Senin, 19 September 2011

Terlambat

Dina ingin melupakannya. Tapi Indra terus-menerus datang melalui mimpi-mimpinya. Sepertinya tak ingin dilupakan. Seperti roh penasaran yang bergentayangan. Mencoba mencari jawaban atas sejumlah pertanyaan. Dan menyelesaikan pekerjaan yang belum terselesaikan.

“Pergilah dan lupakan semua yang terjadi antara kita....” Kata Dina kepada Indra. Cukup sudah, aku tak sanggup lagi kamu sakiti.

“Mengapa kamu menyerah padaku?” Tanya Indra kepada Dina. Kamu meninggalkan aku. Menikah dengan pria lain.

“Apakah kamu mencintaiku?” Tanya Dina kepada Indra. Kalau cinta, mengapa kita berpisah. Kalau tak cinta, mengapa kita bersama sekian lama. Aku tak sanggup melihatmu tak mencintai aku. Itu sebabnya aku pergi.

“Kita telah bersama selama 5 tahun...” Kata Indra. Aku tak biasa tanpamu sesudah itu. Cinta karena rupa, bisa pudar. Cinta karena pandangan, bisa indah sesaat. Tapi kita telah bersama sekian tahun. Aku tak bisa melepaskan kenangannya begitu saja.
***

Dua puluh lima tahun telah berlalu. Dina terbangun di subuh hari dengan air mata membasahi wajahnya. Bukankah 25 tahun itu lama. Kenapa belum berakhir juga? Tanya Dina pada dirinya sendiri. Selama dua puluh lima tahun, Indra tak pernah absen menjenguk Dina melalui mimpi.

Apakah kamu sesedih aku? Lima tahun bersama itu begitu dalam menyakiti hatiku. Membuat aku sangat terluka. Karena kamu tidak mencintai aku. Tapi 25 tahun perpisahan membuat Dina mengerti, cintanya pada Indra tak bisa hilang. Sakit terasa.

Bukan aku yang pergi. Kamulah yang pergi meninggalkan aku. Kata Indra dalam sebuah mimpi. Seharusnya kamu tak menyerah. Kamu seharusnya menyanderaku. Kamu seharusnya mengurangi rasa harga dirimu karena harus merebut cintaku dari perempuan lain. Kamu seharusnya mempertahankanku.

Indra memutuskan kekasihnya. Perasaan sayangnya pada Dina –sahabatnya- telah membuatnya melakukan itu. Indra menyadari kecemburuan dan luka di hati Dina yang timbul bila seorang perempuan dekat dengannya.
***

Dina meninggalkan Indra. Kebersamaan selama 5 tahun, terasa menyakitkan bagi Dina. Karena dia jatuh cinta pada Indra, sebaliknya Indra hanya menganggapnya sebagai sahabat. Indra tidak memiliki cinta seperti yang dialami Dina kepadanya.

Cinta itu tumbuh. Cinta Indra kepada Dina. Ketika mereka telah terpisah. Indra jatuh cinta kepada Dina ketika dia ditinggalkan. Berharap Dina akan kembali. Namun akhirnya menyadari bahwa takdir hanya akan menjadikan cintanya dan Dina tak akan pernah dipertemukan. Hanya dapat mencintai dari kejauhan.

“Aku cinta padamu...” Indra berkata kepada Dina. Sementara Dina tidak mengetahuinya karena ucapan itu hanya tercetus di dalam sanubari Indra. Sedang Dina berada di suatu tempat. Menjadi istri dari seorang suami. Menjadi ibu dari anak-anaknya. Menjadi kekasih Indra dalam fatamorgana.

“Aku masih cinta padamu...” Dina berkata kepada Indra. Sementara Indra tak mendengar karena memang ia tak ada. Indra ada di suatu tempat. Menjadi suami dari istrinya. Menjadi bapak dari anaknya. Menjadi kekasih Dina, walau hanya bayangan. Dina menyadari bahwa cinta Indra hanya dapat dimilikinya dari kejauhan. Indra menyadari cintanya pada Dina tak bisa kesampaian.

