Jumat, 21 Mei 2010
Pernikahan
Sementara usianya sudah 29 tahun. Agak terlambat menikah untuk ukuran Kota Bandung sekalipun. Pada masa sekolah, Wini membayangkan menikah pada usia 22 tahun. Muda dan segar seperti bunga yang baru mekar. Ia ingin menikah pada saat puncak kemudaannya. Wini ingin bersanding di kursi pelaminan dengan pria yang menatapnya tak lepas-lepas. Maka semua orang pun jadi tersenyum melihat cinta yang berujung pada ikatan yang mulia itu: pernikahan.
Semakin dekat pada keputusan hari pernikahannya, semakin tahulah Wini bahwa dia tidak akan mendapatkan pernikahan seperti yang dibayangkannya. Kedua orang tua Rahman dan orang tuanya sudah melakukan langkah-langkah untuk menyelenggarakan helatan pernikahannya. Rahman semakin sibuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan ini, itu, dan itu, sesuai yang diminta orang tua Wini selaku keluarga yang akan menjadi tuan rumah perhelatan. Setiap bertemu dengan Rahman, Wini hanya melihat wajah yang dingin dan lelah, terutama bila menghadapi pembicaraan dengan ayah atau ibunya mengenai ini, itu dan itu tadi, daftar kebutuhan untuk pernikahan mereka menurut pandangan orang tua dan para kerabat.
Wini memperhatikan bagaimana Rahman mencoba berbicara sopan kepada ibunya mengenai kartu undangan pernikahan. Ibunya berbicara dengan Rahman mengenai kartu undangan yang akan dicetak: warnanya, ukurannya, tulisannya, nama-nama yang dicantumkan di bawah teks “Turut Mengundang”, souvenir dan ucapan terimakasih kepada tamu undangan yang satu set dengan kartu undangannya. Mereka saling berbicara, tetapi berbicara sendiri-sendiri tidak saling mendengarkan. Intinya, Rahman mencoba mengatakan bahwa kartu undangan tidak perlu sangat mewah. Pembicaraan itu nampak melelahkan Rahman yang kemudian hanya terdiam dengan wajah yang kehilangan kegembiraan.
***
Bi Tia adalah adik ibu Wini yang murah hati dalam membantu acara-acara atau hajatan yang menyibukkan keluarga penyelenggara. Telepon sang ibu kepada adiknya itu tidak henti-henti, menanyakan tentang warna kain kebaya untuk seragam keluarga, jenis dekorasi pernikahan, menu hidangan makanan, serta ini, itu dan itu. Begitu juga dengan kakak-kakak perempuan Wini, mereka lebih sibuk daripada Wini yang akan menjadi mempelai.
Terkadang Wini unjuk pendapat, terutama bila kesibukan keluarganya itu membutuhkan uang yang diminta kepadanya. Uang yang ada di tangan Wini itu kepunyaan Rahman dan terasa semakin menipis. Menikah pada masa sekarang? Begitu mahal. Ingin menangis rasanya Wini memikirkan bahwa uang tabungan itu hasil jerih payah Rahman bekerja dalam waktu yang cukup lama. Lima tahun.
Wini adalah wanita cantik. Pada waktu sekolah, Wini mendapat surat cinta dari seorang teman lelaki yang tampan dan membuatnya berbunga-bunga. Kemudian Wini bermimpi pria itu menjadi kekasih sejatinya sampai mereka dewasa dan menikah dengan bahagia. Happy ending. Mereka saling pandang di bawah pohon rimbun yang berbunga indah dan berjatuhan di atas rumput. Padang rumput hijau membentang melatari dua sejoli yang penuh asmara. Langit di belakangnya sangat biru dengan awan-awan putih yang teduh.
Kebahagiaan itu hanya diperlukan untuk mereka berdua. Wini tidak harus membuat 1.000 undangan berpita. Cinta itu begitu indah hanya dengan sekuntum bunga yang dipetik di antara rumput dan diselipkan di antara rambutnya. Tidak harus ada pilar-pilar yang dihiasi kembang-kembang dari toko, serta patung pengantin yang diukir dari es.Wini menjadi cantik karena senyuman di wajahnya itu menggambarkan segenap perasaannya ketika kekasihnya menciumnya. Tidak perlu katering dan tenda-tenda hidangan. Tidak perlu foto-foto pre-wedding yang berlatar mobil pengantin berhias yang bukan miliknya.
Tetapi dalam dunia nyata, cinta itu memiliki jalannya sendiri. Ada aturan-aturan yang melarang cinta itu terlalu apa adanya. Ada pernik-pernik yang dibuat-buat untuk memenuhi syarat-syarat dari masyarakat, dan keluarganya tak bersalah kalau tidak ingin menjadi malu bila tidak mengikuti norma-norma itu.
***
Setelah berusia 29 tahun dan hari-hari pernikahannya semakin dekat, Wini menyadari bahwa perempuan cantik pun seharusnya memiliki uang. Uangnya sendiri yang membuatnya bisa berpendapat. Tetapi, entah kenapa selalu yang tercetus dari bibirnya adalah: “Saya harus bilang dulu kepada Kang Rahman....” Tentu saja Rahman kemudian menjadi terlalu sungkan untuk menolak keinginan –yang mendesak- dari ibunya, bibinya, kakak perempuannya. Juga ayahnya. Ayahnya membutuhkan pakaian baru yang sama dengan besan lelaki saat nanti mendampingi mempelai di atas pelaminan.
