Rabu, 21 April 2010

Menjadi Perempuan Indonesia

Menjadi perempuan Indonesia adalah sebuah anugerah bagiku. Hidup menjadi penuh dengan kejutan dan petualangan. Sering menjengkelkan, tapi penuh pembelajaran.

Dalam separuh hidupku aku selalu berada di dalam dunia maskulin. Pekerjaan yang didominasi lelaki. Menjadi satu-satunya atau salah satu dari jumlah perempuan yang dapat dihitung dengan jari, perempuan yang bekerja di antara para lelaki.

Pada sebuah kegiatan di lapangan, aku tidak dapat tinggal dengan rombonganku di sebuah rumah yang menjadi base camp karena mereka semua lelaki. Aku “ditempatkan” di rumah masyarakat lainnya, di kamar anak perempuan yang menemaniku. Percuma aku bilang bahwa aku mau tinggal dengan tim karena tidak ingin terasing dari mereka, semua pria itu malah merasa terganggu. Aku sempat marah kepada pimpinan lembaga –tuan rumah kegiatan- yang bersikeras mengatakan padaku: “Kamu tidak bisa tinggal serumah dengan pria-pria....”

“Kenapa? Ada banyak orang dan saya tidak mau dipisahkan,” aku meradang. “Apa masalahnya? Jelaskan! Ini kerja lapangan, kenapa harus dipersoalkan hal seperti itu.” Aku ingat bagaimana suasana menjadi hening saat itu. Tapi itu bukan berarti keinginanku dituruti.

Begitu juga di hotel atau penginapan, aku sering sendirian sementara pria-pria bisa beramai-ramai dalam satu kamar.
***

Pernah aku berdiri di depan sebuah forum besar yang hampir 90% adalah pria. Saat itu perutku sedang buncit –hamil 5 bulan. Mereka semua memandangiku terperangah dengan mulut ternganga. Mungkin dalam pikiran mereka, lelaki seperti apa yang menjadi suamiku. Seorang perempuan yang berangkat ke luar Jawa dengan perut gendut.

Seorang teman pria yang sudah puluhan tahun malang melintang dalam kerja-kerja pengembangan masyarakat pun terkejut ketika melihatku di tempat pertemuan. “Kamu, sedang hamil?” katanya dengan mata terbelalak. Saat saya menelponnya untuk memintanya menjadi trainer tamu, dia sama sekali tidak mengira bahwa aku sedang berperut buncit. “Larangan terbang kalau di atas 7 bulan....” kataku kalem.

Sebenarnya petugas Bandara Cengkareng pun lumayan blingsatan ketika berhadapan denganku. Matanya penuh selidik memandang wajahku, karena perutku memang gendut sekali. “Apa betul baru 5 bulan?” tanyanya grogi dan bingung. Lumayan merepotkan juga punya penumpang sepertiku rupanya, karena butuh proses diskusi sekian waktu sampai akhirnya diputuskan aku menandatangani selembar pernyataan bahwa aku terbang atas kemauanku sendiri.

Aku tidak banyak cingcong dan menandatangani saja surat pernyataan itu. Sambil memperhatikan perilaku petugas yang bingung dan serba salah.
***
Temanku –seorang pria- menghela nafas sambil memandangi wajahku. “Kenapa?” tanyaku. “Tuh pria-pria itu semua memandangi kamu....” katanya. Temanku yang lain –seorang pria juga- tertarik pada pembicaraan ini berkomentar dalam bentuk pertanyaan: “Apakah itu pelecehan atau penghargaan?”

Aku mengerti bahwa aku berada di sebuah tempat yang masyarakatnya menabukan perempuan bepergian sendiri. Perempuan tidak boleh bepergian dengan pria bukan muhrim. Harus mendapat ijin suami bahkan untuk pergi ke tempat yang dekat.

“Itu penghargaan....” kata temanku yang pertama. Aku malas bicara, membiarkan saja kedua temanku ini berwacana. Memandangi wajah mereka ganti berganti. “Seorang perempuan di antara para lelaki, bepergian jauh dari rumah, berdiri di depan dengan suara nyaring di hadapan para pria,” kata temanku lagi. “Sungguh pemandangan yang aneh. Kenapa tidak pilih pekerjaan perempuan?” Kedua temanku ini hanya sedang merefleksikan suatu kejadian yang berlangsung di hadapan matanya. Jadi kubiarkan saja.

Seorang pria tidak dapat menahan pandangannya padaku terus-menerus. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Temanku berbisik padaku, “Pria itu melihat terus.....” Hal-hal seperti ini sering mewarnai pekerjaanku. Menjadi pengalaman seorang perempuan yang tak akan terjadi pada lelaki.

Yang menyebalkan adalah komentar pria yang mengatakan bahwa suamiku pasti seorang pria hebat, punya istri sepertiku. Yang menyenangkan adalah selalu ada sejumlah pria yang memberikan penghargaan. Juga jadi pelindung bila terjadi personal attack dari seorang pria kurang ajar yang terdorong ingin mengganggu. Seperti seorang pria yang mengatakan, “Saya anti gender.” Atau “Saya tidak akan punya istri yang pekerjaannya seperti lelaki....” Kalimat permusuhan. Kalau hanya sebagai pendapat pribadi dan canda, saya anggap tidak apa.
***

Bertemu dengan perempuan lain dalam komunitas lelaki adalah hal lain yang menyenangkan. Mereka pasti perempuan tangguh. Memang selalu begitu. Mudah bagiku bersahabat dengan sesama perempuan yang baru kukenal dalam dunia pria ini. Mudah bagi mereka juga untuk menerimaku dengan hangat dan karib.