Indra dan Dina selalu saling berkunjung dalam kerinduannya. Jiwa mereka tetap terhubung. Dua puluh lima tahun berlalu, dan mereka tak saling melupakan.
***

Rambut Indra sudah separuhnya memutih. Tubuhnya menjadi lebih gemuk dan perutnya membuncit. Wajah Dina telah banyak memiliki kerut. Tubuhnya pun menjadi lebih gemuk dan rambutnya tidak lagi berkilau seperti dulu. Kemudaan itu telah berlalu.

Orang yang pernah mereka cintai telah tak ada. Telah menjadi orang yang berbeda. Bayangan wajah orang yang dicintainya adalah wajah-wajah masa lalu.
***

Rabu, 14 September 2011

From Molluca with Love

Teman mudaku ini –Shanti- kehausan akan cinta. Dan itu membuat aku iri hati padanya. Pria baik hati yang bertutur kata sopan, membuatnya jatuh hati. Cinta segera berbunga begitu melihat wajah yang tampan. Namun kali yang lain, rayuan gombal dan tatapan mata sahdu seorang pria bisa membuatnya merasa itu cinta sejatinya.

Sungguh menyedihkan mengenang masa-masa aku semuda itu, jadinya. Sungguh sekejap berakhirnya masa-masa penuh gairah dan semangat untuk mengejar cinta seseorang. Aku bahkan telah menyia-nyiakannya. Aku hanya mencinta satu orang. Aku akan patah hati bila kehilangan. Akan tenggelam dalam kesedihan bila dikhianati. Masa mudaku sudah berlalu tanpa banyak cerita cinta. Sementara dalam kemudaannya, energi cinta yang dimiliki Shanti begitu bersinar. Begitu terbuka.
***

Shanti asyik membuka laptop dan menelusuri foto-foto indah perjalanan kami di Pulau Ternate, Halmahera, Ambon, dan Seram. Beberapa foto pria yang dibidiknya lebih menarik perhatiannya ketimbang panorama indah kepulauan Maluku dengan pantai-pantainya yang biru.

“Banyak pria tampan di Maluku....” kata Shanti. Penuh dengan gairah perempuan muda pencari cinta. “Mana yang lebih tampan, Zul atau Jose?” tanyanya.

Zul, pria yang merasa dirinya dan seluruh orang Maluku keturunan Bugis, berwajah kearab-araban. Sedangkan Jose, berwajah tampan eksotis, dengan wajah gelap khas etnis Alifuru. Dua profil yang mewakili dua kelompok yang hampir sama banyaknya di Maluku, orang Muslim dan orang Kristen.

“Keduanya tampan....” kataku.
”Betul, kan?” kata Shanti dengan ceria. “Mungkin aku akan tinggal di sini dan menikahi salah satunya.....” katanya. Selalu begitu. Jatuh cinta dengan cepat. Mengkhayalkan pangerannya. Kemudian besok lusa jatuh cinta lagi.

Aku menggeleng-gelengkan kepala. :”Terserah kau lah, yang penting segera selesaikan laporan lapangannya. Aku mau semua selesai di sini. Tidak ada yang belum selesai saat kita pulang ke Jakarta.....”

“No problem, bunda!” katanya sambil menghempaskan badan di atas tempat tidur. Telentang dan mengkhayalkan pria tampan yang turun dari khayangan. Ah, menjengkelkan panggilannya itu padaku. Membuatku menjadi tua. Sementara dia menikmati kemudaan dan fantasi cintanya dengan gairah. Sungguh usia kepala empat yang tak siap kuhadapi. Dan anak centil 23 tahun yang sudah S-2 ini dengan semena-mena memanggilku bunda, sehingga aku menjadi setua ibunya.

“Kerjakan sekarang, Shanti....” kataku. “Sebentar lagi, bunda!” katanya sambil memejamkan mata. Di lantai kamar hotel tempat kami menginap, berserakan buku, dokumen, dan kertas-kertas. Laptop terbuka di atas lantai....
***

Keesokan harinya, kami melakukan perjalanan ke sebuah desa yang sangat indah. Pulau-pulau kecil mengambang di atas lautan biru. Terlihat dari tempat yang tinggi. Aku dan Shanti ditemani oleh tiga orang pemerintah yang usianya masih muda-muda, selama melakukan studi di lapangan. Dua orang pria dan satu perempuan.

