang entah kenapa ikut mandi bareng dengan kami.

Tubuh Teh Rahmi tentu saja tubuh wanita dewasa muda sedangkan kami berlima masih anak-anak. Rupanya Wenny sudah punya rambut banyak juga. Sedangkan yang lainnya baru tumbuh halus dan belum kelihatan. Aku yang paling banyak rambut. Sementara, Tita dan Neneng sudah mulai timbul pentil susu. Dadaku masih rata sama sekali seperti anak laki-laki.

Siapa yang akan menstruasi paling cepat, kata Teh Rahmi. Sambil memperhatikan badan anak-anak perempuan yang telanjang. Serentak kami menunjuk Wenny, yang badannya paling bongsor. Lihat punyamu belum berambut, punya dia sudah begitu banyak rambutnya. Kata Teh Rahmi kepada Neneng, dan kemudian menunjuk kepadaku.

Kamu berbulu banyak sekali, kata Teh Rahmi. Banyak lelaki yang suka perempuan yang sekujur tubuhnya berbulu. Rambutku memang tebal. Alisku juga. Rambut halus tumbuh di sekujur tubuhku. Teh Rahmi memegang jari-jari tanganku dan melihar rambut halus yang tumbuh di atas buku-buku jarinya. Banyak pria yang akan suka padamu, katanya penuh iri.

Sejak saat itu aku tidak lagi dihantui malu karena tumbuh lebatnya rambut vaginaku. Semula aku heran bahwa berbulu itu bagus. Tapi berbulu tidak lagi menjadi mimpi buruk bagiku.
Aku merasa bahwa aku berbeda dengan teman-temanku. Dengan Teh Rahmi yang begitu putih, halus, lembut, dan memiliki lekuk tubuh feminin. Aku tidak punya bentuk tubuh dan karakter sefeminin itu. Aku berfikir apakah aku harus seperti Teh Rahmi di saat aku menjadi tumbuh dewasa ataukah aku memang berbeda.

Aku sedikit khawatir bahwa aku tidak akan menjadi wanita dewasa yang menarik karena aku cenderung tomboy. Tulang dan otot-ototku besar dan kuat. Wajahku juga nampaknya tidak pantas dipoles dengan warna-warni riasan. Juga lipstik.

Aku cemburu pada wanita secantik Teh Rahmi dan sejak kecil aku tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa seperti itu. Tapi Teh Rahmi suka pada tubuhku dan mengatakan bahwa: badanmu bagus. Kamu berbeda. Badanmu berbulu dan itu sexy. Aku tidak begitu paham arti kata sexy pada waktu itu.

Setiap anak perempuan berbeda.Begitu kata Teh Rahmi. Itu yang paling melekat dalam ingatanku saat mandi bareng. Di Tahun 1979.
***

Tahun 1989. Coky menatap wajahku sambil tersenyum. Dia memegang tanganku dan membelai jari-jarinya. Bagus sekali bulumu, katanya. Dibelainya rambut halus di atas buku-buku jariku. Pada usia 23 tahun, pacaran bukan lagi sekedar karena kita suka pada kesopanan perilakunya, kebaikan atau perhatian seorang pria kepada gadisnya. Melainkan mulai memiliki perhatian pada tubuh pasangan kita, menimbulkan hasrat yang menghangatkan perasaan, dan melakukan sentuhan-sentuhan yang menimbulkan aliran listrik yang dasyat. Saling memandang dan tersenyum. Mengukur sampai dimana batasan sentuhan fisik yang dapat diterima oleh pasangan kita. Bagi perempuan, terutama, jangan sampai dianggap murahan setelahnya.

Bukan hanya Coky yang memperhatikan bulu halus di lengan dan tengkukku, tetapi banyak yang berkomentar begitu. Aku menjadi merasa istimewa karena bulu halus yang menjadi ciri khasku. Aku merasa sexy. Seperti menurut Teh Rahmi dulu. Aku paham sekarang maksudnya.

Saat aku berumur 12-13 tahun aku terpesona melihat tubuh telanjang yang sangat indah menurutku, milik Teh Rahmi. Payudaranya. Vaginanya. Pinggangnya. Perutnya yang rata. Lengannya. Tungkai kakinya yang panjang. Kuku berkutek merah jambu. Bibir merah berlipstik merah jambu.