Sepertinya sulit bagi Wini untuk menyuarakan pendapatnya sendiri. Ibunya memperlakukan Wini sebagai seorang yang tak perlu membuat keputusan karena uang itu bukan miliknya. Wini lebih sering mendapat perintah mengeluarkan uang setelah ibunya menelpon Rahman dan mengajukan suatu kebutuhan. Setelah pembicaraan telpon itu, tugas Wini adalah mengeluarkan uang yang dibutuhkan ibunya untuk membayar uang muka ini dan itu.
Wini memiliki 5 pilihan. Pria-pria yang mengejarnya. Sejenak kesadaran pernah singgah di benak Wini. Seharusnya dia memilih Tommy, bukan Rahman yang menjadi pacarnya selama 12 tahun. Segala masalah pernik-pernik pernikahan itu bukanlah apa-apa bagi Tommy yang keuangannya lebih mampu. Ketika Wini menatap wajah Rahman, sementara sebaliknya tidak pernah lagi menatap wajahnya, Wini mengira bahwa pernikahan mereka bukanlah saat terbaik juga bagi Rahman. Pada tahun-tahun terakhir, sudah tidak ada lagi senyuman di bibir sambil memandang penuh rasa cinta yang dulu pernah dilihat Wini di wajah Rahman.
Setelah 12 tahun berpacaran dengan Rahman, hari-hari pernikahannya semakin mendekat. Pilihan itu artinya sudah hilang dan Wini sekarang sedang menuju ke satu keadaan –menikah dengan Rahman. Sesudah itu Wini akan menjadi ibu rumah tangga yang baik, cantik meski usianya sudah tak sangat muda, pandai memasak dan berdandan, suka membaca, memiliki banyak teman di face book, memiliki suami yang cukup tampan, sarjana, dan kerja kantoran.
Meskipun Wini seorang sarjana, namun sejak awal Rahman adalah pria yang mengharapkan Wini menjadi ibu rumah tangga. Sesuatu yang disetujui Wini demi impian cintanya dahulu. Impian yang sudah pudar menjelang hari pernikahan.
***
Apabila Rahman datang ke rumah, Wini memandang wajahnya. Sebaliknya, Rahman tidak memandang wajah Wini. Wajahnya lelaki itu terasa begitu dingin. Lelah jiwa dan raganya memenuhi tuntutan kewajiban seorang pria yang harus membiayai pernikahan yang pantas dan tidak memalukan keluarganya maupun keluarga sang istri. Saat berbicara pun nampak seperti pikiran dan perasaannya tidak hadir.
Semakin dekat pada hari pernikahannya, Wini semakin tahu bahwa dia tidak akan mendapatkan pernikahan seperti yang diimpikannya.
Wini memimpikan pria yang memandang wajahnya tak lepas-lepas saat duduk di pelaminan. Senyum di wajahnya dan getaran di sekujur tubuhnya menghadapi satu hari yang tidak akan terulang lagi adalah momentum terbaik dalam hidupnya.
Namun catatan pengeluaran dan daftar kebutuhan yang telah menghabiskan uang tabungan hasil kerja Rahman bertahun-tahun, telah menghancurkan hari yang paling berharga dalam hidupnya. Bukan hanya mereka tidak memiliki tabungan untuk bekal menghadapi hidup baru, tetapi juga sejumlah pinjaman dari kantor, bank, dan keluarga, menghantui hari esok yang akan mereka jalani.
Namun kehilangan terbesar yang dialami Wini adalah kehilangan pancaran cinta dan senyuman di wajah Rahman pada hari yang seharusnya menjadi hari terindah dalam hidupnya.
***
Bandung, 29 Januari 2010
Rabu, 21 April 2010
Menjadi Perempuan Indonesia
Dalam separuh hidupku aku selalu berada di dalam dunia maskulin. Pekerjaan yang didominasi lelaki. Menjadi satu-satunya atau salah satu dari jumlah perempuan yang dapat dihitung dengan jari, perempuan yang bekerja di antara para lelaki.
Pada sebuah kegiatan di lapangan, aku tidak dapat tinggal dengan rombonganku di sebuah rumah yang menjadi base camp karena mereka semua lelaki. Aku “ditempatkan” di rumah masyarakat lainnya, di kamar anak perempuan yang menemaniku. Percuma aku bilang bahwa aku mau tinggal dengan tim karena tidak ingin terasing dari mereka, semua pria itu malah merasa terganggu. Aku sempat marah kepada pimpinan lembaga –tuan rumah kegiatan- yang bersikeras mengatakan padaku: “Kamu tidak bisa tinggal serumah dengan pria-pria....”
“Kenapa? Ada banyak orang dan saya tidak mau dipisahkan,” aku meradang. “Apa masalahnya? Jelaskan! Ini kerja lapangan, kenapa harus dipersoalkan hal seperti itu.” Aku ingat bagaimana suasana menjadi hening saat itu. Tapi itu bukan berarti keinginanku dituruti.