Pandangan sesama perempuan berbeda. Mereka tidak melihatku seperti para pria, tidak mengatakan sesuatu seperti para pria. Selalu begitu.

Para perempuan beranggapan bahwa suamiku menerima pekerjaanku dengan biasa saja sebagai hal lumrah. Seperti suami mereka biasa saja bila istrinya kerja lapangan berhari-hari.

Menjadi perempuan adalah sebuah kesempatan untuk menghadapi tantangan ketika pilihan hiidup kita diwarnai dengan konflik nilai-nilai masyarakat tentang perempuan. Ibuku sendiri pun dalam sanubarinya sulit memahami pekerjaanku yang “seperti lelaki” atau bahkan lelaki pun tidak semua bisa kerja “seperti itu”. Kakak lelakiku saja dulu pernah tidak mendapat ijin orang tua ketika ingin kerja di Kalimantan. Itu dulu, saat keadaan jaman tidak seperti sekarang. Sekarang jarak bukan masalah lagi.

Aku belajar memahami dan membuat sikap tanpa harus meremehkan nilai dan norma itu. Tetapi juga tanpa harus mundur dari keyakinanku sendiri.

Memperingati Hari Kartini, 21 April 2010

Sekat

Orang Aceh memang pemimpin semua. Susah menjadi bawahan. Begitu kata orang-orang luar yang bekerja di Aceh. Entahlah, mungkin ini suatu penilaian yang berlebihan. Konon seorang pejabat pusat dalam pidatonya di sebuah acara yang dihadiri berbagai kalangan, mengatakan: Investor akan datang ke sini untuk membuka usaha. Ini akan menjadi peluang kerja bagi masyarakat asalkan saudara-saudara di sini bersedia bekerja sesuai dengan kapasitasnya, jangan semua ingin jadi bos.

Aku tidak mengerti orang Aceh. Juga tidak mengerti orang Dayak. Tidak mengerti orang Banjar. Orang Sasak. Orang Menado. Orang Nias. Orang Madura. Orang Maluku. Sekolah tidak mengajariku untuk mengerti kecuali mengenalkan gambarnya, pakaian dan rumah adatnya, nama tarian dan alat musiknya, dan peta. Apalagi sub-etnis seperti orang Komering di Sumsel, orang Banjar di Kalsel, suku Kajang di Sulsel yang mirip orang Badui, atau sub-etnis batak di Sumut. Tidak banyak orang luar yang memahami.

Aku belajar mengenal berbagai suku di negeriku dalam perjalanan dan kegiatanku dari suatu daerah ke daerah. Itu pun tak cukup lama. Ketika ke Aceh aku baru mengerti bahwa orang Aceh adalah multi-etnis dan kata Aceh pun ternyata dapat menjadi akronim dari Arab, Cina, Eropa, dan Hindia yang menunjukkan keberagaman etnis itu. Terdapat kampung yang gadis-gadisnya berwajah indo dengan matanya yang kebiruan atau coklat. Terdapat wajah-wajah Arab yang gagah dan cantik-cantik. Terdapat juga wajah-wajah putih keturunan Cina. Juga wajah orang melayu yang lebih mirip orang Jawa dan wajah India berkulit gelap (keling).

***

Jangan marah lah Yunus, kataku. Kau cuma seorang bawahan, dia bos. Meskipun kau merasa benar. Yunus mengatupkan bibirnya. Memangnya kalau aku bawahan, aku tidak boleh berpendapat, katanya. Bisa, tapi caranya harus pas, kataku. Aku tidak tahu cara yang pas itu bagaimana. Aku orang Aceh, aku bilang apa yang aku ingin bilang, katanya keras kepala.

Tapi bukan hanya Yunus –yang berwajah Arab putih itu- yang suka mengatakan ”aku orang Aceh begini, begitu”. Entah kenapa orang-orang Aceh yang kutemui suka sekali mengatakan ”aku ini orang Aceh”, ”orang Aceh itu”, ”kalau di Aceh itu”. Belum pernah kutemukan suatu tempat dari suku lain yang orang-orangnya begitu sering menyebut siapa dirinya. Rasa nasionalisme kesukuan yang tinggi.

Yunus, Rahma dan aku, pergi ke sebuah kampung untuk mengobrol dengan ibu-ibu tentang pengembangan usaha keluarga. Apa yang mereka rencanakan, dan membentuk kelompok untuk belajar usaha bersama dengan mengumpulkan modal berkelompok. Aku perhatikan bahwa hampir semua keluarga di kampung ini memiliki anak yang baru. Bayi-bayi yang lahir pasca tsunami begitu banyak. Banyak keluarga yang anak-anak kecil dan bayinya menjadi korban tsunami. Seorang ibu yang punya 4 anak, kehilangan 3 anaknya yang masih kecil-kecil dan punya bayi yang lahir paska tsunami dalam usia si ibu tak terlalu muda lagi. Yunus pun, kehilangan ibu, adik, dan kakaknya. Hanya tinggal dia dan ayahnya yang hidup.