Gerakan tubuhnya. Cara berjalannya. Cara tertawa. Cara menggerakkan tubuhnya saat berdekatan dengan pria yang naksir kepadanya. Aku memperhatikan Teh Rahmi. Berharap bahwa bila tidak banyak pria yang merubung aku seperti merubung Teh Rahmi, paling tidak aku berhasil ’ditemukan’ oleh satu atau dua pria yang cukup menarik untuk jadi pacarku. Nanti, kalau aku sudah besar.
***

Oktober 2008. Pada hari lebaran biasanya aku bisa ketemu dengan teman-teman masa kecilku. Kami sudah menjadi perempuan setengah baya semua. Ada yang gemuk. Ada yang kurus dan berkeriput. Rambut sudah setengah beruban. Kami berubah seperti juga pemukiman kami telah banyak berubah setelah lebih dari 25 tahun berlalu. Tidak ada lagi sawah dan kebun kangkung. Separuh pemukiman telah dibebaskan dan berubah menjadi perumahan mewah dan mall. Rumpun bambu sepanjang sungai kecil yang membelah kampung sudah hilang, dan benteng tembok memisahkan perkampungan dengan bangunan-bangunan bertingkat: mall, bank, sekolah tinggi komputer, factory outlet, restauran.

Rumah keluarga Neneng ditempati kakak lelakinya, Deden. Aku bertemu dengan Kang Deden saat sedang berjalan melewati rumahku bersama anak-anak dan istrinya dan beberapa orang tak kukenal, menuju pemakaman kedua orang tuanya yang terletak di belakang perumahan kami. Ziarah hari lebaran ke makam orang tua.

Kang Deden menyapaku dan kami saling bertukar kabar sebentar. Neneng tinggal di Makasar mengikuti suaminya yang bertugas di sana. Teh Rahmi tahun lalu meninggal dunia karena kanker rahim.

Aku tidak akan lupa betapa cantiknya si Teteh menurutku, pada waktu aku seorang anak perempuan berumur 12 tahun yang pertama kali melihat tubuh telanjang seorang wanita dewasa. Teh Rahmi begitu tahu akan keindahan tubuhnya.

Tahun 1985 Teh Rahmi menikah dengan pria berusia jauh lebih tua. Seorang duda. Katanya bercerai dari istrinya dan sudah punya 2 anak. Aku mendengar orang-orang mengatakan bahwa Teh Rahmi merebut suami orang sampai menceraikan istrinya dan meninggalkan anak-anaknya. Neneng tidak mau banyak bercerita tentang suami kakak perempuan tertuanya itu. Aku teringat waktu itu aku keheranan melihat gadis semuda dan secantik Teh Rahmi menikah dengan seorang pria yang jauh lebih matang. Padahal pria-pria muda tampan yang memperebutkan Teh Rahmi sangat banyak.

Aku teringat betapa cepat kemudaan dan kecantikan Teh Rahmi memudar. Anak-anak lahir. Wajahnya dihiasi bercak-bercak coklat akibat menggunakan alat kontrasepsi. Badannya menggemuk. Masih suka menggunakan celana pendek dan kaos tanpa lengan kalau di rumah. Kakinya yang panjang dan halus dengan kuku berkutek merah masih dimilikinya. Rambut dipotong pendek sehingga mahkota yang dulu tergerai indah melewati bahu itu telah hilang. Bunga mawar indah dan segar merekah itu cepat sekali meredup warnanya. Kerut di wajah begitu cepat hadir setelah anak-anak lahir. Suaminya rujuk kembali dengan istri tuanya. Setelah itu Teh Rahmi berganti suami beberapa kali. Katanya. Aku sudah tidak pernah lagi bertemu setelah perceraian dengan suami pertamanya.

Setelah aku kuliah di Yogya, terkadang aku dan Neneng mampir ke rumah si Teteh di saat liburan semesteran. Setiap aku datang, dia menawarkan aku rokok putih. Coba rokok baruku, katanya. Menghembuskan asap rokok dari celah bibirnya yang berlipstik merah terang. Kami di loteng dan duduk di atas genteng. Matanya menatap lurus ke depan dan gerakan tubuhnya seperti yang kukenal: lembut, gemulai, tak acuh. Sia-sia polesan di wajahnya untuk menyamarkan noda dan kerutan di seputar mata.

