***
Sebulan telah berlalu.
Aku memegang telepon genggamku dan mulai menekan nomor-nomor. Terdengar suara di seberang sana. “Aku Meta....” kataku. “Apa kabar, Arief....”
Terdengar suara bergumam di sana. Aku mengatakan bahwa suaranya tak kedengaran. “Aku sudah ditelpon Mbak Rien tentang kunjungan Mbak Meta ke Denpasar,” katanya. Kali ini suaranya jelas. Aku mengatakan bahwa kakak perempuannya menitipkan bingkisan. Aku mendengar suara yang tak jelas lagi.
“Aku juga diminta bertemu denganmu....” kataku. “Kalau kamu tidak ingin bertemu denganku, aku akan minta seseorang mengirimkan bingkisan ini ke tempatmu.” Arief barulah anak berumur 8 tahun ketika terakhir bertemu denganku, apa yang ingin dibicarakannya denganku?
Aku mendengar suara yang tak jelas lagi. “Arief, kita tidak harus bertemu karena kakakmu bilang kita harus bertemu. Aku rasa kamu tidak suka kalau harus melakukan sesuatu hanya karena disuruh kakakmu....” kataku agak berteriak. Mengatasi suara gemerisik di dalam telepon.
“Tidak apa-apa kalau kita bertemu,” katanya. Suaranya jelas kembali. “Supaya janjimu kepada kakakku lunas....”. “Baiklah, besok sore jam 3 di tempat minum kopi di lantai satu BIP”, kataku. “Sekalian aku mencetak foto....” “Ya....” katanya.
***
Aku sedang membuka album foto yang baru kucetak sambil menunggu. Selalu ramai suasana di mall dan di tempat minum kopi ini. Padahal ini hari Rabu, apakah orang-orang ini tidak punya kesibukan? Hmmmm, lantas apa pula yang sedang aku kerjakan, duduk di tempat ini.
Aku mengambil meja di sudut yang menghadap ke arah pintu masuk.
Setiap kali seseorang masuk melewati pintu aku mengangkat kepala. Aku rasa aku akan bertemu dengan seorang asing yang tak kukenali. Memandang wajahnya sambil berharap tidak mengucapkan kata-kata yang salah. Kemudian orang itu akan berkata, “Aku Arief....” Kami bersalaman dan tidak punya sesuatu pun untuk dibicarakan.
Pria yang sangat tampan itu memandang wajahku. Aku menyerahkan bungkusan coklat itu. Setelah mengucapkan terimakasih, dengan sopan dia memesan secangkir kopi dan menanyakan apa kabarku.
Kemudian kami bersalaman dan berpisah. Kopinya hanya diminum seteguk.
***
Aku mulai tenggelam memperhatikan foto-foto dalam album, sambil menandainya yang harus kucetak ulang dengan post it. Seseorang berdiri di hadapanku dan membuat aku perlahan menengadahkan wajah.
“Hallo, Arief....” kataku. Pria itu tersenyum dan menjabat tanganku. Aku melihat wajahnya. Wajah Arief kecil itu masih nampak. Namun Arief kecil telah menjadi tua terlalu cepat karena rambut di bagian depannya menipis. Mulai botak.
Arief duduk di hadapanku. Wajahnya dan tatapan matanya sangat lembut. Raut muka yang murung. Aku memberikan bingkisan berwarna coklat itu kepadanya. Dia membukanya sehingga aku bisa melihat isinya apa.
Sarung. Baju koko. Pakaian dalam. Jam meja. Sebuah novel sastra. Sepucuk surat. Aku memperhatikan benda-benda itu. “Untuk apa memberimu benda-benda ini,” tanyaku. “Kau bisa membelinya sendiri di sini....”
Arief tersenyum sambil membaca surat dari kakaknya. Tidakkah email sudah menggantikan benda yang bernama “kertas” itu untuk menuliskan surat?
***
“Aku harus memberimu beberapa nasihat....” kataku. “Silakan saja,” kata Arief. Aku sekarang mengerti bahwa orang tua harus dihormati karena tugas mereka memberi nasihat bukanlah tugas yang mudah. Aku tidak tahu mengapa Arini memintaku menasihati adiknya. Rasanya tak relevan.
“Kamu tidak membutuhkan nasihatku. Orang yang tidak tahu nasihat apa yang berguna untukmu,” kataku. “Tapi ada 3 nasihatku, entah berguna atau tidak”.
Aku mulai berfikir karena memang aku sama sekali baru mulai memikirkan apa nasihat yang harus kusampaikan. “Pertama, sebaiknya kau cepat selesaikan kuliahmu karena kau sudah mulai botak dan terlalu tua untuk menjadi mahasiswa....”
Arief tersenyum sambil mencibirkan bibir. “Aku belum 30 tahun,” katanya. “Kamu sudah hampir 30 tahun dan belum menyelesaikan kuliahmu hanya untuk menyusahkan kakakmu Arien...” kataku. “Mengapa kau ingin menyusahkannya?”
“Aku harus seperti itu supaya Mbak Rien merasa berguna,” katanya tersenyum.
“Kedua, bekerjalah sesegera mungkin supaya kau tidak perlu terbang ke Denpasar untuk mengambil uang dari kakakmu....” kataku. Sebuah cara bagi Arini untuk bisa membuat adiknya datang adalah memberinya uang dengan cara diambil, bukan ditransfer lewat bank. Arief mendengarkan ucapanku sambil memandang ke luar kaca.
“Ketiga, menikahlah dengan perempuan yang menerima dirimu apa adanya dan tidak menunda-nunda punya anak supaya kamu segera tahu bahwa anakmu akan mencintai dan menerima ketidaksempurnaan ayahnya....”
Arief memandangku.
Kami meminum kopi dan tidak lagi punya bahan pembicaraan. Ketika pertemuan berakhir, Arief buru-buru bangkit untuk membayar. “Kau membayarkan kopiku dengan uang kakakmu....” kataku. “Tak apa-apa, dia sangat kaya....” jawabnya sambil tertawa. Di tempat ini, secangkir kopi seharga lebih dari 5 Kg beras.
Kami berjabatan tangan dengan erat. “Aku senang bisa bertemu,” kata Arief. “Aku senang bisa melihatmu lagi....” kataku.
“Aku sering membaca surat-suratmu untuk Mbak Rien.... Mbak Rien menyimpan surat-suratnya di dalam kotak....” kata Arief sambil melangkah pergi.
***
Setahun lebih telah berlalu.
Telepon genggamku berbunyi. Suara di seberang sana tidaklah sering kudengar sehingga aku menyimak dengan cermat untuk bisa mengenalinya. Arini.
“Aku mau ke Bandung....” katanya tanpa berpanjang lebar. “Kapan?” tanyaku. Tanpa bertanya ini itu. “Lusa...” katanya.
“Aku mau melihat Arief dan istrinya, dan bayinya yang baru lahir....”.. Aku tercengang. Oh, Arief sudah menikah dan punya bayi.
“Apakah Arief sudah lulus dan bekerja?” tanyaku.
“Sudah. Arief sudah lulus sarjana sekaligus bekerja jadi supir taksi, kemudian menikah tanpa memberitahuku....” kata Arini. “Dia melaksanakan nasihat-nasihatmu sekaligus. Sudah setahun lebih Arief tidak pernah datang ke Denpasar, tahu-tahu menelpon dan menyampaikan berita sudah punya anak....”
“Nanti aku jemput ke bandara....” kataku. “Ya, nanti ku sms jadwalnya....” kata Arini.
***
Arini yang anggun, cantik rupawan dan berpenampilan kaya, berdiri di tengah ruangan sambil memandang wajah adiknya. Adik iparnya datang untuk mencium tangannya, dia menerimanya tanpa senyuman dan hanya memandang sekilas. Perempuan berwajah manis berjilbab itu memandang suaminya, kemudian mereka saling tersenyum.
Sambil duduk di kursi plastik, digendongnya bayi lelaki mungil keponakannya sambil menciumi dan mencolek-colek pipi dan hidung mungilnya. Bayi itu tersenyum dengan ramah. “Semoga dia nanti tidak botak pada usia muda seperti ayahnya,” kata bibinya. Tanpa senyuman.
Arini melihat berkeliling ruangan.
“Kau mengontrak rumah ini?” tanyanya. “Ya, Mbak....” jawab Arief. “Berapa harganya? Aku akan membelikannya untukmu sebagai hadiah perkawinan kalau kamu mau menerimanya....” kata Arini. Arief tersenyum. “Terimakasih, Mbak. Tentu saja saya mau menerima hadiah dari mbakku sendiri.... “
***
Aku menemani Arini menginap di Hotel Savoy Homann sebelum penerbangannya kembali ke Denpasar keesokan harinya. Arini hanya sendiri, tanpa ditemani suami dan anak-anaknya. Sebelum ke hotel, Arini mengajakku mampir ke rumah masa kecilnya. Rumah itu dikontrakkan. Bentuknya dibiarkan masih tetap sama seperti dulu. Aku merasa rumah itu sangat besar sewaktu kecil dulu.
Ayah Arini meninggal cukup muda karena sakit, saat Arini baru mulai kuliah sedangkan Arief masih SMP. Ibu Arini menyusul meninggal karena sakit beberapa tahun kemudian. Ayah Arini mewariskan beberapa rumah –termasuk yang di Bandung- dan tabungan yang cukup besar di bank, sedangkan ibunya mewariskan banyak perhiasan.
Sejak saat itu, Arini dan Arief hidup berdua saja.
Keluarga ibu Arini dan keluarga ayah Arini tidaklah dekat, bahkan terlibat dalam perseteruan akibat perceraian kedua orang tua Arini itu. Arini memutuskan untuk menjauh dari mereka.
Setelah bertemu Arini di Bandung saat menengok bayi adiknya, sejak itu aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Bahkan tidak pernah saling menelpon. Nomor handphonenya masih ada, tapi aku tak tahu apakah masih berlaku. Aku sendiri masih menggunakan nomor handphone yang pertama kali kupunya.
***
Idul Fitri, Hari ketiga, Senin, 13 September 2010.
Senin, 13 September 2010
Arini dan Arief
***
Arini memegang erat tangan Arief saat mereka berjalan berjingkat ke luar kamar ibunya. Sang bunda sesungguhnya tak tidur, memejamkan mata, berbaring tak bergerak, dan mendengar suara derit pintu terbuka. Suara bisikan anak perempuannya yang berumur 10 tahun kepada adik lelakinya yang berusia 4 tahun.
Kemudian pintu kamar sebelah terbuka dan terdengar suara perlahan seseorang. Sang bunda pun sesungguhnya tahu bahwa anak-anak rindu tidur bersama ayahnya. Arini tidur di sisi kiri ayahnya, sedangkan Arief di sisi kanan. Keduanya memeluk ayahnya seperti memeluk bantal guling.
Ayah yang tidak setiap hari ada di rumah.
***
Setiap malam, hanya lampu luar dan dapur yang menyala. Sedangkan lampu lainnya dimatikan. Lampu-lampu itu memberikan penerangan yang terbatas ke ruangan-ruangan di dalam rumah itu.
Arief takut dengan gelap.
Arini menjaganya agar merasa terlindungi saat mereka melangkah dari kamar ibunya ke kamar ayahnya. Ayahnya –entah sudah tidur atau belum- di dalam kamar tanpa nyala lampu,dapat melihat sosok-sosok yang datang itu dan bangkit untuk memberikan pelukannya.
Ayah yang selalu penuh dengan peluk cium.
***
Arini sebenarnya mempunyai kamar sendiri. Lemari buku cerita, meja belajar, dan rak boneka di kamarnya memperlihatkan betapa ayahnya pemurah dan mampu membelikannya banyak benda.
Ibu di rumah saja mengurus anak-anak. Ibu memasak, membereskan rumah, mengantarkan anak-anak ke sekolah. Arini berbisik di telingaku, “Ayahku, bukan suami ibuku lagi....” Kemudian lanjutnya, "Ayahku punya istri yang lain...."
Saat itu aku menginap di rumah Arini bersama Lia. Kami bertiga teman sekelas dan belajar bersama sambil menginap. Ibu Arini tidak datang ke kamar untuk berbicara dengan teman-teman anaknya. Dia menyiapkan makanan di atas meja makan dan kemudian tidak menampakkan dirinya.
Sedang dengan ayahnya, aku pernah bertemu sekali.
Kami berjalan-jalan dan makan di luar. Arief memegang tangan ayahnya sambil berceloteh dengan gembira. Arini dan aku berjalan di belakang mereka. Ayah Arini banyak bicara, mengajakku bercakap-cakap tentang banyak hal ketika kami makan. Saat itu, Ibu Arini di rumah sendirian.
***
Surat-surat antara aku dan Arini yang terpisah kota di masa SMP dan SMA, masih tersimpan dalam “peti”. Peti khas dari Pulau Lombok yang berwarna hitam dan berhiaskan kulit kerang yang ditanamkan di permukaan kayunya membentuk bunga-bunga dan dekorasi lain.
Setelah aku masuk perguruan tinggi, aku pun kehilangan kontak dengan Arini. Lima belas tahun kemudian, setelah seseorang menemukan apa yang disebut “handphone”, benda itu berbunyi dan seseorang di seberang sana mengajakku bicara.
Arini menelpon rumah ibuku untuk mendapatkan nomor handphoneku. Ibuku yang sudah sepuh masih tinggal di rumah masa kecilku. Begitulah ceritanya.
Sangat lama tak bertemu dengannya, aku merasa sedang berbicara dengan orang asing. Namun aku pun menyetujui untuk berkunjung ke rumahnya di Denpasar, sepulang dari perjalanan dari Kupang.
