Sabtu, 22 Desember 2012

Monster


Sewaktu kecil, Fitri bukanlah monster.
Dia anak kecil manis berwajah selalu serius. Rambutnya selalu rapi. Panjang, dikepang dua. Wajahnya dihiasi kacamata. Sesuai dengan kesukaannya membaca. Belajar.  
Kamarnya sangat rapi. Meja belajarnya sangat rapi. Buku-bukunya tertata rapi. Semua pinsil dan pinsil warna selalu diserut secara teratur. Tempat tidurnya bersih. Sepatu-sepatunya bersih dan tertata rapi di rak. Baju-bajunya tersimpan rapi.
Fitri sangat rapi.
Itu membuat kakak perempuannya menjadi sebal kepadanya. Mengganggunya dengan membuat sesuatu jadi berantakan di kamar adiknya.
Fitri selalu merapikannya lagi. Lagi. Dan lagi.
***
Menurut ibunya, disiplin dan pantang menyerah itu modal untuk kesuksesan. Fitri ingin jadi orang sukses. Perempuan yang hebat. Tantangan dari kakak perempuannya yang pesolek dan pengganggu itu baginya merupakan jalan untuk menjadi anak yang hebat. Di sekolah pun dia sering diganggu oleh anak-anak yang jahil. Membuat penghapus miliknya jadi kotor. Mengambil begitu saja pinsil warnanya dan mematahkannya. Menjatuhkan penggaris ke lantainya.
Fitri akan bersabar. Di rumah dia akan mencuci dan mengeringkan penggarisnya. Akan menggosokkan penghapusnya ke kertas bekas yang putih agar bersih lagi. Menserut pinsil-pinsilnya. Menyimpannya dengan rapi.
Duduk di kursi belajarnya dengan duduk tegak dan jarak antara mata dan buku di atas meja sekitar 30 cm.
Fitri sangat percaya diri.
Ibunya selalu memuji-muji dirinya. Itu akan membuat Fany –kakak perempuannya yang pencemburu- kemudian mengotori sesuatu miliknya. Tapi Fitri akan membersihkannya lagi. Ibu guru suka memuji-muji dirinya. Rajin. Pandai. Patut dicontoh. Anak perempuan pencemburu teman sekelasnya akan mencibirkan bibir dan menghasut teman-teman lain untuk menjauhinya. Anak-anak lelaki tertawa-tawa sambil melihatnya dari jauh. Anak lelaki dengki akan mencoba menggentarkan hatinya dengan mengancam.
Anak seunggul Fitri pastinya mendorong orang-orang yang cemburu untuk menjadi musuhnya.
Fitri tetap percaya diri. Bahwa dirinya akan sukses sejak anak-anak sampai masa dewasa kelak. Kesuksesan yang diraih dengan disiplin. Ketekunan. Ketabahan. Sukses di masa kecil adalah memiliki nilai-nilai bagus. Sukses di masa dewasa adalah memiliki pekerjaan bagus. Jabatan. Penghasilan tinggi. Itu yang dipahaminya apabila mendengar perbincangan orang dewasa. Orang tua dan saudara-saudaranya. Semua orang dewasa yang pernah ditemuinya. Mereka akan mengatakan seorang anak hebat dengan menanyakan terlebih dahulu “Rapotnya bagus enggak? Nilainya berapa?”  Mereka akan mengatakan si anu hebat, sudah menjadi orang kaya. Sudah menjadi anu.
Fitri tidak mau kelihatan kalah.
Selalu menunjukkan wajah percaya diri. Saat anak-anak perempuan yang iri hati padanya sebagai anak emas guru mengeroyoknya, dia tetap menegakkan wajah. Saat anak lelaki berwajah jelek itu mencegatnya dan mengancamnya karena tidak memberi contekan, dia menguatkan hatinya untuk tidak menangis.
Ketika salah satu buku koleksi Ensiklopedia kesayangannya penyok karena dibawa tidur kakak perempuannya, dia juga bersabar mencoba memperbaikinya dengan selotip.
Saat kakak perempuannya melemparkan buku cerita miliknya ke atas tempat tidur, meminjam tanpa ijin, mengembalikan dalam keadaan tidak sebaik semula, Fitri hanya menatap ke arah kakaknya dengan tegar. Melihat senyum mengejek di wajah orang yang selalu mengganggu dirinya dengan sebutan “Anak aneh”.
Anak aneh yang dimaksud kakaknya adalah tidak punya teman. Menghabiskan waktu di meja belajar. Membaca. Menghafal.
***
Sekian puluh tahun kemudian Fitri sudah menjadi boss.
Anak buahnya banyak. Orang Indonesia semua. Atasannya cuma segelintir orang asing. Fitri sering duduk di antara mereka. Berbicara Bahasa Inggris. Sesekali Perancis. Kalau pegawai masuk ke dalam ruangan, akan tertunduk-tunduk menerima perintah-perintah darinya. Bahkan menerima makian atas kesalahannya.
Kemudian dia akan mengatakan betapa bodohnya pegawai yang membuat kesalahan itu. Betapa malasnya office boy yang seharusnya setiap pagi langsung menyediakan teh di atas mejanya tanpa harus ditanya lagi. Atau genitnya sekretaris yang semakin lama semakin pendek roknya. Boss-boss hanya tertawa mendengar keluhannya. Fitri membuat mereka bisa bersantai karena segala hal sudah dikerjakannya sekeras-kerasnya.
Fitri selalu mendapatkan apa pun yang diinginkannya dari Boss Amerikanya. Keinginan Fitri memang selalu untuk kepentingan atasannya. Apakah harus memindahkan si anu. Memberhentikan seseorang. Atau tidak memberikan bonus sebagai pelajaran supaya para karyawan mengerti bahwa bonus itu mereka dapat karena kerja keras mereka sendiri. Ada bonus akhir tahun kalau mereka bekerja keras.
Yang menentukan apakah mereka bekerja keras atau tidak adalah Fitri.
***
Fitri membenci fesbuk yang katanya merupakan gangguan bagi kinerja di kantornya. Membuatnya sakit kepala memikirkan bahwa para karyawan mencuri waktu dengan membuat status di saat jam kerja. Menyembunyikan handphone di bawah meja untuk membuka fesbuk dan ketawa-ketawa. Sungguh bayangan yang dibencinya.
Fitri tidak punya fesbuk. Maksudnya, Fitri tidak punya teman untuk berfesbuk. Dia membuka account dengan nama dan foto samaran. Berteman dengan orang-orang yang tak dikenalnya hanya untuk tahu bagaimana cara kerja fesbuk.
Membayangkan karyawannya berteman di fesbuk sangat menjengkelkannya. Apalagi membayangkan mereka membuat status tentang dirinya, bisa membuatnya jadi marah-marah tanpa sebab. Sebuah kebiasaan yang sering dilakukan orang-orang. Kampungan. Snob. Begitu gerutunya. Sekretarisnya yang cantik dan punya kaki bagus yang suka dipamerkannya dengan memakai rok mini itu paling dicurigainya.
Ada saja alasan Fitri untuk membuat Nita, sekretaris itu, memiliki hari buruk. Entah itu catatan rapat yang buruk. Atau surat yang kalimatnya keliru. Informasi telepon dari klien yang disampaikan Nita ternyata misleading. Atau sekretaris itu  mendapatkan omelan karena “tidak bisa memahami perintah yang begitu jelas dan sederhana”.
Boss bulenya mengedipkan mata kepada si sekretaris.  Mengatakan kepada Fitri bahwa kesalahan seperti itu memang tidak perlu terulang lagi.
Boss tahu perlunya membuat Fitri merasa nyaman. Menikmati harinya dengan bekerja sekeras-kerasnya. Puas atas dirinya. Kekuasaan yang sepenuhnya diberikan majikan yang bisa menyisihkan waktu santai di kantor untuk membuka-buka halaman fesbuk anak-anak dan istrinya. Serta keluarga dan sahabat-sahabatnya di Amrik.
Sekretaris itu mendapat bisikan di telinganya dari boss yang lewat. “Don’t take it too serious...” Sambil mengedip-ngedipkan matanya.
***
Ibu Ratu. Begitu para bawahan menyebutnya.
Tidak seorang pun berani mengatakan “Tapi, Bu....” untuk mengatakan bahwa apa yang dikatakan Ibu Ratu itu tidak benar. Sebab seketika itu juga nasib buruk akan menantinya. Masih lumayan kalau hanya mendapatkan makian atau teriakan. Lebih buruk lagi bila kehilangan pekerjaan.
Ibu Ratu selalu benar. Bahkan boss pun selalu membenarkannya. Apa pun yang dikatakan dan dilakukan Fitri selalu benar menurut Boss karena memang selalu untuk kepentingan dirinya. Bahkan boss mengatakan dengan logat bulenya: ”Ini kantor bukan tempat pesta, Nita... pakailah baju yang lebih cocok...” Sambil mengedipkan sebelah mata kepada sekretarisnya di belakang punggung Fitri.
Sekretaris itu membuat status di bawah mejanya. “Monster gila... ke laut aje...”  Tidak berapa lama kemudian banyak teman-teman kerjanya yang merespon “like”.
***
Sewaktu kecil, kedua orang tua Fitri mampu memberikan kamar untuk setiap anaknya.  Kamar Fitri didekorasi dengan cantik. Meja belajar dan rak buku mendominasi kamarnya. Koleksi buku cerita yang merupakan kemewahan bagi masyarakat di Indonesia, merupakan milik yang paling dicintai Fitri.
Kamar itu memiliki semua hal yang diperlukan anak. Tivi kecil. Radio tape. Suatu kemewahan masa itu bila seorang bisa memiliki untuk dirinya di kamarnya sendiri.
Namun di kamar Fitri tidak pernah ada teman yang menginap.
Teman-teman Fany sering ribut di dalam kamarnya, tertawa-tawa membicarakan anak lelaki yang ditaksir, menggosipkan guru dan teman perempuan, berdandan, dan merencanakan jalan-jalan ke mall.
Mereka menganggap Fitri anak aneh karena tidak punya teman. Tidak bosan menekuni buku pelajaran. Fitri mendengar sama-samar mereka berbicara. Kutu buku. Kuper. Anak aneh.
Baru pertama kali itu dia menangis.
Menangis karena tidak punya teman.
***

