Katanya Tuhan telah menentukan kelahiran, jodoh, rejeki, dan kematian kita. Ketika Tuhan menentukan, takdir namanya. Ketika Rasyid menikah dan punya anak, takdir anaknya mempunyai Bapak dirinya, menjadi suatu rasa tanggung jawab bagi Rasyid. Untuk menjadi Bapak yang baik bagi anaknya.
Anak tidak dapat memilih lahir dari siapa. Tidak dapat memilih bapaknya siapa. Kalau bisa memilih, semua ingin menjadi anak seorang keturunan Raja atau Sultan. Atau pengusaha kaya. Jenderal. Menteri. Orang berkuasa. Orang terkenal. Tapi anak harus dilahirkan dari berbagai macam orang tua. Termasuk seorang ibu pengemis. Ayah prajurit, tentara berpangkat rendah.
Rasyid dilahirkan oleh seorang perempuan yang mengabdi sepenuhnya untuk keluarga. Sedang Bapaknya seorang perwira menengah. Masa kecil sampai dewasa yang dijalaninya tidak pernah kekurangan, tetapi juga tidak berlebihan. Rasyid bisa sekolah sampai perguruan tinggi. Bekerja di bank swasta. Istrinya sarjana dan bekerja sebagai PNS di pemerintah kota. Anak-anak Rasyid dilahirkan dari orang tua yang bisa memberikan kecukupan dan masa depan yang baik.
***
“Di luar sana bukanlah kehidupan yang aman...” begitu istrinya berpendapat. “Jangan terlalu protektif terhadap anak. Biarkan dia menghadapi masalahnya sendiri....” Rasyid dan istrinya sedang membicarakan hal pilihan sekolah yang serba sulit bagi para orang tua kelas “menengah-bawah” seperti mereka. Kelas “menengah-atas” bisa mengirimkan anaknya sekolah ke luar negeri sejak SMP yang iklannya saat ini cukup banyak dan gencar. Sekolah berasrama di luar negeri, tidak masalah mengirimkan anak ke sana sejak SMP. Ini bukan jaman lama.
Sekolah elit ataukah sekolah merakyat merupakan salah satu topik perdebatan antara Rasyid dan Hana, istrinya. Istrinya ingin anak sulung mereka masuk sekolah umum, sedangkan Rasyid ingin anaknya masuk sekolah berasrama di dalam kota yang cukup mahal dan dianggapnya memiliki disiplin yang baik. Sekolah umum –terutama yang negeri- menurut Rasyid tidak memiliki disiplin yang baik. Sedang Hana menganggap setiap anak akan merespon situasi sesuai dengan kepribadiannya dan orang tua hanya bisa menjadi teman berbagi rasa. Anak bisa menjadi antagonis dari tempat yang terlalu berdisiplin. Atau sebaliknya membentuk pertahanan terhadap tempat yang terlalu longgar, membangun disiplin pribadi berdasar kemauan sendiri.
“Anak harus belajar untuk menentukan sikap terhadap banyak hal yang dihadapinya di dunia luar sana. Sedangkan dalam keluarga yang selalu kita buat keadaannya untuk selalu baik dan ideal bagi anak, akan membentuk rasa nyaman yang mungkin membuatnya tidak belajar bersikap dan otonom....” begitu kata Hana.
***
Anak SD dan SMP harus menentukan disiplinnya sendiri? Rasyid menggelengkan kepala. Kewajiban orang tua untuk memberikan tempat yang mendidik disiplin untuk anak-anaknya. Begitu pandangannya.
“Kamu pikir SD yang paling baik dan mahal itu menyediakan apa bagi si Roy?” tanya Hana. “Anak kita itu jadi belajar bahwa anak-anak orang kaya di sekolahnya itu beruntung karena setiap liburan diajak ke luar negeri oleh orang tuanya. Sedangkan anak kita tidak seberuntung itu karena kita tidak sekaya itu....”
Rasyid harus mengakui kebenaran ucapan istrinya. Roy, anak sulung mereka yang sedang diperbincangkan sekolah di SMP mana nanti setelah lulus SD seringkali harus menghadapi penolakannya bila berencana bepergian dengan teman-teman dekatnya untuk mengisi liburan. Lima sahabat karib –anak-anak SD kelas lima waktu itu- akan bepergian ke Bali saat long week-end? Roy heran sekali bahwa dirinya tidak bisa, sedangkan teman-temannya bisa. Apa susahnya bepergian dengan penerbangan ke Bali dan pemesanan hotel secara online jaman sekarang? Berangkat hari Jumat pagi yang kebetulan libur, kembali hari Minggu dengan penerbangan sore, Senin sudah kembali lagi ke sekolah. Mereka hanya akan berenang di pantai yang ada di pelataran belakang hotel, jalan-jalan ke pasar seni, dan bercengkerama di kamar sambil main games.
Roy menganggap orang tuanya tidak mengijinkan karena masalah uang. Roy merasa dirinya berasal dari keluarga yang tidak kaya dibanding teman-temannya yang bisa memperoleh biaya liburan seperti itu dari orang tuanya. Mereka bisa membeli PS dan nitendo versi baru tanpa syarat harus mengumpulkan uang jajan seperti dirinya. Roy tahu keluarganya bukan miskin, tapi tidak kaya.
***
Rasyid melihat dunia secara berbeda dengan Hana. Memasukkan anaknya ke SD yang termasuk sekolah elit, baginya adalah investasi agar anaknya melangkah lebih maju dari dirinya. Kalau anak-anak lain lebih, maka anaknya akan berusaha mengejar. Menginginkan sesuatu yang lebih dari orang tuanya kelak.
Sementara Hana menganggap anaknya masuk ke SD elit untuk mengetahui perbedaan orang. Dia ingin Roy mengerti bahwa orang tuanya merupakan keluarga yang cukup namun banyak keluarga lainnya yang berlebih, kaya, dan anak-anaknya punya banyak kesempatan yang tidak dimiliki oleh banyak anak lain. Mereka tinggal di sebuah pemukiman yang baik tapi biasa. Sedang teman-teman Roy banyak yang tinggal di pemukiman elit dengan tembok dan pagar tinggi dan pos satpam di pintu gerbangnya.
Setelah melihat apa yang dialami anaknya selama SD, Hana ingin Roy bertemu dengan teman-teman yang berasal dari berbagai kalangan di SMP negeri. Bukan sekolah elit tempat berkumpulnya anak-anak dari kalangan elit yang orang tuanya pejabat atau pengusaha. Atau orang kaya tujuh turunan karena berasal dari keluarga menak-menak.
Rasyid melihat Roy menjauh dari teman-teman di sekolahnya dan lebih karib dengan teman-teman bermain di pemukiman mereka. Menandakan anaknya melihat dirinya “tidak sama” dengan anak-anak di sekolah elit itu. Roy bahkan lebih merasa nyaman berteman dengan anak-anak kampung yang tidak satu sekolah dengannya. Anak-anak yang sekolahnya ada di perkampungan di belakang dinding yang membentengi pemukiman tempat tinggal mereka dengan perkampungan itu.
Hal itu membuat Rasyid menginginkan Roy tetap di sekolah elit.
***
Shanti tidak mau disebut anak pengadu. Namun, gadis cantik kelas 3 SD itu terkadang merasa berkewajiban untuk menyampaikan sesuatu tentang Roy kepada kedua orang tuanya. “Pah, jangan bilang A’a saya yang kasih tahu ya. Teman A’a yang namanya Kamil itu suka merokok lho...” Kata Shanti kepada ayahnya.
“Merokok???” Rasyid terperanjat. Anak SD merokok bagi dirinya tentu saja sangat luar biasa. Tapi cerita tentang anak-anak kampung yang kecil-kecil sudah merokok dan mencari uang itu memang pernah didengarnya kalau ada pertemuan di Kantor RW untuk membahas masalah keamanan dan lingkungan pemukiman.
Hana tidak ingin menanggapi isu “Roy berteman dengan anak kampung yang masih SD tapi sudah merokok” itu dengan cara yang ekstrim. “Dunia di luar sana tidak selalu aman untuk anak-anak kita. Orang-orang di luar sana tidak selalu baik. Kita tidak bisa membuat anak-anak kita bertemu dengan jenis orang yang baik saja...” Hana ingin mensikapi itu sebagai hal yang biasa saja. Baginya yang penting Roy menyatakan pendapat tentang “anak SD tapi sudah merokok itu”.
Roy hanya mengangkat bahu saja. Entah itu artinya “Teman sekolahku juga ada yang merokok kok....” Ataukah “Anak kampung sana, SMP saja sudah berciuman....” Ataukah “Yang penting kan bukan saya, Ma. Saya tahu kok mana yang betul dan tidak betul....” Anak yang pendiam dan bersikap dingin itu membuat ayah dan ibunya jadi berpolemik tanpa bisa mengetahui pikiran anaknya lebih jauh.
Rasyid melarang Roy berteman dengan anak-anak kampung. Roy hanya boleh berteman dengan teman sekolah, teman di tempat les musik dan karate.
Hana sebenarnya tidak sependapat. Tapi seorang ayah harus tampil sebagai pembuat keputusan. Biasanya begitu yang diterapkan oleh Rasyid dan Hana.
Mengapa lebih sulit menghadapi Roy ketimbang adiknya Shanti yang lebih pengertian dan menyesuaikan diri dengan harapan-harapan orang tuanya? Shanti merasa nyaman bersekolah di SD yang sama dengan kakaknya.
Roy tidak banyak bicara. Lebih mudah mengerti apa yang diinginkan dan dirasakan oleh Shanti ketimbang Roy. Apakah larangan berteman lagi dengan anak-anak kampung itu suatu keputusan yang baik? Roy tidak menyatakan apa-apa.
***
Ketegangan terkadang terjadi antara Rasyid dan Hana. Cara mereka menjadi orang tua berbeda. Hana ingin anak-anaknya santai saja menghadapi kehidupan. Rasyid ingin anak-anaknya bersikap tangguh. Belajar lebih keras untuk pelajaran di sekolah. Berlatih lebih keras di tempat les renang, musik dan karate. Bukan untuk berprestasi sebagai juara tapi untuk menjadi tangguh.