***
Aku berdiri di depan pintu, setelah sebelumnya seorang pembantu membukakan gerbang pagar halaman. Ketika pintu terbuka, seorang perempuan yang sangat cantik dan tak kukenal, berdiri di hadapanku dengan anak kecil perempuan yang juga luar biasa cantiknya mengintip dari balik roknya.
Perempuan itu melangkahkan kakinya dan merangkul pundakku. “Wajahmu terkelupas terbakar matahari....” katanya.
Inikah Arini? Pikirku. Cantik sekali.
Seorang pria yang tampan berdiri di tengah rumah. Aku menyalaminya.
“Suamiku, Rudi....” kata Arini. Kemudian anak-anak, si kecil yang cantik itu bernama Maya, sedangkan kakak lelakinya bernama Dewa. Mereka mencium tanganku dan keduanya berdiri di samping ayahnya karena ibunya sibuk membawaku ke kamar tempat menginapku.
“Letakkan tasmu di sini....” katanya. “Aku siapkan air hangat untuk mandi agar kamu merasa segar.”
Saat itu sore hari. Aku lelah dan mengantuk.
***
Aku berendam di dalam bath tub sambil bersandar. Arini duduk di sebuah meja sudut dari semen yang di atasnya terletak pot-pot tanaman mungil berdaun hijau cerah. Dia mengajakku berbicara tentang masa sekolah kami dulu.
Aku sama sekali tidak mengenalinya lagi. Arini menjelma menjadi perempuan yang sangat cantik, dengan suami yang tampan, anak-anak rupawan, dan memiliki rumah yang indah bergaya Bali dengan kamar mandi yang sama besarnya dengan kamar tidurku di Bandung. Suaminya seorang pengusaha restauran, katanya.
Aku menenggelamkan kepalaku ke dalam air bak. Seraya berfikir, wanita asing yang sangat cantik itu sedang melihatku mandi sambil berbicara denganku. Dulu kami suka mandi bersama, sampai kelas 6 SD.
Saat itulah aku teringat pada Arief.
Air menciprat karena aku keluar dari air dengan nafas tersengal. “Apa kabar adikmu?” tanyaku. Arini mengatakan bahwa adiknya masih di Bandung dan dia ingin aku bertemu dengannya. “Arief sering mengatakan bahwa dia suka kakak perempuan sepertimu. Tak banyak bicara....” katanya.
Aku memandang wajah Arini. Bagaimana mungkin, pikirku, Arief masih kecil ketika aku dan Arini lulus SD dan mereka kemudian pindah ke kota lain.
***
Aku tertidur di pesawat di sepanjang penerbangan Denpasar-Surabaya-Bandung. Oh, aku bermimpi bertemu dengan Arini, sahabatku di masa kecil. Pikirku dalam keadaan setengah sadar, perasaan mabuk orang yang baru bangun tidur dalam kelelahan yang luar biasa.
Ketika aku mengambil tas dari dalam kabin, aku menemukan sebuah bungkusan. “Titip bungkusan ini untuk Arief,” kata Arini.
Aku termangu.
Ternyata aku tidak bermimpi. Aku telah bertemu dengan sahabatku Arini. Aku dalam keadaan telanjang ketika melangkahkan kaki ke dalam bak air panas, dan dia sedang berbicara padaku. Itu bukan mimpi.
Aku naikkan ranselku ke punggung. Kemudian mengepit tas tripodku di ketiak kiri. Memegang bingkisan berwarna coklat itu dengan tangan kanan.
Melangkahkan kaki keluar dari ruang bagasi Bandara Juanda. Mencium bau udara Kota Bandung lagi.
***
(Bersambung)
Idul Fitri, Hari ketiga, Senin, 13 September 2010.
Arini memegang erat tangan Arief saat mereka berjalan berjingkat ke luar kamar ibunya. Sang bunda sesungguhnya tak tidur, memejamkan mata, berbaring tak bergerak, dan mendengar suara derit pintu terbuka. Suara bisikan anak perempuannya yang berumur 10 tahun kepada adik lelakinya yang berusia 4 tahun.
Kemudian pintu kamar sebelah terbuka dan terdengar suara perlahan seseorang. Sang bunda pun sesungguhnya tahu bahwa anak-anak rindu tidur bersama ayahnya. Arini tidur di sisi kiri ayahnya, sedangkan Arief di sisi kanan. Keduanya memeluk ayahnya seperti memeluk bantal guling.
Ayah yang tidak setiap hari ada di rumah.
***
Setiap malam, hanya lampu luar dan dapur yang menyala. Sedangkan lampu lainnya dimatikan. Lampu-lampu itu memberikan penerangan yang terbatas ke ruangan-ruangan di dalam rumah itu.
Arief takut dengan gelap.
Arini menjaganya agar merasa terlindungi saat mereka melangkah dari kamar ibunya ke kamar ayahnya. Ayahnya –entah sudah tidur atau belum- di dalam kamar tanpa nyala lampu,dapat melihat sosok-sosok yang datang itu dan bangkit untuk memberikan pelukannya.
Ayah yang selalu penuh dengan peluk cium.
***
Arini sebenarnya mempunyai kamar sendiri. Lemari buku cerita, meja belajar, dan rak boneka di kamarnya memperlihatkan betapa ayahnya pemurah dan mampu membelikannya banyak benda.
Ibu di rumah saja mengurus anak-anak. Ibu memasak, membereskan rumah, mengantarkan anak-anak ke sekolah. Arini berbisik di telingaku, “Ayahku, bukan suami ibuku lagi....” Kemudian lanjutnya, "Ayahku punya istri yang lain...."
Saat itu aku menginap di rumah Arini bersama Lia. Kami bertiga teman sekelas dan belajar bersama sambil menginap. Ibu Arini tidak datang ke kamar untuk berbicara dengan teman-teman anaknya. Dia menyiapkan makanan di atas meja makan dan kemudian tidak menampakkan dirinya.
Sedang dengan ayahnya, aku pernah bertemu sekali.
Kami berjalan-jalan dan makan di luar. Arief memegang tangan ayahnya sambil berceloteh dengan gembira. Arini dan aku berjalan di belakang mereka. Ayah Arini banyak bicara, mengajakku bercakap-cakap tentang banyak hal ketika kami makan. Saat itu, Ibu Arini di rumah sendirian.
***
Surat-surat antara aku dan Arini yang terpisah kota di masa SMP dan SMA, masih tersimpan dalam “peti”. Peti khas dari Pulau Lombok yang berwarna hitam dan berhiaskan kulit kerang yang ditanamkan di permukaan kayunya membentuk bunga-bunga dan dekorasi lain.
Setelah aku masuk perguruan tinggi, aku pun kehilangan kontak dengan Arini. Lima belas tahun kemudian, setelah seseorang menemukan apa yang disebut “handphone”, benda itu berbunyi dan seseorang di seberang sana mengajakku bicara.
Arini menelpon rumah ibuku untuk mendapatkan nomor handphoneku. Ibuku yang sudah sepuh masih tinggal di rumah masa kecilku. Begitulah ceritanya.
Sangat lama tak bertemu dengannya, aku merasa sedang berbicara dengan orang asing. Namun aku pun menyetujui untuk berkunjung ke rumahnya di Denpasar, sepulang dari perjalanan dari Kupang.
***
Aku berdiri di depan pintu, setelah sebelumnya seorang pembantu membukakan gerbang pagar halaman. Ketika pintu terbuka, seorang perempuan yang sangat cantik dan tak kukenal, berdiri di hadapanku dengan anak kecil perempuan yang juga luar biasa cantiknya mengintip dari balik roknya.
Perempuan itu melangkahkan kakinya dan merangkul pundakku. “Wajahmu terkelupas terbakar matahari....” katanya.
Inikah Arini? Pikirku. Cantik sekali.
Seorang pria yang tampan berdiri di tengah rumah. Aku menyalaminya.
“Suamiku, Rudi....” kata Arini. Kemudian anak-anak, si kecil yang cantik itu bernama Maya, sedangkan kakak lelakinya bernama Dewa. Mereka mencium tanganku dan keduanya berdiri di samping ayahnya karena ibunya sibuk membawaku ke kamar tempat menginapku.
“Letakkan tasmu di sini....” katanya. “Aku siapkan air hangat untuk mandi agar kamu merasa segar.”
Saat itu sore hari. Aku lelah dan mengantuk.
***
Aku berendam di dalam bath tub sambil bersandar. Arini duduk di sebuah meja sudut dari semen yang di atasnya terletak pot-pot tanaman mungil berdaun hijau cerah. Dia mengajakku berbicara tentang masa sekolah kami dulu.
Aku sama sekali tidak mengenalinya lagi. Arini menjelma menjadi perempuan yang sangat cantik, dengan suami yang tampan, anak-anak rupawan, dan memiliki rumah yang indah bergaya Bali dengan kamar mandi yang sama besarnya dengan kamar tidurku di Bandung. Suaminya seorang pengusaha restauran, katanya.
Aku menenggelamkan kepalaku ke dalam air bak. Seraya berfikir, wanita asing yang sangat cantik itu sedang melihatku mandi sambil berbicara denganku. Dulu kami suka mandi bersama, sampai kelas 6 SD.
Saat itulah aku teringat pada Arief.
Air menciprat karena aku keluar dari air dengan nafas tersengal. “Apa kabar adikmu?” tanyaku. Arini mengatakan bahwa adiknya masih di Bandung dan dia ingin aku bertemu dengannya. “Arief sering mengatakan bahwa dia suka kakak perempuan sepertimu. Tak banyak bicara....” katanya.
Aku memandang wajah Arini. Bagaimana mungkin, pikirku, Arief masih kecil ketika aku dan Arini lulus SD dan mereka kemudian pindah ke kota lain.
***
Aku tertidur di pesawat di sepanjang penerbangan Denpasar-Surabaya-Bandung. Oh, aku bermimpi bertemu dengan Arini, sahabatku di masa kecil. Pikirku dalam keadaan setengah sadar, perasaan mabuk orang yang baru bangun tidur dalam kelelahan yang luar biasa.
Ketika aku mengambil tas dari dalam kabin, aku menemukan sebuah bungkusan. “Titip bungkusan ini untuk Arief,” kata Arini.
Aku termangu.
Ternyata aku tidak bermimpi. Aku telah bertemu dengan sahabatku Arini. Aku dalam keadaan telanjang ketika melangkahkan kaki ke dalam bak air panas, dan dia sedang berbicara padaku. Itu bukan mimpi.
Aku naikkan ranselku ke punggung. Kemudian mengepit tas tripodku di ketiak kiri. Memegang bingkisan berwarna coklat itu dengan tangan kanan.
Melangkahkan kaki keluar dari ruang bagasi Bandara Juanda. Mencium bau udara Kota Bandung lagi.
***
(Bersambung)
Idul Fitri, Hari ketiga, Senin, 13 September 2010.
Kamis, 10 Juni 2010
Kejam
***
Orang miskin itu kejam. Kekejaman yang terjadi karena situasi yang mendorongnya. Begitulah kira-kira gambaran dari kisah hidup Mehong, seorang cleaning service di sebuah mall.
Ayah Mehong berdagang cilok di sebuah Sekolah Dasar, dengan menggunakan sepeda kumbang tua dan kotak cilok di belakangnya, diletakkan di atas boncengan. Sedangkan ibunya mengurus rumah, dan membuat bala-bala dan mie goreng untuk dimasukkan ke warung. Rumah sempit keluarga Pak Maman, pedagang cilok berusia lebih dari 60 tahun itu, menjadi sangat sesak karena kelima anaknya, baik yang sudah menikah maupun belum, masih tinggal bersamanya. Rumahnya terletak di dalam sebuah pemukiman padat dengan memasuki lorong-lorong sempit dan akhirnya menurun ke sebuah jalan masuk yang lebarnya cukup untuk seorang saja. Bila dua orang berjalan berbeda arah di situ, akan saling beradu sisi bahu.
Mehong adalah anak kedua dari lima bersaudara. Istrinya menjadi pembantu rumah tangga yang berangkat pagi dan pulang sore. Mereka mempunyai seorang anak perempuan berumur 5 tahun.
Kakak perempuannya berdagang nasi kuning setiap pagi dengan menggunakan meja dan baskom di ujung jalan, sedangkan suaminya kerja serabutan seperti menjadi tukang bangunan. Akhir-akhir ini lebih banyak menganggur. Mereka punya dua anak, satu lelaki berumur 8 tahun dan satu perempuan berumur 6 tahun.
Adik perempuannya, anak nomor empat, menikah dengan sopir angkot. Punya dua anak perampuan berumur 5 dan 3 tahun.
Sedangkan anak lelaki nomor tiga dan lima masih bujangan dan pengangguran yang sering nongkrong bersama preman di perempatan jalan.
***
Suatu hari wajah Mehong sangat kusut sehingga Budi, karyawan sebuah toko perlengkapan pendaki gunung bermerk terkenal di mall tempatnya bekerja, menjadi tertarik untuk menyapanya. “Kenapa kamu, Hong.... kok seperti sakit?” tanyanya. Mehong hanya menunduk terpekur, dengan mata berkaca-kaca. Duduk di tangga darurat yang biasa terdapat dibalik pintu keluar setiap lantai gedung mall bertingkat yang mengkilap dan tak boleh sedikit pun kotor oleh supervisornya. Teman-temannya dan pegawai lain yang melihatnya saat memasuki tempat Mehong, tak berani mendekat. Membatalkan niatnya untuk mencuri kesempatan merokok sebatang di tempat itu.
Mehong mengusap-usap tangannya yang terasa sakit. Bekas berkelahi tadi malam dengan adik iparnya yang sopir angkot. Lelaki itu pulang ke rumah dalam keadaan mabuk sehingga menimbulkan keributan dengan istrinya, Imah, adik perempuan Mehong. Pintu rumah dikunci sehingga Cepi tidak bisa masuk ke rumah dan mulai berteriak-teriak mengancam keluarganya.