Shanti sangat bersemangat. Jose ada di antara kelompok ini, menyopiri mobil yang membawa tim ke lapangan. Mendadak dia berpendapat bahwa Jose lebih tampan dibandingkan Zul. Juga lebih berwajah Maluku. Dalam anggapan kebanyakan orang Jawa, orang Maluku itu berkulit gelap. Padahal kenyataannya, separuhnya berwajah kearab-araban serupa Zul.

Keceriaan orang-orang muda yang ada di timku itu menyenangkan. Membuat aku merasa ikut bersemangat. Jadi, aku tidak keberatan bila Shanti dan Jose selalu berdekatan. Selama, tugas-tugas yang harus kami kerjakan bisa dilakukan. Pekerjaan itu menjadi lebih ringan dengan adanya bunga-bunga cinta yang memberi gairah.

Kami makan ikan bakar dan nasi kuning yang sangat enak di sebuah pasar lokal. Minum air kelapa. Duduk-duduk sebentar di tepi pantai yang menghadap Laut Banda.Samar-samar nampak Pulau Arafuru dan Saparua bersisian.

Hari sudah gelap ketika kami tiba di hotel tempat aku dan Shanti menginap. Sementara teman-teman muda yang mengantar kami ke lapangan itu kembali ke rumahnya masing-masing. Mereka senang bisa mendampingi kerja kami, rupanya. Dengan penuh minat terlibat dalam pekerjaan studi yang kami lakukan dan juga membuat catatan-catatan sendiri.

Kami berpisah dan berjanji besok pagi untuk mengantar bertemu dengan beberapa orang yang akan kami wawancara. Dari Dinas dan DPRD.
***

Shanti berbaring telentang sambil memejamkan mata. Kemudian dia memperhatikan aku. Sambil menghela nafas panjang. “Capek?” tanyaku. “Kangen karena berpisah dengan calon pendamping hidupmu di Maluku? Kan besok ketemu lagi....”

Sambil merengut Shanti melemparku dengan buah pala yang dipungutnya saat di desa. “Sial. Dia menatapmu terus, bunda! Dia tidak pernah menatap aku....”

Aku menoleh padanya. Tersenyum. Membayangkan wajah Jose yang malu-malu memandangku. Sangat gembira ketika memegang tanganku saat kami berjalan di medan yang sulit, sementara Shanti harus bersusah payah berjalan sendiri karena tak mau dibantu oleh yang lainnya. Saat berjalan di sisi Shanti, wajahnya pun lebih banyak memperhatikanku. Menatap dan tersenyum. Entah apa artinya.

Shanti menutup wajahnya dengan bantal. Kecewa setengah mati karena mengharapkan mendapatkan momen cinta di saat berjalan di atas pasir di tepian pulau yang indah permai. “Bunda sudah terlalu tua buat dia....” katanya dari balik bantal.

Aku berbaring di sebelah Shanti. “Sial!” kataku.
“Sial kenapa?” Shanti membuka bantal penutup mukanya. “Sial, seandainya saja aku masih semuda kamu....” kataku. Shanti menjadi jengkel. “Tahu diri dong....” katanya.

Kami berdua berbaring bersisian. Lalu sama-sama ketiduran. Besok, Shanti akan menemukan cinta yang lain. Sayang sekali, Jose telah mematahkan harapannya.
***

Urbanisasi

Tahun 1940. Seorang pemuda meninggalkan kampung halamannya di sebuah lembah yang indah di alam perdesaan Jawa Barat. Tujuannya untuk sekolah di kota. Sebuah perjalanan yang sangat jauh menurut anggapan orang kampung masa itu. Penuh dengan derai airmata dari kedua orang tua dan saudara-saudaranya. Menjadi bahan cerita masyarakat kampung itu yang tak pernah bosan-bosannya dibicarakan. Tentang pemuda yang teguh pada kemauannya dan dengan berani meninggalkan kampungnya untuk berjuang di tempat yang jauh.