Apa gunanya teman kalau mereka menghalangimu untuk mencapai sukses?
Membuatmu membuang waktu untuk berkumpul, bergunjing, melakukan hal-hal yang kurang berguna. Begitulah Fitri kemudian menyimpulkan.
Suksesnya sekarang sebagai boss merupakan buah dari kerja kerasnya. Sekolah ke Luar Negeri hasil dari menabung, mungkin tidak bisa dilakukannya bila punya banyak teman yang akan membuatnya menghambur-hamburkan uang.
Beberapa perempuan Indonesia di kantornya dianggapnya sebagai teman. Mereka adalah orang-orang yang memiliki jabatan –tentu di bawahnya- sehingga bisa dijadikan teman. Tapi, sebaliknya mereka merasa bahwa Ibu Ratu bukanlah teman yang sesungguhnya.
Ibu Ratu mengundang mereka untuk “mencoba masakan buatannya” dan mereka tentu saja harus hadir untuk memuji-muji keahliannya memasak. Mengagumi rumahnya yang cantik dan perabotannya yang berselera tinggi. Taman yang terawat rapi. Kolam renang yang biru dan nyaman untuk membuat pesta kebun.
Pesta kebun dengan siapa? Itu masalahnya.
Bagi ketiga kolega perempuan itu, menghabiskan waktu 2 jam di akhir pekan di rumah Ibu Ratu merupakan mimpi buruk. Namun mereka menunjukkan wajah dan ucapan senang telah diundang ke rumahnya. Berbincang dalam keakraban yang dibuat-buat.
Fitri bukannya tak tahu.
***
            Hari itu terjadi bencana yang dasyat di kantor.
Ibu Ratu murka pada semua hal. Semua orang. Mengancam. Berteriak. Menakut-nakuti semua orang tentang perampingan karyawan. Tentang kinerja perusahaan. Tentang pemalsuan absensi. Tentang pakaian dan disiplin.
            Hal ini bermula dari obrolan bawahannya tentang sang sekretaris yang akan mengundurkan diri dari perusahaan. Memang gosip itu sudah beredar beberapa waktu sebelumnya. Fitri tak mengindahkannya.
            Gosip itu sekarang berubah menjadi informasi bahwa Nita berhenti bekerja karena dirinya serius menjalin hubungan dengan seseorang dan akan segera menikah. Kejutannya adalah pria yang menjadi calon suaminya itu ternyata salah seorang manajer muda yang merupakan orang dekat boss besar karena berasal dari negara yang sama.
Inilah yang menjadi sumber bencana.
Ibu Ratu yang membenci sekretarisnya –karena berani menentang wajahnya itu- merasa terpukul dengan kabar itu. Menjadi marah karena selama ini dirinya mencoba meyakinkan boss bahwa sekretaris yang lelet dan tidak becus bekerja itu mungkin perlu dipindahkan jadi staf administrasi karena mereka harus mencari yang lebih kapabel. Boss selalu mengatakan untuk memberi waktu dulu.
Sekarang Ibu Ratu mendapat informasi bahwa sekretaris yang berani melawannya itu akan melangsungkan pernikahan dengan orang Amerika muda yang meskipun jabatannya di bawah dirinya namun sebagai bule tetap seperti dekat dengan boss atasannya.
Amarah Fitri hari itu menimpa seisi kantor.
Dalam hati orang-orang menertawakannya. Perempuan gila kekuasaan yang tak pernah berkencan. Bahkan tidak berteman.
Hari itu para karyawan riuh-rendah membuat lelucon di fesbuk tentang Ibu Ratu yang pastinya harus memakai topeng tersenyum saat menghadiri pernikahan Nita.
Fitri bukannya tak tahu kapan dia dijadikan sasaran di fesbuk. Walau dia tidak tahu apa itu yang dikatakan karyawan-karyawannya. Forum gosip. Tak berguna. Norak.
***
Fitri memasang foto dirinya yang paling cantik. Berlatar belakang Paris. Sebagai profile picture di fesbuk. Secara teratur dirinya memasang foto tempat-tempat mewah yang disinggahinya. Negara-negara di Eropa. Amerika. Mekah. Mesir.
Sejak dirinya tampil di fesbuk dan semua bawahannya dimintanya untuk meng-invite dirinya, fesbuk menjadi tempat yang sepi. Para karyawan jarang berkumpul lagi di forum itu karena jarang ada yang membuat status lucu untuk mengundang semua orang berkomentar.
Sementara Fitri cukup rajin mengupload sesuatu yang baru. Musik. Film. Buku. Foto-foto yang dijepretnya sendiri di tempat-tempat yang selalu baru.
Fitri menjadi senang kepada fesbuk yang berhasil ditaklukkannya.
Kalau dia membuat status, pegawainya akan berpikir keras apakah akan berkomentar ataukah tidak. Apakah akan me-like. Paling-paling tiga orang perempuan yang dianggapnya teman di kantor itu yang berani berkomentar: “Keren, Bu...”  Akhirnya banyak yang lebih memilih tidak aktif lagi di media jejaring sosial itu.
***
Fitri menikmati dirinya menjadi teror.

***

Sabtu, 17 November 2012

Monster Kecil


Anak kurang ajar itu benar-benar menakutkan. Matanya liar. Giginya kotor. Ketawa terkekeh-kekeh memuakkan. Benar-benar tidak tahu takut. Tidak juga punya malu bila orang dewasa menyebutkan hal-hal buruk tentang kelakuannya.
Anak perempuan yang sudah SMP bahkan yang sudah SMU pun tidak berdaya menghadapi anak Kelas 4 SD yang jahat itu. Monster. Kalau lengah dia bisa memegang payudara anak perempuan yang lebih besar. Atau mencolek pantat. Kemudian lari sekencang-kencangnya.
Semua korban rasanya ingin membunuhnya. Atau menguburnya hidup-hidup. Monster kecil itu bisa menebarkan kuman monster dalam diri  korban-korbannya. Mimpi buruk. Ketakutan. Dendam. Kemarahan.
***
Tetapi, anak liar yang bernama Asep itu merupakan bentuk ekstrim saja.
Buat anak-anak perempuan, ancaman semacam itu sering diperoleh dari anak lelaki atau pemuda tanggung. Bahkan laki-laki dewasa. Bila anak-anak perempuan sedang berjalan melewati sekelompok anak-anak lelaki, maka kita akan menjadi takut. Bukan gangguan secara fisik. Tetapi kata-kata usil. Hey, bondon. Itu kata-kata yang paling dibenci anak perempuan.
Salah satu yang sering dilakukan warga masyarakat di minggu pagi adalah lari pagi sampai ke Alun-alun Bandung. Kalau sekelompok anak perempuan lari pagi, ancaman dicolek pantat juga sering mengganggu.
Apabila seorang melakukan kejahatan itu. Penonton tertawa menikmati. Itu sebabnya monster kecil itu tidak merasa takut. Menurutnya kejahatannya menjadi hiburan yang disukai penonton.
Setiap korbannya dibicarakan orang. Orang punya bahan cerita.
Orang dewasa bahkan sambil tertawa bersama-sama ketika membicarakan anak perempuan yang payudaranya diremas. Kecuali kalau korban itu salah satu keluarganya.
***
Si Asep mempunyai ibu. Ibunya tak sanggup menahan amarah perempuan-perempuan yang anaknya jadi korban. Atau anak perempuan yang dengan penuh amarah melampiaskan caci makinya kepada ibu si Asep.
Monster cilik berumur 12 tahun itu dihajar ibunya dengan sapu lidi. Sampai menggerung-gerung tapi tak bisa lari ke luar karena pintu dikunci ibunya. Perempuan bertubuh gempal itu melampiaskan amarahnya dengan memukul membabi buta. Si Asep berteriak-teriak kesakitan dan mengatakan hal-hal jorok kepada ibunya.
Perempuan pedagang gorengan itu sakit hatinya mendapatkan ucapan-ucapan buruk dari perempuan-perempuan yang menjadi korban anaknya. Anak setan. Anak jadah tanpa bapak. Ibu pelacur. Hati Sri terasa perih mendengar kata-kata semacam itu. Mengingatkannya pada lelaki yang menghamilinya lalu lari. Luka terasa semakin sakit melihat anak yang dilahirkannya menjadi monster kecil, pencuri, cabul, jahat, dan tak kenal malu.
Dipukulinya anak itu sejadi-jadinya sampai tenaganya habis. Lalu anak itu melarikan diri. Sementara ibunya menangis sesenggukan.
Nenek si Asep yang tua, duduk sambil menundukkan wajah di kursi kayu yang reyot dan setua dirinya.
Bukan berarti si Asep berubah. Anak itu malah semakin bengal, cabul dan jahat. Kepada anak-anak yang lebih kecil suka mengancam dan merampas. Kepada perempuan-perempuan kecil dan muda bersikap cabul. Dia bahkan meremas rok  anak perempuan dan menohokkan tangannya ke arah vagina. Anak perempuan korbannya akan menangis melolong-lolong karena tak menerima perlakuan itu.
Adik ibunya, seorang ustad muda yang mengajar anak-anak mengaji di mesjid sedang merantau ke negeri Arab, sehingga si Asep tidak ada yang mengawasi lagi dan semakin menjadi-jadi. Bila pamannya itu ada, si Asep masih punya rasa takut.
***
Masyarakat memperlakukan aturan berbeda untuk anak perempuan dan lelaki. Anak perempuan tidak boleh main jauh-jauh. Kalau sudah magrib, anak perempuan harus sudah di rumah. Sementara anak-anak lelaki masih bisa nongkrong malam dengan teman-temannya. Anak-anak perempuan keluar malam hanya untuk mengaji ke mesjid. Berjalan di lampu remang dan bayangan gelap menjadi berbahaya. Karena ada monster yang bersembunyi. Si Asep.
Suara ketawanya terbahak apabila melihat anak-anak perempuan menjerit-jerit dan berlarian. Kemudian terdengar suara orang dewasa berteriak. Anak anjing. Kamana siah kua aing dipodaran!! (Kemana dia, akan kubunuh dia!!)
Si Asep tak kenal takut. Tertawanya meringis mengejek. Menyepelekan. Bahkan orang dewasa -yang memukulnya karena marah anak perempuannya menangis keras-keras mengadukan perbuatan si Asep- menjadi risi karena berhadapan dengan anak kecil sebagai lawan. Menempeleng anak yang berperawakan kecil tapi lentur liat itu memang serba salah.
Kelemahan si Asep adalah ibunya. Ibunya yang tak tahan menjadi sasaran pembalasan atas perbuatan anaknya. Memukuli si Asep sambil berteriak-teriak. Suaranya terdengar di seantero pemukiman padat yang rumah-rumahnya berdinding bilik itu. Anak celaka. Anak terkutuk. Kenapa kamu lahir...
***
Si Asep tidak takut meskipun Kepala Keamanan di pemukiman itu seorang tentara berperawakan besar dan galak telah menyatroni ibunya. Superioritasnya semakin ditancapkan. Tidak takut apa pun.
Bahkan dia sudah mampu melawan ibunya. Memukulnya balik sehingga perempuan pekerja kasar itu pun terjengkang dan jatuh. Sementara si Asep pergi meninggalkannya sambil meludah ke lantai.
Montong balik. Budak doraka siah!!!  (Jangan kembali. Anak durhaka kamu!!!) Teriak ibunya dengan murka. Menangis tersedu-sedu atas nasibnya yang malang.
Aibnya di masyarakat karena semua orang mengenalnya sebagai ibu si Asep dikaitkan dengan perbuatannya sehingga anak itu lahir tanpa bapak. Monster kecil. Anak jahat yang dibicarakan orang. Setiap langkah Sri kemana pun yang didengarnya adalah bisik-bisik orang. Itu ibunya si Asep.
Si Asep kemudian dikejar-kejar beberapa lelaki dewasa yang akhirnya bertekad akan menundukkannya. Apa pun caranya akan membuat anak itu minta ampun.
Si Asep pun lari dari rumah.
***
Fajar naik motor untuk berkeliling pemukiman itu. Sama sekali berbeda dengan keadaan yang dikenalnya di masa kecil. Hilang sudah lapangan sepak bola. Hilang sudah rumpun bambu di sepanjang sungai. Kebun mentimun dan singkong. Sawah. Pagar bambu. Rumah panggung. Semua hilang tak berbekas. Berganti menjadi sebuah labirin pemukiman padat kota. 
Dia pernah bertemu Pian, seorang satpam yang di masa kecilnya menjadi temannya bermain bola. Pian mengatakan padanya bahwa si Asep sekarang menjadi tukang becak yang mangkal di depan Supermarket Yoyo. Setelah lari dari rumah pada umur 14 tahun, si Asep hidup di jalanan Kota Jakarta. Kembali lagi sesudah dewasa dengan tubuh kecil dipenuhi tattoo.
Asep pulang sesudah ibunya tua. Dia menghidupi ibunya dengan menjadi tukang becak. Kawin beberapa kali. Punya anak dari setiap istrinya. Anak-anaknya mengemis di perempatan jalan. Hirupna balangsak. (Hidupnya brengsek). Kata Pian.
Fajar hanya mengingat di masa kecilnya dia pernah mempunyai teman sebaya yang reputasinya sangat luar biasa. Asep suka main bola. Sikap jahatnya tidak diberlakukan kepada teman-teman main bolanya. Fajar hanya berteman dengan Asep di lapangan sepak bola. Sekolah mereka berbeda. Fajar di sekolah swasta, Asep di SD Inpres. Tempat tinggal mereka berbeda. Fajar di perumahan, Pian di perkampungan di seberang sungai. Anak-anak itu tidak peduli dengan perbedaan saat di lapangan bola. Fajar teringat bagaimana ibunya sangat marah bila mengetahui dirinya bermain bola dengan Asep, Pian dan anak-anak lain.  Tapi kegilaannya terhadap permainan bola membuatnya kembali lagi ke lapangan itu.
Kalau berdiri berhadapan dengan Asep, nampak anak itu kecil. Sedangkan Fajar lebih besar dan tegap. Itulah yang diingat Fajar tentang anak yang ditakuti itu. Anak itu kecil, licin, dan liar. Dia tak perlu curang di lapangan bola karena bermain bola merupakan keunggulannya. Larinya kencang dan tendangannya selalu telak. Asep pemain bola yang luar biasa.
Tak ada yang tak kenal Asep. Baik itu warga di pemukiman kumuh maupun warga di perumahan baru yang terpisahkan dengan benteng tembok yang tebal.
Kejahatan Asep melewati batasnya ketika dia mulai merambah ke wilayah perumahan baru. Itu sebabnya dia dikejar sejumlah lelaki dewasa yang diperintahkan oleh Kepala Keamanan yang tentara itu.
Berakhirlah kejayaannya sebagai monster kecil.
***
Fajar melihat tukang becak itu sedang terkantuk-kantuk di dalam becaknya yang sedang mangkal. Meskipun tukang becak itu nampak tua. Meskipun Fajar sudah tak pernah bertemu Asep sejak 30 tahun lalu. Namun tukang becak yang mengantuk itu dikenalinya sebagai Asep. Monster kecil yang ditakuti di masa kecil.
Tukang becak itu terbangun dan matanya melihat kepada Fajar. Mengernyitkan alis seolah mengingat-ingat.
Sep... masih inget ka sayah?” Tanya Fajar. Tukang becak itu menyerigai dengan giginya yang kotor. “Saha nya? Poho deui atuh....” (Siapa ya? Lupa lagi...) katanya dengan sorot mata segan, namun berusaha seperti seorang teman lama yang kebetulan bertemu. “Nya moal apal da didinya mah beuki gandang...” (Ya, enggak ingat karena kamu sih tambah gagah...).
Fajar tersenyum. “Fajar. Babaturan maen bola basa keur leutik....” (Fajar. Teman main waktu masih kecil) Katanya. Tukang becak itu memandangnya lekat-lekat kemudian mengangguk-angguk. “Eleuh, geus jadi naon ayeuna kamu teh, Jar? Jelema sakolaan mah beda....” (Waduh, udah jadi apa kamu sekarang, Jar? Orang berpendidikan sih beda...) Katanya.
Jelema sakolaan.
Seorang yang tak pernah menamatkan SD-nya seperti Asep pun mengerti bahwa seseorang berbeda ketika sekolah dan tidak sekolah. Kalau pun ada yang sukses tanpa sekolah dan pendidikan, itu barangkali kekecualiaan.
Jelema teu nyakola.
Ketika masih kecil Asep menjalani pelajarannya dengan susah payah. Merasa tidak akan pernah sukses dengan yang disebut sekolah karena otak bebalnya. Menjadi anak yang bengis, nakal, dan ditakuti menjadi reputasi yang bisa dicapainya dan dinikmatinya benar.
Sesudah dewasa dan setua sekarang, Asep seorang tukang becak. Istrinya yang sekarang seorang pembantu rumah tangga. Anak-anaknya tiga. Tinggal di sebuah gubuk kecil peninggalan ibunya.
Setelah bertukar cerita dan bercakap-cakap, Fajar meninggalkan Asep yang berdiri di depan becaknya. Sebungkus rokok pemberian Fajar diterima tukang becak itu sebagai rejeki nomplok sore ini, disulutnya dengan nikmat sambil duduk di dalam becaknya.
Saha eta?” (Siapa itu?) Tanya teman sesama tukang becak.
Babaturan keur leutik....” Jawab Asep tak acuh. “Osok maen bola bareng....” (Teman waktu masih kecil. Suka main bola bareng...).
Kedua tukang becak itu pun menghisap rokok tanpa memperdulikan sekelilingnya. Bagi Asep, seorang teman di masa kecil bukanlah hal yang penting karena dia tahu semua orang yang mengenalnya di masa itu membencinya.
Sementara bagi Fajar, seorang Asep membekaskan kesan di masa kecilnya ketika dia pernah diancam, dirampas, dan ditendang ke dalam selokan berlumpur olehnya. Bermain bola dengan anak kampung jahat itu menjadi caranya untuk aman karena hanya teman-teman bermain bola saja yang tidak pernah menjadi sasaran Asep. Selain itu, mengenal secara dekat dengan anak yang menakutkan itu telah memberikan latihan nyali padanya.
Fajar pernah menciut nyalinya ketika melihat wajah Asep menyerigai dengan giginya yang buruk begitu dekat di hadapan wajahnya. Ketika itu ia menepuk pundaknya, menahannya dari perbuatan yang jahat kepada seorang anak perempuan. Wajah Asep nampak menyeramkan sehingga Fajar merasa berkeringat dingin dengan degup jantung tak karuan memikirkan entah apa yang akan terjadi selanjutnya akibat perbuatannya. Ternyata Asep menggandeng tangannya sambil menggerutu dan sumpah serapah. Bagi rokona, anjing. (Minta rokoknya, anjing). Katanya.
Fajar bernafas lega ketika melihat anak perempuan itu terlepas dari bahaya. Sementara monster itu menyulut rokok yang diberikan Fajar. Rokok yang dicurinya dari rumah. Kepunyaan ayahnya.
 ***
Pada saat memandang wajah anak-anaknya, Fajar teringat pada dirinya sendiri di masa kecil. Saat dia berumur 10 tahun dan harus menghadapi seorang monster berumur lebih tua, berperawakan lebih kecil tetapi sangat menakutkan.
Pernah dia ingin menyerah pada sikap pengecut seperti anak-anak yang lain. Menangis kalau diancam. Mengompol di celana bila digertak. Tapi dia berhasil melawan kepengecutan itu. Berhasil bermain bola dengan Asep dan kelompoknya. Suatu ketika dia menepuk pundak Asep dan mengatakan: Tong kitu euy ngerakeun ngaganggu awewe mah... Lawan mah si Centeng nu leuwih badag....(Jangan begitu lah, memalukan mengganggu anak perempuan... Lawan saja si Centeng yang badannya besar...)
Asep dan kawan-kawannya tertawa terbahak-bahak. Si Centeng itu sebutan mereka untuk Pak Tentara yang jadi Kepala Keamanan. Fajar ikut tertawa dengan rasa lega karena ucapannya telah diterima sebagai lelucon anggota tim.
Sementara Asep tidak mengenang apa pun tentang temannya yang bernama Fajar itu. Juga tidak tahu bahwa orang yang menyapanya saat terkantuk-kantuk di dalam becak itu, sekarang sudah jadi penggede militer.
***