Anak-anak lelaki keluarga itu, hanya terdiam saja, berharap si Cepi kemudian pergi dan mengakhiri gangguan ini. Tetapi lelaki kekar bertato itu tidak mau beranjak dari depan pintu, semakin keras menendang-nendang dan mencaci. Mehong berbaring di sebuah tempat tidur yang dihampar dilantai, memandang ke dinding yang berlumut dan ditutupi gambar-gambar yang dibeli dari pasar, kepunyaan anaknya. Di sampingnya, istrinya yang berbaring beradu punggung dengannya, juga tidak tidur tetapi diam saja. Di sebuah kasur terpisah yang letaknya di sudut lain kamar mereka yang sempit, anak mereka yang berumur 5 tahun terbangun ketakutan dan menyusup ke dada ibunya.
Yang paling menderita adalah dua lelaki bujangan yang tidur di ruang tamu sekaligus ruang TV dengan meminggirkan kursi-kursi dan menggelar kasur tipis. Keduanya, sejak keributan dimulai, sudah membuka matanya sambil berbaring menggulungkan badan di dalam sarung. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Sudah sering kejadiaan seperti ini, suasana yang memalukan harga diri mereka selaku lelaki-lelaki yang merasa takut menghadapi seorang ipar mabuk dan mencaci maki keluarganya karena tidak dibukakan pintu.
***
Mehong bangkit tapi masih terduduk di atas kasur, dan serta merta istrinya menarik tubuhnya seolah-olah mengatakan bahwa jangan dia yang menempuh resiko ini. Ada dua anak lelaki lain dan mereka tidak punya anak dan istri, pengangguran, serta suka mabuk juga. Hanya saja mereka pemabuk yang pengecut.
Suasana di dalam rumah sepi. Tak ada yang bersuara. Penghuninya tidak ada yang tidur. Tetangga-tetangga pun mendengar dari rumah mereka masing-masing. Tidak ada yang bersuara. Sementara yang terdengar adalah suara pintu yang sudah terkelupas cat dan terpasang seadanya itu ditendang-tendang, dan akhirnya bruakkk, terlepaslah pintu itu.
Si pemabuk itu terhuyung-huyung masuk dan menyerbu ke kamar sempit, tempat tinggal keluarganya, istri dan anak-anaknya. Terdengar jeritan-jeritan seorang perempuan dan bunyi sesuatu. Pukulan. Benda-benda jatuh. Anak-anak yang menangis ketakutan. Memilukan.
Sementara, kedua lelaki di kamar tamu atau ruang TV itu bangkit dan berlari keluar rumah. Mereka tidak memburu kakak ipar yang sedang memukuli istrinya, saudara perempuan mereka. Melainkan teringat pada kekejaman sang ipar yang tak segan menggunakan pisau, sehingga mereka pun menjauh. Anak-anak berlari keluar kamar dan masuk ke kamar kakek dan neneknya. Si nenek menangis tersedu-sedu sama seperti anak-anak lainnya. Anak-anak lainnya pun semua masuk ke dada ibunya dan menangis ketakutan. Pedagang cilok tua itu pun dengan sikap ragu-ragu keluar dari kamarnya. Menyerukan agar menantu lelakinya menghentikan pukulannya dengan suara yang tak cukup keras dibandingkan jeritan-jeritan anak perempuannya.
***
Mehong menyentakkan istrinya yang mencengkeram bajunya, kemudian berjalan ke luar kamar. Ketika masuk ke ruang tamu, matanya melihat parang yang diletakkan di bawah meja dudukan TV. Alat yang biasa digunakannya untuk bekerja membabat semak bila ada orang kaya yang menyuruhnya membersihkan halaman sebulan sekali. Tanpa berfikir lagi diambilnya parang itu meskipun rasa gamang muncul dalam tindakannya, selintas mengingat bahwa dirinya hanyalah pria bertubuh kecil sedangkan iparnya bertubuh kekar dan bersifat kejam.
Ketika dia melangkah ke dalam kamar saudara perempuannya, posisinya ternyata tidak menguntungkan karena sang ipar menghadap ke arah pintu sambil mencengkeram rambut istrinya yang meraung-raung ketakutan dan kesakitan. Mehong menarik adiknya agar punya tempat untuk menyasar sang ipar dengan parang, tetapi lelaki itu dengan kuat menahan istrinya. Takut dengan kekuatan lawan, Mehong membabi buta dan tidak lagi menimbang keselamatan adik perempuannya.
Suara yang menakutkan dan suasana yang mencekam itu berlangsung sekian lama. Perempuan-perempuan lain di rumah itu tak dapat menahan diri lagi, berteriak-teriak keluar rumah meminta tolong. Beberapa tetangga keluar dari rumah tetapi dengan sikap ragu, tidak mau masuk ke dalam bahaya. Apalagi melihat dua lelaki muda, penghuni rumah itu sendiri, nampak ketakutan di luar rumah. Seluruh penghuni rumah berada di luar di sepanjang gang sempit itu, sementara para tetangga –sejumlah pria dewasa- berdiri di bagian atas yang lebih lebar. Ketegangan yang memuncak, menunggu akhir dari tragedi.
Ketika suara-suara berhenti, sang ayah menghambur ke dalam kamar yang menjadi tempat pergulatan hidup dan mati. Jantungnya nyaris berhenti berdetak saat menyaksikan pemandangan di hadapannya. Anak perempuannya tergeletak setengah telungkup, berlumuran darah yang terlihat jatuh ke lantai di bagian kepala dan bahunya. Suaminya, terlentang dengan kepala dan separuh badannya di atas kasur yang digelar di lantai, matanya terbuka. Luka menganga dari dahi ke samping kepalanya dan parang itu bersarang di dadanya.
Mehong terengah-engah di sudut kamar dekat pintu dan gemetaran. Seluruh tubuhnya bergetar seperti digerakkan oleh guncangan seorang raksasa. Giginya gemeretuk. Ketika dua pria tetangga bertubuh lumayan besar masuk ke ruangan, mereka membawa Mehong ke luar rumah dan semua orang dapat melihat di dalam sedikit cahaya dan kegelapan gang, bagaimana pria itu terus bergetar dan giginya bergemeletuk.
***
Berhari-hari Mehong tidak pulang ke rumah. Tidur di dalam mall, di tempat yang tersembunyi, atau di halaman luar lantai III di sudut yang tersembunyi. Satpam membiarkan saja setelah melihat roman wajahnya yang kosong dan tak mengacuhkannya sama sekali saat didekati. Seolah kemalangan itu dapat dimengertinya. Kengerian itu dapat dirasakan.
Adik perempuan Mehong terluka di bagian sisi kepala dan bahu kanannya karena tersabet parang. Luka yang parah justru di bagian bahu dan harus dijahit. Setelah masuk rumah sakit beberapa hari, sekarang sudah kembali ke rumah.
Suaminya, sudah dikuburkan, dan keluarganya sudah menyelenggarakan tahlilan sampai hari ketujuh. Tidak ada laporan ke polisi. Semua orang –penghuni rumah dan para tetangga- berdiam diri dengan saling mengerti. RT dan RW pun melakukan tugasnya menyampaikan hak warga yang kematian karena iuran kematian memang ditarik setiap bulan dari masyarakat untuk menyediakan layanan memandikan jenasah, kain kafan dan kelengkapannya, serta mengurus prosedur penguburan. Biaya penguburan tetap oleh keluarga, dibantu oleh tetangga-tetangga yang berdatangan dan menaruh amplop berisi uang ke dalam baskom tertutup kain serbet.
Suatu malam Mehong pulang ke rumah lagi, dalam keadaan mabuk.
***
Orang miskin itu kejam. Kekejaman yang terjadi karena situasi yang mendorongnya. Begitulah kira-kira gambaran dari kisah hidup Mehong, seorang cleaning service di sebuah mall.
Ayah Mehong berdagang cilok di sebuah Sekolah Dasar, dengan menggunakan sepeda kumbang tua dan kotak cilok di belakangnya, diletakkan di atas boncengan. Sedangkan ibunya mengurus rumah, dan membuat bala-bala dan mie goreng untuk dimasukkan ke warung. Rumah sempit keluarga Pak Maman, pedagang cilok berusia lebih dari 60 tahun itu, menjadi sangat sesak karena kelima anaknya, baik yang sudah menikah maupun belum, masih tinggal bersamanya. Rumahnya terletak di dalam sebuah pemukiman padat dengan memasuki lorong-lorong sempit dan akhirnya menurun ke sebuah jalan masuk yang lebarnya cukup untuk seorang saja. Bila dua orang berjalan berbeda arah di situ, akan saling beradu sisi bahu.
Mehong adalah anak kedua dari lima bersaudara. Istrinya menjadi pembantu rumah tangga yang berangkat pagi dan pulang sore. Mereka mempunyai seorang anak perempuan berumur 5 tahun.
Kakak perempuannya berdagang nasi kuning setiap pagi dengan menggunakan meja dan baskom di ujung jalan, sedangkan suaminya kerja serabutan seperti menjadi tukang bangunan. Akhir-akhir ini lebih banyak menganggur. Mereka punya dua anak, satu lelaki berumur 8 tahun dan satu perempuan berumur 6 tahun.
Adik perempuannya, anak nomor empat, menikah dengan sopir angkot. Punya dua anak perampuan berumur 5 dan 3 tahun.
Sedangkan anak lelaki nomor tiga dan lima masih bujangan dan pengangguran yang sering nongkrong bersama preman di perempatan jalan.
***
Suatu hari wajah Mehong sangat kusut sehingga Budi, karyawan sebuah toko perlengkapan pendaki gunung bermerk terkenal di mall tempatnya bekerja, menjadi tertarik untuk menyapanya. “Kenapa kamu, Hong.... kok seperti sakit?” tanyanya. Mehong hanya menunduk terpekur, dengan mata berkaca-kaca. Duduk di tangga darurat yang biasa terdapat dibalik pintu keluar setiap lantai gedung mall bertingkat yang mengkilap dan tak boleh sedikit pun kotor oleh supervisornya. Teman-temannya dan pegawai lain yang melihatnya saat memasuki tempat Mehong, tak berani mendekat. Membatalkan niatnya untuk mencuri kesempatan merokok sebatang di tempat itu.
Mehong mengusap-usap tangannya yang terasa sakit. Bekas berkelahi tadi malam dengan adik iparnya yang sopir angkot. Lelaki itu pulang ke rumah dalam keadaan mabuk sehingga menimbulkan keributan dengan istrinya, Imah, adik perempuan Mehong. Pintu rumah dikunci sehingga Cepi tidak bisa masuk ke rumah dan mulai berteriak-teriak mengancam keluarganya.
Anak-anak lelaki keluarga itu, hanya terdiam saja, berharap si Cepi kemudian pergi dan mengakhiri gangguan ini. Tetapi lelaki kekar bertato itu tidak mau beranjak dari depan pintu, semakin keras menendang-nendang dan mencaci. Mehong berbaring di sebuah tempat tidur yang dihampar dilantai, memandang ke dinding yang berlumut dan ditutupi gambar-gambar yang dibeli dari pasar, kepunyaan anaknya. Di sampingnya, istrinya yang berbaring beradu punggung dengannya, juga tidak tidur tetapi diam saja. Di sebuah kasur terpisah yang letaknya di sudut lain kamar mereka yang sempit, anak mereka yang berumur 5 tahun terbangun ketakutan dan menyusup ke dada ibunya.
Yang paling menderita adalah dua lelaki bujangan yang tidur di ruang tamu sekaligus ruang TV dengan meminggirkan kursi-kursi dan menggelar kasur tipis. Keduanya, sejak keributan dimulai, sudah membuka matanya sambil berbaring menggulungkan badan di dalam sarung. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Sudah sering kejadiaan seperti ini, suasana yang memalukan harga diri mereka selaku lelaki-lelaki yang merasa takut menghadapi seorang ipar mabuk dan mencaci maki keluarganya karena tidak dibukakan pintu.
***
Mehong bangkit tapi masih terduduk di atas kasur, dan serta merta istrinya menarik tubuhnya seolah-olah mengatakan bahwa jangan dia yang menempuh resiko ini. Ada dua anak lelaki lain dan mereka tidak punya anak dan istri, pengangguran, serta suka mabuk juga. Hanya saja mereka pemabuk yang pengecut.
Suasana di dalam rumah sepi. Tak ada yang bersuara. Penghuninya tidak ada yang tidur. Tetangga-tetangga pun mendengar dari rumah mereka masing-masing. Tidak ada yang bersuara. Sementara yang terdengar adalah suara pintu yang sudah terkelupas cat dan terpasang seadanya itu ditendang-tendang, dan akhirnya bruakkk, terlepaslah pintu itu.
Si pemabuk itu terhuyung-huyung masuk dan menyerbu ke kamar sempit, tempat tinggal keluarganya, istri dan anak-anaknya. Terdengar jeritan-jeritan seorang perempuan dan bunyi sesuatu. Pukulan. Benda-benda jatuh. Anak-anak yang menangis ketakutan. Memilukan.
Sementara, kedua lelaki di kamar tamu atau ruang TV itu bangkit dan berlari keluar rumah. Mereka tidak memburu kakak ipar yang sedang memukuli istrinya, saudara perempuan mereka. Melainkan teringat pada kekejaman sang ipar yang tak segan menggunakan pisau, sehingga mereka pun menjauh. Anak-anak berlari keluar kamar dan masuk ke kamar kakek dan neneknya. Si nenek menangis tersedu-sedu sama seperti anak-anak lainnya. Anak-anak lainnya pun semua masuk ke dada ibunya dan menangis ketakutan. Pedagang cilok tua itu pun dengan sikap ragu-ragu keluar dari kamarnya. Menyerukan agar menantu lelakinya menghentikan pukulannya dengan suara yang tak cukup keras dibandingkan jeritan-jeritan anak perempuannya.