”Dasar bondon,” terdengar umpatan dari balik jendela rumah tetangga di bawah loteng. Teh Rahmi bangkit dengan pelan. Berdiri dengan berpegangan pada talang air, melihat ke bawah. Meludah. Nenek sihir tukang dengki, katanya. Aku melihat, sebagai kakak perempuan sulung, Teh Rahmi sangat berwibawa di mata adik-adiknya. Bahkan meskipun adik-adik tidak setuju dengan tindakannya, mereka tidak dapat menyampaikan kritik kepada sang kakak yang membantu orang tua mengurus dan membiayai sekolah mereka. Menikah pada usia yang begitu muda dan memikul sebagian besar beban finansial keluarga agar adik-adiknya bisa sekolah lebih baik dari dirinya."Perempuan tukang morot", begitu umpatan ibu-ibu tetangga atau laki-laki usil.

Teh Rahmi mengatur dan memerintah adik-adiknya tanpa terbantahkan. Bahkan ayah dan ibunya pun terdiam saat terjadi suatu kontroversi dalam keluarga. Kau tamatkan sekolahmu, bekerja, dan baru fikirkan untuk menikah. Bentaknya kepada adik perempuannya yang menyampaikan lamaran menikah dari pacarnya sebelum sekolah sekretarisnya selesai. Perintahnya harus dituruti.

Pakai kecerdasanmu sedikit, katanya kepada adik perempuannya. Kamu menikah dengan lelaki yang pekerjaannya biasa-biasa, lantas jadi ibu-ibu jelek dan gemuk yang selalu pusing memikirkan biaya dapur dan sekolah anak-anakmu. Lebih baik kamu jadi perempuan kantoran. Sambil mengomel dan mencontohkan dirinya sendiri, si Teteh mengambil sebatang rokok dan menghembuskan asapnya, sementara orang tua dan adik-adiknya terdiam.

Teh Rahmi sendiri lulusan SKKA yang setingkat SMU. Kemudian bekerja sebagai resepsionis di sebuah perusahaan dan berhenti saat menikah karena permintaan suaminya.

Aku teringat saat usiaku 12 tahun Teh Rahmi memperhatikan seluk beluk tubuhku. Dan anak-anak perempuan lain, teman-teman adiknya, ketika sedang mandi bareng. Menyentuh bulu-bulu di atas buku jariku. Menarik rambut halus di lenganku. Dan mengatakan. Aku ingin berbulu sepertimu. Banyak lelaki yang akan suka padamu. Katanya kepadaku. Susu kamu mulai tumbuh, katanya kepada Wenny yang meringis sambil menutup dadanya. Kamu akan menstruasi sebentar lagi. Dada kami berdegub mendengar kata itu. Menstruasi.

Mimpi burukku tentang bulu hilang. Apa pun perkembangan dan perubahan yang terjadi pada tubuhku, aku tidak setakut seperti sebelumnya.

Kenangan tentang si Teteh berkelebat saat aku mendengar kabar dari Kang Deden, adiknya. Si Teteh telah berpulang.

Suatu hari aku berkunjung ke rumahnya setelah bekerja di Jakarta dan lama tak bertemu dengannya. Dia mengeluarkan sebatang rokok putih dan menyodorkannya padaku, lalu menyalakan api sementara aku menghisapnya. Aku mulai merokok saat SMU dan dia menyediakan tempat merokok karena itu tidak bisa kulakukan di rumahku sendiri. Umur kami berbeda 11 tahun dan dia selalu membantuku menyalakan api rokokku sejak dulu. Membelikanku rokok saat aku di SMU dan tidak punya uang. Bertanya: "Mau kubuatkan mie rebus?" Atau: "Mau kubuatkan kopi?" Atau: "Mau makan dengan karedok?" Dan dia pergi ke dapur untuk melaksanakan tawarannya. Lalu melihat aku dan adik-adiknya makan dengan nikmat hasil masakannya: nasi panas, ikan goreng, tempe, karedok pedas, dan kerupuk aci yang dibeli di warung. Si Teteh duduk sambil menghisap rokoknya sementara orang lain makan.

Tidak ada adik-adik perempuannya yang merokok. Hanya kami berdua. Neneng hanya bisa memperhatikan saja. Tidak punya keberanian untuk meminta sebatang rokok pada kakak perempuannya meskipun tergoda.