Sabtu, 27 Oktober 2012

Jumlah Anak dalam Keluarga


Pada era 1980-an ke belakang, setiap keluarga memiliki anak banyak karena anak-anak telah lahir sebelum alat kontrasepsi dikenal. Atau alat KB menurut istilah Orde Baru. Benda itu baru mulai dimasyarakatkan pada tahun 1970-an di Era Orde Baru dan pada awalnya mendapatkan resistensi yang keras dari masyarakat karena dianggap melanggar kehendak Yang Di Atas.

Bahkan ketika alat KB mulai dikenal luas dan dicanangkan secara gencar, para ibu masih banyak melahirkan anak-anak termudanya dengan tahun kelahiran 70-an. Mungkin anak ke-5, 7, 9 atau lebih. Sementara anak sulungnya sudah ada yang punya anak. Ketika ibuku hamil anak sulung, ibunya (nenekku) juga sedang hamil anak bungsunya. Paman dan keponakan itu menjadi teman sebaya.

Keluarga Sumpena memiliki anak delapan, 3 laki-laki dan 5 perempuan. Dua anak lahir pada tahun 50-an, empat anak lahir dengan kepala tahun 60-an dan dua  dilahirkan dengan kepala tahun 70-an. Ketika sang ibu sedang hamil anak ketiga, berbarengan dengan ibunya (sang nenek) yang sedang hamil anak terakhirnya, anak ke-11.  Keluarga Sumpena adalah tetangga keluargaku.

Bukan sesuatu yang aneh pada masa itu bila seorang paman atau bibi seusia dengan keponakannya atau bahkan lebih muda.

***

Ibu di Keluarga Sumpena kalau memasak selalu banyak. Dia memiliki banyak wadah dengan beragam fungsi. Ada mangkuk-mangkuk untuk menaruh camilan seperti kacang rebus atau urap ketan. Ada mangkuk lebih kecil untuk menaruh candil ubi atau bubur lemu. Ada gelas-gelas plastik untuk menaruh kolak, bubur kacang hijau atau cendol. Berjajar-jajar di atas meja dan diberi nama masing-masing anak. Setiap anak mendapat jatah dua atau tiga gelas. Terserah mau dimakan sekaligus atau satu-satu. Mug keramik bertutup itu punya ayah dan ibu. Mangkuk gelas juga punya ayah dan ibu. Sayur dan lauk untuk ayah juga dipisahkan, tidak boleh bekas diacak anak-anak.

Cara yang dilakukan Keluarga Sumpena sungguh lebih baik daripada cara di rumahku. Ibuku melakukan pengawasan ketat ketika acara makan berlangsung. Ini membuat rasa tidak nyaman kalau mendapat omelan karena mengambil sesuatu terlalu banyak. Tapi itu masih lebih baik daripada di keluarga pamanku yang dibiarkan saja dengan cara “hukum rimba”. Siapa cepat dia dapat, siapa kuat dia bisa merajai meja makan. Aku pernah melihat suasana itu dan melihatnya sebagai situasi yang buruk sekali. Lebih menyenangkan suasana dalam Keluarga Sumpena yang teratur dalam hal pembagian makanan dan pekerjaan.

Aku sering menontoni ibunya yang sedang menuangkan makanan ke dalam wadah-wadah. Si ibu memberikan satu wadah yang terisi dan aku melanjutkan menonton sambil makan.

Semua anak perempuan sibuk dengan pekerjaan di dapur dan rumah. Mereka memiliki bangku-bangku kayu kecil yang dibuat sang ayah disebut jojodog dalam Bahasa Sunda (dalam Bahasa Jawa disebut dingklik). Digunakan untuk duduk sambil bekerja membersihkan sayuran, bawang, dan bahan-bahan masakan lain di atas tampah. Bak dan ember-ember selalu terisi air, merupakan pekerjaan anak lelaki.

Keluarga Sumpena memiliki sumur yang digunakan bersama keluarga tetangga.  separuh sumur ada di dalam kamar mandi Keluarga Sumpena, separuh sumur ada di dalam kamar mandi keluarga tetangga. Sekat dinding kamar mandi di atas sumur dibuat sekitar 2-3 cm di atas dinding sumur. Pada masa itu banyak juga keluarga berbagi sumur seperti itu.

Aku tidak pernah melakukan pekerjaan dapur di rumah. Ibuku memberiku tugas belajar dan memperoleh nilai yang baik. Karena itu aku punya waktu untuk melihat perempuan-perempuan di Keluarga Sumpena menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyiapkan dan memasak terutama di hari Minggu.