***
Mehong menyentakkan istrinya yang mencengkeram bajunya, kemudian berjalan ke luar kamar. Ketika masuk ke ruang tamu, matanya melihat parang yang diletakkan di bawah meja dudukan TV. Alat yang biasa digunakannya untuk bekerja membabat semak bila ada orang kaya yang menyuruhnya membersihkan halaman sebulan sekali. Tanpa berfikir lagi diambilnya parang itu meskipun rasa gamang muncul dalam tindakannya, selintas mengingat bahwa dirinya hanyalah pria bertubuh kecil sedangkan iparnya bertubuh kekar dan bersifat kejam.
Ketika dia melangkah ke dalam kamar saudara perempuannya, posisinya ternyata tidak menguntungkan karena sang ipar menghadap ke arah pintu sambil mencengkeram rambut istrinya yang meraung-raung ketakutan dan kesakitan. Mehong menarik adiknya agar punya tempat untuk menyasar sang ipar dengan parang, tetapi lelaki itu dengan kuat menahan istrinya. Takut dengan kekuatan lawan, Mehong membabi buta dan tidak lagi menimbang keselamatan adik perempuannya.
Suara yang menakutkan dan suasana yang mencekam itu berlangsung sekian lama. Perempuan-perempuan lain di rumah itu tak dapat menahan diri lagi, berteriak-teriak keluar rumah meminta tolong. Beberapa tetangga keluar dari rumah tetapi dengan sikap ragu, tidak mau masuk ke dalam bahaya. Apalagi melihat dua lelaki muda, penghuni rumah itu sendiri, nampak ketakutan di luar rumah. Seluruh penghuni rumah berada di luar di sepanjang gang sempit itu, sementara para tetangga –sejumlah pria dewasa- berdiri di bagian atas yang lebih lebar. Ketegangan yang memuncak, menunggu akhir dari tragedi.
Ketika suara-suara berhenti, sang ayah menghambur ke dalam kamar yang menjadi tempat pergulatan hidup dan mati. Jantungnya nyaris berhenti berdetak saat menyaksikan pemandangan di hadapannya. Anak perempuannya tergeletak setengah telungkup, berlumuran darah yang terlihat jatuh ke lantai di bagian kepala dan bahunya. Suaminya, terlentang dengan kepala dan separuh badannya di atas kasur yang digelar di lantai, matanya terbuka. Luka menganga dari dahi ke samping kepalanya dan parang itu bersarang di dadanya.
Mehong terengah-engah di sudut kamar dekat pintu dan gemetaran. Seluruh tubuhnya bergetar seperti digerakkan oleh guncangan seorang raksasa. Giginya gemeretuk. Ketika dua pria tetangga bertubuh lumayan besar masuk ke ruangan, mereka membawa Mehong ke luar rumah dan semua orang dapat melihat di dalam sedikit cahaya dan kegelapan gang, bagaimana pria itu terus bergetar dan giginya bergemeletuk.
***
Berhari-hari Mehong tidak pulang ke rumah. Tidur di dalam mall, di tempat yang tersembunyi, atau di halaman luar lantai III di sudut yang tersembunyi. Satpam membiarkan saja setelah melihat roman wajahnya yang kosong dan tak mengacuhkannya sama sekali saat didekati. Seolah kemalangan itu dapat dimengertinya. Kengerian itu dapat dirasakan.
Adik perempuan Mehong terluka di bagian sisi kepala dan bahu kanannya karena tersabet parang. Luka yang parah justru di bagian bahu dan harus dijahit. Setelah masuk rumah sakit beberapa hari, sekarang sudah kembali ke rumah.
Suaminya, sudah dikuburkan, dan keluarganya sudah menyelenggarakan tahlilan sampai hari ketujuh. Tidak ada laporan ke polisi. Semua orang –penghuni rumah dan para tetangga- berdiam diri dengan saling mengerti. RT dan RW pun melakukan tugasnya menyampaikan hak warga yang kematian karena iuran kematian memang ditarik setiap bulan dari masyarakat untuk menyediakan layanan memandikan jenasah, kain kafan dan kelengkapannya, serta mengurus prosedur penguburan. Biaya penguburan tetap oleh keluarga, dibantu oleh tetangga-tetangga yang berdatangan dan menaruh amplop berisi uang ke dalam baskom tertutup kain serbet.
Suatu malam Mehong pulang ke rumah lagi, dalam keadaan mabuk.
***
Selasa, 01 Juni 2010
Anak Tengah di Keluarga
***
Aku mencoba mengerti mengapa Al Pacino menjadi aktor besar. Ia memerankan film yang bagus. Tapi film yang bagus tidak akan ditawarkan kepada aktor biasa. Pada film The Scent of A Woman, Al Pacino membuatku menangis. Ia memerankan orang brengsek dalam sebuah keluarga dan itu membuatku teringat pada seorang kakak lelaki, anak tengah dalam keluargaku. Orang brengsek dalam keluarga. Mengganggu suasana. Membuat orang lain berhenti berbicara bila dia hadir.
Hanya saja kakakku tidak menyadari bahwa dia brengsek karena menurutnya semua orang lain yang bersalah. Atasannya goblok. Koleganya tidak becus kerja. Keluarganya tidak punya pikiran besar dan tidak mungkin memahaminya. Indonesia kacau. Politik yang brengsek. Ekonomi yang ambruk. Nilai keluarga yang runtuh. Seorang teman di kantor yang musuh dalam selimut. Persahabatan tak lagi berarti pada jaman yang mengejar kehidupan duniawai. Istri yang selalu mengeluhkan persoalan materi. Anak-anak yang selalu kekurangan uang dan tidak banyak membaca. Orang-orang tidak bisa diajak bicara hal-hal mendalam. Bahkan anak dan istri pun.
Tapi sayangnya kebanyakan orang menjalani sebagai manusia biasa saja. Bekerja dan menerima perintah dari majikan yang bodoh. Mendapat perlakuan diskriminatif saat di Rumah Sakit atau pelayanan publik lainnya karena orang miskin atau orang biasa. Bekerja lembur hanya untuk dapat menjalani kehidupan paling sederhana.
***
Kebanyakan orang menerimanya dirinya. Harga diri tidak masalah karena hanya satu majikan dan seratus pekerja. Atau hanya ada dua supervisor yang bahkan lebih kejam dari majikan –sang pemilik- karena suka mengucapkan hinaan dan menekan anak buah yang harus bekerja lebih dari 10 jam tanpa upah lembur.
Sementara kakakku selalu menyuarakan protesnya atas ketimpangan itu. Menjadi orang yang selalu bersungut-sungut dan membuat orang lain ingin segera menjauh darinya bila bertemu. Membual bahwa atasannya di kantor takut padanya, meskipun tak pernah ada pekerjaan diberikan padanya, apalagi kenaikan gaji dan jabatan. Untungnya dia seorang PNS sehingga tidak dipecat melainkan ”disingkirkan” dengan cara mutasi ke pekerjaan dan jabatan yang paling tak berharga atau tak penting.
Terakhir, jabatannya adalah sebagai staf admin yang bertugas mengelola arsip dan dokumen kantor. Yang dijalaninya dengan bersungut-sungut.
***
Aa adalah panggilan untuk anak lelaki sulung di dalam keluargaku. Akang atau atau Kang –diikuti dengan nama- adalah panggilan untuk kakak lelaki lainnya. Teteh atau Teh –diikuti dengan nama- adalah sebutan bagi kakak perempuan. Sedangkan para kakak menyebut hanya nama kepada adiknya. Begitu yang menjadi tradisi di dalam keluargaku. Orang tuaku memberikan kewenangan bagi Aa untuk memarahi dan menegur adik-adiknya yang melakukan kesalahan. Sebaliknya, Aa mendapat nasihat-nasihat khusus dari orang tuaku untuk menjadi teladan dan model bagi adik-adiknya. Aa menjadi seorang yang serius, pendiam, berbicara seperlunya kepada adik-adiknya, tetapi tegas. Kelemahannya adalah dia tidak bisa merumuskan kalimat tanya, melainkan sudah menjadi kesimpulan atau keputusan sepihak.
Adiknya –anak tengah dalam keluarga- itu sering menilai tindakan dan keputusan Aa. Adik-adik lainnya tidak berani konfrontasi atau menentang langsung. Paling-paling mengomel di belakang karena mendapatkan teguran yang dianggap tidak sepadan tanpa kesempatan membela diri. Siapa orang yang mau mengaku salah begitu saja? Tapi Aa punya kewenangan untuk menentukan salah atau benar dan memberikan teguran kepada adik-adiknya bila menurutnya diperlukan.
Aa sama sekali tidak mau menerima saran dari adiknya yang mencoba memberitahu cara menilai suatu persoalan dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Sorot matanya menjadi tajam dan ekspresi wajahnya mengeras saat menatap wajah adik lelakinya yang mengguruinya itu. Mereka beradu mulut. Akhirnya Aa yang meninggalkan ruangan karena sang adik punya banyak argumen yang cerdas dan fakta-fakta sehingga tak mungkin terbantahkan. Mereka kemudian menjadi berjarak dan Aa selalu menghindari pembicaraan langsung dengan adik lelakinya yang satu itu.
Aa menyatakan dengan sikapnya bahwa dirinya punya otoritas dan sekaligus kewajiban yang harus dijalankannya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak membutuhkan seseorang yang memberi arahan bagi penilaian dan keputusannya. Orang tua dan adik-adik yang lain menerima otoritas itu seperti seharusnya. Adik lelaki yang suka protes dan membela kebenaran itu justru menimbulkan perasaan terganggu bahkan bagi saudara atau anaknya sendiri yang sedang dibelanya.
***
Aa atau Kang Rahmat adalah anak sulung lelaki yang mencoba menjalankan perannya dengan baik. Orang tua dan adik-adik membutuhkan figur serupa itu, sehingga Kang Tony –si anak tengah- dianggap menyalahi adat. Tidak sepantasnya bersikap kepada seorang kakak lelaki. Siapa yang membutuhkan kebenaran dari Kang Tony kalau yang dibutuhkan adalah Kang Rahmat yang hadir untuk menolong kesusahan saudaranya? Seorang adik perempuan butuh keputusan kakak lelakinya, bukan analisis masalah dan latihan argumentasi yang cerdas untuk bisa memutuskan sendiri.
Bahkan anak-anak Kang Tony sendiri seringkali membutuhkan uwaknya itu untuk membantu masalah utama yang mereka hadapi –membayar uang sekolah dan membeli buku. Bukan kritik tentang rejim yang melanggar hak warga untuk memperoleh keadilan pendidikan, atau kedatangan ayahnya memprotes kebijakan sekolah yang pada akhirnya menyebabkan anaknya tertekan baik oleh guru-guru maupun teman-temannya.
Barangkali Kang Tony memperoleh ”kutukan” berupa kecerdasannya yang membuatnya menjadi orang yang sering mengganggu. Aku masih ingat, Kang Tony selalu menjadi pemimpin di sekolahnya dan memperoleh nilai akademik yang baik, sehingga menjadi kebanggaan orang tua.
***
Setelah Kang Tony pensiun dan menjalani hari tuanya, anak-anaknya sudah bekerja dan mulai menjauh darinya. Meskipun mereka tetap hormat dan sayang pada ayahnya, tidak pernah lupa berkunjung dan mengirimi uang, namun dapat dikatakan anak-anak dan ayahnya tidak memiliki hubungan yang manis.
Terjadilah hal yang mengejutkan, istrinya meminta cerai dan memilih tinggal dengan anak perempuannya. Bagaimanapun kakakku mencoba berkata manis saat menolak untuk bercerai, namun sang istri tidak bergeming.
Suatu penderitaan yang luar biasa baginya menjadi istri yang mencampakkan suaminya di hari tua karena sikap permusuhan dari segenap keluargaku pun serta merta ditujukan kepadanya. ”Istri durhaka,” begitu menurut uwak perempuanku, kakak ibuku. Sejak saat itu kami tidak pernah bertemu lagi dengannya meskipun di hari lebaran. Hanya anak-anaknya yang tetap datang kepada kakek-nenek, uwak, emang dan bibinya.
Kemudian kakakku sakit dan meninggal. Menurutku kematian yang merana karena hidup di jaman yang salah. Aku tidak tahu apakah surga atau neraka akan menerima kakakku yang dalam hidupnya selalu memikirkan kebajikan, keadilan, dan kehormatan bagi umat manusia itu.
***
Aku mencoba mengerti mengapa Al Pacino menjadi aktor besar. Ia memerankan film yang bagus. Tapi film yang bagus tidak akan ditawarkan kepada aktor biasa. Pada film The Scent of A Woman, Al Pacino membuatku menangis. Ia memerankan orang brengsek dalam sebuah keluarga dan itu membuatku teringat pada seorang kakak lelaki, anak tengah dalam keluargaku. Orang brengsek dalam keluarga. Mengganggu suasana. Membuat orang lain berhenti berbicara bila dia hadir.
Hanya saja kakakku tidak menyadari bahwa dia brengsek karena menurutnya semua orang lain yang bersalah. Atasannya goblok. Koleganya tidak becus kerja. Keluarganya tidak punya pikiran besar dan tidak mungkin memahaminya. Indonesia kacau. Politik yang brengsek. Ekonomi yang ambruk. Nilai keluarga yang runtuh. Seorang teman di kantor yang musuh dalam selimut. Persahabatan tak lagi berarti pada jaman yang mengejar kehidupan duniawai. Istri yang selalu mengeluhkan persoalan materi. Anak-anak yang selalu kekurangan uang dan tidak banyak membaca. Orang-orang tidak bisa diajak bicara hal-hal mendalam. Bahkan anak dan istri pun.