Begitu juga di hotel atau penginapan, aku sering sendirian sementara pria-pria bisa beramai-ramai dalam satu kamar.
***
Pernah aku berdiri di depan sebuah forum besar yang hampir 90% adalah pria. Saat itu perutku sedang buncit –hamil 5 bulan. Mereka semua memandangiku terperangah dengan mulut ternganga. Mungkin dalam pikiran mereka, lelaki seperti apa yang menjadi suamiku. Seorang perempuan yang berangkat ke luar Jawa dengan perut gendut.
Seorang teman pria yang sudah puluhan tahun malang melintang dalam kerja-kerja pengembangan masyarakat pun terkejut ketika melihatku di tempat pertemuan. “Kamu, sedang hamil?” katanya dengan mata terbelalak. Saat saya menelponnya untuk memintanya menjadi trainer tamu, dia sama sekali tidak mengira bahwa aku sedang berperut buncit. “Larangan terbang kalau di atas 7 bulan....” kataku kalem.
Sebenarnya petugas Bandara Cengkareng pun lumayan blingsatan ketika berhadapan denganku. Matanya penuh selidik memandang wajahku, karena perutku memang gendut sekali. “Apa betul baru 5 bulan?” tanyanya grogi dan bingung. Lumayan merepotkan juga punya penumpang sepertiku rupanya, karena butuh proses diskusi sekian waktu sampai akhirnya diputuskan aku menandatangani selembar pernyataan bahwa aku terbang atas kemauanku sendiri.
Aku tidak banyak cingcong dan menandatangani saja surat pernyataan itu. Sambil memperhatikan perilaku petugas yang bingung dan serba salah.
***
Temanku –seorang pria- menghela nafas sambil memandangi wajahku. “Kenapa?” tanyaku. “Tuh pria-pria itu semua memandangi kamu....” katanya. Temanku yang lain –seorang pria juga- tertarik pada pembicaraan ini berkomentar dalam bentuk pertanyaan: “Apakah itu pelecehan atau penghargaan?”
Aku mengerti bahwa aku berada di sebuah tempat yang masyarakatnya menabukan perempuan bepergian sendiri. Perempuan tidak boleh bepergian dengan pria bukan muhrim. Harus mendapat ijin suami bahkan untuk pergi ke tempat yang dekat.
“Itu penghargaan....” kata temanku yang pertama. Aku malas bicara, membiarkan saja kedua temanku ini berwacana. Memandangi wajah mereka ganti berganti. “Seorang perempuan di antara para lelaki, bepergian jauh dari rumah, berdiri di depan dengan suara nyaring di hadapan para pria,” kata temanku lagi. “Sungguh pemandangan yang aneh. Kenapa tidak pilih pekerjaan perempuan?” Kedua temanku ini hanya sedang merefleksikan suatu kejadian yang berlangsung di hadapan matanya. Jadi kubiarkan saja.
Seorang pria tidak dapat menahan pandangannya padaku terus-menerus. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Temanku berbisik padaku, “Pria itu melihat terus.....” Hal-hal seperti ini sering mewarnai pekerjaanku. Menjadi pengalaman seorang perempuan yang tak akan terjadi pada lelaki.
Yang menyebalkan adalah komentar pria yang mengatakan bahwa suamiku pasti seorang pria hebat, punya istri sepertiku. Yang menyenangkan adalah selalu ada sejumlah pria yang memberikan penghargaan. Juga jadi pelindung bila terjadi personal attack dari seorang pria kurang ajar yang terdorong ingin mengganggu. Seperti seorang pria yang mengatakan, “Saya anti gender.” Atau “Saya tidak akan punya istri yang pekerjaannya seperti lelaki....” Kalimat permusuhan. Kalau hanya sebagai pendapat pribadi dan canda, saya anggap tidak apa.
***
Bertemu dengan perempuan lain dalam komunitas lelaki adalah hal lain yang menyenangkan. Mereka pasti perempuan tangguh. Memang selalu begitu. Mudah bagiku bersahabat dengan sesama perempuan yang baru kukenal dalam dunia pria ini. Mudah bagi mereka juga untuk menerimaku dengan hangat dan karib.
Pandangan sesama perempuan berbeda. Mereka tidak melihatku seperti para pria, tidak mengatakan sesuatu seperti para pria. Selalu begitu.
Para perempuan beranggapan bahwa suamiku menerima pekerjaanku dengan biasa saja sebagai hal lumrah. Seperti suami mereka biasa saja bila istrinya kerja lapangan berhari-hari.
Menjadi perempuan adalah sebuah kesempatan untuk menghadapi tantangan ketika pilihan hiidup kita diwarnai dengan konflik nilai-nilai masyarakat tentang perempuan. Ibuku sendiri pun dalam sanubarinya sulit memahami pekerjaanku yang “seperti lelaki” atau bahkan lelaki pun tidak semua bisa kerja “seperti itu”. Kakak lelakiku saja dulu pernah tidak mendapat ijin orang tua ketika ingin kerja di Kalimantan. Itu dulu, saat keadaan jaman tidak seperti sekarang. Sekarang jarak bukan masalah lagi.