Kenapa Roy selalu lebih lembek daripada adiknya Shanti?
Shanti sudah menyusul kakaknya di grade 2 les musik, Roy malah semakin acuh dan ingin berhenti les musik. Shanti sudah menguasai semua gaya renang dan selalu bersemangat dengan jadwal dan kesibukannya. Roy semakin suka duduk di depan komputernya di dalam kamar.
Hana menjadi tegang ketika perbandingan antara kedua anak itu dirasanya terlalu menjadi tekanan bagi Roy. Pertengkaran dengan Rasyid mulai timbul karena Hana ingin Roy dibiarkan menikmati apa yang disukainya. Namun Rasyid menganggap Roy menyukai apa-apa saja yang membuat dirinya lalai dengan waktu dan kesempatan-kesempatan yang diberikan orang tua untuk belajar berbagai hal.
“Apa yang aku inginkan tidak selalu bisa disediakan orang tuaku dulu. Sekarang kita sediakan untuk dia, dan dia tidak menginginkan apa pun selain santai dan membiarkan waktunya habis....” Kata Rasyid.
“Aku tidak mau paksaan. Biarkan aku bicara dengan Roy tentang apa yang dia suka dan ingin lakukan...” Kata Hana. “Saya tidak tahan kalau kamu memarahi dia terus. Mengkoreksi Roy untuk segala hal...”
***
Rasyid menyetir mobil charade tua yang dibelinya di sebuah tempat lelang mobil bekas. Hana juga punya mobil dan menyetir sendiri kalau ke kantor. Mobil mereka tidak mewah dan mentereng seperti yang dipunyai keluarga teman-teman Roy dan Shanti di sekolahnya. Rasyid tidak tahu apa yang dipikirkan Roy. Shanti lebih mudah mengekspresikan perasaannya. “Pah, mobil kita ini yang paling antik kalau parkir di sekolah...” kata Shanti. Rasyid dan Hana tersenyum, mengerti apa yang dimaksud anaknya. Di halaman parkir sekolah, mobil-mobil mentereng dari para penjemput anak nampak berjejer. “Nanti kita beli selusin...” Kata Rasyid.
Rasyid berhenti di perempatan karena lampu merah menyala. Anak-anak yang mengamen, berdatangan ke pintu-pintu mobil. Ada juga yang menawarkan koran sore. Ada juga yang mengemis.
“Mungkin mereka mencari uang supaya bisa sekolah. Membantu orang tuanya mencari uang....” kata Rasyid kepada anak-anaknya. Hana mengerti arah pembicaraan suaminya. “Betapa beruntungnya kalian, anak-anak.... Kalian tidak harus mencari uang. Kalian hanya harus belajar dan belajar....” Kata Hana kepada anak-anaknya.
Roy asyik saja dengan games di handphonenya. Shanti memandang ke luar kaca mobil dan melihat anak-anak itu di bawah hujan gerimis.
***
Orang tua tidak bisa memilih anaknya seperti apa. Anak lahir dan adalah anak kita seperti apa pun adanya. Mungkin dia tampan, lebih tampan dari ayahnya. Mungkin jelek, lebih jelek dari ayahnya. Mungkin dia anak yang selalu marah dan tak puas. Mungkin dia anak yang manis dan penuh pengertian.
Rasyid belajar menjadi orang tua lebih banyak dari anak-anaknya. Bukan dari orang tuanya. Ketika dia anak, dia anak yang menginginkan banyak hal. Orang tuanya sering tak dapat memenuhinya karena mereka punya anak banyak dan gaji seorang perwira tentara tanpa sumber pendapatan lain tentunya tidak banyak.
Anak-anak Rasyid mengajarkan bagaimana cara seorang anak menjadi gembira dan bahagia bersama orang tuanya. Ketika Rasyid mengatakan kepada anaknya “Aku ingin memberikan yang terbaik untuk kalian dan kalian tidak kecewa terhadapku....” Roy yang jarang bicara itu memandang ayahnya dan tersenyum. Sorot matanya seperti Bapak yang mengerti kekecewaan anaknya bila tidak mendapat sesuatu yang diinginkannya. Sepertinya orang tualah yang membutuhkan pengertian dari anak-anaknya ketimbang sebaliknya.
Bukan ayah yang hebat yang diinginkan Roy. Bukan pemilik bank. Bukan ayah yang punya mobil mentereng. Bukan ayah yang menelpon dari Amerika atau Eropa.
Roy bahagia disayangi ayahnya. Ayahnya yang cuma punya mobil tua. Pegawai biasa bank. Membeli rumah yang dibayar dengan cicilan ke bank.
Roy bahagia melihat ayahnya sekuat tenaga menahan kegusaran dan ketakpuasan hatinya terhadap kekurangan dia. Menahan diri karena tatap mata ibunya yang melarang celaan dan keinginan-keinginan diucapkan ayahnya terhadap dirinya.
Roy mengerti apa yang terjadi antara ayah dan ibunya.
Dia mengerti arti cinta. Ayahnya mencintai Roy sehingga menuntutnya untuk berusaha lebih baik dari dirinya. Ayahnya mencintai Shanti sehingga merasa bangga atas pencapaian dan kerja kerasnya. Ayahnya mencintai ibunya, sehingga itu mencegahnya untuk mencela Roy saat menerima kertas-kertas hasil ulangan semesternya yang buruk.
***
Suatu hari Rasyid sedang di kantor ketika menerima sebuah SMS. “Selamat ulang tahun, Papa. IOU.” Sebuah kalimat yang sangat panjang dari Roy, si anak pendiam dan acuh tak acuh itu.
Rasyid teringat betapa menjengkelkannya nilai-nilai try-out UAN anak lelakinya itu. Dia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. “I love you too, Roy....” gumamnya sendiri sambil menuliskannya dalam SMS.
***
Senin, 02 Januari 2012
Sabtu, 31 Desember 2011
Pekuburan
Pendidikan, membuat hidup Tio jadi muram. Tio kecil belajar dari gurunya tentang makanan empat sehat lima sempurna. Tapi tak pernah ada susu di rumahnya. Sayur dan lauk pauk pun jarang ada. Makan sekedarnya. Tio mengerjakan PR tentang pembagian tugas dalam keluarga. Ayah pergi ke kantor. Ibu mengurus anak dan memasak. Tapi ibunya menjadi penjual kue yang selalu kerja siang dan malam. Sementara ayahnya lebih banyak sakit dan menganggur.
Semua kebohongan yang disampaikan di sekolah, membuat Tio malas belajar. Tio lebih suka mencari uang. Sejak kecil Tio sudah menjadi ojek payung di mall pada musim hujan. Menjual es buah pada musim kemarau. Membersihkan kuburan pada saat bulan puasa dan lebaran.
Jangan mengemis. Itu pelajaran dari ibunya. Tio masih mempercayai ibunya yang bekerja keras menghidupi dirinya dan keluarga. Satu-satunya orang yang kata-katanya masih berharga bagi Tio.
***
Tio dan Nita berteman sejak kecil. Pelataran tempat mereka bermain adalah pekuburan. Ketika pintu rumah Nita dibuka, langsung membawa langkah ke pekuburan. Sebuah kuburan yang disemen bercampur kerikil, terletak hanya beberapa langkah dari pintu rumah Nita. Tio sering melihat Nita duduk di atas kuburan itu sambil menguap saat baru bangun tidur. Atau makan.
Nita tidak suka sekolah. Sekolah membuat dirinya takut. Takut menjadi dirinya. Menurut pelajaran sekolah, rumah yang sehat itu harus punya cukup jendela dan punya meja belajar. Jangankan meja belajar, ruang dalam rumahnya hanya ruang tidur dengan kasur-kasur yang digulung di saat bangun. Ibunya memasak di luar, dengan sebuah kuburan menjadi dinding dapurnya. Tio sering membantu ibunya Nita mengambil seember air bersih untuk memasak dari sumur umum. Kemudian minum kopi panas sambil duduk-duduk dengan Nita dan kakak lelakinya, Nico.
Tio, Nita dan Nico tak suka sekolah. Mereka lebih suka duduk-duduk dengan teman-temannya dan tak mengerjakan apa-apa. Menghabiskan waktu dalam hampa. Tumbuh menjadi remaja dan semakin kesulitan mencari uang untuk memenuhi keinginan mereka dalam membeli sesuatu. Terutama membeli rokok, bagi anak lelaki. Tio sudah tidak lagi menjadi ojek payung dan membersihkan kuburan karena itu pekerjaan anak-anak kecil, bukan pria muda seperti dirinya sekarang. Tapi Tio terlalu muda untuk meminta pekerjaan sebagai tukang parkir kepada Gembong, penguasa mall dan kawasan pertokoan yang mengatur pembagian kerja sebagai satpam, tukang parkir, office boy, cleaning service. Tidak ada majikan yang merekrut pekerja seperti itu tanpa melalui Gembong di wilayah kekuasaannya. Sedang yang ingin kerja begitu banyak.
Perebutan pekerjaan satpam bisa membuat terjadi ancam mengancam yang berbuntut penusukan. Gembong tak segan bertindak keras apabila keputusannya dipertentangkan. Untuk reputasinya, Gembong harus jadi orang yang mampu menjagal orang agar tak ada yang berani menentang aturannya.
***
Tio belajar berdagang jajanan untuk anak sekolah di wilayah itu. Itu pun harus seijin Gembong. Tidak ada tempat mangkal untuk bubur ayam, nasi kuning, rujak, martabak, nasi goreng, sate, pisang goreng, ayam crispy, dan pedagang kaki lima lainnya, tanpa melalui aturan Gembong. Perpindahan hak berjualan di suatu tempat dapat dilakukan dengan membeli hak itu dari pedagang sebelumnya yang ingin pindah ke daerah lain atau berhenti berdagang melalui Gembong.
Gembong seorang pria yang kejam dan ditakuti. Para istri majikan mengira Gembong berwajah buruk dan seram. Saat lebaran, para istri majikan bertemu Gembong untuk mengatur pembagian dan pengiriman hadiah lebaran untuk lurah, RW, RT, hansip, serta pembagian sembako untuk warga miskin. Ci Henny, istri Ko Wawan, pemilik minimart yang baru dibuka, terkejut ketika pertama kali bertemu dengan Gembong. Wajahnya ternyata bersih, ganteng, dan sikapnya terpelajar. Bekas-bekas luka senjata tajam di wajahnya tidak membuatnya nampak menyeramkan.