Tujuh tahun kemudian, terjadi lagi dua orang pemuda dari kampung itu melakukan perjalanan ke kota. Kedua pemuda itu berbekal secarik kertas bertuliskan alamat saudaranya yang ada di kota, yaitu pemuda pertama yang berangkat ke kota untuk sekolah. Salah satu dari dua pemuda yang berangkat menyusul itu adalah sepupu, dan seorang lagi seorang anak kerabat dari pemuda yang pertama berangkat.

Setelah lulus sekolah menengah, pemuda yang pertama berangkat itu kemudian bekerja menjadi guru. Perjuangannya bersekolah di kota bukanlah mudah, melainkan penuh peluh dan kepahitan. Bekerja apa saja untuk membiayai hidupnya karena utusan dari kampung yang membawa uang dari orang tuanya hanya setahun sekali atau dua kali. Menumpang hidup pada orang lain dan membayar dengan tenaga sambil tetap sekolah, tentu saja suatu keadaan yang sulit. Pernah harus putus sekolah dahulu, bekerja dan kemudian bertemu dengan seorang baik yang bersedia mempekerjakannya sambil melanjutkan lagi sekolah.
***

Berkat ketekunan dan kejujurannya, banyak orang yang menyukainya sehingga membantunya untuk memperoleh pekerjaan itu. Selain itu, seorang guru bersimpati padanya dan berharap pemuda itu menjadi suami dari anak perempuan sulungnya. Guru tua inilah yang membantunya bekerja pada seorang kenalannya sambil menyelesaikan sekolah.

Maka, setelah memperoleh pekerjaan sebagai guru, menikahlah dia dengan anak guru, perempuan yang berasal dari kota itu.

Kedua pemuda saudaranya yang datang itu menumpang tinggal di rumahnya yang kecil bersama istri dan anaknya yang masih kecil. Sampai keduanya kemudian lulus dari sekolah menengah. Guru tua –mertua sang guru muda- memberikan sebuah alamat di Kota Bandung kepada pemuda yang baru lulus itu. “Kakak lelakiku seorang pegawai negeri. Mungkin bisa membantumu mencari pekerjaan....” Demikian guru tua itu membantu pemuda-pemuda yang bermimpi muluk melihat Kota Bandung itu. Sebuah tempat yang jauh dan tak pernah terbayangkan wujudnya oleh orang-orang kampung di lembah itu terutama generasi terdahulu.

Kedua pemuda bersaudara itu kemudian menjadi pelopor perpindahan keluarga dan kerabatnya ke Kota Bandung. Perjalanan demi perjalanan pemuda dari kampung yang ada di lembah yang indah itu berjalan selama puluhan tahun. Sebuah proses yang disebut urbanisasi.
***

Tahun 2011. Acara kumpul keluarga merupakan saat yang hangat dan menyenangkan. Hidangan-hidangan di atas meja. Kamera dijital yang mudah saja digunakan setiap saat untuk mengabadikan momen bahagia keluarga. Para perempuan dewasa berbincang tentang pekerjaan dan perkembangan politik. Para pria berbincang tentang memancing dan main golf. Anak-anak semua usia –dari yang kecil sampai remaja- asyik masyuk dengan facebook dan twitter. Tertawa-tawa sendiri. Masing-masing memiliki laptop, net book, atau tablet, dan ayik berbicara dengan alat itu ketimbang dengan saudara-saudaranya.

Seorang ipar perempuan –insinyur dari ITB- yang bekerja di perusahaan asing di Jakarta, mulai iseng mengganggu keponakan-keponakannya. Dikeluarkannya segepok uang yang masih baru dari dalam tasnya. “Teka-teki dan lima puluh ribu rupiah untuk setiap jawaban yang benar....” katanya sambil mengibaskan kertas-kertas berwarna biru di tangannya.