Tapi sayangnya kebanyakan orang menjalani sebagai manusia biasa saja. Bekerja dan menerima perintah dari majikan yang bodoh. Mendapat perlakuan diskriminatif saat di Rumah Sakit atau pelayanan publik lainnya karena orang miskin atau orang biasa. Bekerja lembur hanya untuk dapat menjalani kehidupan paling sederhana.
***
Kebanyakan orang menerimanya dirinya. Harga diri tidak masalah karena hanya satu majikan dan seratus pekerja. Atau hanya ada dua supervisor yang bahkan lebih kejam dari majikan –sang pemilik- karena suka mengucapkan hinaan dan menekan anak buah yang harus bekerja lebih dari 10 jam tanpa upah lembur.
Sementara kakakku selalu menyuarakan protesnya atas ketimpangan itu. Menjadi orang yang selalu bersungut-sungut dan membuat orang lain ingin segera menjauh darinya bila bertemu. Membual bahwa atasannya di kantor takut padanya, meskipun tak pernah ada pekerjaan diberikan padanya, apalagi kenaikan gaji dan jabatan. Untungnya dia seorang PNS sehingga tidak dipecat melainkan ”disingkirkan” dengan cara mutasi ke pekerjaan dan jabatan yang paling tak berharga atau tak penting.
Terakhir, jabatannya adalah sebagai staf admin yang bertugas mengelola arsip dan dokumen kantor. Yang dijalaninya dengan bersungut-sungut.
***
Aa adalah panggilan untuk anak lelaki sulung di dalam keluargaku. Akang atau atau Kang –diikuti dengan nama- adalah panggilan untuk kakak lelaki lainnya. Teteh atau Teh –diikuti dengan nama- adalah sebutan bagi kakak perempuan. Sedangkan para kakak menyebut hanya nama kepada adiknya. Begitu yang menjadi tradisi di dalam keluargaku. Orang tuaku memberikan kewenangan bagi Aa untuk memarahi dan menegur adik-adiknya yang melakukan kesalahan. Sebaliknya, Aa mendapat nasihat-nasihat khusus dari orang tuaku untuk menjadi teladan dan model bagi adik-adiknya. Aa menjadi seorang yang serius, pendiam, berbicara seperlunya kepada adik-adiknya, tetapi tegas. Kelemahannya adalah dia tidak bisa merumuskan kalimat tanya, melainkan sudah menjadi kesimpulan atau keputusan sepihak.
Adiknya –anak tengah dalam keluarga- itu sering menilai tindakan dan keputusan Aa. Adik-adik lainnya tidak berani konfrontasi atau menentang langsung. Paling-paling mengomel di belakang karena mendapatkan teguran yang dianggap tidak sepadan tanpa kesempatan membela diri. Siapa orang yang mau mengaku salah begitu saja? Tapi Aa punya kewenangan untuk menentukan salah atau benar dan memberikan teguran kepada adik-adiknya bila menurutnya diperlukan.
Aa sama sekali tidak mau menerima saran dari adiknya yang mencoba memberitahu cara menilai suatu persoalan dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya. Sorot matanya menjadi tajam dan ekspresi wajahnya mengeras saat menatap wajah adik lelakinya yang mengguruinya itu. Mereka beradu mulut. Akhirnya Aa yang meninggalkan ruangan karena sang adik punya banyak argumen yang cerdas dan fakta-fakta sehingga tak mungkin terbantahkan. Mereka kemudian menjadi berjarak dan Aa selalu menghindari pembicaraan langsung dengan adik lelakinya yang satu itu.
Aa menyatakan dengan sikapnya bahwa dirinya punya otoritas dan sekaligus kewajiban yang harus dijalankannya dengan sebaik-baiknya. Ia tidak membutuhkan seseorang yang memberi arahan bagi penilaian dan keputusannya. Orang tua dan adik-adik yang lain menerima otoritas itu seperti seharusnya. Adik lelaki yang suka protes dan membela kebenaran itu justru menimbulkan perasaan terganggu bahkan bagi saudara atau anaknya sendiri yang sedang dibelanya.
***
Aa atau Kang Rahmat adalah anak sulung lelaki yang mencoba menjalankan perannya dengan baik. Orang tua dan adik-adik membutuhkan figur serupa itu, sehingga Kang Tony –si anak tengah- dianggap menyalahi adat. Tidak sepantasnya bersikap kepada seorang kakak lelaki. Siapa yang membutuhkan kebenaran dari Kang Tony kalau yang dibutuhkan adalah Kang Rahmat yang hadir untuk menolong kesusahan saudaranya? Seorang adik perempuan butuh keputusan kakak lelakinya, bukan analisis masalah dan latihan argumentasi yang cerdas untuk bisa memutuskan sendiri.
Bahkan anak-anak Kang Tony sendiri seringkali membutuhkan uwaknya itu untuk membantu masalah utama yang mereka hadapi –membayar uang sekolah dan membeli buku. Bukan kritik tentang rejim yang melanggar hak warga untuk memperoleh keadilan pendidikan, atau kedatangan ayahnya memprotes kebijakan sekolah yang pada akhirnya menyebabkan anaknya tertekan baik oleh guru-guru maupun teman-temannya.
Barangkali Kang Tony memperoleh ”kutukan” berupa kecerdasannya yang membuatnya menjadi orang yang sering mengganggu. Aku masih ingat, Kang Tony selalu menjadi pemimpin di sekolahnya dan memperoleh nilai akademik yang baik, sehingga menjadi kebanggaan orang tua.
***
Setelah Kang Tony pensiun dan menjalani hari tuanya, anak-anaknya sudah bekerja dan mulai menjauh darinya. Meskipun mereka tetap hormat dan sayang pada ayahnya, tidak pernah lupa berkunjung dan mengirimi uang, namun dapat dikatakan anak-anak dan ayahnya tidak memiliki hubungan yang manis.
Terjadilah hal yang mengejutkan, istrinya meminta cerai dan memilih tinggal dengan anak perempuannya. Bagaimanapun kakakku mencoba berkata manis saat menolak untuk bercerai, namun sang istri tidak bergeming.
Suatu penderitaan yang luar biasa baginya menjadi istri yang mencampakkan suaminya di hari tua karena sikap permusuhan dari segenap keluargaku pun serta merta ditujukan kepadanya. ”Istri durhaka,” begitu menurut uwak perempuanku, kakak ibuku. Sejak saat itu kami tidak pernah bertemu lagi dengannya meskipun di hari lebaran. Hanya anak-anaknya yang tetap datang kepada kakek-nenek, uwak, emang dan bibinya.
Kemudian kakakku sakit dan meninggal. Menurutku kematian yang merana karena hidup di jaman yang salah. Aku tidak tahu apakah surga atau neraka akan menerima kakakku yang dalam hidupnya selalu memikirkan kebajikan, keadilan, dan kehormatan bagi umat manusia itu.
***
Jumat, 21 Mei 2010
Pernikahan
Wini memiliki 5 pilihan. Pria-pria yang mengejarnya. Setelah 12 tahun berpacaran dengan Rahman, Wini masih tidak tahu apakah menikah dengannya merupakan impiannya. Seharusnya pernikahan itu seperti sebuah penantian yang berakhir dengan happy ending. Seharusnnya.
Sementara usianya sudah 29 tahun. Agak terlambat menikah untuk ukuran Kota Bandung sekalipun. Pada masa sekolah, Wini membayangkan menikah pada usia 22 tahun. Muda dan segar seperti bunga yang baru mekar. Ia ingin menikah pada saat puncak kemudaannya. Wini ingin bersanding di kursi pelaminan dengan pria yang menatapnya tak lepas-lepas. Maka semua orang pun jadi tersenyum melihat cinta yang berujung pada ikatan yang mulia itu: pernikahan.
Semakin dekat pada keputusan hari pernikahannya, semakin tahulah Wini bahwa dia tidak akan mendapatkan pernikahan seperti yang dibayangkannya. Kedua orang tua Rahman dan orang tuanya sudah melakukan langkah-langkah untuk menyelenggarakan helatan pernikahannya. Rahman semakin sibuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan ini, itu, dan itu, sesuai yang diminta orang tua Wini selaku keluarga yang akan menjadi tuan rumah perhelatan. Setiap bertemu dengan Rahman, Wini hanya melihat wajah yang dingin dan lelah, terutama bila menghadapi pembicaraan dengan ayah atau ibunya mengenai ini, itu dan itu tadi, daftar kebutuhan untuk pernikahan mereka menurut pandangan orang tua dan para kerabat.
Wini memperhatikan bagaimana Rahman mencoba berbicara sopan kepada ibunya mengenai kartu undangan pernikahan. Ibunya berbicara dengan Rahman mengenai kartu undangan yang akan dicetak: warnanya, ukurannya, tulisannya, nama-nama yang dicantumkan di bawah teks “Turut Mengundang”, souvenir dan ucapan terimakasih kepada tamu undangan yang satu set dengan kartu undangannya. Mereka saling berbicara, tetapi berbicara sendiri-sendiri tidak saling mendengarkan. Intinya, Rahman mencoba mengatakan bahwa kartu undangan tidak perlu sangat mewah. Pembicaraan itu nampak melelahkan Rahman yang kemudian hanya terdiam dengan wajah yang kehilangan kegembiraan.
***
Bi Tia adalah adik ibu Wini yang murah hati dalam membantu acara-acara atau hajatan yang menyibukkan keluarga penyelenggara. Telepon sang ibu kepada adiknya itu tidak henti-henti, menanyakan tentang warna kain kebaya untuk seragam keluarga, jenis dekorasi pernikahan, menu hidangan makanan, serta ini, itu dan itu. Begitu juga dengan kakak-kakak perempuan Wini, mereka lebih sibuk daripada Wini yang akan menjadi mempelai.
Terkadang Wini unjuk pendapat, terutama bila kesibukan keluarganya itu membutuhkan uang yang diminta kepadanya. Uang yang ada di tangan Wini itu kepunyaan Rahman dan terasa semakin menipis. Menikah pada masa sekarang? Begitu mahal. Ingin menangis rasanya Wini memikirkan bahwa uang tabungan itu hasil jerih payah Rahman bekerja dalam waktu yang cukup lama. Lima tahun.
Wini adalah wanita cantik. Pada waktu sekolah, Wini mendapat surat cinta dari seorang teman lelaki yang tampan dan membuatnya berbunga-bunga. Kemudian Wini bermimpi pria itu menjadi kekasih sejatinya sampai mereka dewasa dan menikah dengan bahagia. Happy ending. Mereka saling pandang di bawah pohon rimbun yang berbunga indah dan berjatuhan di atas rumput. Padang rumput hijau membentang melatari dua sejoli yang penuh asmara. Langit di belakangnya sangat biru dengan awan-awan putih yang teduh.
Kebahagiaan itu hanya diperlukan untuk mereka berdua. Wini tidak harus membuat 1.000 undangan berpita. Cinta itu begitu indah hanya dengan sekuntum bunga yang dipetik di antara rumput dan diselipkan di antara rambutnya. Tidak harus ada pilar-pilar yang dihiasi kembang-kembang dari toko, serta patung pengantin yang diukir dari es.Wini menjadi cantik karena senyuman di wajahnya itu menggambarkan segenap perasaannya ketika kekasihnya menciumnya. Tidak perlu katering dan tenda-tenda hidangan. Tidak perlu foto-foto pre-wedding yang berlatar mobil pengantin berhias yang bukan miliknya.
Tetapi dalam dunia nyata, cinta itu memiliki jalannya sendiri. Ada aturan-aturan yang melarang cinta itu terlalu apa adanya. Ada pernik-pernik yang dibuat-buat untuk memenuhi syarat-syarat dari masyarakat, dan keluarganya tak bersalah kalau tidak ingin menjadi malu bila tidak mengikuti norma-norma itu.
***
Setelah berusia 29 tahun dan hari-hari pernikahannya semakin dekat, Wini menyadari bahwa perempuan cantik pun seharusnya memiliki uang. Uangnya sendiri yang membuatnya bisa berpendapat. Tetapi, entah kenapa selalu yang tercetus dari bibirnya adalah: “Saya harus bilang dulu kepada Kang Rahman....” Tentu saja Rahman kemudian menjadi terlalu sungkan untuk menolak keinginan –yang mendesak- dari ibunya, bibinya, kakak perempuannya. Juga ayahnya. Ayahnya membutuhkan pakaian baru yang sama dengan besan lelaki saat nanti mendampingi mempelai di atas pelaminan.
Sepertinya sulit bagi Wini untuk menyuarakan pendapatnya sendiri. Ibunya memperlakukan Wini sebagai seorang yang tak perlu membuat keputusan karena uang itu bukan miliknya. Wini lebih sering mendapat perintah mengeluarkan uang setelah ibunya menelpon Rahman dan mengajukan suatu kebutuhan. Setelah pembicaraan telpon itu, tugas Wini adalah mengeluarkan uang yang dibutuhkan ibunya untuk membayar uang muka ini dan itu.
Wini memiliki 5 pilihan. Pria-pria yang mengejarnya. Sejenak kesadaran pernah singgah di benak Wini. Seharusnya dia memilih Tommy, bukan Rahman yang menjadi pacarnya selama 12 tahun. Segala masalah pernik-pernik pernikahan itu bukanlah apa-apa bagi Tommy yang keuangannya lebih mampu. Ketika Wini menatap wajah Rahman, sementara sebaliknya tidak pernah lagi menatap wajahnya, Wini mengira bahwa pernikahan mereka bukanlah saat terbaik juga bagi Rahman. Pada tahun-tahun terakhir, sudah tidak ada lagi senyuman di bibir sambil memandang penuh rasa cinta yang dulu pernah dilihat Wini di wajah Rahman.