Si Teteh telah berpulang. Bagiku dia perempuan pemberani. Pahlawan bagi keluarganya.
***

Daftar Istilah:
•Teteh: sebutan untuk kakak perempuan (Bahasa Sunda), sama dengan mbak (Bahasa Jawa) atau uni (Bahasa Minang).
•Jarambah: suka main jauh, suatu istilah negatif bila ditujukan kepada anak perempuan karena dilarang ’jarambah’.
•Bondon: perempuan nakal, suatu istilah yang digunakan untuk mengganggu atau mengumpat kepada perempuan yang berperilaku tidak pantas (nakal atau bebas dalam konotasi sexual).
•Morot: memeras uang/harta; perempuan pengeretan atau perempuan tukang morot atau cewek matre merupakan istilah untuk perempuan yang motif hubungannya dengan pria adalah uang/materi/harta.

Jumat, 16 Januari 2009

ISTRI PILIHAN SURGA

Maya bisa melihat ruangan itu. Seperti melihat adegan di layar film. Sahabatnya duduk di belakang meja rias, menulis surat. Wajahnya. Bentuk tubuhnya yang ramping. Matanya. Air mata jatuh ke atas kertas.

Malam yang dingin. Menjelang tengah malam. Tika melihat ke arah tempat tidur yang masih rapi. Suaminya tak pulang. Dadanya berdenyut.

Di sudut meja terdapat kalender. Tahun 1995.
***

Maya, sahabatku...

(Selalu menjadi kata-kata pembuka surat yang ditulis Tika. Surat-surat dari Tika selalu berlembar-lembar. Maya sudah harus menyediakan sebuah kotak untuk menyimpan surat-surat itu yang telah terkumpul selama beberapa tahun).

Suamiku sering tidak pulang. Dia punya tempat lain untuk pulang. Mula-mula aku mendengar kabar burung ini dari kerabatku. Kemudian aku mulai memperhatikan telepon-telepon yang berdering dan mati saat kuangkat. Kecuali kalau suamiku yang mengangkatnya. Berbicara sedikit. Penuh simbol-simbol.

Sebuah nama muncul. Rina. Perempuan itu tidak berusaha merahasiakan dirinya. Bila anakku mengangkat telepon dan menanyakan nama penelpon untuk diberitahukan kepada ayahnya, nama Rina disebutkan. Sampaikan kepada Pak Yudi, Ibu Rina menelpon dan minta ditelpon balik. Lalu aku mendengar siapa Rina dari temanku, Lela, yang mendapat informasi dari temannya. Yudi, suami temanmu itu, kulihat berjalan bersama Rina –teman dari temanku. Begitu menurut teman dari temanku. Rina adalah teman dari teman seorang teman Lela. Saudara dari teman Rina itu, adalah teman sekantor Rina sehingga dia dapat memberikan informasi siapa Rina.

Rina seorang perempuan lajang yang sedang berusaha memperoleh jodoh. Wajahnya jelek. Badannya pendek dan gemuk. Dandanannya setengah mati. Hanya lelaki yang sedang ’sakit jiwa’ mau dengan perempuan seperti si Rina sedangkan sudah punya istri dan anak. Begitu kata teman sekantor Rina kepada saudaranya, teman dari teman Lela. Lela menyampaikan informasi ini kepadaku.

Begitulah cara perempuan-perempuan saling membantu dan menyampaikan rasa simpati, bila suami seseorang selingkuh. Sebuah rantai informasi bekerja. Aku tidak memintanya. Tetapi mereka melakukan penyelidikan secara estafet dan informasi yang didapat itu kembali lagi bergerak estafet menuju kepadaku. Perih. Suamiku dibicarakan orang-orang, Maya...

Ketika aku menanyakan kebenarannya, suamiku dengan begitu saja mengakuinya. Ada seorang perempuan lain bernama Rina. Ketika aku menatap wajah suamiku, aku membayangkan Rina yang jelek, pendek, gemuk, menor, dan provokatif dalam upaya mendekati atau mendapatkan pria. Tidak sabar mendapat jodoh. Tidak peduli bagaimana caranya. Tidak peduli lelaki beristri. Tidak mau tahu. Wajah suamiku begitu dingin menerima tatapanku.

Aku ingin menjerit. Aku ingin tahu. Kenapa. Kenapa suamiku begitu membenci aku sehingga melakukan hal ini. Tanpa merasa perlu berusaha menyembunyikannya. Tidak pulang ke rumah semalam, dua malam. Menerima telepon dan bicara pendek-pendek. Setelah itu pergi. Lalu tidak pulang sampai besok atau lusa.