Aku belajar memahami dan membuat sikap tanpa harus meremehkan nilai dan norma itu. Tetapi juga tanpa harus mundur dari keyakinanku sendiri.
Memperingati Hari Kartini, 21 April 2010
Sekat
Aku tidak mengerti orang Aceh. Juga tidak mengerti orang Dayak. Tidak mengerti orang Banjar. Orang Sasak. Orang Menado. Orang Nias. Orang Madura. Orang Maluku. Sekolah tidak mengajariku untuk mengerti kecuali mengenalkan gambarnya, pakaian dan rumah adatnya, nama tarian dan alat musiknya, dan peta. Apalagi sub-etnis seperti orang Komering di Sumsel, orang Banjar di Kalsel, suku Kajang di Sulsel yang mirip orang Badui, atau sub-etnis batak di Sumut. Tidak banyak orang luar yang memahami.
Aku belajar mengenal berbagai suku di negeriku dalam perjalanan dan kegiatanku dari suatu daerah ke daerah. Itu pun tak cukup lama. Ketika ke Aceh aku baru mengerti bahwa orang Aceh adalah multi-etnis dan kata Aceh pun ternyata dapat menjadi akronim dari Arab, Cina, Eropa, dan Hindia yang menunjukkan keberagaman etnis itu. Terdapat kampung yang gadis-gadisnya berwajah indo dengan matanya yang kebiruan atau coklat. Terdapat wajah-wajah Arab yang gagah dan cantik-cantik. Terdapat juga wajah-wajah putih keturunan Cina. Juga wajah orang melayu yang lebih mirip orang Jawa dan wajah India berkulit gelap (keling).
***
Jangan marah lah Yunus, kataku. Kau cuma seorang bawahan, dia bos. Meskipun kau merasa benar. Yunus mengatupkan bibirnya. Memangnya kalau aku bawahan, aku tidak boleh berpendapat, katanya. Bisa, tapi caranya harus pas, kataku. Aku tidak tahu cara yang pas itu bagaimana. Aku orang Aceh, aku bilang apa yang aku ingin bilang, katanya keras kepala.
Tapi bukan hanya Yunus –yang berwajah Arab putih itu- yang suka mengatakan ”aku orang Aceh begini, begitu”. Entah kenapa orang-orang Aceh yang kutemui suka sekali mengatakan ”aku ini orang Aceh”, ”orang Aceh itu”, ”kalau di Aceh itu”. Belum pernah kutemukan suatu tempat dari suku lain yang orang-orangnya begitu sering menyebut siapa dirinya. Rasa nasionalisme kesukuan yang tinggi.
Yunus, Rahma dan aku, pergi ke sebuah kampung untuk mengobrol dengan ibu-ibu tentang pengembangan usaha keluarga. Apa yang mereka rencanakan, dan membentuk kelompok untuk belajar usaha bersama dengan mengumpulkan modal berkelompok. Aku perhatikan bahwa hampir semua keluarga di kampung ini memiliki anak yang baru. Bayi-bayi yang lahir pasca tsunami begitu banyak. Banyak keluarga yang anak-anak kecil dan bayinya menjadi korban tsunami. Seorang ibu yang punya 4 anak, kehilangan 3 anaknya yang masih kecil-kecil dan punya bayi yang lahir paska tsunami dalam usia si ibu tak terlalu muda lagi. Yunus pun, kehilangan ibu, adik, dan kakaknya. Hanya tinggal dia dan ayahnya yang hidup.
Rahma dan Yunus nampak sangat antusias saat berbincang dengan masyarakat. Kedua orang staf lembaga program pengembangan masyarakat ini tidak mudah akrab denganku, begitu kesanku selama 2 minggu berada di organisasi mereka. Hanya sedikit demi sedikit yang dikatakan Rahma meskipun aku terus mencoba mengajaknya bertukar pikiran. Sampai suatu ketika dia mengatakan: Saya benci mengingat Tsunami. Saya tidak mau menontonnya di TV. Saya tidak mau membicarakannya. Saya tidak membaca buku apa pun tentang tsunami di Aceh.
Wanita muda yang baru lulus sekitar 2 tahun dari Unsyiah itu berwajah cantik, profilnya juga lebih ke Arab seperti Yunus, hanya lebih berwana coklat. Mereka berdua menjadi satu tim tetapi nampak tidak terlalu akrab terutama karena Yunus memang sering menimbulkan ketegangan karena pertentangannya dengan bosnya yang Jawa.
***
Sebelum konflik di Aceh berakhir dengan penandatanganan perjanjian perdamaian, Yunus adalah aktivis LSM yang pada masa itu dalam kondisi selalu dicurigai dan sembunyi-sembunyi. Tak heran sikapnya selalu keras.
Sebagai supervisor, Yunus memiliki sejumlah anak buah, yaitu para petugas lapangan. Mereka belum menghayati apa itu kerja pengembangan masyarakat. Mereka harus dikirim ke LSM di Jawa atau NTT yang para petugas lapangannya sangat militan, kataku ketika Yunus bersungut-sungut tentang cara kerja mereka. Bos bodoh itu tidak mau kerja betul, mana mau dia mengeluarkan dana untuk yang seperti itu, kata Yunus ketus.