Keluarga itu suka makan. Makan adalah prioritas pengeluarannya. Setelah lulus SMEA atau STM, anak-anak keluarga itu memilih bekerja. Anak perempuan juga memilih menikah pada usia muda. Saat aku masuk kuliah, teman sebayaku, salah satu anak perempuan Keluarga Sumpena, sudah mulai bekerja dan beberapa tahun kemudian menikah.

***

Ada tindakan ’kejahatan’ yang dilakukan anak-anak di keluarga besar Sumpena, yaitu mengambil satu sendok dari setiap wadah lain supaya mendapat lebih banyak. Tapi itu semua hanya permainan untuk menjadi cerita yang membuat tertawa. Keluarga itu selalu memasak banyak. Cukup untuk semua. Bukan makanan yang mewah. Tapi makanan yang enak. Sambal yang sangat pedas dan menimbulkan selera. Aku masih ingat makanan istimewa yang mereka buat adalah paria yang diiris sangat tipis dengan bumbu cabe berwarna merah darah, sungguh membuat makan siang menjadi sangat nikmat. Mereka bahkan menanam sendiri pohon paria itu di samping jemuran baju. Ikan mas, mujaer kecil-kecil, telur setengah kilo yang dikocok dengan banyak bawang daun, atau ikan asin, menjadi lauk yang sering disajikan bersama tahu dan tempe. Tidak pernah ketinggalan kerupuk aci dalam blek yang selalu diisi setiap pagi, melengkapi menu makan keluarga itu.

Aku juga senang melihat dan ikut mencoba mengerjakan pembuatan makanan kecil yang dilakukan anak-anak perempuan Keluarga Sumpena. Mereka sering membuat kue bolu dengan loyang besar bulat yang bolong di tengah. Kue cheestick yang sebenarnya tanpa keju, terbuat dari adonan terigu dan telor ditambah penyedap rasa dan irisan bawang daun agar menjadi gurih, menjadi makanan kecil yang paling sering dibuat. Ada lagi makanan yang paling enak yaitu nasi ketan yang disebut “bangkerok”. Beras ketan yang diberi garam, bumbu, dan kelapa muda parut, dimasak dalam ketel besar dan tebal dengan ditutup dengan api kecil sampai matang dan berkerak. Sedaaap sekali ketika dimakan panas-panas. Mereka juga sering membuat urap dari sayuran mentah yang disebut tarancam, sejenis urap yang dikenal Ibu Sumpena dari sebuah keluarga Jawa dengan racikan khas berupa sayuran mentah ditambah daun kemangi dan buah petai cina. Sedap sekali rasa bumbu kelapanya. Selain itu, yang paling sering dibuat adalah lotek, campuran sayuran dengan bumbu kacang tanah yang diulek mendadak di atas cobek besar. Setiap orang akan meracik dan membuat bumbu sendiri-sendiri sesuai seleranya. Sayuran yang direbus setengah matang seperti kangkung, toge, kacang panjang dan kol, disediakan di atas tampah yang dialasi daun pisang. Seperti berjualan saja. Aku senang sekali membuat lotekku sendiri, dan menaruhnya di dalam pincuk daun pisang. Rasanya enak sekali lotek buatanku sendiri. Ibu Sumpena tertawa melihat gerak-gerikku di dapur. Dia sering menyebutku si murid teladan yang kerjanya hanya belajar dan jarang ke dapur.

Sementara anak-anak perempuan Keluarga Sumpena bekerja di dapur, anak lelaki sulung punya kesibukan dengan motornya. Motor butut yang sering mogok itu harus diotak-atik supaya bisa jalan. Menjadi alat transportasi buat dirinya sendiri dan anggota keluarga lain terutama bila kakak perempuan harus diantar belanja ke pasar. Terkadang anak lelaki yang masih SD pun mengantar kakak perempuannya ke pasar dengan motor itu. Keterampilan yang diperoleh karena paksaan keadaan ketika si kakak lelaki sedang sibuk mengerjakan hal lain atau mogok jadi juru antar.

Bapak dan anak lelaki di Keluarga Sumpena sering sibuk dengan perkakas tukangnya. Ayah mereka seorang tentara gemblengan jaman perang mempertahankan kemerdekaan yang pernah terjun ke Irian Barat, sangat pandai membuat sesuatu dari bahan kayu. Aku iri melihatnya memasang papan-papan kayu di sepanjang dinding kamar yang kemudian menjadi rak-rak buku apik dan cantik, dicat warna-warna yang disukai anak perempuan. Maklum anak banyak, masing-masing diberi jatah tempat buku pelajaran.

Tujuh anak dalam keluargaku memiliki tugas utama belajar. Sebagian besar pekerjaan dapur dan rumah tangga dikerjakan ibuku sendiri bersama seorang pembantu. Ibuku punya pemikiran yang berbeda dengan keluarga Sumpena. Menurut ibuku anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan harus sekolah sampai pendidikan tinggi sehingga anak-anak sulung punya kewajiban cepat bekerja untuk menopang biaya anak-anak yang paling muda nantinya.

Itu yang membuat Keluarga Sumpena menjadi rumah keduaku. Sebab aku merasakan suasana yang berbeda di sana. Suasana yang lebih gembira.

Mereka pun selalu menerima kehadiranku dengan baik.

***

Tiga puluh tahun kemudian.

Ibuku dan adik perempuan bungsunya –Bibi Nety- sedang bercengkerama dan bercakap-cakap di ruang tamu rumah ibu. Berbagi cerita tentang anak-anak dan cucu mereka. Semua anak ibuku punya anak “dua saja cukup” seperti dalam iklan KB yang bintang iklan utamanya Ibu Tien dan Pak Soeharto, ibu dan presiden Orde Baru. Kecuali aku, yang hanya punya satu anak.

Kudengar ibuku melontarkan keheranannya karena anak-anak Bibi Nety hanya punya anak satu saja. “Kasihan tidak ada temannya kalau cuma anak satu...” Kata ibuku. Bibi Nety hanya mengangkat bahu saja: “Entah, anak-anak sekarang. Mereka tidak mau repot....” Katanya. “Tapi, jaman sekarang apa-apa mahal. Apalagi sekolah anak, mahal sekali ketimbang jaman dulu kita. Anak dua saja belum tentu mampu membiayai sampai ke Perguruan Tinggi....” Katanya lagi.

Lebih enak di jaman Soeharto, biaya hidup tidak semahal ini. Anak-anak bisa sekolah murah. Buku-buku tidak harus beli bisa diwariskan terus dari kakak-kakaknya. Bayaran sekolah murah. Tidak ada les ini dan itu...” Kata Ibuku, mengiyakan.

Bibiku tertawa saja sambil melihat kepadaku. Maklum usia bibi dengan kakak sulungnya terpaut jauh sehingga dia masih memahami perbedaan antara pikiran generasinya dengan generasi berikut yang pro reformasi meskipun sama-sama memiliki suami pegawai negeri. “Suami-istri sekarang kan sama-sama sarjana, Ceu. Sama-sama bekerja.... Makanya anak cuma satu....” Kata Bibi yang "hanya" memiliki tiga anak.

Buat apa dua orang kerja untuk satu anak?” Tanya ibuku seperti mencela. “Perempuan jaman sekarang. Perempuan modern itu mau kerja, mengejar karier, menikmati hidup, dan tetap cantik.... mana mau punya anak banyak....” Kata Bibi seperti mengeluhkan anak dan menantu perempuannya. Atau menyindirku karena dia melirik padaku sambil tersenyum simpul.

Nenek jaman sekarang sih.... Tidak mau dititipi cucunya kalau anak sedang butuh, sedang tidak ada pembantu, padahal suami-istri sama-sama kerja....”  Kata saya, balas menyindir ibu dan bibi. Ibu yang cepat merasa tersindir segera menjawab. “Saya ini sudah capek mengurus anak banyak, kok masih harus mengurus cucu-cucu....”

Bibi dan saya pun tertawa karena berhasil memancing ibu. Perempuan jaman sekarang. Anak sekarang. Lha, nenek jaman sekarang bagaimana?? Mau hidup sendiri tanpa digangggu keributan cucu-cucunya.

Itu sebabnya bibi sekarang sedang berada di rumah ibu. Mencoba membujuk kakak sulungnya untuk pindah ke rumah salah satu anak. Sudah lansia, hidup sendirian, menjadi kekhawatiran semua orang. Bukan cuma anak-anaknya dan keluarga, tetapi juga para tetangga.

***

Setahun setelah tinggal dengan salah satu kakak perempuanku, ibuku selalu mengeluh tentang ini itu. Mita, anak SD yang berangkat pagi sampai sore baru pulang. Mega, anak SMA yang sering pulang malam atau malah tidak pulang. Rahmat, si Bapak yang berhari-hari tidak pulang karena tugas luar. Mila, ibu yang sehari-hari berangkat pagi, pulang menjelang maghrib sebagai pekerja di bank. Anak-anak sejak kecil mengikuti sekolah-sekolah full time yang menyediakan makan siang dan tempat istirahat. Sesudah anak bisa mandiri, selain sekolah juga mengikuti berbagai kegiatan yang dipilihnya seperti musik, olah raga, atau les bahasa.

Ibu merasa sendirian. Tapi keluhan utamanya tentang kenapa Mita begini. Kenapa Mega begitu. Kenapa keluarga Mila dan Rahmat itu begitu. Keluarga yang sehari-harinya jarang berkumpul. Hanya saling berpapasan. Atau bahkan tidak sempat bertemu.

Ibu sering berdiri di depan jendela ke luar rumah.

Pembantu tak acuh dengan kesibukannya sendiri. Pagar rumah yang tinggi membuatnya bahkan tidak dapat melihat apa pun yang ada di luar sana.

***

Aku mengerti perasaan ibu. Aku mengerti gaya hidup kakak perempuanku sekarang karena aku pun hidup dalam cara itu.  Tapi, kenangan hidup dalam keluarga besar menjadi bagian dari hidupku yang tak mungkin terlupakan.

Aku punya kenangan mengesankan bersahabat dengan Keluarga Sumpena yang memiliki banyak peralatan buatan Bapak dan anak-anak lelakinya untuk memenuhi kebutuhan sebuah keluarga besar. Kursi-kursi kecil untuk para perempuan memasak. Lemari di bawah tangga untuk menyimpan berbagai barang. Palang-palang kayu dialasi triplek untuk menyimpan panci, ketel, dan alat-alat memasak lain yang ukurannya besar-besar di atas dapur, dilengkapi dengan tangga kayu untuk bisa menyimpan dan mengambilnya. Sebuah rak buatan ayah untuk menyimpan jajaran gelas dan mangkuk pembagian makanan untuk seluruh keluarga, diletakkan di samping meja makan. Kayu-kayu triplek penyekat untuk membagi fungsi ruangan dalam kamar tidur –memisahkah kamar tidur anak lelaki besar dengan anak lelaki kecil. Sedang di kamar perempuan terdapat satu tempat tidur bertingkat dengan anak perempuan yang sudah besar di bawah, dan yang lebih kecil di atas. Bantal-bantal dengan inisial nama masing-masing pemiliknya yang dijahitkan ibunya. Gelas dan mangkuk untuk ayah dan ibu yang tidak akan berani dipakai anak-anaknya.

Keluarga besar itu sungguh penuh kehangatan. Menjadikan makanan terasa lezat karena segera dimakan begitu masak, dibagi dan dihabiskan hari itu juga. Sedangkan di meja makanku sekarang, banyak sisa makanan yang setelah berhari-hari makin buruk rupa dan kemudian dibuang ke tempat sampah. Di dalam kulkas, berbagai bahan dan jenis makanan juga tidak menggugah selera makan senikmat di masa kecilku. Makanan yang pernah beku, tak akan jadi hidangan selezat masakan di masa kecilku. Bahan segar dari pasar atau dipetik di pekarangan rumah.