Sejak saat itu tidak ada lagi telepon rahasia. Ketika aku mengangkat telepon dari perempuan itu, dia tidak menutup telepon lagi melainkan menanyakan suamiku. Aku bertanya siapa dia. Rina, katanya. Kamu siapanya suamiku, tanyaku. Teman, katanya. Aku gemetar ketika mengatakan bahwa dia perempuan pengganggu suami orang. Rina menutup teleponnya. Kemudian dia tetap menelpon lagi. Tidak perlu sembunyi-sembunyi. Tidak perlu rahasia. Suamiku secara terang-terangan memiliki perempuan lain.

Aku sendirian. Menuliskan surat ini kepadamu, Maya....
Engkau sahabatku yang kucintai. Engkau membuatku merasa memiliki seseorang. Aku tidak pernah membiacarakan rumah tanggaku dengan siapa pun. Aku hanya diam bila seseorang memberitahuku sesuatu tentang suamiku.

Maya, sahabatku.... engkaulah satu-satunya teman bicaraku. Meskipun jarak memisahkan kita. Dan aku hanya bisa berbicara denganmu melalui surat-surat.
***

Pagi-pagi, Tika bangun untuk menyiapkan sarapan bagi anak-anaknya yang akan berangkat ke sekolah. Si sulung berumur 11 tahun, anak lelaki berwajah teduh dan tampan, dengan tatapan mata mendalam kepada ibunya. Seperti mencoba menyelami isi bathin ibunya.

Anak kedua dan ketiga memiliki usia berdekatan, 7 tahun dan 6 tahun. Dua anak perempuan cantik bermata indah yang menikmati semuanya: sekolah, bermain dengan teman-temannya, belajar, membaca buku cerita, naik sepeda, dan jalan-jalan ke pusat pertokoan. Sedangkan si bungsu yang berumur 3 tahun, anak lelaki bandel dan jenaka, yang menghibur ibunya karena selalu melakukan hal-hal yang menimbulkan senyuman.

Maya seperti melihat sahabatnya itu sedang memandang anak-anaknya dengan penuh cinta. Menyembunyikan kesedihan dari mereka dengan tersenyum. Menahan jeritan hatinya agar tak terdengar oleh anak-anak. Tak terbaca dari wajahnya. Menghindari pertengkaran dengan suami karena masa kanak-kanak seharusnya bahagia. Tanpa pertengkaran ayah dan ibu. Itulah yang akan didapat anak-anaknya.

Maya melihat wajah ayu Tika yang menatap ke depan dengan tabah. Menegakkan wajahnya di hadapan anak-anak agar nampak sebagai seorang ibu pelindung dan anak-anak merasa aman bersamanya. Tika, seorang ibu yang siap berkorban jiwa dan raga demi keempat anak-anaknya. Tika adalah sahabat Maya sejak Sekolah Dasar sampai dewasa. Meskipun terpisah sekolah dan kemudian terpisah kota setelah Tika menikah, mereka selalu berkirim surat. Lebih tepatnya, Tika selalu berkirim surat.

Maya bisa melihat Tika mengasuh anak-anak mengerjakan tugas sekolah, sambil menyuapi si bungsu yang makan sambil melompat ke sana ke mari. Seperti sebuah adegan film, Tika memandang ke arah penonton. Close up.

Pada saat itulah Maya melihat wajah sahabatnya yang begitu sedih.
***

Maya, sahabatku....
Aku selalu ingin menjadi istri yang baik. Ibu yang baik bagi anak-anakku. Aku akan melakukan apa pun yang diminta oleh suamiku. Seorang suami adalah pemimpin keluarga. Pelindung keluarga. Seorang yang menjaga anak-anaknya. Seorang yang meluruskan istrinya supaya menjadi salehah.

(Maya bergidik membacanya. Tika hidup dalam dunia khayalan seorang perempuan yang merasa sempurna hanya bila menjadi istri dan ibu yang baik. Bagi perempuan bebas seperti Maya, itu khayalan, bukan sikap-nilai hidup. Baginya nilai hidup secara genuine harus selalu memanusiakan. Bukan memperbudak atau membelenggu. Tika, tahukah kamu bahwa seorang perempuan bisa memiliki kehidupan yang lebih baik ketimbang punya suami seperti Yudi? Keluh Maya. Geram).

Maya, aku akan bersabar bila Yudi melalaikan tugasnya sebagai seorang ayah dan suami. Aku akan berdoa agar mata hatinya terbuka atas kekhilafannya. Aku bersujud di hadapan Allah untuk kembalinya suami dan ayah anak-anakku.