Tio beruntung karena Gembong adalah adik ibunya. Pamannya.
Meskipun ibunya selalu mengatakan jangan tiru amang kamu yang menjadi penjahat, tapi Tio tahu bahwa seorang seperti amangnya harus ada. Kalau bukan Gembong, pasti ada yang lain. Menjadi penguasa “dunia bawah” yang tidak kelihatan oleh orang-orang baik dan terhormat. Hanya para bisnisman dan orang-orang tertentu yang mengetahui dunia yang dipimpin oleh Gembong. Orang tertentu? Misalnya polisi dan tentara yang juga berurusan dengan keamanan di wilayah itu.
Tio tidak terlalu dekat dengan pamannya itu. Nyalinya terlalu kecil untuk berurusan dengan pertarungan kekuasaan yang lekat dengan Gembong. Tio hanya berani merokok. Tidak berani menyentuh minuman keras atau pun narkoba. Suatu hal yang harus dijalani bila ada di lingkar dekat pamannya itu.
Tio terlalu lemah untuk hal-hal seperti itu. Berjualan saja yang diinginkannya setelah menamatkan SMP.
***
Pekuburan itu terletak di tengah perkampungan luas yang ada di balik dinding tinggi mall dan hotel dan terpisah oleh dinding yang menutupi perumahan mahal dan pemukiman kalangan keluarga yang rumahnya bagus. Perkampungan itu semakin mendesak pekuburan sehingga banyak rumah gubuk yang pintu-pintunya langsung berpelataran pekuburan.
Pekuburan adalah dunia Tio. Bersama Nita.
Sedangkan Nico berusaha setengah mati untuk mendekat pada Gembong. Ingin menjadi kuat dan punya reputasi seperti Gembong. Menjadi pengikut. Berjualan jajanan anak sekolah seperti yang dilakukan oleh Tio nampak terlalu rendah untuknya. Lebih bergaya menjual narkoba. Atau menarik setoran dari para pedagang yang ada di salah satu kawasan kekuasaan Gembong.
Niko tidak cukup punya kekuatan untuk itu. Baru saja mulai, dia sudah menjadi beban Gembong karena lebih banyak mabuk. Tak mampu bekerja. Perbuatannya mencuri motor di perumahan membuat Gembong berang. Keamanan adalah pelayanan yang diberikannya kepada pedagang dan aparat sehingga perbuatan anak buahnya itu merusak kepercayaan atas bisnis utamanya. Keamanan.Suatu hari Nico terkapar di semak-semak kuburan dengan luka senjata tajam di wajah dan bahunya, berlumur darah. Setelah itu Nico menghilang. Katanya ke Jakarta.
Tio belajar dari kesalahan Nico. Setiap orang harus menjalani hidupnya sesuai dengan kemampuannya. Tio tak mampu mengikuti jejak pamannya.
Minum kopi sambil melepaskan lelah setelah berjualan, di dapur ibunya Nita, merupakan dunianya Tio. Lalu mandi sore dan shalat magrib di mesjid bersama warga lainnya. Berbincang malam hari di pekuburan yang menjadi beranda rumah mereka dengan anak-anak kecil yang bermain kejar-kejaran di antara nisan-nisan batu.
***
“Tio, beri nasihat Nita. Saya sudah tak sanggup...” kata Juleha. “Dua minggu tak pulang, entah kemana....” Tio menjawab. “Kalau euceu saja sudah tak sanggup menasihati dia, apalagi saya....” Tio tak pernah percaya dirinya bisa menjadi seorang pemberi nasihat. Seorang yang ucapannya berharga bagi orang lain. “Kamu kan sahabatnya, Tio.... Kalian selalu sama-sama sejak kecil. Kalau sama ibunya sendiri dia sudah tidak pedulikan...” kata Juleha.
Juleha perempuan berusia 40 tahunan tapi sudah kelihatan sangat tua. Bekerja sebagai pembantu yang pulang sore di perumahan. Anaknya 5 orang, Nico yang paling tua seharusnya sudah lulus SMA, sedangkan Nita seharusnya SMA. Nico hanya sampai SMP, sedangkan Nita tidak sampai lulus SMP. Tiga adik-adik mereka sekarang masih sekolah di SMP dan SD. Suaminya, pedagang tempe di pasar.
Sejak lulus SMP, Tio menjadi jarang bertemu Nita.
Ketika bertemu, Nita sudah sangat berbeda. Rambutnya berwarna merah, serasi dengan kulitnya yang putih. Hampir Tio tidak mengenali lagi sahabatnya itu. Teman sekelasnya di SD dan SMP itu. Tio punya hape yang dibelinya dengan harga 200ribu, sekedar untuk menelpon dan sms. Nita memiliki hape mahal berwarna pink, senada dengan rambutnya. Berdandan dan berpakaian bagus. Seperti wanita dewasa.
Tio tak pernah punya keberanian untuk mengatakan sesuatu. Meski banyak kata-kata yang ada dalam benaknya.
Nita tak lagi menggandeng lengannya untuk duduk di atas batu kuburan dan berbincang-bincang. Nita hanya menatapnya dan kemudian menjauh.
***
Ada banyak cerita di pekuburan itu yang didengar Tio sejak kanak-kanak.
Beberapa kuburan tua tetap dibiarkan ada. Sementara kuburan-kuburan lain yang sudah tidak punya kerabat, digantikan dengan yang baru. Batu nisan dengan tahun 2000 lebih banyak menggantikan nisan-nisan tua yang tak lagi dikunjungi siapa pun.
Ada kuburan tua yang punya cerita. Tokoh di masa lalu. Ada kuburan tua yang tak punya cerita. Entah siapa.
Biasanya kuburan baru dari warga setempat lebih punya cerita. Kebanyakan cerita sedih. Kemiskinan. Sakit. Drama keluarga.
Ketika ayah Tio meninggalkan dan dikuburkan di situ, semua orang terkenang pada sosok sakit-sakitan yang lebih banyak menganggur di rumah ketimbang menafkahi keluarganya. Tubuhnya yang kurus. Penderitaannya sebagai suami yang menjadi beban keluarga dan istrinya serong dengan pria lain untuk memenuhi kebutuhan bathinnya. Tio tahu setiap orang meninggal akan diperbincangkan kenangan hidupnya. Dan selalu hal yang cukup tragis sebagai bahan untuk dibicarakan.
Kebanyakan kematian adalah hal biasa. Menjadi tua dan sakit. Sakit meskipun belum terlalu tua. Merupakan kematian yang wajar.
Ada kematian yang memang mengenaskan. Terbunuh dalam perkelahian. Gantung diri karena sakit yang tak tersembuhkan. Pengangguran (sebenarnya maling!) yang mati overdosis. Kemiskinan menjadi faktornya. Tapi miskin merupakan hal yang biasa karena warga kampung itu lahir dan mati dalam kemiskinan.
Terkadang kuburan baru itu berada tepat di depan pintu rumah warga. Tanahnya yang coklat dan kembang-kembang kertas berwarna merah-oranye masih nampak segar. Tio dan teman-temannya menganggap hal itu biasa saja. Anak-anak bermain dan berlarian seperti biasa.
Cerita-cerita hantu selalu membuat takut anak-anak dan orang dewasa. Tapi Tio dan warga di situ hidup di dalamnya. Bersama hantu.
***
Tio berjalan di antara kuburan-kuburan yang disemen bercampur kerikil. Standar kuburan yang ditetapkan oleh dinas pemakaman. Kuburan baru yang belum disemen akan hancur oleh hujan. Menimbulkan lubang dan genangan yang menakutkan untuk dilihat.
Tio membetulkan makam baru yang rusak oleh hujan itu dengan cangkul yang dipinjamnya dari Mang Ujang, pengurus kuburan. Kemudian dia berjongkok dan memandang batu nisan yang masih baru tapi terkena lumpur. Airmata menggenang di pelupuk matanya. Sedih teringat masa kecilnya bersama Nita. Berangkat ke sekolah bersama. Mengaji di mesjid kecil bersama. Nita sangat cantik. Banyak anak lelaki yang menggodanya. Tio menyayangi Nita karena mereka lahir pada waktu hampir sama dan besar bersamaan. Apa pun yang dikatakan orang tentang Nita tidak akan mengubah sejarahnya dengan Nita. Perasanaan yang terbangun karena kebersamaan. Nita selalu menggandeng lengannya bila berjalan malam hari ke mesjid. Merasa percaya pada Tio sehingga mudah baginya untuk selalu memilih Tio bila merasa takut atau perlu pertolongan.
Pada usia 22 tahun, Nita telah meninggalkan dunia ini. Orang tuanya tidak pernah menceritakan semua kepada para tetangga. Hanya mengatakan bahwa Nita sakit paru-paru yang sudah sangat parah. Tubuhnya menjadi sangat kurus dan wajahnya nyaris tak dikenali karena sangat kurus dan rusak. Setelah beberapa tahun tak pulang, Nita kembali dalam keadaan sakit. Hanya enam bulan kemudian, meninggal dunia.
Tio pernah diminta Juleha, ke sebuah tempat bilyar yang menjadi tempat kerja Nita. Tapi Nita tak ada, sudah berpindah tempat. Suatu hari Nita pulang dan menitipkan bayi berumur beberapa bulan kepada ibunya. Kemudian menghilang lagi.
***
Pekuburan adalah tempat Tio dan Nita dilahirkan dan tumbuh dewasa. Sekolah, bukan tempat mereka. Tio dan Nita merasa selalu diceritakan kebohongan di sekolah. Guru menanyakan apa cita-citamu kalau sudah besar. Padahal mereka tidak mungkin punya cita-cita. Untuk menyelesaikan SMP saja mereka tak sampai hati melihat susahnya orang tua membiayai. Bagi mereka, setiap anak harus punya cita-cita dan bekerja keras meraih cita-citanya, hanyalah sebuah kebohongan.