Aku rindu makanan panas yang mengepul di dapur sederhana ibuku. Aku berterimakasih pada Keluarga Sumpena yang memberiku kenangan manis di masa kecilku, dan selalu memberiku tempat di rumah mereka yang ramai.

Aku punya kenang-kenangan itu yang tidak akan menjadi kenang-kenangan anak tunggalku dan sebagian besar anak sekarang yang lahir dalam keluarga kecil.

***

Kamis, 27 September 2012

Hidup Ini Memang Berat, Ivan!


Pintu diketuk.
Seorang pria muda mengucapkan salam. "Saya Ivan. Ivan mau mendemokan suatu masakan. Ibu nanti menilai apakah masakan Ivan enak. Ivan mau kerja di rumah makan... (menyebutkan nama restauran terkenal)"
Saya bicara (tak ramah). "Kamu demo masak untuk apa?"
"Ivan demo masak. Nanti ibu menilai, masakannya enak tidak?"
"Untuk apa kamu demo masak?"
"Ivan nanti tunjukkan bagaimana cara masak ayam crispy atau ayam bakar, ibu suka ayam apa?"
"Kamu demo masak buat melamar kerja di restauran...." Saya membantunya berbohong. Tak sabar.
"Ivan akan tunjukkan bahwa masak itu mudah...."
"Iya, kamu demo masak untuk apa, tadi......?"
Tiba-tiba suamiku, Robert, yang segalak anjing herder, muncul dari belakang punggungku. "Kalau kau TERNYATA mau jual alat masak sama istriku.... kutempeleng kau!!”  Katanya. Keringat meleleh di wajahnya, kuas cat di tangannya. Berdiri tepat di belakangku dengan nafas mendengus.
"Siaaaap, Pak...." anak muda itu kaget dan dengan spontan menjawab sambil menegakkan badan. "Ivan tidak jualan apa-apa, Pak.... Ivan mau demo masak...."
"Kamu bilang tadi sama istri saya bahwa kamu demo masak untuk ngelamar kerja...." Kata suami saya. "Awasss kalau bohong...." Sambil ngeloyor. Kembali ke pekerjaannya. Mengecat lemari.
***

Saya fikir Ivan tidak akan datang lagi. Tapi Ivan datang, setelah pergi dulu mengambil peralatan masak. Aku kira sebuah mobil menunggu di suatu tempat dan Ivan bukan satu-satunya orang yang mengetuk pintu-pintu rumah untuk demo masak.
Dia pergi ke dapur, mengambil ayam dari kulkas dan membumbui. Kemudian memasang kompor gas kecil di beranda rumah, dan meletakkan potongan ayam di dalam sebuah panci keramik dengan tutup kaca di atasnya. "Ibu, Ivan mau menjelaskan cara masaknya...." katanya memanggilku yang sedang duduk di depan layar komputer.
Mulailah dia menceritakan cara membuat ayam bakar. Bumbunya.Cara kerjanya.  Mudah sekali. Harum baunya. Dibukanya tutup panci. Memasak itu tidak sulit sama sekali. Katanya terus mencerocos. Karena panci ini memudahkan memasak. Nah, kita sekarang taruh wadah berisi adonan bolu kukus di atasnya. Tidak akan tercemar dengan bau ayam. Airnya mengalir ke sisi, tidak akan jatuh ke atas bolu kukus. Itu karena tutup pancinya yang luar biasa. Bisa memasak sekaligus tanpa saling mencampurkan aromanya. Itu sebabnya memasak jadi mudah. Praktis.
Aku bilang begini: "Ivan, kalau suamiku tahu kamu akan menjual panci.... kamu akan celaka...." Bicaraku berbisik, supaya terasa dramatis.
"Ivan tidak menjual apa-apa, Bu. Ivan hanya menjelaskan cara memasak dan cara menggunakan panci ini. Panci ini satu setnya ada 6, ukuran berbeda-beda. Kalau ibu beli di toko atau di pameran, Ibu sudah tahu cara kerjanya...."
"Berapa harganya?"
"Ivan tidak menjual kok, Bu. Ibu bisa beli di toko atau pameran. Tapi kalau lewat Ivan, harganya lebih menguntungkan. Cuma satu juta sembilan belas ribu rupiah satu set. Bisa diciciln sepuluh kali lagi...." Ivan pun ikut berbisik.
Bolu kukus sudah matang. Ivan memotong-motongnya dan mempersilakan saya makan.
"Enak juga...." kata saya. Tiba-tiba, sosok yang menyeramkan itu datang lagi. Duduk di sampingku sambil bertanya: "Jadi, berapa harga pancimu itu?" Aku makan bolu sambil melihat wajahnya yang menakutkan. Melihat wajah Ivan. Bergantian.
"Ivan tidak menjual panci, Pak. Ivan cuma mendemokan cara masak. Dan cara menggunakan panci ini... Dengan begitu..." belum selesai ucapannya yang mencerocos, suamiku memotongnya. 
"Heh, kenapa kamu harus jadi pembohong untuk menjual barang-barangmu itu?!" Bentaknya. Tapi tak seganas tadi. Rupanya muncul perasaan salutnya kepada Ivan yang pemberani itu.
***

Setelah suamiku pergi, Ivan duduk di kursi teras seperti kelelahan. "Ivan jamin Ibu tidak rugi lho punya alat seperti ini. Enggak mahal kok harga segitu dibandingkan dengan manfaatnya. Awetnya bisa seumur hidup lagi...."
Terus dia berbisik sambil menyorongkan wajahnya: "Bu, Ivan bisa datang lagi ke sini. Kalau hari biasa Bapak enggak di rumah kan? Pas bapak kerja saja Ivan ke sini lagi...."
Saya pun berbisik sambil menyorongkan wajah pula: "Ivan, kalau ketahuan suami saya, saya bisa dicekik. Kamu juga  bisa dicekik.... Paham?"
***

Ivan yang pemberani itu tidak nampak menyesal. Tidak pula mengeluh. Kemudian dia membereskan semua peralatannya. Mengucapkan terimakasih sudah diperbolehkan demo masak. Wajahnya penuh keringat.
Aku tentu saja sudah mengusirnya sejak awal kalau tak berniat membeli panci-pancinya itu.
***

Aku menata panci-panci itu di dinding dapur.
“Si Ivan itu akhirnya berhasil menipumu, sayang....” Kata suamiku sambil membenahi wadah perkakas, setelah selesai memasang paku-paku untuk panci-panci itu.
Aku tidak menoleh, asyik menatap kilau panci-panci itu. Nampak cantik. Kakak perempuanku pasti akan terbatuk-batuk kalau melihatnya saat arisan keluarga nanti. Meskipun aku mencicilnya sepuluh kali, tapi akan kukatakan kepadanya bahwa Robert membayar lunas panci-panci itu untuk membuatnya tambah iri.
***


Gila


Wahab menulis SMS kepadaku: Apa kabar, Har? Lisna sudahkah bercerai dari suaminya? Aku masih jomblo lho.
Aku memperlihatkan SMS itu pada Taufik, teman sekantorku yang juga mengenal Wahab sewaktu masih bekerja. Apakah dia masih gila? Aku tidak tahu siapa Lisna.
Taufik membaca SMS itu cukup lama. Mungkin dia masih gila. Jawabnya.
Aku membalas SMS itu: Kabar baik, sobat. Apa kabar sebaliknya? Selamat berkiprah di club para jomblo. Biar jomblo asal tetap bahagia.
***
Seharusnya ada seorang gila yang menulis bagaimana kegilaan itu terjadi padanya. Ataukah orang gila mungkin terlalu gila untuk menulis. Aku pernah membaca status facebook Wahab seperti ini: Aku masih sering kambuh. Harus kuperjuangkan agar kegilaanku bisa disembuhkan.
Aku tidak tahu, apakah Wahab terkadang sadar dari kegilaannya sehingga dia tidak selalu dalam kondisi hilang ingatan. Aku tidak tahu apakah orang gila bisa menyadari kegilaannya. Seperti seorang pelukis terkenal yang mengatakan pada wartawan yang mewawancarainya bahwa kegilaannya itu berupa “ketakutan yang amat sangat terhadap suara-suara seolah dia akan ditabrak oleh kendaraan yang sedang berseliweran ke arahnya dan akan melindasnya”. Kegilaannya tidak membuatnya tidak bisa melukis. Hanya membuatnya terkurung di dalam ruangan yang dijadikannya tempat perlindungan dan bersembunyi dari teror yang menyerangnya.
Aku rasa dokter seharusnya menyuruh orang gila seperti Wahab untuk menuliskan apa yang sedang terjadi pada dirinya di saat gila.  Bukan orang lain yang menuliskan tentang orang gila berkepribadian ganda berdasarkan wawancara. Bukan juga orang gila yang menulis buku sesudah sembuh. Apa yang terjadi padanya di saat mengalami kegilaan hanya bisa ditulis di saat sedang terjadi.
Seseorang harus menemukan cara memperlakukan orang gila. Aku kira hanya dengan memahami pikiran-pikiran kegilaannya bisa ditemukan cara itu.
Aku memikirkan ini karena ketidakberdayaanku untuk melakukan sesuatu terhadap Wahab –teman baikku yang menjadi gila pada usia 27 tahun. Itu 14 tahun yang lalu. Aku juga tidak tahu bagaimana harus bersikap padanya. Aku hanya membalas saja bila Wahab mengirimku SMS, menulis di dinding facebookku, atau mengajakku chatting. Aku tidak tahu apakah aku harus mengunjunginya.  Sedangkan Wahab tidak dapat datang berkunjung karena dia tidak mampu melakukan perjalanan. Wahab hidup di sebuah ruangan, dalam perawatan orang tuanya yang sudah semakin tua. Setelah bertahun-tahun ditangani lembaga perawatan orang sakit jiwa.
***
Sangat berbeda rasanya melihat orang gila yang tidak kita kenal dengan seseorang yang kita kenal. Apalagi kalau kita berada di dalam situasi atau proses kegilaan itu. Aku bersama Wahab saat dia mulai sakit. Sangat menyakitkan karena aku tak tahu bagaimana menghentikannya. Jangankan menghentikan, bahkan menyangka pun tidak kalau sahabatku Wahab sedang mengalami kegilaan. Aku melihatnya memandang kosong ke depan seperti melamun. Aku tidak tahu berapa lama. Dia akan segera bangun kalau aku menegurnya, lalu kami saling bicara seperti biasa. Namun orang-orang mulai mengatakan padaku bahwa dia membatu seperti itu berjam-jam sambil memandang layar monitor. Aku masih bisa berbicara dengannya. Kami masih bisa bertukar pikiran.
Aku tidak menemukan alasan Wahab harus menjadi gila. Pekerjaan yang dinginkannya entah ada dimana, tapi banyak orang lain yang juga bekerja apa saja asalkan bekerja. Kehidupan yang membosankan dan rutin, biasanya aku dan Wahab bersama mencari hiburan dengan main catur dengan Soma –tukang becak yang selalu menang itu. Atau kami nongkrong dengan teman-teman kuliah dulu. Konflik dalam rumah tangga yang dialaminya, banyak dialami orang lain juga.
Aku tidak tahu Wahab gila sampai akhirnya dia tidak masuk kerja tanpa pamit. Kutelepon keluarganya, ayahnya mengatakan bahwa Wahab sedang “diobati” untuk waktu yang belum diketahui. Aku masih tak menyangka atau tak mengerti. Beberapa tahun kemudian, ketika aku datang dan bertemu dengan Wahab di rumah orang tuanya di sebuah kota kecil yang dingin, Wahab tertawa-tawa saat memberitahuku: Har, aku sakit. Aku menjadi gila. Aku gila.... Aku menatap wajahnya seperti tak percaya dengan penglihatan dan pendengaranku.
Kapan Wahab menjadi gila? Aku selalu bersamanya. Nongkrong bersama dengan teman-teman. Bekerja. Main catur atau karambol. Aku melihatnya tapi aku tak bisa melihatnya. Aku kira Wahab menghilang karena sakit dan beberapa hari kemudian akan muncul kembali ke kantor. Sama sekali tak kusangka bahwa dia tidak akan pernah kembali. Kini sudah 14 tahun yang lalu, peristiwa itu.
Aku pernah membaca status di facebooknya: Tahukah kamu, alien naik pesawat mengintai bumi. Melihat adanya ketidakadilan gender oleh manusia.
Sekarang aku tidak ingin bertanya kapan Wahab mulai gila, tapi bisakah Wahab sembuh? Bisakah?
***
Pertama kali aku melihat seseorang mengalami kegilaan sewaktu masih di Sekolah Dasar kelas 4. Murid terpandai di sekolah, seorang anak perempuan bernama Rosa. Pada pelajaran menggambar, guru akan mengatakan: Kamu punya bakat menggambar. Kamu akan jadi pelukis nanti.. Pada pelajaran kesenian, guru terheran-heran karena Rosa bisa memainkan angklung dan pianika dengan bagus. Kamu punya bakat musik. Kamu akan jadi pemusik nanti. Kata guru kesenian. Tapi guru Bahasa Indonesia mengatakan Rosa akan menjadi pengarang terkenal. Sedangkan guru matematika mengatakan Rosa sangat pandai dan akan masuk ITB.
Pada saat kelas 4 SD Rosa mulai memandang kosong dan berdiri berjam-jam ke suatu arah. Lalu tersenyum-senyum dan tertawa sendiri. Tapi itu tidak membuatnya berhenti menjadi anak paling pintar di sekolah. Nilai-nilai ulangan Rosa selalu yang paling tinggi, melejit sendiri di antara semua murid. Kelas 6 Rosa sudah total gila dan hanya mencoret-coret kertas ulangan sehingga tidak mendapat nilai.
Aku tidak tahu kenapa Rosa mengalami kegilaan. Aku hanya pernah belajar kelompok di rumah teman dan kami menjemput Rosa yang rumahnya berdekatan untuk ikut kelompok. Rumahnya gubuk dan Rosa anak tertua dengan banyak adik yang masih kecil-kecil. Ibunya membentak Rosa untuk tidak ikut pergi dengan kami karena dia harus mengurus adik-adik sementara ibunya sangat sibuk. Rosa menangis karena ingin pergi dengan teman-temannya.
Hanya itu yang aku tahu tentang teman sekelasku Rosa. Aku kemudian mendengar kabar bahwa dia meninggal ketika aku masih SMA. Sejak Rosa total gila, setiap hari dia selalu bepergian berjalan kaki entah kemana tujuannya. Dia masuk ke rumah-rumah orang untuk minta makan dan menjadi terlalu gemuk karena makan terus. Tidak ada orang yang tidak memberinya makan kalau dia minta.
Aku masih bisa melihat proses kegilaan Rosa. Tapi aku tidak bisa melihat proses kegilaan Wahab. Sepertinya dia masih bisa bercakap-cakap biasa denganku di saat makan siang atau minum kopi. Aku tidak tahu bahwa ketika dia sedang duduk di hadapan komputer di ruang kerjanya dia sedang duduk membatu menatap layar monitor.
Semua orang duduk berjam-jam di depan layar monitor untuk menulis naskah atau membuat laporan.
***
Sampai sekarang aku masih bisa berkomunikasi dengan Wahab melalui facebook, kemudian chatting, dan dia meminta nomor hapeku. Aku meneleponnya dan kami berbicara di telepon. Kami terpisah jarak, beda kota.
Har, seperti apakah Bandung sekarang? Tanyanya. Sejak sakit, Wahab meninggalkan kota Bandung. Belum pernah lagi kembali.
Aku akan mengajakmu keliling melihat Kota Bandung kalau kamu ke Bandung. Kataku. Bandung semakin sempit, penuh dengan bangunan. Macet sekali. Ada Bandung Super Mall.
Aku ingin ke Bandung tapi aku tidak bisa bepergian. Katanya.
Aku ingin bertanya apakah aku harus menjemputnya untuk pergi ke Bandung. Tapi pertanyaan itu tersekat dalam kerongkongan. Aku tidak tahu bagaimana bicara dengan Wahab karena aku tidak tahu mana ucapan yang benar untuknya. Apakah sekarang ini dia selalu berada dalam sebuah ruangan dan tidak bisa kemana-mana kecuali dibawa orang tuanya. Aku tidak tahu situasi Wahab.
Aku berharap suatu ketika Wahab memberitahuku bahwa dia akan ke Bandung. Dan aku akan mengajaknya keliling Bandung. Nongkrong di alun-alun. Makan sate padang. Mengunjungi teman yang lain.
***