Rahma dan Yunus nampak sangat antusias saat berbincang dengan masyarakat. Kedua orang staf lembaga program pengembangan masyarakat ini tidak mudah akrab denganku, begitu kesanku selama 2 minggu berada di organisasi mereka. Hanya sedikit demi sedikit yang dikatakan Rahma meskipun aku terus mencoba mengajaknya bertukar pikiran. Sampai suatu ketika dia mengatakan: Saya benci mengingat Tsunami. Saya tidak mau menontonnya di TV. Saya tidak mau membicarakannya. Saya tidak membaca buku apa pun tentang tsunami di Aceh.

Wanita muda yang baru lulus sekitar 2 tahun dari Unsyiah itu berwajah cantik, profilnya juga lebih ke Arab seperti Yunus, hanya lebih berwana coklat. Mereka berdua menjadi satu tim tetapi nampak tidak terlalu akrab terutama karena Yunus memang sering menimbulkan ketegangan karena pertentangannya dengan bosnya yang Jawa.

***

Sebelum konflik di Aceh berakhir dengan penandatanganan perjanjian perdamaian, Yunus adalah aktivis LSM yang pada masa itu dalam kondisi selalu dicurigai dan sembunyi-sembunyi. Tak heran sikapnya selalu keras.

Sebagai supervisor, Yunus memiliki sejumlah anak buah, yaitu para petugas lapangan. Mereka belum menghayati apa itu kerja pengembangan masyarakat. Mereka harus dikirim ke LSM di Jawa atau NTT yang para petugas lapangannya sangat militan, kataku ketika Yunus bersungut-sungut tentang cara kerja mereka. Bos bodoh itu tidak mau kerja betul, mana mau dia mengeluarkan dana untuk yang seperti itu, kata Yunus ketus.

Kerja betul. Bersungguh-sungguh peduli. Aku menemukan kata-kata itu yang menjadi inti dari rasa antipati Yunus kepada orang-orang luar. Orang-orang datang ke Aceh hanya sekedar untuk cari makan di atas kemalangan korban tsunami atau korban perang dan konflik. Sepertinya begitu yang terdapat dalam sikapnya yang tak bersahabat, meskipun tak dikatakan eksplisit padaku yang pengunjung dari luar. Sebuah prasangka yang menjadi sekat penghalang.

Aku di Aceh bersama seorang teman yang merupakan pejuang tangguh dalam kerja-kerja kemasyarakatan di desa-desa terpencil di pulau yang kondisi alamnya sangat kering. Kami menayangkan video dokumenter pendek kerja-kerja pendampingan di wilayah tandus dan kekeringan, cara kerja, dan proses-proses yang dibangun. Aku memandu para petugas lapangan itu untuk merumuskan sendiri dedikasi apa yang diminta kepada seorang yang bekerja untuk masyarakat. Mempelajari kesan yang mereka dapatkan dari mimik wajahnya satu per satu. Juga sikap mereka saat menjalankan tugas ke lapangan. Apakah menjadi semangat. Ataukah malah surut.

***

Saat-saat istirahat siang atau sore. Atau malam hari ketika aku duduk sendiri di beranda base camp lapangan tempat kami tinggal. Aku akan mendapat kunjungan dari teman-teman petugas lapangan itu. Kadang seorang saja. Kadang berdua orang. Atau berkelompok. Mengajak berbincang tentang Aceh dan masyarakatnya. Bertukar kata hati. Aku juga mencatat dalam hatiku, siapa yang justru menjauh dan menutup dirinya.

Bila kesempatan itu ada, akulah yang kemudian datang padanya. Rahma, maukah mendengar cerita tentang dua anak lelakiku, kataku. Aku selalu suka bercerita tentang mereka, dan banyak orang pun ternyata suka mendengarnya. Lalu bertukar cerita tentang anak-anaknya atau keluarganya. Rahma tersenyum mendengar cerita lucu tentang anak-anakku. Kalau saya punya suami dan anak-anak nanti, saya pun ingin mereka terbiasa bila saya lama pergi ke lapangan, katanya. Rahma tertarik untuk mendengar ceritaku sebagai perempuan yang pekerjaannya sering meninggalkan keluarga dalam waktu cukup lama.

Saya bercerita tentang Ella di Sumba, Laksmi di Lombok, Sri di Klaten, Kominta di Medan, dan banyak perempuan lain yang saya kenal, yang sering tinggal di desa berhari-hari dan mendapat dukungan suami dan anak-anaknya.

Saya dan Rahma asyik bercakap-cakap sampai larut malam. Yunus datang mendekat dan melemparkan senyuman. Saya akan buatkan kopi, mau? tanyanya. Rahma menoleh pada saya sambil tersenyum. Maulah, tengku, jawab saya.

Malam itu sungguh indah, bertaburan bintang di langit. Dari beranda tempat kami duduk-duduk, di atas bukit, nampak garis laut nun di bawah sana. Suara debur ombaknya samar-samar terdengar.

Bandung, April 2010

Rabu, 24 Maret 2010

Api dan Air (2)

Siapa yang bisa melupakan Pulau Sumba? Saat akan mendarat di Bandara Mauhau, Waingapu, dari jendela pesawat aku melihat permukaan bumi yang coklat tanpa pepohonan. Bentang alam yang menakjubkan. Sebuah tempat yang membuat imajinasiku terbang penuh fantasi.