Suatu hari Nita sedang berbincang dengan Tio. Duduk di atas sebuah kuburan sambil makan bakso. “Aku tidak mau kawin dengan orang sepertimu, Tio...” katanya sambil ketawa usil. “Kenapa?” tanya Tio tak acuh. “Aku tidak mau punya anak yang lahir dan besar di kuburan....” katanya sambil tertawa terbahak-bahak. Waktu itu mereka masih sekolah dasar. Banyak yang kawin di usia belasan tahun di kampungnya itu.
Tio melihat anak perempuan kecil yang sedang berjalan tertatih-tatih itu menuju sebuah kuburan. Berpegang pada semennya. Juleha sedang menyuapinya. Anaknya Nita. Anak itu akan besar di kuburan seperti ibunya. Anak itu secantik ibunya. Seperti bunga yang begitu cantik dan tumbuh di semak-semak pekuburan. Sungguh mengherankan di tempat itu bisa terlahir anak-anak yang sangat cantik.
Seorang anak lelaki kecil mendekati anak perempuan itu. Merekapun saling berbicara dengan bahasa anak kecil yang tak jelas.
Tio memandang anak lelakinya itu. Sebuah pikiran terbersit di benak Tio. Tio akan membawa anak lelakinya keluar dari kampung di pekuburan itu. Dia harus membawanya pergi, merantau sambil berjualan bubur ayam di suatu tempat.
“Juleha, bolehkah aku memungut anaknya Nita untuk menjadi anakku? Aku ingin membawanya pindah dari sini...” Kata Tio pada Juleha. Perempuan yang wajahnya menjadi sangat tua karena kesusahannya itu menangis dan memeluk Tio.
***
Note: Terinspirasi dari kisah seorang perempuan muda yang diceritakan pembantuku.
SELAMAT TAHUN BARU NEGERIKU!
Senin, 17 Oktober 2011
Suami Percobaan
Seorang perempuan yang menganggap pernikahan sebagai malpraktek sosial, bertemu
dengan pria yang bersedia menjadi kelinci percobaan. Mereka menikah tanpa pesta
yang meriah, hanya menghadap penghulu. Tanpa cincin kawin. Untuk membuktikan
bahwa pernikahan membuat cinta segera berakhir. Lalu mereka akan berpisah yang
tak perlu disesali.
Praktek pernikahan telah membuktikan. Masa pacaran enam tahun, berakhir
dengan pernikahan lima bulan. Masa pacaran tiga tahun, berakhir dengan kejemuan
setelah setahun pernikahan. Pernikahan berakhir pada kelahiran anak pertama
setelah merasa saling mengenal selama masa pacaran dua belas tahun. Akan lebih
banyak lagi pernikahan yang berlangsung seumur hidup dalam kebahagiaan yang
semu.
Terbukti bahwa pernikahan bukan satu-satunya pilihan dalam hidup bagi
perempuan itu. Terbukti bahwa menikahi perempuan yang apriori terhadap pernikahan
itu suatu saat akan berakhir karena pranata sosial yang mulia itu hanya akan
bekerja di atas rasa hormat. Begitulah akhir dari percobaan itu sudah
ditetapkan sejak awal.
***
Perempuan yang mempunyai suami percobaan itu membuat daftar pekerjaannya. Pria
yang menjadi suami percobaan itu membuat daftar pekerjaannya juga. Masing-masing
bekerja dan melakukan berbagai kegiatan seperti semula. Sebelum pernikahan
mereka. Mereka hanya berbagi tugas yang baru karena telah hidup dalam sebuah
rumah yang dibeli bersama dan diurus bersama.
Mereka tetap berteman dan bersahabat dengan teman dan sahabatnya
masing-masing. Mereka hanya menambah teman dan sahabat baru karena teman dan
sahabat perempuan itu menjadi teman dan sahabat suaminya. Dan sebaliknya.
Mereka tadinya tidak memasak tapi membeli masakan. Sekarang mereka memasak
bergantian. Mereka tadinya mencuci bajunya sendiri. Sekarang mereka tetap
mencuci bajunya masing-masing. Mereka hanya menggunakan mesin cuci yang sama.
Perempuan itu memelihara kucing Persia. Suaminya memiliki akuarium. Perempuan
itu membeli sofa mewah dari kulit asli –dengan uangnya sendiri- yang diinginkannya untuk bersantai sambil
membaca buku. Suaminya terkadang menumpang tidur di situ. Suaminya mengkoleksi
miniatur pesawat terbang yang mahal –dengan uangnya sendiri. Perempuan itu menganggapnya pemborosan
tetapi tak mengatakan apa-apa.
Satu-satunya hal mewah yang mereka mau lakukan bersama adalah berbelanja
buku dan peralatan elektronik. Itu pun mereka bisa saling meminjam. Mereka
memiliki peralatan fotografinya masing-masing. Dan itu tidak saling
dipinjamkan.
Mereka sama-sama ingin kamar mandi dengan bath tub yang besar, keran air panas, dan sandaran yang nyaman untuk membaca buku. Merekamembangunnya dengan uang bersama.
Mereka sama-sama ingin kamar mandi dengan bath tub yang besar, keran air panas, dan sandaran yang nyaman untuk membaca buku. Merekamembangunnya dengan uang bersama.
***
Lima tahun telah berlalu. Pernikahan belum berakhir. Perempuan itu merasa
kehilangan bila suaminya bepergian selama seminggu saja. Suaminya menelepon
hampir setiap hari bila ditinggalkan. Perempuan itu menyesal bahwa dirinta tak
sempat menunggui kucing Persianya melahirkan 5 anak-anaknya karena sedang ke
luar negeri. Di telepon, suaminya menceritakan bagaimana ibu kucing itu
berjuang mengeluarkan anak-anaknya satu per satu. Ketika istrinya sedang di
pedalaman Papua, suaminya tidak memberitahu istrinya bahwa ibu kucing itu sakit
dan harus menjalani perawatan dokter hewan. Baru sesudah pulang, kabar itu
disampaikan.
Terkadang suaminya yang bepergian lama. Perempuan itu tak merasa terganggu
bila suaminya menelepon untuk menanyakan keadaan ikan-ikannya. Hampir setiap
hari menelepon untuk menanyakan ikan, baru kemudian tentang istrinya. Dia tak
pernah menanyakan kucing-kucing milik istrinya.
Mereka menonton film baru sambil berpelukan di sofa. Berendam bersama di
dalam bath tub sambil bertukar cerita. Apa yang dialami selama dua minggu
terpisah kota, atau pulau, atau negara. Buku baru yang dibaca. Banyak hal baru yang
dibicarakan.
***
Terkadang perempuan itu melakukan pekerjaan berbulan-bulan di lapangan.
Suaminya di rumah dengan ikan dan kucing-kucingnya. Begitu pun perempuan itu memberi
makan dan menguras akuarium, bila suaminya pergi ke luar kota atau luar negeri.
Suatu hari perempuan itu bertemu dengan seorang pria di dalam jejaring
pekerjaannya. Pria itu menyukainya. Menganggap perempuan itu mempunyai
pernikahan semu yang boleh membuka kesempatan pada kehadiran pria lain. Tapi
perempuan itu tidak membutuhkan pria lain dalam hidupnya. Dia membutuhkan
pembuktian bahwa pernikahannya akan gagal bukan karena adanya pihak ketiga
tetapi karena pernikahan itu sendiri tak berfungsi. Akan berakhir seperti yang
diperkirakannya. Namun ia lupa, bahwa pernikahannya itu dilakukan dengan cara
yang berbeda dengan konsepsi pernikahan yang dimusuhinya.
Dia tidak menjadi istri seperti yang dilakoni ibunya. Perempuan yang
bekerja namun tetap mengutamakan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga sebagai
kewajibannya. Sehingga justru berperan ganda itu membuat ibunya memikul list
pekerjaan panjang dan seringkali (selalu!) membutuhkan kerja lembur sepanjang
pernikahannya. Sedikit sekali (hampir tak
ada!) kerja domestik yang dialihkan kepada pria, ketika seorang perempuan
bekerja. Bahkan membuat kopi sekalipun!
Dalam kelelahannya, ibunya menjadi "tukang teriak" dan pengomel yang
ucapannya sangat menusuk hati. Sedangkan ayahnya menjadi pria yang tak
acuh dan suka menghindar. Itu yang diingat perempuan itu tentang ayah dan ibunya. Ibunya seorang
guru. Sedangkan ayahnya seorang pegawai pemerintah (birokrat).
***
Ben bertemu dengan Nita ketika menjadi anggota panitia sebuah acara pagelaran
kesenian di kampus. Semua temannya berorganisasi
untuk bisa mengincar gadis-gadis cantik dari fakultas lain, terutama kelompok penari dari fakultas sastra
yang akan ikut mentas. Sedangkan Ben malah mulai memperhatikan mahasiswa
jurusan Antropologi yang berwajah tak acuh itu yang jabatannya sebagai “sie
dokumentasi” dan selalu menyandang tas kamera selama kegiatan. Mahasiwi
Antropologi itu bernama Nita.
Ben pernah membaca puisi yang ditulis Nita di koran kampus, tentang apa
yang menyebabkan pernikahan menjadi lembaga yang “mengerikan” bagi perempuan.
Sebuah pekerjaan kelas dua, bila akan dianggap pekerjaan. Sebuah peran sosial yang
”dimuliakan” dengan cara manipulatif karena sebenarnya tidak mulia karena tidak
pernah berkedudukan sederajat dengan pria dalam pembuatan keputusan keluarga
maupun publik. Sahabat-sahabat Ben selalu mengolok-olok di belakang, siapa yang
akan memacari Nita di antara mereka. Sepertinya, siapa yang tak berhasil
mendapatkan gadis penari yang cantik itu, akan mendapatkan Nita sebagai piala.
Piala kekalahan lelaki dalam memperebutkan perempuan terpopuler. Nita dan
puisinya itu membuatnya menjadi “perempuan yang paling tidak usah dipilih” oleh
lelaki.
Ben menjadi asisten dosen di Jurusan Studi Pembangunan. Sedangkan Nita
menjadi peneliti muda dan asisten dosen di Jurusan Anropologi. Mereka terkadang
bertemu di kantin kampus pusat dan mulai membangun obrolan makan siang.