Setelah 12 tahun berpacaran dengan Rahman, hari-hari pernikahannya semakin mendekat. Pilihan itu artinya sudah hilang dan Wini sekarang sedang menuju ke satu keadaan –menikah dengan Rahman. Sesudah itu Wini akan menjadi ibu rumah tangga yang baik, cantik meski usianya sudah tak sangat muda, pandai memasak dan berdandan, suka membaca, memiliki banyak teman di face book, memiliki suami yang cukup tampan, sarjana, dan kerja kantoran.
Meskipun Wini seorang sarjana, namun sejak awal Rahman adalah pria yang mengharapkan Wini menjadi ibu rumah tangga. Sesuatu yang disetujui Wini demi impian cintanya dahulu. Impian yang sudah pudar menjelang hari pernikahan.
***
Apabila Rahman datang ke rumah, Wini memandang wajahnya. Sebaliknya, Rahman tidak memandang wajah Wini. Wajahnya lelaki itu terasa begitu dingin. Lelah jiwa dan raganya memenuhi tuntutan kewajiban seorang pria yang harus membiayai pernikahan yang pantas dan tidak memalukan keluarganya maupun keluarga sang istri. Saat berbicara pun nampak seperti pikiran dan perasaannya tidak hadir.
Semakin dekat pada hari pernikahannya, Wini semakin tahu bahwa dia tidak akan mendapatkan pernikahan seperti yang diimpikannya.
Wini memimpikan pria yang memandang wajahnya tak lepas-lepas saat duduk di pelaminan. Senyum di wajahnya dan getaran di sekujur tubuhnya menghadapi satu hari yang tidak akan terulang lagi adalah momentum terbaik dalam hidupnya.
Namun catatan pengeluaran dan daftar kebutuhan yang telah menghabiskan uang tabungan hasil kerja Rahman bertahun-tahun, telah menghancurkan hari yang paling berharga dalam hidupnya. Bukan hanya mereka tidak memiliki tabungan untuk bekal menghadapi hidup baru, tetapi juga sejumlah pinjaman dari kantor, bank, dan keluarga, menghantui hari esok yang akan mereka jalani.
Namun kehilangan terbesar yang dialami Wini adalah kehilangan pancaran cinta dan senyuman di wajah Rahman pada hari yang seharusnya menjadi hari terindah dalam hidupnya.
***
Bandung, 29 Januari 2010
Sementara usianya sudah 29 tahun. Agak terlambat menikah untuk ukuran Kota Bandung sekalipun. Pada masa sekolah, Wini membayangkan menikah pada usia 22 tahun. Muda dan segar seperti bunga yang baru mekar. Ia ingin menikah pada saat puncak kemudaannya. Wini ingin bersanding di kursi pelaminan dengan pria yang menatapnya tak lepas-lepas. Maka semua orang pun jadi tersenyum melihat cinta yang berujung pada ikatan yang mulia itu: pernikahan.
Semakin dekat pada keputusan hari pernikahannya, semakin tahulah Wini bahwa dia tidak akan mendapatkan pernikahan seperti yang dibayangkannya. Kedua orang tua Rahman dan orang tuanya sudah melakukan langkah-langkah untuk menyelenggarakan helatan pernikahannya. Rahman semakin sibuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan ini, itu, dan itu, sesuai yang diminta orang tua Wini selaku keluarga yang akan menjadi tuan rumah perhelatan. Setiap bertemu dengan Rahman, Wini hanya melihat wajah yang dingin dan lelah, terutama bila menghadapi pembicaraan dengan ayah atau ibunya mengenai ini, itu dan itu tadi, daftar kebutuhan untuk pernikahan mereka menurut pandangan orang tua dan para kerabat.
Wini memperhatikan bagaimana Rahman mencoba berbicara sopan kepada ibunya mengenai kartu undangan pernikahan. Ibunya berbicara dengan Rahman mengenai kartu undangan yang akan dicetak: warnanya, ukurannya, tulisannya, nama-nama yang dicantumkan di bawah teks “Turut Mengundang”, souvenir dan ucapan terimakasih kepada tamu undangan yang satu set dengan kartu undangannya. Mereka saling berbicara, tetapi berbicara sendiri-sendiri tidak saling mendengarkan. Intinya, Rahman mencoba mengatakan bahwa kartu undangan tidak perlu sangat mewah. Pembicaraan itu nampak melelahkan Rahman yang kemudian hanya terdiam dengan wajah yang kehilangan kegembiraan.
***
Bi Tia adalah adik ibu Wini yang murah hati dalam membantu acara-acara atau hajatan yang menyibukkan keluarga penyelenggara. Telepon sang ibu kepada adiknya itu tidak henti-henti, menanyakan tentang warna kain kebaya untuk seragam keluarga, jenis dekorasi pernikahan, menu hidangan makanan, serta ini, itu dan itu. Begitu juga dengan kakak-kakak perempuan Wini, mereka lebih sibuk daripada Wini yang akan menjadi mempelai.
Terkadang Wini unjuk pendapat, terutama bila kesibukan keluarganya itu membutuhkan uang yang diminta kepadanya. Uang yang ada di tangan Wini itu kepunyaan Rahman dan terasa semakin menipis. Menikah pada masa sekarang? Begitu mahal. Ingin menangis rasanya Wini memikirkan bahwa uang tabungan itu hasil jerih payah Rahman bekerja dalam waktu yang cukup lama. Lima tahun.
Wini adalah wanita cantik. Pada waktu sekolah, Wini mendapat surat cinta dari seorang teman lelaki yang tampan dan membuatnya berbunga-bunga. Kemudian Wini bermimpi pria itu menjadi kekasih sejatinya sampai mereka dewasa dan menikah dengan bahagia. Happy ending. Mereka saling pandang di bawah pohon rimbun yang berbunga indah dan berjatuhan di atas rumput. Padang rumput hijau membentang melatari dua sejoli yang penuh asmara. Langit di belakangnya sangat biru dengan awan-awan putih yang teduh.
Kebahagiaan itu hanya diperlukan untuk mereka berdua. Wini tidak harus membuat 1.000 undangan berpita. Cinta itu begitu indah hanya dengan sekuntum bunga yang dipetik di antara rumput dan diselipkan di antara rambutnya. Tidak harus ada pilar-pilar yang dihiasi kembang-kembang dari toko, serta patung pengantin yang diukir dari es.Wini menjadi cantik karena senyuman di wajahnya itu menggambarkan segenap perasaannya ketika kekasihnya menciumnya. Tidak perlu katering dan tenda-tenda hidangan. Tidak perlu foto-foto pre-wedding yang berlatar mobil pengantin berhias yang bukan miliknya.
Tetapi dalam dunia nyata, cinta itu memiliki jalannya sendiri. Ada aturan-aturan yang melarang cinta itu terlalu apa adanya. Ada pernik-pernik yang dibuat-buat untuk memenuhi syarat-syarat dari masyarakat, dan keluarganya tak bersalah kalau tidak ingin menjadi malu bila tidak mengikuti norma-norma itu.
***
Setelah berusia 29 tahun dan hari-hari pernikahannya semakin dekat, Wini menyadari bahwa perempuan cantik pun seharusnya memiliki uang. Uangnya sendiri yang membuatnya bisa berpendapat. Tetapi, entah kenapa selalu yang tercetus dari bibirnya adalah: “Saya harus bilang dulu kepada Kang Rahman....” Tentu saja Rahman kemudian menjadi terlalu sungkan untuk menolak keinginan –yang mendesak- dari ibunya, bibinya, kakak perempuannya. Juga ayahnya. Ayahnya membutuhkan pakaian baru yang sama dengan besan lelaki saat nanti mendampingi mempelai di atas pelaminan.
Sepertinya sulit bagi Wini untuk menyuarakan pendapatnya sendiri. Ibunya memperlakukan Wini sebagai seorang yang tak perlu membuat keputusan karena uang itu bukan miliknya. Wini lebih sering mendapat perintah mengeluarkan uang setelah ibunya menelpon Rahman dan mengajukan suatu kebutuhan. Setelah pembicaraan telpon itu, tugas Wini adalah mengeluarkan uang yang dibutuhkan ibunya untuk membayar uang muka ini dan itu.
Wini memiliki 5 pilihan. Pria-pria yang mengejarnya. Sejenak kesadaran pernah singgah di benak Wini. Seharusnya dia memilih Tommy, bukan Rahman yang menjadi pacarnya selama 12 tahun. Segala masalah pernik-pernik pernikahan itu bukanlah apa-apa bagi Tommy yang keuangannya lebih mampu. Ketika Wini menatap wajah Rahman, sementara sebaliknya tidak pernah lagi menatap wajahnya, Wini mengira bahwa pernikahan mereka bukanlah saat terbaik juga bagi Rahman. Pada tahun-tahun terakhir, sudah tidak ada lagi senyuman di bibir sambil memandang penuh rasa cinta yang dulu pernah dilihat Wini di wajah Rahman.
Setelah 12 tahun berpacaran dengan Rahman, hari-hari pernikahannya semakin mendekat. Pilihan itu artinya sudah hilang dan Wini sekarang sedang menuju ke satu keadaan –menikah dengan Rahman. Sesudah itu Wini akan menjadi ibu rumah tangga yang baik, cantik meski usianya sudah tak sangat muda, pandai memasak dan berdandan, suka membaca, memiliki banyak teman di face book, memiliki suami yang cukup tampan, sarjana, dan kerja kantoran.
Meskipun Wini seorang sarjana, namun sejak awal Rahman adalah pria yang mengharapkan Wini menjadi ibu rumah tangga. Sesuatu yang disetujui Wini demi impian cintanya dahulu. Impian yang sudah pudar menjelang hari pernikahan.
***
Apabila Rahman datang ke rumah, Wini memandang wajahnya. Sebaliknya, Rahman tidak memandang wajah Wini. Wajahnya lelaki itu terasa begitu dingin. Lelah jiwa dan raganya memenuhi tuntutan kewajiban seorang pria yang harus membiayai pernikahan yang pantas dan tidak memalukan keluarganya maupun keluarga sang istri. Saat berbicara pun nampak seperti pikiran dan perasaannya tidak hadir.
Semakin dekat pada hari pernikahannya, Wini semakin tahu bahwa dia tidak akan mendapatkan pernikahan seperti yang diimpikannya.
Wini memimpikan pria yang memandang wajahnya tak lepas-lepas saat duduk di pelaminan. Senyum di wajahnya dan getaran di sekujur tubuhnya menghadapi satu hari yang tidak akan terulang lagi adalah momentum terbaik dalam hidupnya.
Namun catatan pengeluaran dan daftar kebutuhan yang telah menghabiskan uang tabungan hasil kerja Rahman bertahun-tahun, telah menghancurkan hari yang paling berharga dalam hidupnya. Bukan hanya mereka tidak memiliki tabungan untuk bekal menghadapi hidup baru, tetapi juga sejumlah pinjaman dari kantor, bank, dan keluarga, menghantui hari esok yang akan mereka jalani.
Namun kehilangan terbesar yang dialami Wini adalah kehilangan pancaran cinta dan senyuman di wajah Rahman pada hari yang seharusnya menjadi hari terindah dalam hidupnya.
***
Bandung, 29 Januari 2010
Rabu, 21 April 2010
Menjadi Perempuan Indonesia
Menjadi perempuan Indonesia adalah sebuah anugerah bagiku. Hidup menjadi penuh dengan kejutan dan petualangan. Sering menjengkelkan, tapi penuh pembelajaran.
Dalam separuh hidupku aku selalu berada di dalam dunia maskulin. Pekerjaan yang didominasi lelaki. Menjadi satu-satunya atau salah satu dari jumlah perempuan yang dapat dihitung dengan jari, perempuan yang bekerja di antara para lelaki.
Pada sebuah kegiatan di lapangan, aku tidak dapat tinggal dengan rombonganku di sebuah rumah yang menjadi base camp karena mereka semua lelaki. Aku “ditempatkan” di rumah masyarakat lainnya, di kamar anak perempuan yang menemaniku. Percuma aku bilang bahwa aku mau tinggal dengan tim karena tidak ingin terasing dari mereka, semua pria itu malah merasa terganggu. Aku sempat marah kepada pimpinan lembaga –tuan rumah kegiatan- yang bersikeras mengatakan padaku: “Kamu tidak bisa tinggal serumah dengan pria-pria....”
“Kenapa? Ada banyak orang dan saya tidak mau dipisahkan,” aku meradang. “Apa masalahnya? Jelaskan! Ini kerja lapangan, kenapa harus dipersoalkan hal seperti itu.” Aku ingat bagaimana suasana menjadi hening saat itu. Tapi itu bukan berarti keinginanku dituruti.
Begitu juga di hotel atau penginapan, aku sering sendirian sementara pria-pria bisa beramai-ramai dalam satu kamar.
***
Pernah aku berdiri di depan sebuah forum besar yang hampir 90% adalah pria. Saat itu perutku sedang buncit –hamil 5 bulan. Mereka semua memandangiku terperangah dengan mulut ternganga. Mungkin dalam pikiran mereka, lelaki seperti apa yang menjadi suamiku. Seorang perempuan yang berangkat ke luar Jawa dengan perut gendut.
Seorang teman pria yang sudah puluhan tahun malang melintang dalam kerja-kerja pengembangan masyarakat pun terkejut ketika melihatku di tempat pertemuan. “Kamu, sedang hamil?” katanya dengan mata terbelalak. Saat saya menelponnya untuk memintanya menjadi trainer tamu, dia sama sekali tidak mengira bahwa aku sedang berperut buncit. “Larangan terbang kalau di atas 7 bulan....” kataku kalem.