Serentak seluruh perhatian itu berpaling kepadanya. Anak-anak menutup laptop dan netbooknya, dan mengalungkan handphonenya. Barulah mereka berkomunikasi dengan sesama manusia, setelah berjam-jam asyik berbincang dengan layar monitor komputer.
“Pertanyaan pertama, berapa umur aki almarhum?” Jawaban-jawaban yang salah dilontarkan.
“Pertanyaan kedua, dimana aki dilahirkan?” Seruan kekecewaan karena pertanyaan itu tak mungkin terjawab pun terdengar. Nama kampung itu terlalu sulit untuk diakrabi telingan anak-anak kota itu.
“Pertanyaan ketiga, Kampung Patakaharja itu terletak dimana?”

Anak-anak kecewa karena pertanyaan-pertanyaan terlalu sulit untuk dijawab. Semua meneriakkan “huuuuuu” kepada ipar yang dengan senangnya mengipas-kipas uang itu dan kemudian memasukkannya lagi ke dalam tas.
“Kalian payah, tidak tahu sejarah kakek buyut kalian sendiri....” katanya cuek.
***

Tahun 2005 adalah lebaran terakhir kami masih mudik ke kampung di lembah yang hijau permai itu. Tidak sejauh seperti cerita masa lalu. Kami bisa mencapai kampung dengan mobil pribadi di masa sekarang. Satu-satunya keluarga yang masih ada di kampung adalah kakak perempuan sulung bapak. Aki dari anak-anak yang tidak tahu nama kampung leluhurnya itu.

Karena uwak perempuan itu sudah terlalu tua, akhirnya diboyong juga ke Kota Bandung. Habislah kerabat dekat di sana. Semua sudah hijrah ke Kota Bandung. Generasi mudanya pun berpencar, ke Jakarta, Bogor, Bekasi, Surabaya, Bali, Kalimantan, luar negeri.

Maka cerita tentang pemuda yang pertama kali meninggalkan kampung halaman di lembah itu pada tahun 1940 hanya diketahui oleh orang-orang tua yang sudah sepuh. Diceritakan kepada anak-anaknya berulang kali. Namun oleh anak-anaknya tak diceritakan pada generasi yang lebih muda. Kemudian hilang.
***

RD. In memoriam my Father.

Kamis, 08 September 2011

Petani Gobras, Kota Tasikmalaya




Musuh di Masa Kecil

Ada 2 permainan yang selalu kujuarai, yaitu sorodot gaplok dan gatrik. Butuh lapangan untuk melakukan permainan ini. Batu-batu pipih yang besar yang menjadi target. Dan batu pipih lebih kecil yang ditaruh di atas kaki untuk digunakan memukul target. Perlu ketepatan dan tenaga untuk bisa menjatuhkan batu pipih yang lumayan berat. Sedangkan gatrik dilakukan dengan potongan bambu yang juga merupakan permainan memukul target sasaran secara tepat dengan menggunakan bambu sepanjang sekitar 30 Cm dan bambu lebih pendek yang dipukulkan supaya kena ke bambu kecil yang jadi target. Aku selalu unggul.

Seorang anak pendendam yang tidak pernah bisa menerima kekalahannya menjadi musuhku sewaktu kanak-kanak. Namanya Dadang. Sorot matanya bengis. Aku menjadi sasaran balas dendamnya dengan cara menggangguku. Mencegatku sepulang sekolah. Menakut-nakutiku dengan gerak-gerik seolah akan memukul dan menyerigai penuh ejekan. Betapa senangnya memiliki kekuatan fisik seperti dia yang bisa digunakan untuk mengancam anak-anak yang lebih kecil dan anak perempuan.