Nita mengatakan bahwa dia tidak akan menikah. Atau akan menikah dengan pria
yang bersedia menjadi suami percobaannya. Untuk membuktikan pendapatnya bahwa
pernikahan adalah lembaga yang kolot dan tak berfungsi bagi perempuan yang
punya kesadaran tentang nilai kesetaraan dan kemerdekaan. Pernikahan adalah
perbudakan bagi perempuan.
Nita tak menyangka bahwa Ben akan menyatakan bersedia menjadi suaminya.
Maka, menikahlah mereka kemudian. Ben pria yang tak sangat tampan, tetapi dia
tampan bagi Nita karena menjadi “pria tak biasa” yang tidak menolak gagasannya.
Menikah percobaan. Suami percobaan. Istri percobaan. Tak bisa dihindari oleh
Nita, bahwa dia akan jatuh hati pada pria yang tak merasa terusik dengan
komentar sahabat-sahabatnya tentang dia.
Sedangkan Ben pun menyukai Nita karena mereka mempunyai hobi yang sama,
membaca, nonton film, fotografi, dan travelling. Bagi Ben akan sulit mempunyai
pacar atau istri yang tidak dapat menikmati hal yang sama. Ben tidak
membayangkan akan menikah dengan perempuan yang hobinya membuat kue dan memasak
di rumah, sementara dia lebih suka jajan di tempat-tempat yang berbeda. Ben
juga tidak dapat membayangkan bahwa hidupnya akan disibukkan dengan menjadi
orang tua bila menikahi perempuan yang suka sekali hamil dan menjadi ibu rumah
tangga. Artinya Ben tidak lagi bisa melakukan perjalanan dan fotografi yang
menjadi hobinya. Ben akan sibuk mencari nafkah sebagai bapak rumah tangga.
Bagi Ben, tak ada masalah menikah dengan Nita. Ben menghargai perempuan yang sebebas dirinya.
***
Sebagai seorang antropolog, Nita melakukan banyak kerja penelitian. Tetapi
dia tidak pernah selesai dengan pernikahan percobaannya. Nita gagal membuktikan
asumsi-asumsinya. Namun Nita tak keberatan atas kegagalannya itu.
Lima belas tahun telah berlalu, sekarang. Nita dan Ben masih tetap menikmati perjalanan-perjalanannya untuk menemukan pantai di pulau eksotis yang jarang didatangi orang asing. Keindahan menakjubkan yang dimiliki alam Nusantara ini dan sangat sayang bila tak dinikmati.
Mereka masih membaca bersama di sofa mahal Nita yang sudah mulai melepuh karena terlalu sering digunakan. Juga berendam bersama di bath tub yang keramiknya sudah tak semengkilap dulu lagi.
Lima belas tahun telah berlalu, sekarang. Nita dan Ben masih tetap menikmati perjalanan-perjalanannya untuk menemukan pantai di pulau eksotis yang jarang didatangi orang asing. Keindahan menakjubkan yang dimiliki alam Nusantara ini dan sangat sayang bila tak dinikmati.
Mereka masih membaca bersama di sofa mahal Nita yang sudah mulai melepuh karena terlalu sering digunakan. Juga berendam bersama di bath tub yang keramiknya sudah tak semengkilap dulu lagi.
Bagi Nita, pernikahan dengan Ben tak membebaninya. Nita memperbaiki teorinya. Pernikahan adalah lembaga yang buruk bagi pria sebebas Ben. Sama buruk bagi perempuan bebas.
***
Ben dan Nita tak pernah membeli cincin kawin. Mereka adalah partner yang setia.
***
Perempuan di Balik Jendela
Perempuan di balik jendela.
Menghantar suaminya pergi kerja.
Menunggu anaknya pulang dari sekolah.
Memandang cuaca di langit.
Menjahit kancing baju yang lepas.
Minum secangkir teh manis sambil beristirahat dari kerja seharian.
Bersembunyi dari pandangan mata orang banyak.
***
Subuh hari, tirai jendela sudah dibuka.
Lantai disapu dan dipel.
Pakaian kotor yang telah direndam dalam air sabun semalaman kemudian dmasukkan ke dalam mesin cuci.
Sambil menunggu cucian, kompor gas dinyalakan dan air dijerang.
Kopi dan teh panas disiapkan.
Nasi goreng atau roti di tata di atas piring.
Pakaian suami dan anak-anak disiapkan di atas tempat tidur.
Setelah mereka berangkat, rumah menjadi sepi.
Perempuan itu menyelesaikan membilas dan mengeringkan cuciannya.
Lalu menjemurnya di atas loteng rumahnya.
Kemudian menyirami tanaman-tanaman di dalam pot dengan menggunakan ember dan gayung di loteng maupun di teras rumah.
Setelah mencuci beras dan memasukkannya ke dalam majik jar, ia bergegas pergi ke pasar dengan naik motor.
Matahari sudah naik ketika ia sedang berbelanja.
Membeli sayuran, ikan, dan makanan terbaik untuk keluarganya.
Pulang kembali ke rumah, membersihkan semua bahan makanan.
Sambil memasak, perempuan itu memakan sisa makanan kemarin.
Ketika anak-anak pulang sekolah, hidangan sudah selesai dimasak.
Perempuan itu menyiapkan pakaian salin anak-anaknya.
Piring dan alat-alat memasak masih belum dicuci.
Perempuan itu pun masih belum sempat mandi.
Tapi sudah tiba waktu mengantar anak lelakinya yang berusia 8 tahun, les berenang.
Perempuan itu mencuci muka dan kemudian membonceng anaknya dengan motor ke kolam renang.
Sedangkan anak perempuannya yang di SMA berangkat sendiri ke tempat les musik.
Sambil menunggui selama 1 jam di tepi kolam renang, perempuan itu membuka facebook dengan menggunakan blackberry yang dibelinya secara mencicil.
Menulis status baru bahwa hatinya begitu bahagia memiliki kehidupan seorang istri dan ibu yang sempurna.
Menyapa teman-temannya di jejaring sosial dan membalas sapaan mereka.
Sore hari, anak-anaknya mandi terlebih dahulu, barulah perempuan itu mandi.
Setelah menghabiskan cucian segunung piring, gelas, dan peralatan dapur yang belum sempat dikerjakannya sejak siang.
Kemudian suaminya pulang dari kantor.
Segelas teh manis panas tersaji untuknya di atas meja.
Perempuan itu menyiapkan peralatan mandi, handuk, sandal dan pakaian salin untuk suaminya.
Sesudahnya, perempuan itu dalam waktu bersamaan harus menyiapkan makan malam dan memandu anak-anaknya belajar, mengerjakan PR-nya.
Kemudian mencuci piring bekas makan malam.
Serta memilah-milah tumpukan pakaian kotor yang akan direndam.
Malam hari mulai larut, perempuan itu masih menyempatkan diri membuat catatan belanja.
Menghitung pengeluaran.
Membuat daftar kebutuhan yang harus disediakan bulan ini.
Mencatat pengeluaran besar yang harus dikeluarkan dalam waktu dekat: uang semester anak-anaknya.
Kemudian menyusul suaminya yang sudah terlebih dahulu berbaring di tempat tidur.
Memejamkan mata dan mencoba mengistirahatkan pikirannya dari daftar pekerjaannya yang sudah berakhir hari ini dan akan dimulai lagi esok hari.
***
Terkadang perempuan itu mencuri waktu untuk duduk di kursi teras rumah.
Melihat ke jalan gang yang panjang mengular dan penuh tikungan.
Melihat ke atas langit melalui pucuk pohon ceremai yang hijau.
Membelai-belai tanaman di potnya yang sedang mengeluarkan putik bunga.
Sambil berdiri, dibukanya facebook dan ditulisnya status baru: Hari ini aku memasak makanan kesukaan anak-anakku....
Hari minggu biasanya perempuan itu dan keluarganya bercengkerama di teras rumah.
Sang ibu membenahi tanaman mawar dan melati dalam pot yang setiap berbunga fotonya di-upload di dinding facebook.
Anak perempuannya asyik menuliskan sesuatu di layar notebook mungil berwarna pink. Tersenyum-senyum sendiri.
Ayahnya mencuci mobil charade kecilnya yang dibeli bekas di halaman Stadion Persib pada suatu hari minggu. Serta mencuci motor istrinya.
Anak lelakinya memainkan bola basket.
Sebuah keluarga yang cantik di dalam foto bersama.
Bila tetangga lewat dan menyapa mereka. Mereka pun membalas menyapa dengan ramah.
Minggu ini rumah mereka menjadi sepi. Tidak terlihat seorang pun.
Hanya sedikit tetangga yang mendapat undangan dari keluarga itu.
Anak perempuannya yang belum sempat memperoleh ijasah SMA itu sedang melangsungkan pernikahan di sebuah gedung.
Mempelai perempuan itu nampak cantik dan dewasa namun kurang serasi dengan mempelai pria yang nampak terlalu muda dengan pakaian adat yang dikenakannya.
***
Perempuan yang memandang keluar dari balik jendela.
Sekarang jarang terlihat di teras rumah.
Dia tak pernah lagi membuka facebook. Tak lagi membalas sapa sahabat-sahabatnya.
Tak lagi bersama keluarganya bersenda gurau di halaman rumah.
Bunga-bunga mawar menjadi kerdil dan daunnya dipenuhi bercak putih.
Rumput-rumputnya tak lagi rapi.
Kesedihan akan berlalu. Hanya butuh waktu.
***
Menghantar suaminya pergi kerja.
Menunggu anaknya pulang dari sekolah.
Memandang cuaca di langit.
Menjahit kancing baju yang lepas.
Minum secangkir teh manis sambil beristirahat dari kerja seharian.
Bersembunyi dari pandangan mata orang banyak.
***
Subuh hari, tirai jendela sudah dibuka.
Lantai disapu dan dipel.
Pakaian kotor yang telah direndam dalam air sabun semalaman kemudian dmasukkan ke dalam mesin cuci.
Sambil menunggu cucian, kompor gas dinyalakan dan air dijerang.
Kopi dan teh panas disiapkan.
Nasi goreng atau roti di tata di atas piring.
Pakaian suami dan anak-anak disiapkan di atas tempat tidur.
Setelah mereka berangkat, rumah menjadi sepi.