Minggu, 19 Februari 2012

Skandal

Asri menjadi jarang keluar dari rumah. Itulah hukuman dari masyarakat untuknya. Meski tentu saja tak seorang pun melarangnya terlihat. Namun tatapan mata tetangga membuat Asri tidak mau kelihatan siapa pun kecuali terpaksa.

Dua puluh lima tahun yang lalu, masyarakat mungkin akan melakukan penghakiman kepada pelanggar norma. Namun sekarang semua sibuk memikirkan dirinya sendiri. Atau mungkin masyarakat menjadi semakin rasional, itu bukan urusan saya. Hanya orang yang berkepentingan yang akan bertindak.

Tapi di pemukiman ini, sebuah kampung raksasa di perkotaan, pelanggaran norma akan berhadapan dengan mata masyarakat. Walau hanya itu.

***

Cerita tentang skandal itu beredar. Orang-orang tak tahan untuk tidak menggunjingkan aib orang lain. Itu sebabnya mudah untuk memperoleh cerita itu. Belanja di tukang sayur dan bertemu beberapa ibu, kemudian sepertinya tidak sengaja melontarkan keheranan mengapa tidak pernah melihat Asri berbelanja lagi. Maka cerita pun akan mengalir dari dan kepada para ibu.

Sebuah peristiwa bisa menghasilkan sebuah cerpen. Itu kepentinganku. Sungguh suatu perbuatan memetik keuntungan dari tragedi orang lain. Kilahku adalah merekam cerita manusia untuk menjadi perenungan.

Tidakkah kita bisa merasakan bathin seorang Asri? Seorang terhukum sosial. Lebih bersalah dari pria selingkuhannya karena dia perempuan yang mengganggu pria baik-baik dan keluarga baik-baik yang sebelumnya tenteram dan damai.

Aku merencanakan sebuah “pengkajian” tentang skandal ini untuk menghindari ingatan yang diisi gosip semata. Aku ingin kenyataan tergambarkan.

Gosip hanya mengatakan sisi murahan dari skandal itu.

***

Asri yang berwajah manis itu selalu ramah. Tidak pernah merendah, meski orang-orang berbisik bahwa ibunya seorang pembantu rumah tangga. Tidak juga meninggi, meski keluarga suaminya termasuk berada. Pembawaannya sangat sesuai dengan dirinya. Seorang perempuan muda yang menyenangkan dan tidak mencolok. Orang-orang mengenalnya.

Suaminya seorang pria yang kelihatan berfisik lemah. Selalu menundukkan wajah terhadap orang lain. Jarang berbicara atau menyapa tetangga. Banyak orang yang “lupa” seperti apa wajahnya. Istrinya lebih dikenal orang.

Aku selalu mendapat sapaan Asri bila bertemu. Dan senyuman.

Keluarga muda itu tinggal di sepetak ruangan yang dibangun menempel dengan rumah orang tua suami Asri. Suami Asri merupakan anak bungsu, ibunya sudah sangat tua, sedangkan ayahnya sudah tiada.

***

Sangat mengejutkan cerita skandal antara Asri dan Pak Kosim, perempuan muda berumur 25 tahunan dan pria berumur lebih dari 60 tahun. Pak Kosim tergila-gila pada perempuan tetangganya itu. Istri orang lain.

Pak Kosim seorang pria yang sejak muda dikenal kebaikannya. Apalagi pada usia tua sekarang ini, kegiatan sehari-harinya adalah pengajian dan mengurus mesjid. Lebih sering berpeci dan mengenakan sarung dan sering terlihat pergi dan pulang dari mesjid untuk shalat bersama teman-teman baiknya.

Pria itu pastinya malu dengan heboh hubungan gelapnya itu. Namun hasratnya mengalahkan rasa malu itu. Dia berharap suami Asri menceraikan istrinya dan juga istrinya meminta cerai, sehingga dia bisa bersatu dengan Asri.

Tentu saja itu tidak mungkin.

Istri Pak Kosim menganggap suaminya terlalu tua untuk diceraikan. Tak terbayangkan olehnya kemana akan pergi suaminya itu. Sedangkan suami Asri menganggap bahwa anak-anak mereka akan sengsara bila mereka berpisah.

Skandal itu terbongkar dan hubungan dihentikan. Kebanyakan gosip akan membuat kesimpulan-kesimpulan stereotype. Bahwa motif Asri adalah uang, dan memberikan sex kepada lelaki tua itu demi uang. Sedangkan dorongan Pak Kosim adalah nafsu birahi seorang lelaki uzur yang bangkit kembali karena menemukan perempuan muda dan segar yang bisa dibeli di sebelah rumah. Kedua orang itu sama sekali tidak memiliki wajah dan karakter yang patut menjadi musuh publik.

Pada suatu hari, istri Pak Kosim memergoki suaminya di kamar bersama seorang perempuan. Ibu Kosim pulang terlalu awal dari rencana semula untuk bepergian ke keluarga kerabat bersama anaknya. Pak Kosim yang mengaku tidak bisa ikut karena tidak enak badan itu ternyata memiliki rencana percintaan dengan Asri.

Asri mendapat pukulan dan tamparan dari istri Pak Kosim yang berteriak-teriak marah sehingga menggemparkan para tetangga.

***

Bagi para ibu, pergunjingan yang menggoda adalah “perselingkuhan dengan istri orang yang ada di dekat kita, bisa saja terjadi pada suami seseorang siapa saja”. Bahkan seorang suami yang dikenal santun, baik, dan dihormati masyarakat. Gosip akan menggunakan peribahasa stereotype tentang jiwa kotor para lelaki yaitu “seperti kucing melihat ikan asin, pasti mencuri kalau kita lengah”. Sedangkan perempuan berjiwa “ikan asin” yang suka menggoda kucing demi uang atau menjadi perempuan yang dipenuhi prasangka rendah kepada suami dan perempuan lain.

Begitulah cara kerja gosip. Stereotype.

Aku tahu Asri memiliki seorang sahabat. Seorang teman yang sering kelihatan bersama-sama ke pasar atau bepergian. Seorang sahabat tentunya tempat berbagi rasa. Curhat. Kala aku berkesempatan bertemu dengan Ina, sahabatnya itu, aku bisa mendapatkan cerita yang lebih dalam. Ina bercerita sambil memijit punggungku dengan minyak zaitun dan body scrub.

Pak Kosim pada awalnya merasa bersimpati pada Asri karena kehidupannya yang susah. Karena itu, diam-diam –tanpa sepengetahuan istrinya- Pak Kosim sesekali memberi Asri uang untuk keperluan kedua anaknya yang masih kecil. Begitulah cerita Ina tentang awal hubungan Pak Kosim dan Asri.

Keakraban keduanya hanya disimpan dalam hati masing-masing. Asri sering mengantar anaknya mengaji ke mesjid dan bertemu dengan Pak Kosim dalam perjalanan maupun saat di mesjid. Tak ada pandangan mata siapa pun yang curiga atau merasa aneh atas kedekatan keduanya.