Kerja betul. Bersungguh-sungguh peduli. Aku menemukan kata-kata itu yang menjadi inti dari rasa antipati Yunus kepada orang-orang luar. Orang-orang datang ke Aceh hanya sekedar untuk cari makan di atas kemalangan korban tsunami atau korban perang dan konflik. Sepertinya begitu yang terdapat dalam sikapnya yang tak bersahabat, meskipun tak dikatakan eksplisit padaku yang pengunjung dari luar. Sebuah prasangka yang menjadi sekat penghalang.
Aku di Aceh bersama seorang teman yang merupakan pejuang tangguh dalam kerja-kerja kemasyarakatan di desa-desa terpencil di pulau yang kondisi alamnya sangat kering. Kami menayangkan video dokumenter pendek kerja-kerja pendampingan di wilayah tandus dan kekeringan, cara kerja, dan proses-proses yang dibangun. Aku memandu para petugas lapangan itu untuk merumuskan sendiri dedikasi apa yang diminta kepada seorang yang bekerja untuk masyarakat. Mempelajari kesan yang mereka dapatkan dari mimik wajahnya satu per satu. Juga sikap mereka saat menjalankan tugas ke lapangan. Apakah menjadi semangat. Ataukah malah surut.
***
Saat-saat istirahat siang atau sore. Atau malam hari ketika aku duduk sendiri di beranda base camp lapangan tempat kami tinggal. Aku akan mendapat kunjungan dari teman-teman petugas lapangan itu. Kadang seorang saja. Kadang berdua orang. Atau berkelompok. Mengajak berbincang tentang Aceh dan masyarakatnya. Bertukar kata hati. Aku juga mencatat dalam hatiku, siapa yang justru menjauh dan menutup dirinya.
Bila kesempatan itu ada, akulah yang kemudian datang padanya. Rahma, maukah mendengar cerita tentang dua anak lelakiku, kataku. Aku selalu suka bercerita tentang mereka, dan banyak orang pun ternyata suka mendengarnya. Lalu bertukar cerita tentang anak-anaknya atau keluarganya. Rahma tersenyum mendengar cerita lucu tentang anak-anakku. Kalau saya punya suami dan anak-anak nanti, saya pun ingin mereka terbiasa bila saya lama pergi ke lapangan, katanya. Rahma tertarik untuk mendengar ceritaku sebagai perempuan yang pekerjaannya sering meninggalkan keluarga dalam waktu cukup lama.
Saya bercerita tentang Ella di Sumba, Laksmi di Lombok, Sri di Klaten, Kominta di Medan, dan banyak perempuan lain yang saya kenal, yang sering tinggal di desa berhari-hari dan mendapat dukungan suami dan anak-anaknya.
Saya dan Rahma asyik bercakap-cakap sampai larut malam. Yunus datang mendekat dan melemparkan senyuman. Saya akan buatkan kopi, mau? tanyanya. Rahma menoleh pada saya sambil tersenyum. Maulah, tengku, jawab saya.
Malam itu sungguh indah, bertaburan bintang di langit. Dari beranda tempat kami duduk-duduk, di atas bukit, nampak garis laut nun di bawah sana. Suara debur ombaknya samar-samar terdengar.
Bandung, April 2010
Rabu, 24 Maret 2010
Api dan Air (2)
Begitu keluar ruangan pengambilan bagasi, seorang pria yang rambutnya kemerahan dan kusut mawut, seperti tak kenal sisir, menghampiriku dan menyapa dengan ramah. Kami berjabatan tangan dengan erat.
“Tidak bisa berhenti makan sirih....” katanya ketika melihat aku memperhatikan warna merah di bibirnya. Aku tertawa dan mengikuti langkah kakinya menuju tempat parkir mobil bandara.
“Sekarang musim hujan....” Umbu Jaka menyampaikan kabar baik itu padaku. Aku tertawa terkekeh, teringat pada saat aku datang di musim kemarau dan melihat api yang menghanguskan padang rumput. Begitu keringnya sehingga sinar matahari dapat menyalakan api seperti sebuah pemantik raksasa.
“Nona, sudah lama sekali tak jumpa,” seorang pria tak kukenal menyapaku. Aku tercengang dan memandang wajahnya. “Dua tahun lalu nona datang kemari....” katanya. Aku mengangguk-angguk dan menyalaminya.
Hmmmm di pulau ini, peristiwa-peristiwa mudah diingat karena tidak banyak hal yang terjadi. Kataku dalam hati.

Kami akan melakukan perjalanan ke kebun-kebun di beberapa kampung. Ini bukanlah perjalanan yang mudah. Jalan yang dilewati adalah jalan yang bergelombang raksasa untuk mencapai suatu kampung di sebuah lembah. Apa yang disebut gelombang adalah bila dilihat dari atas langit. Tapi di daratan artinya adalah gunung yang harus didaki dan dituruni dengan kemiringan yang terkadang membuat wajah menyentuh dengkul sendiri saat naik.