Perempuan itu menyelesaikan membilas dan mengeringkan cuciannya.
Lalu menjemurnya di atas loteng rumahnya.
Kemudian menyirami tanaman-tanaman di dalam pot dengan menggunakan ember dan gayung di loteng maupun di teras rumah.
Setelah mencuci beras dan memasukkannya ke dalam majik jar, ia bergegas pergi ke pasar dengan naik motor.
Matahari sudah naik ketika ia sedang berbelanja.
Membeli sayuran, ikan, dan makanan terbaik untuk keluarganya.
Pulang kembali ke rumah, membersihkan semua bahan makanan.
Sambil memasak, perempuan itu memakan sisa makanan kemarin.
Ketika anak-anak pulang sekolah, hidangan sudah selesai dimasak.
Perempuan itu menyiapkan pakaian salin anak-anaknya.
Piring dan alat-alat memasak masih belum dicuci.
Perempuan itu pun masih belum sempat mandi.
Tapi sudah tiba waktu mengantar anak lelakinya yang berusia 8 tahun, les berenang.
Perempuan itu mencuci muka dan kemudian membonceng anaknya dengan motor ke kolam renang.
Sedangkan anak perempuannya yang di SMA berangkat sendiri ke tempat les musik.
Sambil menunggui selama 1 jam di tepi kolam renang, perempuan itu membuka facebook dengan menggunakan blackberry yang dibelinya secara mencicil.
Menulis status baru bahwa hatinya begitu bahagia memiliki kehidupan seorang istri dan ibu yang sempurna.
Menyapa teman-temannya di jejaring sosial dan membalas sapaan mereka.
Sore hari, anak-anaknya mandi terlebih dahulu, barulah perempuan itu mandi.
Setelah menghabiskan cucian segunung piring, gelas, dan peralatan dapur yang belum sempat dikerjakannya sejak siang.
Kemudian suaminya pulang dari kantor.
Segelas teh manis panas tersaji untuknya di atas meja.
Perempuan itu menyiapkan peralatan mandi, handuk, sandal dan pakaian salin untuk suaminya.
Sesudahnya, perempuan itu dalam waktu bersamaan harus menyiapkan makan malam dan memandu anak-anaknya belajar, mengerjakan PR-nya.
Kemudian mencuci piring bekas makan malam.
Serta memilah-milah tumpukan pakaian kotor yang akan direndam.
Malam hari mulai larut, perempuan itu masih menyempatkan diri membuat catatan belanja.
Menghitung pengeluaran.
Membuat daftar kebutuhan yang harus disediakan bulan ini.
Mencatat pengeluaran besar yang harus dikeluarkan dalam waktu dekat: uang semester anak-anaknya.
Kemudian menyusul suaminya yang sudah terlebih dahulu berbaring di tempat tidur.
Memejamkan mata dan mencoba mengistirahatkan pikirannya dari daftar pekerjaannya yang sudah berakhir hari ini dan akan dimulai lagi esok hari.
***
Terkadang perempuan itu mencuri waktu untuk duduk di kursi teras rumah.
Melihat ke jalan gang yang panjang mengular dan penuh tikungan.
Melihat ke atas langit melalui pucuk pohon ceremai yang hijau.
Membelai-belai tanaman di potnya yang sedang mengeluarkan putik bunga.
Sambil berdiri, dibukanya facebook dan ditulisnya status baru: Hari ini aku memasak makanan kesukaan anak-anakku....
Hari minggu biasanya perempuan itu dan keluarganya bercengkerama di teras rumah.
Sang ibu membenahi tanaman mawar dan melati dalam pot yang setiap berbunga fotonya di-upload di dinding facebook.
Anak perempuannya asyik menuliskan sesuatu di layar notebook mungil berwarna pink. Tersenyum-senyum sendiri.
Ayahnya mencuci mobil charade kecilnya yang dibeli bekas di halaman Stadion Persib pada suatu hari minggu. Serta mencuci motor istrinya.
Anak lelakinya memainkan bola basket.
Sebuah keluarga yang cantik di dalam foto bersama.
Bila tetangga lewat dan menyapa mereka. Mereka pun membalas menyapa dengan ramah.
Minggu ini rumah mereka menjadi sepi. Tidak terlihat seorang pun.
Hanya sedikit tetangga yang mendapat undangan dari keluarga itu.
Anak perempuannya yang belum sempat memperoleh ijasah SMA itu sedang melangsungkan pernikahan di sebuah gedung.
Mempelai perempuan itu nampak cantik dan dewasa namun kurang serasi dengan mempelai pria yang nampak terlalu muda dengan pakaian adat yang dikenakannya.
***
Perempuan yang memandang keluar dari balik jendela.
Sekarang jarang terlihat di teras rumah.
Dia tak pernah lagi membuka facebook. Tak lagi membalas sapa sahabat-sahabatnya.
Tak lagi bersama keluarganya bersenda gurau di halaman rumah.
Bunga-bunga mawar menjadi kerdil dan daunnya dipenuhi bercak putih.
Rumput-rumputnya tak lagi rapi.
Kesedihan akan berlalu. Hanya butuh waktu.
***
Selasa, 11 Oktober 2011
Ternate dan Tidore
Pada masa lampau, Kepulauan Maluku dipimpin oleh 4 Kesultanan yaitu Ternate, Tidore, Jailolo (Halmahera Barat) yang pada awalnya merupakan kesultanan terbesar dan Makian. Kesultanan Ternate menaklukkan Jailolo dan menjadi yang terkuat. Persaingan antara Kesultanan Ternate dan Tidore selalu diwarnai dengan adanya kekuatan asing yang datang ke Maluku (Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris). Sekarang, Kota Ternate masih berfungsi sebagai ibukota Propinsi Maluku Utara meski ibukota sudah dipindahkankan ke Sofifi, Halmahera Barat, sejak tahun 2010.

| Benteng Toloko (Holanda). Belanda 1810. Jarak 1,5 Km dari Istana Sultan. Kota Ternate. Di latar belakang adalah Pulau Tidore. |
| Kota Ternate dari atas Benteng Toloko. |
| Pulau Tidore dan Maitara dilihat dari Benteng Kalamata (Kayu Merah) Ternate. |
| Pelabuhan Ahmad Yani, Ternate. Di latar belakang adalah Pulau Tidore. |
| Pulau Ternate dilihat dari kapal yang meninggalkan Pelabuhan A. Yani. |
| Pulau Ternate (kiri), Pulau Maitara (tengah) dan Pulau Tidore (kanan) semakin menjauh. |
| Pulau Tidore (belakang) dan Pulau Maitara (depan) dilihat dari dekat Benteng Kota Janji Ngade (Portugis 1530) Ternate. |
| Pulau Tidore dan Pulau Maitara dilihat dari kapal yang meninggalkan Pelabuhan A. Yani Ternate. |
| Pulau Tidore (kanan) dan Pulau Maitara (kiri) di uang seribu. |
Perempuan Jawa, Mereka Menyebutku
"Perempuan Jawa..." bisik-bisik penumpang bis sambil melihat ke arah saya pada sebuah kegiatan di Bajawa, Flores. Ketika saya menoleh, mereka tersenyum ramah sehingga saya membalas senyumannya.
"Perempuan Jawa..." desis sejumlah orang sambil menatapku tak ramah, dan plakkkkk, pasir di pantai Kota Dili dilemparkan ke arahku. Anak-anak berlarian, sementara orang-orang dewasa memandangku dengan tertawa sinis. Peristiwa ini terjadi tahun 1995, sebelum referendum tahun 1999 yang menjadikan Timor Timur terlepas dari Indonesia.
"Perempuan Jawa, suaranya kecil...." kata gadis-gadis di sebuah desa di Sumba. Aku mengernyitkan alis karena di rumah aku dianggap bersuara terlalu lantang. Mereka mengajak aku menari kolektif dan mentertawakan kekakuan gerakanku. Menurutku gadis-gadis bermata belo itu seperti gadis Pakistan.
"Perempuan Jawa, kulitnya halus ya..." ibu-ibu tertawa-tawa sambil mencolek pipiku di sebuah desa yang dingin di Timor Tengah Utara. Mereka bilang kulitku halus dan basah karena minum air putih banyak sekali. Sementara mereka minum air hanya setelah makan saja, saya perlu minum sepanjang hari dan selalu membawa-bawa botol air. Sama seperti di Sumba, mereka juga mengajari aku menari. Suara gemerincing lonceng-lonceng gelang kaki mengiringi gerakan yang enerjik.
Ketika saya pertama kali pulang ke kampung suami, di Orahili Gomo, Nias Selatan, para kerabat berbicara dalam bahasa lokal, entah apa, tetapi saya juga mendengar mereka mengatakan "Perempuan Jawa" ke arah saya. Mereka mengatakan "Perempuan Jawa yang tersenyum..." Karena mereka pikir perempuan Jawa lainnya yang dibawa pulang kerabat/kenalan, sombong, tidak banyak bicara dan juga tidak tersenyum. Padahal saya tersenyum karena tidak mengerti apa pun pembicaraan mereka dan tidak dapat mengatakan apa-apa dengan para orang tua dan kerabat.
Di sebuah pedesaan di Sulawesi Selatan, saya sudah memperkenalkan diri sebagai orang dari Bandung, dan itu di Jawa Barat. Kemudian ada warga yang baru datang, berbisik ke seseorang di sebelahnya, siapakah tamu itu. Maka dijawabnya secara berbisik pula: Perempuan Jawa.
Tahun 1999 saya ke Papua, memperkenalkan diri sebagai orang dari Bandung kepada masyarakat Dani di sebuah desa. Pertanyaannya: Bandung itu dimana? Ketika saya jelaskan Bandung itu dekat Jakarta, di Jawa Barat, maka komentarnya: Oh, orang Jawa. Bahkan ada yang mengatakan: Oh, orang Indonesia.
Barulah ketika saya ke perdesaan di Aceh, mereka mengangguk-angguk dan mengerti bahwa saya orang Sunda. Komentarnya: Orang Sunda itu bahasanya banyak menggunakan huruf "eu" seperti bahasa di Aceh. Rasanya saya tidak percaya bahwa orang Aceh ternyata bisa membedakan orang Sunda, dan tidak menyebut saya "Perempuan Jawa." Mungkin kali itu kebetulan ketemu dengan orang yang tahu. Tapi beberapa kali kemudian saya jadi percaya bahwa orang Aceh bisa membedakan orang Sunda dan Jawa.