Rumahnya berdekatan. Tidak aneh kalau mereka berjalan sama-sama menuju pulang atau pergi ke mesjid. Selain itu Asri selalu bersama anak-anaknya. Pak Kosim selalu bersama sahabat-sahabatnya seusia.

Kelihatannya tidak ada hal yang aneh bagi siapa pun yang melihat kedekatan keduanya. Seorang perempuan muda –berbadan kuat karena selalu bekerja keras dan berwajah segar remaja- dan seorang pria berusia lanjut –berbadan langsing dan berwajah pertapa- yang nampak berbincang-bincang sambil berjalan pulang dari mesjid. Tak seorang pun melihatnya sebagai hal “apa-apa”.

Simpati Pak Kosim muncul karena watak Asri yang santun dan perilakunya yang baik, serta wajah yang manis. Hasrat Pak Kosim kepada Asri mulai timbul pada suatu ketika yang tak pasti. Asri merasakannya dari pandangan matanya. Juga tutur katanya yang berubah menjadi begitu lembut. Serta pemberian-pemberiannya menjadi lebih sering.

Tentu saja Asri tidak mengharapkan perselingkuhan dengan pria berusia lanjut. Atau pria mana pun yang merupakan suami tetangga.

***

Pak Kosim tidak memaksa, namun hasrat itu semakin menyala di matanya. Pada suatu kesempatan bertemu di dekat mesjid, Pak Kosim berbisik padanya. “Istriku pergi dengan si bungsu untuk menengok cucu. Mereka pulang besok. Nanti kamu ambil uang ke rumah ya....”

Astri terpana mendengarnya. Menundukkan kepala sambil bergegas berjalan pulang. Hampir berlari. Meninggalkan Pak Kosim yang berjalan pelan.

Malam itu Asri bisa saja tidak pergi ke rumah Pak Kosim. Uang selalu dibutuhkannya. Tapi dia tidak terpaksa harus pergi saat itu.

Itulah pertama kali dia melakukan hubungan badan dengan pria yang lebih tua dari ayahnya sendiri. Pria itu berwajah baik. Mungkin tampan sewaktu muda, menurut pikiran Asri. Asri memejamkan matanya selama pria itu menyetubuhinya.

Peristiwa itu terjadi setahun sebelum hubungan gelapnya terbongkar.

***

“Kenapa dia mau?” Tanyaku. Suaraku tidak mencela. Aku sedang menjadi seorang “peneliti”, seorang yang mendengar untuk memahami kenapa peristiwa itu terjadi. Bukan seorang penyidik yang akan menegakkan hukum. Aku juga tidak ingin bergosip, tetapi justru ingin melawan informasi gosip yang mampir di telinga saat belanja sayur. Saat arisan lingkungan. Atau saat-saat lain dalam kehidupan masyarakat kampung kota tempat aku bermukim yang punya hobi bergunjing.

“Asri membutuhkan uang, memang,” Kata Ina sambil menggosokkan telapak tangannya di punggungku sampai aku meringis-ringis kesakitan. “Tapi dia juga membutuhkan sex yang tidak dapat diberikan suaminya....”

“Kalau dia melakukannya berkali-kali selama setahun, tentunya diapun merasa enak. Apakah dia merasa enak?” Aku bertanya. Pertanyaan lugas di antara perempuan dewasa yang sama-sama berpengalaman dengan seks.

Ina tertawa geli membayangkan lelaki lanjut usia itu. “Ya, enak mungkin. Ketimbang dengan pria muda brengsek yang menganggapnya bondon murahan?”

Aku mengangkat kepala dan memandang wajah Ina. “Memangnya dia pernah dengan pria lainnya?” Perempuan ini sepenuhnya percaya padaku ataukah dia orang yang mudah membocorkan rahasia sahabatnya sendiri? Pikirku dalam hati.

“Kadang aku mengajaknya ke salon tempat kerjaku. Karena dia memaksa-maksa mau diajak kerja,” Kata Ina. “Di salon bisa ketemu lelaki yang mau membawa dia dan memberi uang tentu saja. Tapi Asri tidak suka dengan lelaki yang mulut dan sikapnya kurang ajar. Sejak dengan Pak Kosim, dia tidak mau lagi dengan orang lain....” Ina tertawa geli ketika mengatakan, “Pak Kosim cinta beneran lho sama Asri.... Dia masih suka nitip surat lewat saya.... hahahaha”

“Suaminya tidak marah atas perselingkuhan istrinya?” Tanyaku. “Suaminya kan sakit. Gak mampu begituan lho, Bu. Jadi, maklum aja sama istrinya. Dia tidak marah kalau istrinya pulang pagi...”

“Aneh. Mereka bisa punya dua anak....” Kataku. “Kebetulan aja barangkali, Bu.... Biar pun jarang dilakukan dan tidak sempurna, tapi masih bisa hamil....” Ina tertawa terus seolah membicarakan hal yang lucu.

“Pak Kosim kan sudah tidak berhubungan juga dengan istrinya, wong sudah tua-tua....” Kata Ina.

“Bu, saya belum pernah cerita sama siapa-siapa lho.... Jangan diceritakan ke orang lain ya....” Kata Ina. Mengakhiri ceritanya.

***

Peristiwa itu tidak membuat Pak Kosim berhenti ke mesjid atau mengurung diri seperti Asri. Namun Pak Kosim menjadi lebih pendiam.

Sifatnya yang ramah dan suka mengajak bicara menjadi hilang. Hanya tersenyum kecil bila bertemu di jalan. Semua orang tetap bersikap seperti biasa kepada Pak Kosim. Figurnya yang simpatik dan profilnya membuatnya tidak menjadi sasaran olok-olok atau ucapan jahil siapa pun. Berbeda dengan posisi Asri yang menjadi takut memperoleh ucapan-ucapan menyakitkan atau tatapan mata yang menusuk. Dia pun mengurung diri di dalam rumahnya. Nyaris tak kelihatan lagi selama dua tahun setelah kejadian tertangkap basah.

Sungguh suatu keadaan yang berbeda terhadap kedua orang itu.

Asri mempunyai hasrat seksual yang sehat, meluap, muda dan belum terpuaskan. Tetapi hasrat seksual itu tidak ditujukan kepada Pak Kosim. Hasrat seksual itu untuk seorang pria yang dapat menghargainya, muda, dicintai, dan membahagiakan. Sebuah fantasi.

Sebuah jeritan kepada Tuhan.

Bukankah Engkau yang bertanggung jawab atas kehidupan? Aku ingin seorang suami seperti perempuan lainnya, tangis Asri dalam bathinnya maupun saat ia tersedu-sedu sendirian di rumah. Suami sedang kerja di sebuah supermarket. Anak-anak bermain dengan teman-temannya di luar.

Bukankah hasrat seksual Asri dimilikinya karena seorang manusia –lelaki maupun perempuan- punya kelamin? Asri tidak bersalah memiliki hasrat seksual. Asri manusia normal –bukan cacing yang melakukan seks dengan dirinya sendiri. Manusia bukan hermaprodit.

Ingin rasanya aku menyebut “si brengsek” pada suaminya yang dengan semena-mena menikahi Asri yang tidak tahu bahwa calon suaminya lemah syahwat. Kemudian membuatnya tersiksa dan terjebak. Terbayang wajah pria pendiam dan pemalu itu yang jarang bergaul dengan siapa-siapa.

“Mengapa tak ditinggalkan saja suaminya dan Asri cari suami lain?” Tanyaku.

“Mana bisa, Bu. Anak-anak sayang sama Bapaknya....” Kata Ina.

Lalu Ina melanjutkan, “Pak Kosim benci sama saya, Bu. Dia cemburu. Dia benci kalau`Asri pergi ke salon. Dia bilang saya menjerumuskan Asri untuk menjadi korban laki-laki hidung belang. Biar pun begitu, dia tetap saja masih menitip amplop lewat saya....”

***

Asri duduk di tepi tempat tidur, membuka amplop dari Pak Kosim yang berisikan surat ucapan menyabarkan dan selembar uang seratusan ribu rupiah. Airmatanya luruh membasahi wajahnya. Sejak lahir kehidupan yang dijalaninya selalu miskin. Menikah dengan pria dari keluarga yang dianggapnya lumayan, tetapi ternyata suaminya berbeda dengan saudara-saudaranya, dia memberinya kemiskinan dan juga dahaga cinta birahi. Pantas mau pada gadis miskin sepertiku, pikir Asri.

Tak mungkin baginya kembali ke rumah orang tuanya yang begitu miskin bersama anak-anaknya. Adik-adiknya pun tanggungan berat bagi ayahnya yang buruh sehingga ibunya juga menjadi pembantu rumah tangga.

Ina mengajaknya kembali kerja ke salon semata-mata karena iba, bukan jahat seperti yang dituduhkan publik bahwa Asri terjerumus oleh Ina si perempuan binal perusak rumah tangga orang. Suami Asri tak pernah melarang. Tak bermusuhan dengan Ina. Para tetangga hanya menatap. Itu bukan urusanku, pikir orang-orang.

Skandal itu diselesaikan oleh dua keluarga yang terlibat dengan bantuan seorang ustadz. Ibu Kosim ingin Asri enyah dari pemukiman itu.

***

“Apakah saya mengajaknya melakukan dosa, Bu?” Tanya Ina padaku suatu saat ketika sedang melulur badanku di rumah. Penghasilan tambahan dengan bekerja di rumah pelanggan, di luar jam kerja di salon.

Aku menghela nafas panjang.

“Apakah saya mengajaknya melakukan dosa, Bu?” Tanya Ina bersikukuh.

“Aku harap salah satu lelaki yang bertemu Asri akan memberinya cinta. Menikahinya. Membawanya pergi...” Kataku berpuisi. Mengelak.

Ina menarik nafas panjang. “Apa ada ya lelaki baik yang suka nyalon dan mau menikahi dia?” Ina lebih tahu dari aku. Dia sendiri pun tak pernah berharap menjadi istri baik-baik dari seorang lelaki karena selalu berhubungan dengan suami orang. Tapi Ina selalu siap dengan posisinya itu sedangkan Asri tidak. Bahkan Ina pun menganggap Asri seorang perempuan malang ketimbang dirinya. Asri tidak dengan senang hati menjadi perempuan yang tidur dengan lelaki hidung belang. Hasrat birahinya yang bergejolak mendorongnya kembali lagi ke salon.

Apakah ada kebahagiaan untuk Asri. Apa dia dilahirkan hanya untuk kemiskinan dan kepedihan. Lalu anak-anaknya pun demikian.

Entah.

***

Semakin umurku bertambah dan dengan usahaku untuk belajar dari sesama manusia –termasuk Asri dan Ina- aku tahu bahwa setiap manusia punya hati yang baik. Kalaupun tidak baik sepenuhnya, masih ada sepotong kebaikan hati.

Ina tak sebinal apa kata orang. Dia seorang penolong. Seorang yang mengharapkan sahabatnya –Asri- menemukan pria yang lebih baik untuk menjadi suami. Tidak terbersit dalam hatinya kejahatan untuk menjerumuskan Asri agar menjadi bondon atau pelacur, seperti ungkapan orang. Seorang perempuan binal yang tidak mengharapkan perempuan lain menjadi binal. Seperti dirinya ingin menjadi istri baik-baik kalau saja bisa mengubah awal kehidupannya.

Suatu hari Asri menggantikan Ina, memijit dan melulurku di rumah. Ibu-ibu tetangga memperhatikan. Seorang ibu bahkan bertanya padaku untuk menunjukkan keheranannya. Aku mengatakan padanya bahwa benar Asri bekerja melulurku.

“Kalau mau menolongnya memperoleh uang dengan cara bekerja, kenapa tidak mempekerjakan dia untuk melulur, memijit, atau creambath di rumah?” Tanyaku kepada ibu tetangga itu. Wanita itu termangu sambil menatap wajahku.