Aku menyiapkan perlengkapan di dalam ransel: jas hujan botol plastik berisi air putih yang dwi fungsi (untuk minum dan cebok bila kencing), sejumlah permen, dan kamera. Kali ini pria-pria yang menjadi peserta kegiatan.
Hanyalah aku dan Rambu Ella,perempuan dalam rombongan ini. Ella tak pernah repot-repot membawa ransel. Hanya jas hujan model jubah yang dibawanya di dalam sebuah kantong plastik yang diikatkannya di tali pinggangnya. Dia bahkan memakai rok dan sandal jepit. Sementara aku memakai sepatu untuk naik gunung yang nampak tebal. Sebuah ransel yang nampak besar di punggungku.
Perjalanan dilalui dengan bernyanyi-nyanyi untuk menghilangkan rasa lelah. Sambil bersenda gurau saling mengganggu.
Tiba-tiba hujan tercurah dengan deras diisertai angin yang kencang. Secepatnya kami mengenakan jas hujan: aku menggunakan celana dan baju dari plastik tebal. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan dengan diterjang hujan badai dan angin yang membutakan penglihatan.
Wo, wo, wo, wo, wo, sambil berjalan kami berteriak-teriak. Seolah-olah menggertak alam yang mengganas. Tidak takut!! Hayo maju!! Berjalan terus!!
Cepat. Cepat kita lewat. Teriak Umbu. Aku terpana karena di hadapanku adalah sebuah bentang air yang mengalir deras. Sungai selebar jalan protokol di Jakarta. Bagaimana mungkin kita lewat?
Berpegangan tangan. Berpegangan tangan. Teriak Umbu. Kami berpegangan tangan untuk melangkah di dalam air.
Cepat. Cepat kita masih sempat. Teriak Umbu. Air menaik dengan cepat sampai ke atas lutut. Namun kami telah menyeberang.
Kami bersorak-sorai penuh kemenangan dan air telah menjadi sungai lebar yang dalam. Kami semua berjongkok di tepinya untuk menontoni air yang lewat. Sambil diguyur hujan. Umbu mendekatiku. Kalau kita terlambat menyeberang, kita harus menunggu air surut sekitar 2 jam. Katanya menjelaskan.
Kami lalu melanjutkan perjalanan. Sambil berjalan kami berteriak-teriak: wo, wo, wo, wo, wo. Lawan!! Lawan!! Lawan!! Manusia lebih tangguh dari hujan, badai dan angin!! Kemudian kami sampai di sebuah perkampungan.
Segelas kopi dan ubi-ubian rebus yang panas sungguh menyenangkan saat kami duduk bersama di dalam rumah. Riuh rendah suara menceritakan “kemenangan” kami melewati sungai yang mendadak muncul menghalangi perjalanan.
Aku dan Ella duduk berhimpitan untuk saling menghangatkan. Pria-pria itu melirik padaku saat bercerita, melontarkan pujian atas kegigihanku saat berkejar-kejaran dengan waktu untuk secepat-cepatnya melewati sungai itu. Aku orang dari kota, sedangkan Ella orang sini, itu jadi lain. Ehemmmmmmm.
Hanya aku dan Tuhan yang tahu saat itu. Ketika aku berjalan di dalam air, aku tak bisa menahan kencing.
Api dan Air (1)
Aku mencoba merekam apa yang kulihat sepanjang perjalanan. Udara yang sangat panas membuatku agak gelisah. “Mereka bisa terbakar... Kita harus cepat.” kata Umbu. Aku tidak mengerti apa itu “mereka” yang dimaksudkan.
“Berpegangan....” perintah Umbu. Aku terkejut karena mobil tiba-tiba tersentak. Kemudian melaju kencang di atas jalan setengah aspal yang tak mulus. Terguncang dan oleng ke kiri dan kanan.
Mataku terbelalak ketika di kejauhan aku melihat sesuatu. Apa itu? Apa itu? Aku mencoba menangkapnya dengan pandangan mataku. Nyala api. Nyala api yang bergerak. Mobil melaju kencang dan nyala api seperti mengejar. Tapi api harus terhenti di tepi jalan dan tak dapat melanjutkan perjalanannya. Terputus.
Rumput-rumput yang telah dilewatinya menyala-nyala meluas sampai apa pun yang dapat terbakar dan tertelan olehnya. Beberapa batang pisang yang kering kerontang pun terbakar sampai ke pucuknya. Batang pisang yang berair pun bisa sekering itu.
Aku gemetar ketakutan, menoleh ke belakang melalui jendela mobil “ Ke... kenapa? Kenapa itu? Dari.... darimana api itu?” tanyaku terbata-bata.
“Sebuah titik api matahari membakar rumput....” katanya sambil mengunyah sirih dan menyetir mobilnya dengan tenang. “Itu biasa terjadi di musim kemarau.....”
“Tapi... tapi..... kita hampir tersambar api tadi..... “ kataku tergagap-gagap. “Kita hampir kena.... tadi.....”