Begitu keluar ruangan pengambilan bagasi, seorang pria yang rambutnya kemerahan dan kusut mawut, seperti tak kenal sisir, menghampiriku dan menyapa dengan ramah. Kami berjabatan tangan dengan erat.

Tidak bisa berhenti makan sirih....” katanya ketika melihat aku memperhatikan warna merah di bibirnya. Aku tertawa dan mengikuti langkah kakinya menuju tempat parkir mobil bandara.

Sekarang musim hujan....” Umbu Jaka menyampaikan kabar baik itu padaku. Aku tertawa terkekeh, teringat pada saat aku datang di musim kemarau dan melihat api yang menghanguskan padang rumput. Begitu keringnya sehingga sinar matahari dapat menyalakan api seperti sebuah pemantik raksasa.

Nona, sudah lama sekali tak jumpa,” seorang pria tak kukenal menyapaku. Aku tercengang dan memandang wajahnya. “Dua tahun lalu nona datang kemari....” katanya. Aku mengangguk-angguk dan menyalaminya.

Hmmmm di pulau ini, peristiwa-peristiwa mudah diingat karena tidak banyak hal yang terjadi. Kataku dalam hati.
***


Kami akan melakukan perjalanan ke kebun-kebun di beberapa kampung. Ini bukanlah perjalanan yang mudah. Jalan yang dilewati adalah jalan yang bergelombang raksasa untuk mencapai suatu kampung di sebuah lembah. Apa yang disebut gelombang adalah bila dilihat dari atas langit. Tapi di daratan artinya adalah gunung yang harus didaki dan dituruni dengan kemiringan yang terkadang membuat wajah menyentuh dengkul sendiri saat naik.

Aku menyiapkan perlengkapan di dalam ransel: jas hujan botol plastik berisi air putih yang dwi fungsi (untuk minum dan cebok bila kencing), sejumlah permen, dan kamera. Kali ini pria-pria yang menjadi peserta kegiatan.

Hanyalah aku dan Rambu Ella,perempuan dalam rombongan ini. Ella tak pernah repot-repot membawa ransel. Hanya jas hujan model jubah yang dibawanya di dalam sebuah kantong plastik yang diikatkannya di tali pinggangnya. Dia bahkan memakai rok dan sandal jepit. Sementara aku memakai sepatu untuk naik gunung yang nampak tebal. Sebuah ransel yang nampak besar di punggungku.

Perjalanan dilalui dengan bernyanyi-nyanyi untuk menghilangkan rasa lelah. Sambil bersenda gurau saling mengganggu.
***

Tiba-tiba hujan tercurah dengan deras diisertai angin yang kencang. Secepatnya kami mengenakan jas hujan: aku menggunakan celana dan baju dari plastik tebal. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan dengan diterjang hujan badai dan angin yang membutakan penglihatan.

Wo, wo, wo, wo, wo, sambil berjalan kami berteriak-teriak. Seolah-olah menggertak alam yang mengganas. Tidak takut!! Hayo maju!! Berjalan terus!!

Cepat. Cepat kita harus segera lewat sebelum terlambat. Teriak Umbu. Aku tidak tahu apa yang dimaksudkan dengan terlambat. Tetapi semua bergerak sekuat tenaga. Aku pun didorong seorang petani yang mengawal di belakangku agar berjalan lebih cepat. Ditarik oleh yang lainnya dari arah depan.

Cepat. Cepat kita lewat. Teriak Umbu. Aku terpana karena di hadapanku adalah sebuah bentang air yang mengalir deras. Sungai selebar jalan protokol di Jakarta. Bagaimana mungkin kita lewat?

Berpegangan tangan. Berpegangan tangan. Teriak Umbu. Kami berpegangan tangan untuk melangkah di dalam air.  
 
Cepat. Cepat kita masih sempat. Teriak Umbu. Air menaik dengan cepat sampai ke atas lutut. Namun kami telah menyeberang.

Kami bersorak-sorai penuh kemenangan dan air telah menjadi sungai lebar yang dalam. Kami semua berjongkok di tepinya untuk menontoni air yang lewat. Sambil diguyur hujan. Umbu mendekatiku. Kalau kita terlambat menyeberang, kita harus menunggu air surut sekitar 2 jam. Katanya menjelaskan.

Kami lalu melanjutkan perjalanan. Sambil berjalan kami berteriak-teriak: wo, wo, wo, wo, wo. Lawan!! Lawan!! Lawan!! Manusia lebih tangguh dari hujan, badai dan angin!! Kemudian kami sampai di sebuah perkampungan.
***

Segelas kopi dan ubi-ubian rebus yang panas sungguh menyenangkan saat kami duduk bersama di dalam rumah. Riuh rendah suara menceritakan “kemenangan” kami melewati sungai yang mendadak muncul menghalangi perjalanan.

Aku dan Ella duduk berhimpitan untuk saling menghangatkan. Pria-pria itu melirik padaku saat bercerita, melontarkan pujian atas kegigihanku saat berkejar-kejaran dengan waktu untuk secepat-cepatnya melewati sungai itu. Aku orang dari kota, sedangkan Ella orang sini, itu jadi lain. Ehemmmmmmm.