Bila kami berkumpul di sekeliling meja makan. Anak-anak berceloteh riang dan penuh kerinduan kepada ayahnya yang”sibuk” dan jarang di rumah. Menceritakan ini dan itu. Bertanya ini dan itu. Memperebutkan perhatian ayahnya. Suamiku dengan penuh kasih sayang menanggapi semua celoteh anak-anak. Membelai rambut mereka. Membacakan buku cerita di sisi ranjang anak-anak. Penuh kelembutan dan kesabaran.

Setelah anak-anak terlelap tidur, aku menggunakan kesempatanku untuk mengajak bicara suamiku. Saat yang kutunggu-tunggu. Terasa begitu lama menunggu saatnya aku bisa bicara dengan suamiku. Setiap menit seperti penantian yang begitu panjang. Sekarang, ketika aku sudah bisa berhadapan berdua dengan suamiku, aku minta padanya untuk bicara. Tapi diabaikannya aku.

Apa yang diharapkannya. Apa yang harus kulakukan agar dia mencintaiku lagi. Apa yang bisa membuat suamiku memilih seorang perempuan bernama Rina ketimbang aku, istrinya. Tetapi suamiku menolak pembicaraan.

Sebaiknya kau minta cerai saja. Katanya dingin. Mengapa kau begitu sabar dan pemaaf pada suami brengsek seperti aku. Kau benar-benar menjijikkan. Kalimat terakhir diucapkannya dengan mimik dan tekanan suara yang ingin menggambarkan dengan sejelas-jelasnya perasaannya sesuai apa yang dikatakannya.

Tengah malam. Yudi pergi meninggalkan rumah.

Aku menggigil di atas tempat tidur. Menahan tangisan. Membekukan hati agar air mata tidak berjatuhan. Aku tidak mau besok pagi mataku menjadi bengkak dan anak-anak melihatnya. Aku tidak akan membuat anak-anak melihat kesedihan di wajahku. Aku akan tidur. Aku harus tidur dan bangun subuh.

(Maya menggigil. Seperti masuk ke dalam jiwa dan raga sahabatnya. Seperti ikut merasakan kesakitannya. Mula-mula. Seterusnya kesakitan itu hilang menjadi suatu perasaan kebas dan hilang rasa. Kesedihan yang begitu mendalam sehingga tak dapat dirasakan sakitnya lagi. Seperti dada yang dirobek dan rasa sakitnya tak terasa lagi).

Maya, suamiku membenciku... Suatu hari dia mengatakan padaku bahwa aku begitu baik. Sedangkan dirinya tidak mampu menjadi suami yang pantas bagi diriku. Aku mengira kesulitan-kesulitan dalam mengembangkan karier di pekerjaannya, membuat dirinya patah semangat. Aku mengatakan padanya bahwa sebagai seorang istri aku ikhlas menerima dirinya seperti apa adanya.

Aku ingin berhenti bekerja karena anak-anak lahir lagi dan lagi. Tetapi suamiku justru melarangnya. Kau jangan jadi ibu rumah tangga saja. Biarlah kupanggil adik-adikku untuk membantu mengurus anak-anak. Begitu katanya.

Aku tidak mengerti apa yang berkecamuk dalam pikiran Yudi. Hanya sepotong-sepotong ucapannya yang kurangkai satu per satu. Aku mencoba mengerti.

Kamu cantik, pintar, dan punya pekerjaan bagus di kantor. Katanya. Kamu masih muda. Kamu masih punya kesempatan.

Aku tidak mengerti arah dan tujuan dari ucapannya. Yudi selalu berbicara terlalu sedikit bagiku. Aku tidak pernah bisa berhasil memintanya menjelaskan kepadaku apa yang membuatnya tidak bahagia. Apa yang membuatnya marah.

Mengapa kau hamil terus?!! Dengan wajah merah padam menahan amarah, Yudi melontarkan pertanyaan seruan itu padaku saat dia menerima berita kehamilan anak ketiga. Lalu juga ada anak keempat. Bahkan saat kehamilan dan kelahiran anak kedua pun, Yudi bersikap begitu hambar.