Umbu tenang-tenang saja menyetir mobilnya. “Tidaaaaaak. Tidak apa-apaaaaa.....” Dia menoleh ke belakang dan menunjuk. “Lihat jembatan batu itu.... Ada kali di bawahnya. Api tak akan lari kemari.....”
Aku terduduk lemas di atas jok mobil. Bersandar.
***

Aku sampai ke sebuah desa yang sangat elok. Terletak di dalam cekungan dan lembah-lembah yang mengumpulkan tanah hitam yang subur. Pohon-pohon dan kebun-kebun hijau di dalam cekungan seperti oase yang ada di tengah-tengah alam maha luas yang kosong. Aku tidak mengira akan menemukan kehidupan seperti ini. Sebuah keindahan yang eksotik seperti dalam dongeng.
Perkampungan terdiri dari rumah-rumah kayu berkaki, beratap alang-alang yang tertata rapi. Dinaungi oleh pohon-pohon bertajuk rindang. Bagian bawah rumah adalah kandang, bagian tengah menjadi tempat tinggal, dan bagian atapnya menjadi tempat bagi para arwah leluhur. Ukiran pada kayu-kayu banguna rumah itu mungkin mengandung makna magis. Kuburan batu terletak di tengah-tengah pemukiman. Batu-batu berat dan pipih dengan dihiasi ukiran-ukiran yang indah.
Nun jauh di sana, aku melihat bentang alam bergelombang dengan warnanya yang keemasan. Api mungkin meletup di sana. Tapi itu tak akan menjamah perkampungan di dalam lembah. Dibentengi oleh kebun dan petak-petak sawah tadah hujan.
Aku tinggal di sebuah kompleks bangunan yang menjadi pusat kegiatan belajar. Pesertanya adalah para wanita, muda maupun tua, menikah maupun belum. Bangunannya terdiri dari tempat tinggal, tempat pertemuan, kantor kecil, dan sejumlah kamar yang salah satunya kutempati.
Istri Umbu, seorang perempuan Jawa, membuat wanita-wanita itu gembira karena mereka diajak belajar. Belajar berbagai keterampilan di kebun. Belajar membaca, berhitung, berbicara dalam forum, dan berdiskusi. Mereka memilih pemimpin kelompok, sekretaris dan bendahara. Mereka belajar berorganisasi.

***
Aku segera melupakan peristiwa “dikejar” api itu. Bersama para wanita yang ramah dan tuan rumah yang menyenangkan, aku pun menjadi bagian dari kegembiraan kegiatan mereka. Suasana yang penuh canda tawa.
Aku menjadi “tamu” yang akan memberikan materi pelatihan untuk kelompok-kelompok wanita ini. Dan mereka sangat tidak sabar ingin segera memulai.
Umbu menjadi pria yang dikelilingi para wanita hanya pada jam istirahat. Asyik makan sirih sambil melihat dari jendela apa yang sedang dilakukan para wanita itu di saat sesi belajar. Tugasku hanyalah menyiapkan sejumlah topik untuk dibahas. Menyiapkan sejumlah pertanyaan untuk diperdebatkan. Membagikan bahan bacaan untuk ditelaah. Permainan-permainan untuk dipecahkan. Lelucon-lelucon untuk mengganggu para wanita yang terlalu tekun belajar. Atau terlalu serius membicarakan persoalan perempuan. Masalah gender, kata para wanita itu.
Kambing lari dan para suami membiarkannya. “Tangkap sana, kan kalian sudah gender....” katanya kepada sang istri. Aku tertawa terbahak dengan cerita-cerita yang tak habis-habisnya untuk dibagi.

***
Malam hari adalah saat yang paling menyenangkan. Para pria datang dan bergabung dengan para wanitanya untuk menari dan memainkan musik. Kain-kain Sumba bermotif hewan dan manusia yang indah itu dikenakan para wanita. Mereka memasangkan kain untukku. Para pria sebagian memakai celana panjang, sebagian lagi memakai kain dengan ikat kepala atau kain seperti selendang yang diletakkan di bahu.
Selama hidupku, inilah pertama kali aku menari dalam sebuah kelompok yang banyak. Menari. Mengayunkan kedua lengan. Meliukkan tubuh. Melangkahkan kaki mengikuti irama yang melenakan. Perempuan tua pun menari. Anak-anak pun menari.
Senin, 22 Maret 2010
Tamu Tak Diundang
Orang-orang di perjalanan. Aku memandang orang-orang dari jendela bis antar daerah: petani di sawah, pejalan kaki, anak-anak bermain kejar-kejaran, lelaki-lelaki duduk berbincang di warung kopi, perempuan menyuapi anak makan, perempuan mencari kutu di kepala perempuan lain, nenek menyapu pekarangan, pedagang keliling. Aku tak measa wajah-wajah mereka asing. Sekali pun hanya kulihat dari jendela bis yang bergerak sampai masuk ke terminal.
Bermalamlah di sini, kata perempuan muda yang sedang menggendong bayinya. Sepiring nasi hangat, sambal sederhana, telor ceplok baru digoreng, dan kecap, tersaji sebagai makan malamku. Kesederhanaan yang begitu lezat. Aku bahkan tidak tahu nama-nama pasangan suami-istri itu yang menerimaku bermalam di rumahnya. Selain bayinya, mereka mempunyai anak lelaki berumur 6 tahun yang memandangku dengan malu-malu.