Hanya aku dan Tuhan yang tahu saat itu. Ketika aku berjalan di dalam air, aku tak bisa menahan kencing.
***

Api dan Air (1)

Aku dan penjemputku, Umbu Kala, melakukan perjalanan panjang yang menakjubkan dari Waingapu menuju sebuah desa di Sumba Barat. Jalan yang kami lewati meliuk-liuk melewati bentang alam yang belum pernah kulihat sebelumnya. Padang rumput (sabana) luas seperti tak berbatas. Hamparan bergelombang, berwarna kuning keemasan yang mempesona. Rumput golkar, mereka menyebutnya. Sebuah istilah yang sangat berarti di masa Orde Baru, dan tentu tidak lagi di masa sekarang.

Aku mencoba merekam apa yang kulihat sepanjang perjalanan. Udara yang sangat panas membuatku agak gelisah. “Mereka bisa terbakar... Kita harus cepat.” kata Umbu. Aku tidak mengerti apa itu “mereka” yang dimaksudkan.

“Berpegangan....” perintah Umbu. Aku terkejut karena mobil tiba-tiba tersentak. Kemudian melaju kencang di atas jalan setengah aspal yang tak mulus. Terguncang dan oleng ke kiri dan kanan.

Mataku terbelalak ketika di kejauhan aku melihat sesuatu. Apa itu? Apa itu? Aku mencoba menangkapnya dengan pandangan mataku. Nyala api. Nyala api yang bergerak. Mobil melaju kencang dan nyala api seperti mengejar. Tapi api harus terhenti di tepi jalan dan tak dapat melanjutkan perjalanannya. Terputus.

Rumput-rumput yang telah dilewatinya menyala-nyala meluas sampai apa pun yang dapat terbakar dan tertelan olehnya. Beberapa batang pisang yang kering kerontang pun terbakar sampai ke pucuknya. Batang pisang yang berair pun bisa sekering itu.

Aku gemetar ketakutan, menoleh ke belakang melalui jendela mobil “ Ke... kenapa? Kenapa itu? Dari.... darimana api itu?” tanyaku terbata-bata.

“Sebuah titik api matahari membakar rumput....” katanya sambil mengunyah sirih dan menyetir mobilnya dengan tenang. “Itu biasa terjadi di musim kemarau.....”

“Tapi... tapi..... kita hampir tersambar api tadi..... “ kataku tergagap-gagap. “Kita hampir kena.... tadi.....”

Umbu tenang-tenang saja menyetir mobilnya. “Tidaaaaaak. Tidak apa-apaaaaa.....” Dia menoleh ke belakang dan menunjuk. “Lihat jembatan batu itu.... Ada kali di bawahnya. Api tak akan lari kemari.....”

Aku terduduk lemas di atas jok mobil. Bersandar.
***



Aku sampai ke sebuah desa yang sangat elok. Terletak di dalam cekungan dan lembah-lembah yang mengumpulkan tanah hitam yang subur. Pohon-pohon dan kebun-kebun hijau di dalam cekungan seperti oase yang ada di tengah-tengah alam maha luas yang kosong. Aku tidak mengira akan menemukan kehidupan seperti ini. Sebuah keindahan yang eksotik seperti dalam dongeng.

Perkampungan terdiri dari rumah-rumah kayu berkaki, beratap alang-alang yang tertata rapi. Dinaungi oleh pohon-pohon bertajuk rindang. Bagian bawah rumah adalah kandang, bagian tengah menjadi tempat tinggal, dan bagian atapnya menjadi tempat bagi para arwah leluhur. Ukiran pada kayu-kayu banguna rumah itu mungkin mengandung makna magis. Kuburan batu terletak di tengah-tengah pemukiman. Batu-batu berat dan pipih dengan dihiasi ukiran-ukiran yang indah.

Nun jauh di sana, aku melihat bentang alam bergelombang dengan warnanya yang keemasan. Api mungkin meletup di sana. Tapi itu tak akan menjamah perkampungan di dalam lembah. Dibentengi oleh kebun dan petak-petak sawah tadah hujan.

Aku tinggal di sebuah kompleks bangunan yang menjadi pusat kegiatan belajar. Pesertanya adalah para wanita, muda maupun tua, menikah maupun belum. Bangunannya terdiri dari tempat tinggal, tempat pertemuan, kantor kecil, dan sejumlah kamar yang salah satunya kutempati.

Istri Umbu, seorang perempuan Jawa, membuat wanita-wanita itu gembira karena mereka diajak belajar. Belajar berbagai keterampilan di kebun. Belajar membaca, berhitung, berbicara dalam forum, dan berdiskusi. Mereka memilih pemimpin kelompok, sekretaris dan bendahara. Mereka belajar berorganisasi.

***

Aku segera melupakan peristiwa “dikejar” api itu. Bersama para wanita yang ramah dan tuan rumah yang menyenangkan, aku pun menjadi bagian dari kegembiraan kegiatan mereka. Suasana yang penuh canda tawa.

Aku menjadi “tamu” yang akan memberikan materi pelatihan untuk kelompok-kelompok wanita ini. Dan mereka sangat tidak sabar ingin segera memulai.