Ibuku mendapat laporan dari ibu tetangga tentang Dadang yang suka menggangguku. Kemudian ibu mendatangi ibunya si Dadang dan terjadilah pertengkaran di antara mereka. Si Dadang membalas dendam dengan mengancamku lebih garang. Ibu mengadu kepada Pak RT. Urusan anak-anak ini menjadi kisruh. Tapi si Dadang berhenti mengancamku sejak itu. Kemudian keluargaku pindah rumah ke daerah yang lebih ‘aman’, kata ibuku.
***

Setelah SMU, aku bertemu lagi dengan Dadang karena kami satu sekolah. Nyaris aku tidak mengenalinya kalau saja dia tidak menyapaku. Mengherankan sekali, dia berubah wujud menjadi pria tampan yang peramah. Aku nyaris tidak percaya bahwa itu si bengis Dadang di masa kecil.

Ketika ibuku tahu Dadang mendekatiku, dengan marah dilarangnya aku bergaul dekat dengannya. Keturunan jelek, kata ibuku. Bapaknya buruh bangunan. Ibunya berjualan rujak dan lotek. Kakak sulungnya menjadi sopir angkot. Kakak perempuannya menjadi pelayan toko. Banyak sekali penghuni rumahnya, entah itu nenek, keponakan bapaknya, dan juga kakak perempuan ibunya yang janda. Rumah itu selalu penuh dengan pertengkaran orang dewasa maupun anak-anak. Perkelahian dan kekerasan. Begitu yang diketahui masyarakat sekitar tentang keluarganya.

Tapi, Dadang begitu tampan di saat SMU, bertubuh atletis, dan memiliki senyum yang luar biasa. Sayang sekali keluargaku semua memusuhinya. Aku hanya bisa jatuh hati dari kejauhan. Aku terpesona pada pria yang masa kecilnya begitu jahat. Kalau saja kesempatan yang baik diberikan kepadanya, seharusnya ia bisa mendapatkan jalan untuk keluar dari kehidupan keluarganya yang keras.

Aku pikir sekolah adalah jalan keluar bagi Dadang. Ia bisa masuk ke SMU Negeri yang sama denganku. Sekolah yang hanya bisa dimasuki anak pandai dengan nilai masuk yang tinggi. Aku berharap dia akan berhasil melalui kepandaiannya, dan ambisinya yang membuatnya tak mau kalah.
***

Sekarang aku menjadi dokter, dan aku pernah bertemu dengan seseorang yang tidak kukenali lagi kalau saja dia tidak menyapaku. Dadang. Memakai pakaian satpam di sebuah mall. Wajahnya nampak tua dan rambutnya agak botak. Ketika menatap wajahnya, aku mencoba mengingat ketampanannya pada masa lalu.

Dadang tidak bersikap sungkan padaku. Ia tersenyum dan menyapaku, menyebut namaku tanpa embel-embel Bu. Seorang teman lama. Kami saling menanyakan kabar. Menanyakan berapa jumlah anak. Tinggal dimana. Sejumlah pertanyaan dan komentar ramah tamah biasa.

“Nurul, kamu kelihatan masih muda dan semakin cantik....” ucap Dadang tanpa basa-basi. Menyatakan apa yang dipikirkannya begitu saja. Tersenyum memaklumi perbedaan garis hidup antara dirinya dengan sang kawan.

Ketika aku berjalan meninggalkannya, menuju toko buku Gramedia yang menjadi tujuanku, dalam hatiku bertanya-tanya: “Kemana ambisi seorang anak yang tidak pernah mau kalah itu?” Ambisi itu berakhir dengan sebuah seragam putih biru dan topi seorang satpam. Aku merasa menyesal bahwa Dadang tidak mencapai sesuatu yang aku pernah harapkan untuknya. Dia seorang anak pemarah bila keinginannya untuk menang atau mencapai sesuatu tak tercapai. Entah itu dalam permainan kanank-kanak, maupun pelajaran di sekolah.
***

Wajah dapat menggambarkan keberhasilan dan kemiskinan. Seorang temanku pernah mengatakan begitu sebagai lelucon. “Wajahku semakin tua semakin tampan, pertanda aku seorang yang sukses....” katanya menyombong. Itu karena wajahnya jelek sekali sewaktu muda. Aku mengenalnya sejak di sekolah.