Sebenarnya petugas Bandara Cengkareng pun lumayan blingsatan ketika berhadapan denganku. Matanya penuh selidik memandang wajahku, karena perutku memang gendut sekali. “Apa betul baru 5 bulan?” tanyanya grogi dan bingung. Lumayan merepotkan juga punya penumpang sepertiku rupanya, karena butuh proses diskusi sekian waktu sampai akhirnya diputuskan aku menandatangani selembar pernyataan bahwa aku terbang atas kemauanku sendiri.
Aku tidak banyak cingcong dan menandatangani saja surat pernyataan itu. Sambil memperhatikan perilaku petugas yang bingung dan serba salah.
***
Temanku –seorang pria- menghela nafas sambil memandangi wajahku. “Kenapa?” tanyaku. “Tuh pria-pria itu semua memandangi kamu....” katanya. Temanku yang lain –seorang pria juga- tertarik pada pembicaraan ini berkomentar dalam bentuk pertanyaan: “Apakah itu pelecehan atau penghargaan?”
Aku mengerti bahwa aku berada di sebuah tempat yang masyarakatnya menabukan perempuan bepergian sendiri. Perempuan tidak boleh bepergian dengan pria bukan muhrim. Harus mendapat ijin suami bahkan untuk pergi ke tempat yang dekat.
“Itu penghargaan....” kata temanku yang pertama. Aku malas bicara, membiarkan saja kedua temanku ini berwacana. Memandangi wajah mereka ganti berganti. “Seorang perempuan di antara para lelaki, bepergian jauh dari rumah, berdiri di depan dengan suara nyaring di hadapan para pria,” kata temanku lagi. “Sungguh pemandangan yang aneh. Kenapa tidak pilih pekerjaan perempuan?” Kedua temanku ini hanya sedang merefleksikan suatu kejadian yang berlangsung di hadapan matanya. Jadi kubiarkan saja.
Seorang pria tidak dapat menahan pandangannya padaku terus-menerus. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Temanku berbisik padaku, “Pria itu melihat terus.....” Hal-hal seperti ini sering mewarnai pekerjaanku. Menjadi pengalaman seorang perempuan yang tak akan terjadi pada lelaki.
Yang menyebalkan adalah komentar pria yang mengatakan bahwa suamiku pasti seorang pria hebat, punya istri sepertiku. Yang menyenangkan adalah selalu ada sejumlah pria yang memberikan penghargaan. Juga jadi pelindung bila terjadi personal attack dari seorang pria kurang ajar yang terdorong ingin mengganggu. Seperti seorang pria yang mengatakan, “Saya anti gender.” Atau “Saya tidak akan punya istri yang pekerjaannya seperti lelaki....” Kalimat permusuhan. Kalau hanya sebagai pendapat pribadi dan canda, saya anggap tidak apa.
***
Bertemu dengan perempuan lain dalam komunitas lelaki adalah hal lain yang menyenangkan. Mereka pasti perempuan tangguh. Memang selalu begitu. Mudah bagiku bersahabat dengan sesama perempuan yang baru kukenal dalam dunia pria ini. Mudah bagi mereka juga untuk menerimaku dengan hangat dan karib.
Pandangan sesama perempuan berbeda. Mereka tidak melihatku seperti para pria, tidak mengatakan sesuatu seperti para pria. Selalu begitu.
Para perempuan beranggapan bahwa suamiku menerima pekerjaanku dengan biasa saja sebagai hal lumrah. Seperti suami mereka biasa saja bila istrinya kerja lapangan berhari-hari.
Menjadi perempuan adalah sebuah kesempatan untuk menghadapi tantangan ketika pilihan hiidup kita diwarnai dengan konflik nilai-nilai masyarakat tentang perempuan. Ibuku sendiri pun dalam sanubarinya sulit memahami pekerjaanku yang “seperti lelaki” atau bahkan lelaki pun tidak semua bisa kerja “seperti itu”. Kakak lelakiku saja dulu pernah tidak mendapat ijin orang tua ketika ingin kerja di Kalimantan. Itu dulu, saat keadaan jaman tidak seperti sekarang. Sekarang jarak bukan masalah lagi.
Aku belajar memahami dan membuat sikap tanpa harus meremehkan nilai dan norma itu. Tetapi juga tanpa harus mundur dari keyakinanku sendiri.
Memperingati Hari Kartini, 21 April 2010
Dalam separuh hidupku aku selalu berada di dalam dunia maskulin. Pekerjaan yang didominasi lelaki. Menjadi satu-satunya atau salah satu dari jumlah perempuan yang dapat dihitung dengan jari, perempuan yang bekerja di antara para lelaki.
Pada sebuah kegiatan di lapangan, aku tidak dapat tinggal dengan rombonganku di sebuah rumah yang menjadi base camp karena mereka semua lelaki. Aku “ditempatkan” di rumah masyarakat lainnya, di kamar anak perempuan yang menemaniku. Percuma aku bilang bahwa aku mau tinggal dengan tim karena tidak ingin terasing dari mereka, semua pria itu malah merasa terganggu. Aku sempat marah kepada pimpinan lembaga –tuan rumah kegiatan- yang bersikeras mengatakan padaku: “Kamu tidak bisa tinggal serumah dengan pria-pria....”
“Kenapa? Ada banyak orang dan saya tidak mau dipisahkan,” aku meradang. “Apa masalahnya? Jelaskan! Ini kerja lapangan, kenapa harus dipersoalkan hal seperti itu.” Aku ingat bagaimana suasana menjadi hening saat itu. Tapi itu bukan berarti keinginanku dituruti.
Begitu juga di hotel atau penginapan, aku sering sendirian sementara pria-pria bisa beramai-ramai dalam satu kamar.
***
Pernah aku berdiri di depan sebuah forum besar yang hampir 90% adalah pria. Saat itu perutku sedang buncit –hamil 5 bulan. Mereka semua memandangiku terperangah dengan mulut ternganga. Mungkin dalam pikiran mereka, lelaki seperti apa yang menjadi suamiku. Seorang perempuan yang berangkat ke luar Jawa dengan perut gendut.
Seorang teman pria yang sudah puluhan tahun malang melintang dalam kerja-kerja pengembangan masyarakat pun terkejut ketika melihatku di tempat pertemuan. “Kamu, sedang hamil?” katanya dengan mata terbelalak. Saat saya menelponnya untuk memintanya menjadi trainer tamu, dia sama sekali tidak mengira bahwa aku sedang berperut buncit. “Larangan terbang kalau di atas 7 bulan....” kataku kalem.
Sebenarnya petugas Bandara Cengkareng pun lumayan blingsatan ketika berhadapan denganku. Matanya penuh selidik memandang wajahku, karena perutku memang gendut sekali. “Apa betul baru 5 bulan?” tanyanya grogi dan bingung. Lumayan merepotkan juga punya penumpang sepertiku rupanya, karena butuh proses diskusi sekian waktu sampai akhirnya diputuskan aku menandatangani selembar pernyataan bahwa aku terbang atas kemauanku sendiri.
Aku tidak banyak cingcong dan menandatangani saja surat pernyataan itu. Sambil memperhatikan perilaku petugas yang bingung dan serba salah.
***
Temanku –seorang pria- menghela nafas sambil memandangi wajahku. “Kenapa?” tanyaku. “Tuh pria-pria itu semua memandangi kamu....” katanya. Temanku yang lain –seorang pria juga- tertarik pada pembicaraan ini berkomentar dalam bentuk pertanyaan: “Apakah itu pelecehan atau penghargaan?”
Aku mengerti bahwa aku berada di sebuah tempat yang masyarakatnya menabukan perempuan bepergian sendiri. Perempuan tidak boleh bepergian dengan pria bukan muhrim. Harus mendapat ijin suami bahkan untuk pergi ke tempat yang dekat.
“Itu penghargaan....” kata temanku yang pertama. Aku malas bicara, membiarkan saja kedua temanku ini berwacana. Memandangi wajah mereka ganti berganti. “Seorang perempuan di antara para lelaki, bepergian jauh dari rumah, berdiri di depan dengan suara nyaring di hadapan para pria,” kata temanku lagi. “Sungguh pemandangan yang aneh. Kenapa tidak pilih pekerjaan perempuan?” Kedua temanku ini hanya sedang merefleksikan suatu kejadian yang berlangsung di hadapan matanya. Jadi kubiarkan saja.
Seorang pria tidak dapat menahan pandangannya padaku terus-menerus. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Temanku berbisik padaku, “Pria itu melihat terus.....” Hal-hal seperti ini sering mewarnai pekerjaanku. Menjadi pengalaman seorang perempuan yang tak akan terjadi pada lelaki.
Yang menyebalkan adalah komentar pria yang mengatakan bahwa suamiku pasti seorang pria hebat, punya istri sepertiku. Yang menyenangkan adalah selalu ada sejumlah pria yang memberikan penghargaan. Juga jadi pelindung bila terjadi personal attack dari seorang pria kurang ajar yang terdorong ingin mengganggu. Seperti seorang pria yang mengatakan, “Saya anti gender.” Atau “Saya tidak akan punya istri yang pekerjaannya seperti lelaki....” Kalimat permusuhan. Kalau hanya sebagai pendapat pribadi dan canda, saya anggap tidak apa.
***
Bertemu dengan perempuan lain dalam komunitas lelaki adalah hal lain yang menyenangkan. Mereka pasti perempuan tangguh. Memang selalu begitu. Mudah bagiku bersahabat dengan sesama perempuan yang baru kukenal dalam dunia pria ini. Mudah bagi mereka juga untuk menerimaku dengan hangat dan karib.
Pandangan sesama perempuan berbeda. Mereka tidak melihatku seperti para pria, tidak mengatakan sesuatu seperti para pria. Selalu begitu.
Para perempuan beranggapan bahwa suamiku menerima pekerjaanku dengan biasa saja sebagai hal lumrah. Seperti suami mereka biasa saja bila istrinya kerja lapangan berhari-hari.
Menjadi perempuan adalah sebuah kesempatan untuk menghadapi tantangan ketika pilihan hiidup kita diwarnai dengan konflik nilai-nilai masyarakat tentang perempuan. Ibuku sendiri pun dalam sanubarinya sulit memahami pekerjaanku yang “seperti lelaki” atau bahkan lelaki pun tidak semua bisa kerja “seperti itu”. Kakak lelakiku saja dulu pernah tidak mendapat ijin orang tua ketika ingin kerja di Kalimantan. Itu dulu, saat keadaan jaman tidak seperti sekarang. Sekarang jarak bukan masalah lagi.
Aku belajar memahami dan membuat sikap tanpa harus meremehkan nilai dan norma itu. Tetapi juga tanpa harus mundur dari keyakinanku sendiri.
Memperingati Hari Kartini, 21 April 2010
Sekat
Orang Aceh memang pemimpin semua. Susah menjadi bawahan. Begitu kata orang-orang luar yang bekerja di Aceh. Entahlah, mungkin ini suatu penilaian yang berlebihan. Konon seorang pejabat pusat dalam pidatonya di sebuah acara yang dihadiri berbagai kalangan, mengatakan: Investor akan datang ke sini untuk membuka usaha. Ini akan menjadi peluang kerja bagi masyarakat asalkan saudara-saudara di sini bersedia bekerja sesuai dengan kapasitasnya, jangan semua ingin jadi bos.
Aku tidak mengerti orang Aceh. Juga tidak mengerti orang Dayak. Tidak mengerti orang Banjar. Orang Sasak. Orang Menado. Orang Nias. Orang Madura. Orang Maluku. Sekolah tidak mengajariku untuk mengerti kecuali mengenalkan gambarnya, pakaian dan rumah adatnya, nama tarian dan alat musiknya, dan peta. Apalagi sub-etnis seperti orang Komering di Sumsel, orang Banjar di Kalsel, suku Kajang di Sulsel yang mirip orang Badui, atau sub-etnis batak di Sumut. Tidak banyak orang luar yang memahami.
Aku belajar mengenal berbagai suku di negeriku dalam perjalanan dan kegiatanku dari suatu daerah ke daerah. Itu pun tak cukup lama. Ketika ke Aceh aku baru mengerti bahwa orang Aceh adalah multi-etnis dan kata Aceh pun ternyata dapat menjadi akronim dari Arab, Cina, Eropa, dan Hindia yang menunjukkan keberagaman etnis itu. Terdapat kampung yang gadis-gadisnya berwajah indo dengan matanya yang kebiruan atau coklat. Terdapat wajah-wajah Arab yang gagah dan cantik-cantik. Terdapat juga wajah-wajah putih keturunan Cina. Juga wajah orang melayu yang lebih mirip orang Jawa dan wajah India berkulit gelap (keling).
***
Jangan marah lah Yunus, kataku. Kau cuma seorang bawahan, dia bos. Meskipun kau merasa benar. Yunus mengatupkan bibirnya. Memangnya kalau aku bawahan, aku tidak boleh berpendapat, katanya. Bisa, tapi caranya harus pas, kataku. Aku tidak tahu cara yang pas itu bagaimana. Aku orang Aceh, aku bilang apa yang aku ingin bilang, katanya keras kepala.
Tapi bukan hanya Yunus –yang berwajah Arab putih itu- yang suka mengatakan ”aku orang Aceh begini, begitu”. Entah kenapa orang-orang Aceh yang kutemui suka sekali mengatakan ”aku ini orang Aceh”, ”orang Aceh itu”, ”kalau di Aceh itu”. Belum pernah kutemukan suatu tempat dari suku lain yang orang-orangnya begitu sering menyebut siapa dirinya. Rasa nasionalisme kesukuan yang tinggi.