Aku berdiri di tengah kamar yang dengan penuh penghormatan mereka berikan kepadaku untuk tempat bermalam. Satu-satunya kamar yang mereka miliki. Sebuah tempat tidur dengan kasur kapuk yang tebal dan nampak nyaman. Kelambu untuk melindungi nyamuk daerah pantai yang ganas. Lemari pakaian dari kayu di tepi pintu, sebuah gentong besar terbuat dari tanah liat, ditutup oleh sebuah kayu berbentuk lingkaran yang di atasnya memiliki tonjolan. Tidak banyak barang dan begitu sederhana rumah ini.
Aku melangkah ke arah gentong itu, menggeser penutupnya yang lumayan berat. Beras. Isinya persediaan beras. Lampu cempor menyinarkan cahaya dan efek-efek bayangan di dinding yang membuatku menatapnya cukup lama. Suasana di luar sangat gelap ketika kusingkap tirai kain jendela kamar. Suara serangga menghiasi malam, bulan mengintip dari balik pohon lengkeng di kebun halaman. Samar-samar kudengar suara sejumlah orang bercakap-cakap. Aku membayangkan pria-pria memakai sarung yang duduk di atas balai-balai yang umum dibuat di halaman rumah. Para pria sering berkumpul di balai seperti itu dan mungkin mereka pun tidur di sana bila di dalam rumah sangat panas. Dengan obat nyamuk yang dinyalakan di kolongnya. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana masalah nyamuk itu.
Kemudian aku berjingkat ke arah pintu yang menghubungkan dengan ruangan yang luas itu. Kusibak penutup pintu yang hanya berupa tirai kain untuk melihat ke ruang yang gelap itu. Sebuah lampu cempor tidak cukup menerangi semuanya tetapi aku dapat melihat tikar yang digelar di lantai untuk tempat tidur, dan adegan berupa vignet yang terbentuk oleh cahaya terhadap orang-orang yang rupanya belum tidur. Sang istri duduk di tepi balai, sementara anak-anaknya berbaring tidur. Sang suami duduk bersandar di atas tikar seraya memegang bantal. Aku mendengar suara berbisik. Sebuah pertengkaran. Airmata mengalir di pipi sang istri dan ia mengusapnya.
Kami saling berpandangan lagi. Saling tersenyum. Karena apa juga yang bisa kita perbincangkan. Aku cuma seorang tamu tak diundang. Perempuan aneh yang melakukan perjalanan sendirian.
Pagi hari aku mandi dengan seember air yang disediakan tuan rumah. Air bersih memang langka di wilayah itu. Sebuah keahlian diperlukan untuk bisa menunaikan gosok gigi dan mandi dengan air terbatas.
Sarapan pagi telah disiapkan istri yang empunya rumah yaitu nasi goreng dan telor ceplok lagi, serta segelas teh manis panas. Aku makan bersama sang suami, sementara sang istri sedang menyuapi anak sulung sambil meneteki bayinya. Aku menatap wajah pria itu dan dia tersenyum sambil mempersilakana aku menambah nasi lagi. Aku tersenyum dan mengatakan sudah cukup kenyang.
Setelah menjalankan tugasku untuk melakukan reportase mengenai pencemaran yang dilaporkan masyarakat menjadi tanggung jawab sebuah perusahaan tambang minyak di wilayah pantai itu, aku masih menyempatkan diri mampir ke ”penginapan”ku. Aku ingin memeluk perempuan yang sedang bersedih itu. Tetapi itu tidak perlu kulakukan karena aku hanya orang asing yang terdampar.
Pria itu, istrinya dengan bayi dalam gendongannya, dan si anak lelaki, mereka berdiri melepas kepergianku. Membalas lambaian tanganku dengan senyuman. Ojeg membawaku ke terminal bis.
Bandung, Maret 2010
Jumat, 12 Februari 2010
Cintaku Menyeberangi Lautan Maluku
Cintaku jauh di seberang lautan.... melompati pulau-pulau..... melewati batas waktu......
Aku merindukanmu, dan ku tahu kau menungguku.... Aku ingin bersamamu, namun aku harus pergi untuk mencari pengetahuan tentang kehidupan. Aku berjanji, aku tidak akan meninggalkanmu selamanya......
Kirim seribu SMS padaku setiap hari, dari ladang atau tepian sungai.....
Sementara ku sedang terjebak macet di Jalan Sudirman atau terhimpit bis kota Jakarta, mencari kerja....
Kau tak tahu betapa ku mendamba indahnya kampung halaman kita, saat ku terpuruk di kamar sempit di kota metropolitan. Cinta tak punya ruang untuk kubawa ke sini....
Tanah pun tak cukup untuk pohon dan rumput. Sayangku, janganlah mencariku di sini.... karena aku akan pulang untukmu.....
di Dermaga Waipirit, tunggulah aku kan datang untukmu....
(Bandung-Jakarta-Ambon-Seram Bagian Barat. Des-2009).