Mungkin apa yang saya alami tidak mewakili pemahaman masyarakat di keseluruhan daerah itu, apalagi yang saya maksudkan adalah orang desa yang mungkin kurang mengenal dunia luar. Tapi yang jelas, itu mewakili pengetahuan masyarakat Indonesia yang mayoritas di perdesaan. Saya disebut "Perempuan Jawa" dan ditertawakan ketika mencoba menjelaskan bahwa saya orang Sunda, bukan Jawa. Mereka bilang: Orang Sunda itu dimana? Ketika saya jawab di Jawa Barat, maka tertawalah mereka sambil berkata: Lho, kan itu orang Jawaaaa juga....
Ampun lah. Termasuk mertua saya pun, seorang petani yang ramah, sampai sekarang mengatakan bahwa saya (menantunya) perempuan Jawa. Ya, sudahlah.
Ketika anak-anak saya ikut pulang ke kampung ayahnya, tanggapan mereka berbeda. Baru 2 hari si kecil sudah ingin pulang. Kata si kecil (saat itu 5 tahun): "Ayah, saya mau pulang ke Indonesia.... enggak enak, di Nias enggak ada komputer...." Sementara itu, si sulung (waktu itu 10 tahun) berkomentar: "Ayah itu orang Nias yang beruntung, bisa terdampar di Bandung.... dan makan pizza..."
Maklum, pizza dan burger itu sudah jadi makanan kegemaran anak-anak. Akibat gencarnya iklan di TV.
Bahkan Indonesia masih diartikan sebagai Jawa oleh anak kecil dan orang Papua itu. Tapi itu tidak sengaja, saya kira, karena kurangnya pemahaman tentang negeri Indonesia. Sama seperti ibu saya ketika bertanya kepada seorang teman dari Kupang yang berkunjung ke rumah kami di Bandung: “Timor itu dimana?”
Tapi berbeda dengan seorang kenalan di Tapak Tuan, Aceh, yang secara sengaja menyebut saya sebagai orang dari “negara tetangga”. Seolah menyatakan bahwa negeri kami adalah Negeri Aceh yang tetap (akan) merdeka.
***
Saya sedang menikmati pemandangan laut dan pulau-pulau yang terlewati di geladak kapal. Pulau Ternate dan Tidore nampak berjajar berdampingan. Selama saya di Ternate, pulau yang dapat dikelilingi dengan mobil selama sekitar 1 jam tanpa berhenti itu nampak selalu diikuti oleh Pulau Tidore. Benteng-benteng pertahanan di sekeliling Pulau Ternate seolah semua menghadap Pulau Tidore.
Sekarang, dalam perjalanan menuju Kepulauan Sula, saya melihat Pulau Ternate dan Tidore –bagai dua gunung yang berdiri bergandengan- semakin menjauh dan mengecil. Ketika kapal berangkat dari Pelabuhan Ahmad Yani Ternate, saya baru menyadari bahwa gambar Pulau Tidore dan pulau kecilnya –Maitara- yang terdapat di uang kertas seribu itu difoto dari arah kapal yang sedang saya tumpangi.
Sambil memperhatikan menjauhnya Pulau Ternate dan Tidore, saya mulai melihat bahwa banyak anak muda yang menjadi penumpang kapal. Kebanyakan pemuda, hanya beberapa pemudi. Apa yang dilakukan anak-anak muda ini, pikir saya, tentu mereka meneruskan sekolah. Kalau mereka masuk ke perguruan tinggi mereka harus ke Kota Ternate atau Ambon atau Makasar.
“Pulau apakah itu?” tanya saya kepada pemuda yang duduk di dekat saya. Tiga pulau nampak mengambang di kejauhan. “Tidak tahu....” katanya. Dia tidak tahu nama pulau yang ada di dekat pulau kelahirannya? Oh, oh. Saya menanyakan ke beberapa anak muda yang lain. Mereka mengangkat bahu atau menggelengkan kepala. “Tidak tahu,” katanya.
Pemuda berwajah ramah tapi nampak pendiam itu, berbalik menyapa saya. “Mau kemana?” Tanyanya. “Sanana...” Jawab saya. “Darimana?” Tanyanya lagi. “Jakarta....” Jawab saya. “Oh, dari Jawa...” Katanya.
“Kamu mau kemana?” Saya balas bertanya. “Sanana...” Jawabnya. “Kamu orang Ternate?” tanya saya lagi. “Bukan. Saya orang Sanana...” Katanya.
“Oooo, kamu pulang dari Ternate...” Kata saya penasaran. “Bukan, saya dari Manado....” “Oooh, kamu sekolah di Manado....” kata saya lagi. “Bukan, saya hanya main, diajak saudara. Saya mau cari kerja....” katanya lagi. “Saya belum pernah ke Ternate....”
Pemuda itu memang pendiam rupanya. Ucapannya pendek-pendek. Namun dia juga terdorong rasa ingin tahu. “Mengapa berani bepergian ke tempat jauh?” Tanyanya. Saya mengernyitkan kening. “Memangnya kenapa saya harus takut?” Tanya saya. Pertanyaan untuk mengorek keterangan.
“Tidak takut seseorang merampas barang-barang, Ibu?” Tanyanya lagi. “Apakah hal semacam itu akan terjadi?” Tanya saya. Pemuda itu terdiam.
“Pernah ke Jakarta?” Tanya saya. “Tidak pernah....” Jawabnya. “Pernah ke Pulau Jawa?” Tanya saya lagi. “Tidak Pernah....” Jawabnya.
“Saya baru pertama kali ini ke luar pulau... Diajak saudara yang kerja di Manado....” katanya. “Saya ingin ke Ternate untuk mencari kerja....”
Kami tidak bercakap-cakap lagi. Pemuda itu melakukan perjalanannya sendirian. Pulang ke kampung asalnya di Pulau Sanana. Pulau yang tidak memiliki akses informasi tentang dunia luar. Saya mencoba ke warnet di Sanana, ternyata untuk mengirim satu email saja membutuhkan waktu hampir 1 jam. Harga warnet pun mahal, Rp.10.000 per jam. Tak ada toko yang menjual koran.
Maluku yang disebut propinsi sejuta pulau itu dimekarkan menjadi dua propinsi. Propinsi Maluku yang beribukota di Ambon dan Maluku Utara yang beribukota di Ternate. Pemuda Sanana itu bahkan belum pernah berkunjung ke Ternate.
Hanya melihat Ternate dari kapal dalam pengalaman pertamanya melakukan perjalanan ke Manado. Hanya pernah menginjakkan kaki di tanah Ternate saat kapal berlabuh di Pelabuhan Ahmad Yani.
Mungkin usianya 20 tahun. Sudah lulus SMA.
***
Perjalanan-perjalanan membuat saya sering disebut “Perempuan Jawa”. Menjadi “perempuan” merupakan suatu arti sendiri. Perempuan yang bepergian jauh ke ujung tanah air, sungguh suatu hal yang menarik perhatian. Lantas “Jawa” adalah sebuah tempat yang menjadi pusat kemajuan, pembangunan, dan pusat kekuasaan di Indonesia. Tempat yang jauh sekali.
Perjalanan ke beberapa pulau di luar ibukota Maluku dan Maluku Utara ini membuat saya mengerti bahwa banyak orang yang tidak pernah memimpikan untuk sampai ke Jawa. Mungkin berjuta-juta orang Indonesia di ribuan pulau kecil itu begitu.
Pemuda Sanana itu, memimpikan untuk kelak menginjakkan kaki ke Ternate, sebuah kota yang ramai dan modern. Dia tidak ingin ke Ternate untuk kuliah, karena tahu orang tuanya tak mampu membiayai. Dia hanya ingin pergi dari pulaunya yang sepi.
Perempuan Jawa. Sebutan itu tergores dalam hati saya. Terutama ketika seorang yang mengatakannya menatap wajah untuk membayangkan dimanakah gerangan Jawa itu. Seperti apa bayangan seorang yang belum pernah ke Jawa tentang negeri bernama Indonesia itu. Saya pun ingin membayangkannya.
***
"Perempuan Jawa..." desis sejumlah orang sambil menatapku tak ramah, dan plakkkkk, pasir di pantai Kota Dili dilemparkan ke arahku. Anak-anak berlarian, sementara orang-orang dewasa memandangku dengan tertawa sinis. Peristiwa ini terjadi tahun 1995, sebelum referendum tahun 1999 yang menjadikan Timor Timur terlepas dari Indonesia.
"Perempuan Jawa, suaranya kecil...." kata gadis-gadis di sebuah desa di Sumba. Aku mengernyitkan alis karena di rumah aku dianggap bersuara terlalu lantang. Mereka mengajak aku menari kolektif dan mentertawakan kekakuan gerakanku. Menurutku gadis-gadis bermata belo itu seperti gadis Pakistan.
"Perempuan Jawa, kulitnya halus ya..." ibu-ibu tertawa-tawa sambil mencolek pipiku di sebuah desa yang dingin di Timor Tengah Utara. Mereka bilang kulitku halus dan basah karena minum air putih banyak sekali. Sementara mereka minum air hanya setelah makan saja, saya perlu minum sepanjang hari dan selalu membawa-bawa botol air. Sama seperti di Sumba, mereka juga mengajari aku menari. Suara gemerincing lonceng-lonceng gelang kaki mengiringi gerakan yang enerjik.
Ketika saya pertama kali pulang ke kampung suami, di Orahili Gomo, Nias Selatan, para kerabat berbicara dalam bahasa lokal, entah apa, tetapi saya juga mendengar mereka mengatakan "Perempuan Jawa" ke arah saya. Mereka mengatakan "Perempuan Jawa yang tersenyum..." Karena mereka pikir perempuan Jawa lainnya yang dibawa pulang kerabat/kenalan, sombong, tidak banyak bicara dan juga tidak tersenyum. Padahal saya tersenyum karena tidak mengerti apa pun pembicaraan mereka dan tidak dapat mengatakan apa-apa dengan para orang tua dan kerabat.