***

Kebaikan ada dalam diri manusia. Tidak semua mau, tapi aku mendengar Asri mulai punya lebih banyak panggilan ke rumah ibu-ibu.

Suami Asri berusaha untuk sembuh dengan pengobatan alternatif. Ina mengoper aku untuk menjadi pelanggan Asri.

Aku menemukan di balik skandal yang memalukan itu terdapat tindakan-tindakan mulia banyak orang. Ina, seorang yang menjadi tudingan sebagai biang kerok penular kejahatan asusila itu, menjadi penolong Asri tanpa pamrih. Tidak mundur meskipun menjadi kambing hitam dalam skandal ini dan banyak berkorban perasaan untuk Asri. Pak Kosim, pria yang jatuh cinta itu menyatakan kepada ustaz kesediaan untuk bertanggung jawab dan menikahi Asri. Ibu Kosim yang memaafkan suaminya dan tak sampai hati menceraikannya, serta berdamai dengan keberadaan Asri sebagai tetangganya. Suami Asri yang meneteskan air mata karena mengkasihani istrinya yang tak terpenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya, menjadi bapak yang bapak bagi anak-anaknya. Sahabat-sahabat pengajian Pak Kosim yang tetap merangkul pundaknya dan tak mengatakan apa pun tentang skandal itu. Para ibu yang kemarahannya berubah menjadi simpati pada Asri yang berusaha bekerja menolong suaminya mencari uang tambahan.

Gosip itu dangkal dan jahat. Informasi gosip itu membunuh karakter dan membodohkan. Merupakan rekaan dalam benak orang-orang.

Kutuliskan cerpen ini untuk belajar tidak menghakimi. Untuk belajatr menemukan kemuliaan-kemuliaan yang dimiliki jiwa manusia. Meski manusia itu mudah melakukan dosa.

***

Sabtu, 11 Februari 2012

Ibu yang Penyayang

Sejak kecil Yusuf menganggap bundanya adalah bidadari yang suci dan mulia. Dekapan dan pelukan ibunya selalu menemani. Pandangan matanya yang mesra dan penuh cinta, tak pernah lepas dari wajah anak semata wayangnya itu. Yusuf hanya satu-satunya yang menjadi pusat kasih sayang sang bunda.
Ketika masih kecil, bunda memasak apa saja yang diinginkan Yusuf. Kue-kue yang lezat dan dibuat dengan proses yang lama dan penuh ketekunan untuk terhidang di atas meja dengan warna warni yang lucu dan bentuk menawan, semua hanya untuk Yusuf. Buku-buku resep masakan koleksi ibunya, semuanya untuk memasak makanan-makanan yang leza,t hanya untuk Yusuf.
Dalam ingatan Yusuf, ayahnya jarang makan di rumah. Ayah tidak sempat makan pagi dan pergi tergesa-gesa. Ayah makan siang di kantor. Ayah pulang terlalu malam dan tidak makan malam di rumah. Ayah tugas luar beberapa hari, bahkan beberapa minggu.
Sedang bunda memasak seharian untuk Yusuf. Bunda membuat kue seloyang kecil saja dan tekun menghiasinya dengan mentega-gula kocok berwarna-warni, hanya untuk Yusuf. Bunda senang berbelanja ke supermarket dan semua daftar belanjaannya hanya untuk keperluan Yusuf.
Bunda selalu berkata, “Lihat ini keju leleh untuk membuat kue kesukaanmu....”. “Pilihlah buah-buahan yang kamu mau....”  “Ayo kita cari udang dan ikan laut supaya kamu jadi anak pandai dan sehat....”
Yusuf menemani ibu belanja. Yusuf les renang dan ibu menunggui sambil membaca resep-resep makanan anak di tabloid wanita. Yusuf bermain bersama anak-anak tetangga di dalam rumahnya, tapi anak-anak itu cepat bosan dan pergi bermain ke lapangan, sedangkan Yusuf tidak diperbolehkan oleh ibunya.
Yusuf duduk di meja makan dengan hidangan serba istimewa yang dimasak ibunya. Ibunya memandangi wajah anaknya untuk melihat reaksi anaknya terhadap kelezatan makanan buatannya. Mereka sering berdua saja.
***
Ketika remaja, Yusuf anak yang pandai di sekolah. Sibuk dengan les ini dan itu. Aktif di organisasi sekolah. Punya banyak teman yang senang dengan kesibukan belajar dan berlatih berorganisasi. Anak-anak baik yang disukai ibu Yusuf.
Terkadang Yusuf pulang kemalaman karena kegiatan organisasi. Bunda selalu menangis bila Yusuf pulang kemalaman, apalagi bila tidak pulang semalam. Kalau begitu, Yusuf berjanji tidak akan melakukan itu lagi karena akan mencemaskan ibunya.
Yusuf selalu mengatakan kepada teman-temannya yang sedang sibuk menyiapkan sesuatu bersama,  “Maaf, saya harus pulang sekarang. Ibu saya hanya mengijinkan saya pulang terlambat sampai jam 07.00. malam....” Tak perduli wajah teman-temannya memprotes karena masih banyak persiapan yang harus dilakukan untuk kegiatan besok, Yusuf akan tetap pulang.
Siapa pun yang mengenal Yusuf akan menyukai sifatnya yang baik, tekun, ramah, dan penyayang. Suatu ajaran yang sempurna dari ibunya yang tak pernah absen membacakan dongeng pengantar tidur sejak Yusuf bayi sampai masa anak-anaknya berlalu. Ketika Yusuf tidak lagi perlu dibacakan dongeng pengantar tidur, bunda selalu duduk di samping tempat tidurnya sebelum memadamkan lampu.
“Yusuf, jangan lupa berdoa sebelum tidur....” Begitu kata bunda selalu.
***
Setelah selesai kuliah, Yusuf sama sekali tidak ingin beranjak kemana pun selain di dekat bundanya. Tidak terfikir olehnya untuk kuliah di kota lain. Tidak mungkin ibunya mengijinkan. Tidak mungkin pula Yusuf meninggalkan ibunya.
Teman-teman kuliah Yusuf senang berkumpul di rumahnya. Tentu saja karena ibunya akan menyediakan makan siang, kue-kue buatannya yang enak, dan minuman-minuman dengan buah-buahan. Masalahnya, mereka tidak boleh merokok. Yusuf mengatakan kepada teman-temannya bahwa ibunya akan sangat kecewa melihat anak muda yang merokok.Tentu saja hal ini mengurangi kenyamanan mahasiswa-mahasiswa yang suka minum kopi sambil merokok ketika mengerjakan tugas-tugas kuliah.
Yusuf disukai para wanita karena sifatnya yang lembut kepada ibunya. Pelukan dan ciumannya ketika pamit kepada ibunya mengesankan teman-temannya. Sembahyangnya rajin. Tidak merokok dan jajan sembarangan. Tidak sulit bagi Yusuf untuk mendapatkan pacar. Yusuf memilih Shanti yang cantik, lembut, suka pekerjaan dapur, tidak banyak bicara dan cocok dengan ibunya.
Sesungguhnya Yusuf menyukai Mita yang periang, sedikit ceriwis, lucu, dan banyak sekali gagasannya. Tapi ibunya kurang cocok pada sosok semacam itu.
Yusuf menikah dengan Shanti yang telah menjadi teman baik ibunya selama hampir sepuluh tahun. Sepertinya, dia tidak perlu mempertimbangkan pilihan lain.
***
Bunda sudah sangat tua sekarang. Yusuf merawatnya dan tidak pernah berpisah dengannya. Apalagi setelah ayahnya meninggal karena sakit, ibunya tak bisa lepas dari perhatian Yusuf. Entah itu kepalanya sakit. Dadanya berdebar. Kakinya terkilir. Ibunya hanya menyebutkan nama Yusuf untuk merawatnya. Bahkan ketika masalahnya tak harus membuat Yusuf pulang tergopoh-gopoh dari kantornya, bundanya ingin Yusuf hadir.
Yusuf mengabaikan promosi dalam pekerjaannya ketika harus pindah ke Jakarta atau kota lain. Gajinya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan tidak cukup untuk membiayai sekolah anak-anaknya sehingga Yusuf selalu mempunyai cicilan hutang biaya sekolah ke kantor.  Itu membuatnya selalu menerika keadaannya di kantor.Yusuf  tidak dapat melanjutkan jenjang pendidikan sehingga pegawai-pegawai muda yang bergelar lebih tinggi segera melampauinya.
Istrinya, Shanti, berhenti kerja ketika mereka punya dua anak. Menurut ibunya Yusuf , tugas seorang istri adalah merawat anak-anaknya sehingga mau tak mau Shanti mengikuti keadaan itu. Apalagi mereka tinggal di rumah ibu mertuanya itu. Shanti mencoba menambah pendapatan suaminya dengan membuat usaha kue di rumah. Penghasilan suaminya saja tidak cukup sedangkan biaya sekolah semakin mahal. Apalagi anak ketiga juga lahir.
***
Yusuf meninggal pada usia belum lagi 60 tahun karena sakit ginjal dan diabetes, pada saat anak-anak sudah dewasa. Si sulung dan si tengah sudah bekerja di Jakarta dan Bali. Sedangkan si bungsu kuliah di Yogya. Anak-anak selalu ingin segera pergi dari rumah karena tidak tahan dengan dominasi nenek mereka.
Shanti pernah mencintai Yusuf dan sepertinya anak-anaknya menyesali pilihannya karena harus melihat kesedihan ibu mereka meskipun dalam diamnya. Shanti terkadang tak sanggup lagi menghadapi seorang suami yang semua keputusan dan keinginannya ditentukan seorang ibu yang begitu mengendalikan. Terkadang Shanti ingin pergi, tapi dia pun telah terperangkap di rumah yang menjadi tempat Yusuf dilahirkan, dibesarkan, menikah, dan bahkan disemayamkan saat kematiannya.
 Sang bunda menangisi anak kesayangannya siang dan malam. Setiap orang yang datang menjenguk selalu mendapat cerita yang sama dan sama lagi. Tentang sang kekasih, anak kesayangan, Yusuf.
***
Shanti pernah bertemu Maya, perempuan cantik dengan kulit seperti pualam yang begitu lembut, perhatian, dan menyukai hal-hal kewanitaan. Tetapi si sulung Rahmat memberitahu ibunya bahwa dia akan menikah dengan Dina, perempuan yang karakternya sangat berseberangan dengann Maya, suka berbicara, tak sungkan menyatakan pikiran yang berbeda dengan Rahmat, dan banyak bepergian ke banyak tempat. Sang nenek memperlihatkan keberpihakan yang jelas, dan juga menganggap bahwa otoritasnya sangat tinggi dan harus dihormati cucu sulungnya itu.
Suatu hari Shanti mendengar sang nenek menyatakan pujian-pujiannya kepada Maya, dan sedikit menyatakan hal yang tidak berkenan di hatinya terhadap sikap seorang wanita atau istri yang nampaknya dimaksudkan untuk Dina meski tak disebutnya. Rahmat memeluk neneknya dan menyatakan bahwa dia akan menikah dengan Dina karena mereka cocok dalam banyak hal, pekerjaan maupun pemikiran.
“Saya tidak akan pernah menikah dengan perempuan yang hidup hanya untuk suami dan anak-anaknya...” kata Rahmat kepada neneknya. “Saya tidak mau anak saya dipenjarakan seumur hidupnya oleh ibunya sendiri....”
Shanti terkejut mendengar ucapan pedas anaknya. Namun dia menyadari bahwa sang mertua sudah sangat tua. Ucapan anaknya itu mungkin sama sekali tak berarti dalam pendengaran maupun pikiran wanita tua yang sudah pikun dan kurang mendengar itu. Bahkan ketika dia merasa sakit, masih suka memanggil-manggil Yusuf seolah anaknya masih hidup.
***