Umbu menjadi pria yang dikelilingi para wanita hanya pada jam istirahat. Asyik makan sirih sambil melihat dari jendela apa yang sedang dilakukan para wanita itu di saat sesi belajar. Tugasku hanyalah menyiapkan sejumlah topik untuk dibahas. Menyiapkan sejumlah pertanyaan untuk diperdebatkan. Membagikan bahan bacaan untuk ditelaah. Permainan-permainan untuk dipecahkan. Lelucon-lelucon untuk mengganggu para wanita yang terlalu tekun belajar. Atau terlalu serius membicarakan persoalan perempuan. Masalah gender, kata para wanita itu.

Kambing lari dan para suami membiarkannya. “Tangkap sana, kan kalian sudah gender....” katanya kepada sang istri. Aku tertawa terbahak dengan cerita-cerita yang tak habis-habisnya untuk dibagi.
***
Malam hari adalah saat yang paling menyenangkan. Para pria datang dan bergabung dengan para wanitanya untuk menari dan memainkan musik. Kain-kain Sumba bermotif hewan dan manusia yang indah itu dikenakan para wanita. Mereka memasangkan kain untukku. Para pria sebagian memakai celana panjang, sebagian lagi memakai kain dengan ikat kepala atau kain seperti selendang yang diletakkan di bahu.   

Selama hidupku, inilah pertama kali aku menari dalam sebuah kelompok yang banyak. Menari. Mengayunkan kedua lengan. Meliukkan tubuh. Melangkahkan kaki mengikuti irama yang melenakan. Perempuan tua pun menari. Anak-anak pun menari.

Siapa yang bisa melupakan Pulau Sumba? Aku akan selalu merindukannya.
***

Ceritanya baru tentang api, BERSAMBUNG untuk cerita tentang air.....

Senin, 22 Maret 2010

Tamu Tak Diundang

Orang-orang di perjalanan. Aku memandang orang-orang dari jendela bis antar daerah: petani di sawah, pejalan kaki, anak-anak bermain kejar-kejaran, lelaki-lelaki duduk berbincang di warung kopi, perempuan menyuapi anak makan, perempuan mencari kutu di kepala perempuan lain, nenek menyapu pekarangan, pedagang keliling. Aku tak measa wajah-wajah mereka asing. Sekali pun hanya kulihat dari jendela bis yang bergerak sampai masuk ke terminal.

Setelah itu aku menuju sebuah kampung. Lebih enak naik ojeg karena aku bisa mampir kapan saja untuk mengambil foto pemandangan alam yang bagus.

Perkampungan yang sebelumnya tak pernah kukunjungi. Gunung menjulang yang penuh kharisma. Sawah terhampar hijau. Tambak-tambak dan samudra biru yang indah. Sebuah sudut wilayah pantai yang menimbulkan perasaan ironi karena kemiskinan, hasil pangan tak sukup untuk setahun, dan kekurangan air bersih. Aku terdampar kesorean, mengunjungi rumah Pak RT yang tak ada di rumah, berjumpa seorang pria yang kemudian membawaku ke sebuah rumah yang menerimaku dengan ramah.

Bermalamlah di sini, kata perempuan muda yang sedang menggendong bayinya. Sepiring nasi hangat, sambal sederhana, telor ceplok baru digoreng, dan kecap, tersaji sebagai makan malamku. Kesederhanaan yang begitu lezat. Aku bahkan tidak tahu nama-nama pasangan suami-istri itu yang menerimaku bermalam di rumahnya. Selain bayinya, mereka mempunyai anak lelaki berumur 6 tahun yang memandangku dengan malu-malu.

Mereka hanya memiliki satu kamar. Sebenarnya rumahnya cukup besar, tetapi sebuah ruang dibiarkan terbuka luas dengan balai-balai di sebuah sudut untuk tempat tidur anak lelakinya. Lebih enak tidur di tempat terbuka karena udara panas pantai yang selalu membuat tubuh basah berkeringat.

Aku berdiri di tengah kamar yang dengan penuh penghormatan mereka berikan kepadaku untuk tempat bermalam. Satu-satunya kamar yang mereka miliki. Sebuah tempat tidur dengan kasur kapuk yang tebal dan nampak nyaman. Kelambu untuk melindungi nyamuk daerah pantai yang ganas. Lemari pakaian dari kayu di tepi pintu, sebuah gentong besar terbuat dari tanah liat, ditutup oleh sebuah kayu berbentuk lingkaran yang di atasnya memiliki tonjolan. Tidak banyak barang dan begitu sederhana rumah ini.

Aku melangkah ke arah gentong itu, menggeser penutupnya yang lumayan berat. Beras. Isinya persediaan beras. Lampu cempor menyinarkan cahaya dan efek-efek bayangan di dinding yang membuatku menatapnya cukup lama. Suasana di luar sangat gelap ketika kusingkap tirai kain jendela kamar. Suara serangga menghiasi malam, bulan mengintip dari balik pohon lengkeng di kebun halaman. Samar-samar kudengar suara sejumlah orang bercakap-cakap. Aku membayangkan pria-pria memakai sarung yang duduk di atas balai-balai yang umum dibuat di halaman rumah. Para pria sering berkumpul di balai seperti itu dan mungkin mereka pun tidur di sana bila di dalam rumah sangat panas. Dengan obat nyamuk yang dinyalakan di kolongnya. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana masalah nyamuk itu.