Di sebuah pedesaan di Sulawesi Selatan, saya sudah memperkenalkan diri sebagai orang dari Bandung, dan itu di Jawa Barat. Kemudian ada warga yang baru datang, berbisik ke seseorang di sebelahnya, siapakah tamu itu. Maka dijawabnya secara berbisik pula: Perempuan Jawa.
Tahun 1999 saya ke Papua, memperkenalkan diri sebagai orang dari Bandung kepada masyarakat Dani di sebuah desa. Pertanyaannya: Bandung itu dimana? Ketika saya jelaskan Bandung itu dekat Jakarta, di Jawa Barat, maka komentarnya: Oh, orang Jawa. Bahkan ada yang mengatakan: Oh, orang Indonesia.
Barulah ketika saya ke perdesaan di Aceh, mereka mengangguk-angguk dan mengerti bahwa saya orang Sunda. Komentarnya: Orang Sunda itu bahasanya banyak menggunakan huruf "eu" seperti bahasa di Aceh. Rasanya saya tidak percaya bahwa orang Aceh ternyata bisa membedakan orang Sunda, dan tidak menyebut saya "Perempuan Jawa." Mungkin kali itu kebetulan ketemu dengan orang yang tahu. Tapi beberapa kali kemudian saya jadi percaya bahwa orang Aceh bisa membedakan orang Sunda dan Jawa.
Mungkin apa yang saya alami tidak mewakili pemahaman masyarakat di keseluruhan daerah itu, apalagi yang saya maksudkan adalah orang desa yang mungkin kurang mengenal dunia luar. Tapi yang jelas, itu mewakili pengetahuan masyarakat Indonesia yang mayoritas di perdesaan. Saya disebut "Perempuan Jawa" dan ditertawakan ketika mencoba menjelaskan bahwa saya orang Sunda, bukan Jawa. Mereka bilang: Orang Sunda itu dimana? Ketika saya jawab di Jawa Barat, maka tertawalah mereka sambil berkata: Lho, kan itu orang Jawaaaa juga....
Ampun lah. Termasuk mertua saya pun, seorang petani yang ramah, sampai sekarang mengatakan bahwa saya (menantunya) perempuan Jawa. Ya, sudahlah.
Ketika anak-anak saya ikut pulang ke kampung ayahnya, tanggapan mereka berbeda. Baru 2 hari si kecil sudah ingin pulang. Kata si kecil (saat itu 5 tahun): "Ayah, saya mau pulang ke Indonesia.... enggak enak, di Nias enggak ada komputer...." Sementara itu, si sulung (waktu itu 10 tahun) berkomentar: "Ayah itu orang Nias yang beruntung, bisa terdampar di Bandung.... dan makan pizza..."
Maklum, pizza dan burger itu sudah jadi makanan kegemaran anak-anak. Akibat gencarnya iklan di TV.
Bahkan Indonesia masih diartikan sebagai Jawa oleh anak kecil dan orang Papua itu. Tapi itu tidak sengaja, saya kira, karena kurangnya pemahaman tentang negeri Indonesia. Sama seperti ibu saya ketika bertanya kepada seorang teman dari Kupang yang berkunjung ke rumah kami di Bandung: “Timor itu dimana?”
Tapi berbeda dengan seorang kenalan di Tapak Tuan, Aceh, yang secara sengaja menyebut saya sebagai orang dari “negara tetangga”. Seolah menyatakan bahwa negeri kami adalah Negeri Aceh yang tetap (akan) merdeka.
***
Saya sedang menikmati pemandangan laut dan pulau-pulau yang terlewati di geladak kapal. Pulau Ternate dan Tidore nampak berjajar berdampingan. Selama saya di Ternate, pulau yang dapat dikelilingi dengan mobil selama sekitar 1 jam tanpa berhenti itu nampak selalu diikuti oleh Pulau Tidore. Benteng-benteng pertahanan di sekeliling Pulau Ternate seolah semua menghadap Pulau Tidore.
Sekarang, dalam perjalanan menuju Kepulauan Sula, saya melihat Pulau Ternate dan Tidore –bagai dua gunung yang berdiri bergandengan- semakin menjauh dan mengecil. Ketika kapal berangkat dari Pelabuhan Ahmad Yani Ternate, saya baru menyadari bahwa gambar Pulau Tidore dan pulau kecilnya –Maitara- yang terdapat di uang kertas seribu itu difoto dari arah kapal yang sedang saya tumpangi.
Sambil memperhatikan menjauhnya Pulau Ternate dan Tidore, saya mulai melihat bahwa banyak anak muda yang menjadi penumpang kapal. Kebanyakan pemuda, hanya beberapa pemudi. Apa yang dilakukan anak-anak muda ini, pikir saya, tentu mereka meneruskan sekolah. Kalau mereka masuk ke perguruan tinggi mereka harus ke Kota Ternate atau Ambon atau Makasar.
“Pulau apakah itu?” tanya saya kepada pemuda yang duduk di dekat saya. Tiga pulau nampak mengambang di kejauhan. “Tidak tahu....” katanya. Dia tidak tahu nama pulau yang ada di dekat pulau kelahirannya? Oh, oh. Saya menanyakan ke beberapa anak muda yang lain. Mereka mengangkat bahu atau menggelengkan kepala. “Tidak tahu,” katanya.
Pemuda berwajah ramah tapi nampak pendiam itu, berbalik menyapa saya. “Mau kemana?” Tanyanya. “Sanana...” Jawab saya. “Darimana?” Tanyanya lagi. “Jakarta....” Jawab saya. “Oh, dari Jawa...” Katanya.
“Kamu mau kemana?” Saya balas bertanya. “Sanana...” Jawabnya. “Kamu orang Ternate?” tanya saya lagi. “Bukan. Saya orang Sanana...” Katanya.
“Oooo, kamu pulang dari Ternate...” Kata saya penasaran. “Bukan, saya dari Manado....” “Oooh, kamu sekolah di Manado....” kata saya lagi. “Bukan, saya hanya main, diajak saudara. Saya mau cari kerja....” katanya lagi. “Saya belum pernah ke Ternate....”
Pemuda itu memang pendiam rupanya. Ucapannya pendek-pendek. Namun dia juga terdorong rasa ingin tahu. “Mengapa berani bepergian ke tempat jauh?” Tanyanya. Saya mengernyitkan kening. “Memangnya kenapa saya harus takut?” Tanya saya. Pertanyaan untuk mengorek keterangan.
“Tidak takut seseorang merampas barang-barang, Ibu?” Tanyanya lagi. “Apakah hal semacam itu akan terjadi?” Tanya saya. Pemuda itu terdiam.
“Pernah ke Jakarta?” Tanya saya. “Tidak pernah....” Jawabnya. “Pernah ke Pulau Jawa?” Tanya saya lagi. “Tidak Pernah....” Jawabnya.
“Saya baru pertama kali ini ke luar pulau... Diajak saudara yang kerja di Manado....” katanya. “Saya ingin ke Ternate untuk mencari kerja....”
Kami tidak bercakap-cakap lagi. Pemuda itu melakukan perjalanannya sendirian. Pulang ke kampung asalnya di Pulau Sanana. Pulau yang tidak memiliki akses informasi tentang dunia luar. Saya mencoba ke warnet di Sanana, ternyata untuk mengirim satu email saja membutuhkan waktu hampir 1 jam. Harga warnet pun mahal, Rp.10.000 per jam. Tak ada toko yang menjual koran.
Maluku yang disebut propinsi sejuta pulau itu dimekarkan menjadi dua propinsi. Propinsi Maluku yang beribukota di Ambon dan Maluku Utara yang beribukota di Ternate. Pemuda Sanana itu bahkan belum pernah berkunjung ke Ternate.
Hanya melihat Ternate dari kapal dalam pengalaman pertamanya melakukan perjalanan ke Manado. Hanya pernah menginjakkan kaki di tanah Ternate saat kapal berlabuh di Pelabuhan Ahmad Yani.
Mungkin usianya 20 tahun. Sudah lulus SMA.
***
Perjalanan-perjalanan membuat saya sering disebut “Perempuan Jawa”. Menjadi “perempuan” merupakan suatu arti sendiri. Perempuan yang bepergian jauh ke ujung tanah air, sungguh suatu hal yang menarik perhatian. Lantas “Jawa” adalah sebuah tempat yang menjadi pusat kemajuan, pembangunan, dan pusat kekuasaan di Indonesia. Tempat yang jauh sekali.
Perjalanan ke beberapa pulau di luar ibukota Maluku dan Maluku Utara ini membuat saya mengerti bahwa banyak orang yang tidak pernah memimpikan untuk sampai ke Jawa. Mungkin berjuta-juta orang Indonesia di ribuan pulau kecil itu begitu.
Pemuda Sanana itu, memimpikan untuk kelak menginjakkan kaki ke Ternate, sebuah kota yang ramai dan modern. Dia tidak ingin ke Ternate untuk kuliah, karena tahu orang tuanya tak mampu membiayai. Dia hanya ingin pergi dari pulaunya yang sepi.
Perempuan Jawa. Sebutan itu tergores dalam hati saya. Terutama ketika seorang yang mengatakannya menatap wajah untuk membayangkan dimanakah gerangan Jawa itu. Seperti apa bayangan seorang yang belum pernah ke Jawa tentang negeri bernama Indonesia itu. Saya pun ingin membayangkannya.
***
Senin, 10 Oktober 2011
Ono Niha
Orahili Gomo. Kampung di tepi Sungai Gomo. Kampung tertua yang melahirkan Ono Niha (Orang Nias) terletak di Boronadu. Harus jalan kaki 2Km dari ujung jalan yang terjangkau motor. Next visit harus sampai ke kampung moyang keluarga suamiku itu.
| Mandi di Sungai Gomo. |
| Anak-anak Gomo pulang sekolah. |
| Sawah yang hijau di Gomo. |
| Rumah adat keluarga Telaumbanua di Gomo. |
| Tengah dan kanan, penghuni rumah. Keluarga Telaumbanua. |
| Makam-makam di halaman rumah. Cinta keluarga. |
| Makam di depan pintu masuk rumah. Bisa jadi tempat duduk dan jemuran. |
Langganan:
Postingan (Atom)