Yunus, Rahma dan aku, pergi ke sebuah kampung untuk mengobrol dengan ibu-ibu tentang pengembangan usaha keluarga. Apa yang mereka rencanakan, dan membentuk kelompok untuk belajar usaha bersama dengan mengumpulkan modal berkelompok. Aku perhatikan bahwa hampir semua keluarga di kampung ini memiliki anak yang baru. Bayi-bayi yang lahir pasca tsunami begitu banyak. Banyak keluarga yang anak-anak kecil dan bayinya menjadi korban tsunami. Seorang ibu yang punya 4 anak, kehilangan 3 anaknya yang masih kecil-kecil dan punya bayi yang lahir paska tsunami dalam usia si ibu tak terlalu muda lagi. Yunus pun, kehilangan ibu, adik, dan kakaknya. Hanya tinggal dia dan ayahnya yang hidup.
Rahma dan Yunus nampak sangat antusias saat berbincang dengan masyarakat. Kedua orang staf lembaga program pengembangan masyarakat ini tidak mudah akrab denganku, begitu kesanku selama 2 minggu berada di organisasi mereka. Hanya sedikit demi sedikit yang dikatakan Rahma meskipun aku terus mencoba mengajaknya bertukar pikiran. Sampai suatu ketika dia mengatakan: Saya benci mengingat Tsunami. Saya tidak mau menontonnya di TV. Saya tidak mau membicarakannya. Saya tidak membaca buku apa pun tentang tsunami di Aceh.
Wanita muda yang baru lulus sekitar 2 tahun dari Unsyiah itu berwajah cantik, profilnya juga lebih ke Arab seperti Yunus, hanya lebih berwana coklat. Mereka berdua menjadi satu tim tetapi nampak tidak terlalu akrab terutama karena Yunus memang sering menimbulkan ketegangan karena pertentangannya dengan bosnya yang Jawa.
***
Sebelum konflik di Aceh berakhir dengan penandatanganan perjanjian perdamaian, Yunus adalah aktivis LSM yang pada masa itu dalam kondisi selalu dicurigai dan sembunyi-sembunyi. Tak heran sikapnya selalu keras.
Sebagai supervisor, Yunus memiliki sejumlah anak buah, yaitu para petugas lapangan. Mereka belum menghayati apa itu kerja pengembangan masyarakat. Mereka harus dikirim ke LSM di Jawa atau NTT yang para petugas lapangannya sangat militan, kataku ketika Yunus bersungut-sungut tentang cara kerja mereka. Bos bodoh itu tidak mau kerja betul, mana mau dia mengeluarkan dana untuk yang seperti itu, kata Yunus ketus.
Kerja betul. Bersungguh-sungguh peduli. Aku menemukan kata-kata itu yang menjadi inti dari rasa antipati Yunus kepada orang-orang luar. Orang-orang datang ke Aceh hanya sekedar untuk cari makan di atas kemalangan korban tsunami atau korban perang dan konflik. Sepertinya begitu yang terdapat dalam sikapnya yang tak bersahabat, meskipun tak dikatakan eksplisit padaku yang pengunjung dari luar. Sebuah prasangka yang menjadi sekat penghalang.
Aku di Aceh bersama seorang teman yang merupakan pejuang tangguh dalam kerja-kerja kemasyarakatan di desa-desa terpencil di pulau yang kondisi alamnya sangat kering. Kami menayangkan video dokumenter pendek kerja-kerja pendampingan di wilayah tandus dan kekeringan, cara kerja, dan proses-proses yang dibangun. Aku memandu para petugas lapangan itu untuk merumuskan sendiri dedikasi apa yang diminta kepada seorang yang bekerja untuk masyarakat. Mempelajari kesan yang mereka dapatkan dari mimik wajahnya satu per satu. Juga sikap mereka saat menjalankan tugas ke lapangan. Apakah menjadi semangat. Ataukah malah surut.
***
Saat-saat istirahat siang atau sore. Atau malam hari ketika aku duduk sendiri di beranda base camp lapangan tempat kami tinggal. Aku akan mendapat kunjungan dari teman-teman petugas lapangan itu. Kadang seorang saja. Kadang berdua orang. Atau berkelompok. Mengajak berbincang tentang Aceh dan masyarakatnya. Bertukar kata hati. Aku juga mencatat dalam hatiku, siapa yang justru menjauh dan menutup dirinya.
Bila kesempatan itu ada, akulah yang kemudian datang padanya. Rahma, maukah mendengar cerita tentang dua anak lelakiku, kataku. Aku selalu suka bercerita tentang mereka, dan banyak orang pun ternyata suka mendengarnya. Lalu bertukar cerita tentang anak-anaknya atau keluarganya. Rahma tersenyum mendengar cerita lucu tentang anak-anakku. Kalau saya punya suami dan anak-anak nanti, saya pun ingin mereka terbiasa bila saya lama pergi ke lapangan, katanya. Rahma tertarik untuk mendengar ceritaku sebagai perempuan yang pekerjaannya sering meninggalkan keluarga dalam waktu cukup lama.
Saya bercerita tentang Ella di Sumba, Laksmi di Lombok, Sri di Klaten, Kominta di Medan, dan banyak perempuan lain yang saya kenal, yang sering tinggal di desa berhari-hari dan mendapat dukungan suami dan anak-anaknya.
Saya dan Rahma asyik bercakap-cakap sampai larut malam. Yunus datang mendekat dan melemparkan senyuman. Saya akan buatkan kopi, mau? tanyanya. Rahma menoleh pada saya sambil tersenyum. Maulah, tengku, jawab saya.
Malam itu sungguh indah, bertaburan bintang di langit. Dari beranda tempat kami duduk-duduk, di atas bukit, nampak garis laut nun di bawah sana. Suara debur ombaknya samar-samar terdengar.
Bandung, April 2010
Aku tidak mengerti orang Aceh. Juga tidak mengerti orang Dayak. Tidak mengerti orang Banjar. Orang Sasak. Orang Menado. Orang Nias. Orang Madura. Orang Maluku. Sekolah tidak mengajariku untuk mengerti kecuali mengenalkan gambarnya, pakaian dan rumah adatnya, nama tarian dan alat musiknya, dan peta. Apalagi sub-etnis seperti orang Komering di Sumsel, orang Banjar di Kalsel, suku Kajang di Sulsel yang mirip orang Badui, atau sub-etnis batak di Sumut. Tidak banyak orang luar yang memahami.
Aku belajar mengenal berbagai suku di negeriku dalam perjalanan dan kegiatanku dari suatu daerah ke daerah. Itu pun tak cukup lama. Ketika ke Aceh aku baru mengerti bahwa orang Aceh adalah multi-etnis dan kata Aceh pun ternyata dapat menjadi akronim dari Arab, Cina, Eropa, dan Hindia yang menunjukkan keberagaman etnis itu. Terdapat kampung yang gadis-gadisnya berwajah indo dengan matanya yang kebiruan atau coklat. Terdapat wajah-wajah Arab yang gagah dan cantik-cantik. Terdapat juga wajah-wajah putih keturunan Cina. Juga wajah orang melayu yang lebih mirip orang Jawa dan wajah India berkulit gelap (keling).
***
Jangan marah lah Yunus, kataku. Kau cuma seorang bawahan, dia bos. Meskipun kau merasa benar. Yunus mengatupkan bibirnya. Memangnya kalau aku bawahan, aku tidak boleh berpendapat, katanya. Bisa, tapi caranya harus pas, kataku. Aku tidak tahu cara yang pas itu bagaimana. Aku orang Aceh, aku bilang apa yang aku ingin bilang, katanya keras kepala.
Tapi bukan hanya Yunus –yang berwajah Arab putih itu- yang suka mengatakan ”aku orang Aceh begini, begitu”. Entah kenapa orang-orang Aceh yang kutemui suka sekali mengatakan ”aku ini orang Aceh”, ”orang Aceh itu”, ”kalau di Aceh itu”. Belum pernah kutemukan suatu tempat dari suku lain yang orang-orangnya begitu sering menyebut siapa dirinya. Rasa nasionalisme kesukuan yang tinggi.
Yunus, Rahma dan aku, pergi ke sebuah kampung untuk mengobrol dengan ibu-ibu tentang pengembangan usaha keluarga. Apa yang mereka rencanakan, dan membentuk kelompok untuk belajar usaha bersama dengan mengumpulkan modal berkelompok. Aku perhatikan bahwa hampir semua keluarga di kampung ini memiliki anak yang baru. Bayi-bayi yang lahir pasca tsunami begitu banyak. Banyak keluarga yang anak-anak kecil dan bayinya menjadi korban tsunami. Seorang ibu yang punya 4 anak, kehilangan 3 anaknya yang masih kecil-kecil dan punya bayi yang lahir paska tsunami dalam usia si ibu tak terlalu muda lagi. Yunus pun, kehilangan ibu, adik, dan kakaknya. Hanya tinggal dia dan ayahnya yang hidup.
Rahma dan Yunus nampak sangat antusias saat berbincang dengan masyarakat. Kedua orang staf lembaga program pengembangan masyarakat ini tidak mudah akrab denganku, begitu kesanku selama 2 minggu berada di organisasi mereka. Hanya sedikit demi sedikit yang dikatakan Rahma meskipun aku terus mencoba mengajaknya bertukar pikiran. Sampai suatu ketika dia mengatakan: Saya benci mengingat Tsunami. Saya tidak mau menontonnya di TV. Saya tidak mau membicarakannya. Saya tidak membaca buku apa pun tentang tsunami di Aceh.
Wanita muda yang baru lulus sekitar 2 tahun dari Unsyiah itu berwajah cantik, profilnya juga lebih ke Arab seperti Yunus, hanya lebih berwana coklat. Mereka berdua menjadi satu tim tetapi nampak tidak terlalu akrab terutama karena Yunus memang sering menimbulkan ketegangan karena pertentangannya dengan bosnya yang Jawa.
***
Sebelum konflik di Aceh berakhir dengan penandatanganan perjanjian perdamaian, Yunus adalah aktivis LSM yang pada masa itu dalam kondisi selalu dicurigai dan sembunyi-sembunyi. Tak heran sikapnya selalu keras.
Sebagai supervisor, Yunus memiliki sejumlah anak buah, yaitu para petugas lapangan. Mereka belum menghayati apa itu kerja pengembangan masyarakat. Mereka harus dikirim ke LSM di Jawa atau NTT yang para petugas lapangannya sangat militan, kataku ketika Yunus bersungut-sungut tentang cara kerja mereka. Bos bodoh itu tidak mau kerja betul, mana mau dia mengeluarkan dana untuk yang seperti itu, kata Yunus ketus.
Kerja betul. Bersungguh-sungguh peduli. Aku menemukan kata-kata itu yang menjadi inti dari rasa antipati Yunus kepada orang-orang luar. Orang-orang datang ke Aceh hanya sekedar untuk cari makan di atas kemalangan korban tsunami atau korban perang dan konflik. Sepertinya begitu yang terdapat dalam sikapnya yang tak bersahabat, meskipun tak dikatakan eksplisit padaku yang pengunjung dari luar. Sebuah prasangka yang menjadi sekat penghalang.
Aku di Aceh bersama seorang teman yang merupakan pejuang tangguh dalam kerja-kerja kemasyarakatan di desa-desa terpencil di pulau yang kondisi alamnya sangat kering. Kami menayangkan video dokumenter pendek kerja-kerja pendampingan di wilayah tandus dan kekeringan, cara kerja, dan proses-proses yang dibangun. Aku memandu para petugas lapangan itu untuk merumuskan sendiri dedikasi apa yang diminta kepada seorang yang bekerja untuk masyarakat. Mempelajari kesan yang mereka dapatkan dari mimik wajahnya satu per satu. Juga sikap mereka saat menjalankan tugas ke lapangan. Apakah menjadi semangat. Ataukah malah surut.
***
Saat-saat istirahat siang atau sore. Atau malam hari ketika aku duduk sendiri di beranda base camp lapangan tempat kami tinggal. Aku akan mendapat kunjungan dari teman-teman petugas lapangan itu. Kadang seorang saja. Kadang berdua orang. Atau berkelompok. Mengajak berbincang tentang Aceh dan masyarakatnya. Bertukar kata hati. Aku juga mencatat dalam hatiku, siapa yang justru menjauh dan menutup dirinya.
Bila kesempatan itu ada, akulah yang kemudian datang padanya. Rahma, maukah mendengar cerita tentang dua anak lelakiku, kataku. Aku selalu suka bercerita tentang mereka, dan banyak orang pun ternyata suka mendengarnya. Lalu bertukar cerita tentang anak-anaknya atau keluarganya. Rahma tersenyum mendengar cerita lucu tentang anak-anakku. Kalau saya punya suami dan anak-anak nanti, saya pun ingin mereka terbiasa bila saya lama pergi ke lapangan, katanya. Rahma tertarik untuk mendengar ceritaku sebagai perempuan yang pekerjaannya sering meninggalkan keluarga dalam waktu cukup lama.
Saya bercerita tentang Ella di Sumba, Laksmi di Lombok, Sri di Klaten, Kominta di Medan, dan banyak perempuan lain yang saya kenal, yang sering tinggal di desa berhari-hari dan mendapat dukungan suami dan anak-anaknya.
Saya dan Rahma asyik bercakap-cakap sampai larut malam. Yunus datang mendekat dan melemparkan senyuman. Saya akan buatkan kopi, mau? tanyanya. Rahma menoleh pada saya sambil tersenyum. Maulah, tengku, jawab saya.
Malam itu sungguh indah, bertaburan bintang di langit. Dari beranda tempat kami duduk-duduk, di atas bukit, nampak garis laut nun di bawah sana. Suara debur ombaknya samar-samar terdengar.
Bandung, April 2010
Langganan:
Postingan (Atom)