Kemudian aku berjingkat ke arah pintu yang menghubungkan dengan ruangan yang luas itu. Kusibak penutup pintu yang hanya berupa tirai kain untuk melihat ke ruang yang gelap itu. Sebuah lampu cempor tidak cukup menerangi semuanya tetapi aku dapat melihat tikar yang digelar di lantai untuk tempat tidur, dan adegan berupa vignet yang terbentuk oleh cahaya terhadap orang-orang yang rupanya belum tidur. Sang istri duduk di tepi balai, sementara anak-anaknya berbaring tidur. Sang suami duduk bersandar di atas tikar seraya memegang bantal. Aku mendengar suara berbisik. Sebuah pertengkaran. Airmata mengalir di pipi sang istri dan ia mengusapnya.

Aku sedang duduk di ats tempat tidur, bersandar di dinding dengan kepala bertumpu pada bantal. Kudengar seseorang masuk ke dalam. Perempuan itu memberiku sebuah selimut tipis, seraya berbisik padaku. Suamiku, dia kawin lagi dengan perempuan dari kampung sebelah. Katanya. Aku memandang wajahnya. Cantik. Kenapa seorang lelaki tak bisa terpuaskan. Islam membolehkan lelaki memiliki istri lebih dari satu, bisiknya lagi. Entah membela suaminya dari tatapan mataku atau hanya sekedar menjelaskan.

Kami saling berpandangan lagi. Saling tersenyum. Karena apa juga yang bisa kita perbincangkan. Aku cuma seorang tamu tak diundang. Perempuan aneh yang melakukan perjalanan sendirian.

Pagi hari aku mandi dengan seember air yang disediakan tuan rumah. Air bersih memang langka di wilayah itu. Sebuah keahlian diperlukan untuk bisa menunaikan gosok gigi dan mandi dengan air terbatas.

Sarapan pagi telah disiapkan istri yang empunya rumah yaitu nasi goreng dan telor ceplok lagi, serta segelas teh manis panas. Aku makan bersama sang suami, sementara sang istri sedang menyuapi anak sulung sambil meneteki bayinya. Aku menatap wajah pria itu dan dia tersenyum sambil mempersilakana aku menambah nasi lagi. Aku tersenyum dan mengatakan sudah cukup kenyang.

Setelah menjalankan tugasku untuk melakukan reportase mengenai pencemaran yang dilaporkan masyarakat menjadi tanggung jawab sebuah perusahaan tambang minyak di wilayah pantai itu, aku masih menyempatkan diri mampir ke ”penginapan”ku. Aku ingin memeluk perempuan yang sedang bersedih itu. Tetapi itu tidak perlu kulakukan karena aku hanya orang asing yang terdampar.

Pria itu, istrinya dengan bayi dalam gendongannya, dan si anak lelaki, mereka berdiri melepas kepergianku. Membalas lambaian tanganku dengan senyuman. Ojeg membawaku ke terminal bis.

Selamat tinggal Indramayu.

Bandung, Maret 2010

Jumat, 12 Februari 2010

Cintaku Menyeberangi Lautan Maluku











Cintaku jauh di seberang lautan.... melompati pulau-pulau..... melewati batas waktu......


Aku merindukanmu, dan ku tahu kau menungguku.... Aku ingin bersamamu, namun aku harus pergi untuk mencari pengetahuan tentang kehidupan. Aku berjanji, aku tidak akan meninggalkanmu selamanya......












Kirim seribu SMS padaku setiap hari, dari ladang atau tepian sungai.....

Sementara ku sedang terjebak macet di Jalan Sudirman atau terhimpit bis kota Jakarta, mencari kerja....

Kau tak tahu betapa ku mendamba indahnya kampung halaman kita, saat ku terpuruk di kamar sempit di kota metropolitan. Cinta tak punya ruang untuk kubawa ke sini....

Tanah pun tak cukup untuk pohon dan rumput. Sayangku, janganlah mencariku di sini.... karena aku akan pulang untukmu.....












di Dermaga Waipirit, tunggulah aku kan datang untukmu....

(Bandung-Jakarta-Ambon-Seram Bagian Barat. Des-2009).


Tersesat di Kalimantan

Suatu hari kampung itu diserbu. Karena mereka adalah kafir, liar, berdosa, dan harus disadarkan. Karena mereka primitif, tidak bisa dengan diajak bicara, terpaksa dengan cara keras. Mereka harus diislamkan. Kalau tidak mereka akan meneruskan upacara-upacara orang kafir. Menjadi kewajiban kita untuk menolong mereka dan anak keturunannya.

Mereka kemudian menghilang di balik gunung. Menjauh dari peradaban. Sekolah. Puskesmas. Dokter. Pasar. Dilupakan keberadaannya.

Sebuah gerbang yang tak terlihat. Pintu masuk yang jarang dimasuki orang luar kecuali yang tersesat. Jalan menuju ke sana tak nampak. Sungai yang primitif dinaungi goa yang panjang terbentuk dari tajuk-tajuk pohon dan akar-akarnya yang terjalin. Sebuah maha karya alam yang tak mungkin ditandingi manusia.