Maya.... aku mengira kami menikah berdasarkan cinta. Dan cinta akan menjadi kekuatan kami bersama menghadapi masa depan. Aku mengira anak-anak adalah buah cinta. Dan meskipun berat, kami akan selalu bahagia menghadapi kelahiran setiap anak.
Yudi semakin jauh dariku. Membenciku. Entah kenapa.
***

Setiap kali menerima surat dari sahabatnya, Maya selalu dapat melihat Tika seperti gambar film yang ditontonnya di bioskop. Tika berbicara dengan lemah lembut kepada anak-anaknya. Tika bekerja di kantornya. Sosok yang disegani bahkan oleh senior atau atasannya sekali pun. Raut wajahnya yang teduh, sikapnya yang santun, ucapan-ucapannya yang runtut, jelas, dan menguasai materi, caranya bekerja yang tekun, senyumannya. Siapa pun akan menghormatinya.

Maya bisa melihat Tika membacakan buku cerita di sisi ranjang anak-anaknya menjelang tidur. Menciumi wajah mereka. Menyelimuti mereka. Anak-anak berceloteh tentang rasa kangen kepada ayahnya.

Kemudian Tika berbaring di ranjangnya. Sendirian. Sebelumnya, menulis surat di atas meja rias di bawah lampu kamar yang temaram. Air mata menetes ke atas kertas. Tidak pernah ada surat dari Tika tanpa noda air mata. Tetesan air itu selalu ada. Tetapi Tika tidak pernah tenggelam dalam banjir air mata. Hanya tetesan kecil yang bergulir.

Sekarang Tahun 2008. Anak sulung sudah sudah menjadi pria tampan berusia 24 tahun. Seorang sarjana teknik yang bekerja di bidang IT di perusahaan asing di Jakarta. Kedua anak perempuan menjadi gadis-gadis cantik yang bahagia di masa-masa kuliahnya dan kelak tidak akan kesulitan jodo. Wanita-wanita muda yang lembut, santun, dan ceria. Si bungsu menjadi pemuda yang keren dan penuh cinta kepada ibunya. Selalu menjadi pelipur ibunya. Sekarang Tikalah yang mendapatkan pelukan dan ciuman yang menentramkan dari anak-anaknya.

Tika tidak lagi menulis surat pada Maya. Handphone telah mengubah cara berkomunikasi kita dan jarak terasa menjadi lebih dekat. Surat (snail mail) berubah menjadi email dan chatting di internet. Tika tidak pernah lagi menulis surat. Berlembar-lembar kertas surat berisi cerita tentang suaminya telah menghilang beberapa tahun ke belakang. Lebih dari lima tahun yang lalu.

Suami Tika sekarang selalu pulang. Tidak ada lagi Rina. Tidak ada lagi perempuan-perempuan lain yang pernah ada selain Rina. Tidak ada kemarahannya lagi. Rambut Yudi sudah sebagian memutih. Kegiatannya sehari-hari di luar kerja kantor sebagai karyawan adalah merawat tanaman di halaman rumah. Serta sembahyang 5 waktu. Puasa Senin-Kamis secara teratur dan olah raga jogging seminggu 3 kali. Tika mencapai puncak kariernya sebagai Dekan di fakultas tempatnya mengajar. Membaca buku adalah kesehariannya di saat tidak mengerjakan yang lain.

Maya bisa melihat Tika membuat teh panas dan pisang goreng di sore Hari Sabtu yang cerah. Menyuguhkannya pada suaminya yang sedang duduk di kursi teras rumah sambil memandangi tanaman-tanaman dan bunga yang dirawatnya.

Yudi menjadi pendiam. Semakin pendiam.

Maya bisa melihat Tika duduk di kursi yang lain di teras. Yudi duduk di kursi yang lain. Cangkir teh dan piring berisi pisang goreng di atas meja di tengah, di antara kedua kursi. Mereka memandang ke jalan. Memandang ke langit. Melihat hijaunya rumput dan warna merah kembang sepatu.

Yudi dan Tika sudah semakin tua. Tidak ada lagi yang bisa mengecewakan dalam hubungan meraka. Tidak ada lagi hal yang menyebabkan amarah di antara mereka. Tidak ada lagi yang menyebabkan kesedihan. Semua sudah berakhir menjadi kehidupan masa tua yang sudah meninggalkan rasa ambisi dan frustasi. Tidak ada lagi surat-surat yang bisa ditulis Tika untuk sahabatnya, Maya.
***

Januari 2009. (Untuk sahabatku. Kamu perempuan tangguh dan aku selalu mengenangmu dengan penuh cinta).