Semak belukar dan bunga-bunganya yang eksotik. Pohon-pohon rindang dan akar-akarnya yang gemulai dan kuat. Tebing-tebing dan batu hitam. Air jernih mengalir di sepanjang jalan setapak.

Kabut tebal turun dari gunung seperti mengulurkan tangan ke arah perkampungan yang asri. Apabila hujan sangat besar turun, sebuah danau raksasa terbentuk di kaki gunung itu dan meneggelamkan pepohonan di bawahnya.

Kabut membuat orang-orang kampung takut ladang padi dan jagungnya rebah karena kehilangan daya. Banjir menghantui. Gagal panen yang mengancam. Alam yang tak ramah. Angin yang jahat. Hujan badai yang tak kenal ampun.

Penduduk kampung itu punya cerita tentang orang-orang kafir di masa dulu. Orang-orang yang tak mengenal agama. Mereka tak pernah terlihat lagi. Mungkin sudah punah. Sebagian sudah membaur dengan warga kampung dan entitas asal mereka tak lagi ada.

***

Wajah-wajah yang ramah dan manis. Aku berada di tengah lingkaran manusia yang sedang duduk bercengkerama sambil menikmati kopi dan umbi-umbian yang baru direbus. Udara dingin tidaklah menghalangi kehangatan suasana.

Seseorang yang Berbahasa Indonesia, menerjemahkan ceritaku. Anak-anak memandang dengan wajah penuh perhatian. Seolah-olah melihat hal ajaib. Matanya terbelalak. Apalagi ketika kutunjukkan gambar-gambar dunia luar sana dari kamera dijitalku.

Perasaan ajaib yang sama kurasakan terhadap mereka. Masyarakat yang tidak mengenal listrik, TV, sekolah, dan dokter. Tidak mengenal kain buatan pabrik. Kain-kain tenun buatan para wanita itu sangat indah. Seperti lukisan dalam bentuk jalinan benang. Bebungaan, dedaunan, fauna, yang menonjol seperti ukiran di atas kain atau kulit hewan.

Pria-prianya berwajah tampan. Tubuhnya keras berotot. Atletis. Berkulit bening, mengkilap dan jernih. Kulitnya berhias indah dengan lukisan flora dan fauna. Bulu-bulu burung di atas topi anyaman dan tombak kayunya menjadikan kejantanan mereka indah dipandang. Mereka manusia-manusia penyuka keindahan yang tentunya berhati lembut.

Wanitanya cantik, berotot namun gemulai. Rambut hitam legam kontras dengan kulitnya yang bersih. Bayi-bayinya bulat dan bermata sipit. Tergantung di kantong anyaman yang membuatnya nyaman dalam kehangatan tubuh ibunya.

Bertelanjang kaki. Berdandan dengan perhiasan dari batu alam, kayu-kayuan, dan gigi hewan. Kecantikan yang membuatku terpana. Meskipun wajah mereka berbedak lumpur beras yang ditumbuk.

Anak-anaknya, lelaki dan perempuan memiliki kaki yang kokoh. Kecepatan berjalan di jalan-jalan setapak yang berbukit dan berlumpur saat hujan, sangat menakjubkan. Tertawa terkikik-kikik melihat aku bersusah payah berjalan dengan sepatu penuh tanah liat yang basah. Mereka meletakkan batu-batu berat agar aku bertumpu saat melangkah dan tidak tergelincir.

Sungguh berlimpah hidup mereka. Duku (langsat) yang sangat enak, manis-asam, setiap hari kunikmati. Lengkeng hutan yang bijinya besar, berkulit kasar dengan warna coklat kemerahan. Pisang yang tandannya luar biasa besar. Buah cempedak yang wangi dan buahnya kuning ranum diambil saat jatuh karena terlalu matang. Ikan segar yang diangkat dari sungai dan daging rusa segar. Umbi, beras ladang dan sayur yang lezat.

Hmmmmm. Aku tak mau melupakan rasa, wangi, warna, dan rupa yang tak akan lama menjadi milikku. Suara musik dan nyanyian terindah yang pernah singgah di gendang telingaku.

Aku menyesal tidak dilahirkan sebagai mereka. Kecantikan yang asli. Kebahagiaan yang murni. Alam mencintai mereka sepenuhnya dan melimpahi kehidupan mereka dengan semua yang dibutuhkan.

***

Akhirnya kami sampai di kampung setelah perjalanan yang sangat panjang. Melewati gunung, hutan, sungai, belukar, tebing.

Orang-orang kampung terkejut melihat wajah-wajah kami yang merah terbakar matahari. Baju yang berdebu. Baju yang dicuci, dijemur, dan dipakai tanpa tersentuh setrika. Ransel yang menjadi coklat oleh tanah.

Orang-orang kota yang aneh. Apa yang mereka cari di puncak gunung sana dan berminggu-minggu menghilang di balik hutan rimba. Mungkin itu yang ada di benak orang kampung. Cerita tentang orang-orang kafir yang tak mengenal agama di atas gunung itu, dan mungkin sudah punah, menjadi obrolan kami di malam hari.

Aku tidak berkata apa pun. Temanku tidak berkata apa-apa. Kami telah tersesat ke sebuah tempat yang sangat indah. Namun itu tak perlu diberitakan kepada orang-orang yang justru takut pada kemurniannya.

***