Aku percaya bahwa ukuran keberhasilan tidaklah selalu harus duniawi. Aku mengenang wajah satpam itu, tersenyum ramah. Sorot matanya lembut. Wajahnya teduh. Sebuah tampilan wajah seorang yang baik hati dan jujur. Tidak ada garis yang keras atau sorot kemarahan di masa lalu. Meski wajahnya nampak tua dan miskin, namun diliputi kedamaian dan penerimaan.

Sebaliknya, teman baikku yang lain, seorang direktur rumah sakit dan dokter selebritis yang sering tampil sebagai narasumber di televisi itu, justru garis wajahnya semakin menampakkan keangkuhan. Aku masih ingat, saat di sekolah dulu dia sangat peragu dan seorang pengikut saja dalam segala hal: permainan maupun kegiatan kelompok di sekolah. Selalu berada di belakang anak-anak yang lain dan khawatir bila tidak diajak masuk ke dalam kelompok. Selalu mendapatkan pertolongan anak yang lain untuk terlibat dalam suatu kegiatan bersama, pertolongan untuk masuk dan diterima oleh anggota kelompok lainnya. Selain itu, wajahnya jelek dan memelas.
***

Pada sebuah reuni SMU, aku bertemu lagi dengan Dadang. Dia memperkenalkanku pada istrinya. Seorang wanita yang mungkin “pernah” cantik kalau saja kesusahan tidak mempercepat wajahnya menjadi tua seperti suaminya. Wajah perempuan itu ramah dan penuh senyuman. Suaminya merangkul pundaknya. Mereka terkadang saling berpandangan dengan penuh kasih sayang.

Sementara itu, temanku yang sukses dan berbangga diri itu hadir dengan istrinya yang berwajah angkuh, sangat menonjolkan diri, dan semua mata menyorotinya dan kemudian saling berpandangan. Seorang perempuan yang nampak galak dan tak segan-segan menampakkan kekuasaannya terhadap suaminya di hadapan publik. Aku tahu itu karena sudah beberapa kali bertemu dalam forum para dokter yang dipimpin oleh suaminya.

Aku rasa, kebahagiaan Dadang memiliki format yang berbeda dari harapan yang pernah ada dalam pikiranku dulu. Ketika aku menjadi musuh kanak-kanaknya karena sebuah persaingan dan kemudian di masa remaja permusuhan itu berubah menjadi rasa simpati. Aku pernah berharap Tuhan membuktikan bahwa seseorang dapat mengubah nasibnya karena Tuhan maha adil.

Mungkin aku harus mengubah pemahamanku tentang Tuhan dan keadilan-Nya. Sayang, aku kurang relijius dan kemudian tak berhasil memperoleh pemahaman yang lebih baik. Setahuku, menjilat dan menyuap akan lebih menyokong keberhasilan di negeriku yang korup ini. Bukan keteguhan hati yang jujur.

Akhirnya, aku percaya bahwa ada format lain dari keberhasilan. Bukan jenis pekerjaan. Bukan pula jabatan. Begitu saja.
***

Paman

Herman tidak pernah merasa dekat dengannya. Tidak mengenalnya. Kanak-kanak selalu ingin bersahabat. Tetapi orang dewasa menjaga jarak. Tidak mau mendapat kesusahan dari kerabat dan keponakan-keponakannya yang banyak. Apalagi bila seorang paman yang kaya dengan perjuangan yang panjang dan penuh keringat.

Setiap tahun uwak, paman, bibi, keponakan, sepupu, dan pinisepuh, bertemu beberapa kali. Lebaran. Acara pernikahan. Acara kematian. Sunat seorang anak dalam keluarga. Semua bersalaman dan saling bertegur sapa. Tetapi jarak tetap dijaga. Herman menyebut pinisepuh untuk semua orang yang lebih tua dari orang tuanya, yaitu kakek nenek dan termasuk paman dan bibi dari orang tuanya.

Paman tak pernah bertanya tentang sekolah keponakannya. Tidak tentang cita-citanya. Atau tentang hal-hal yang menunjukkan keakraban. Apalagi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Masalah utama pasti uang. Keluarga dengan anak banyak, biaya pendidikan pasti akan selalu menjadi kesulitan.

Keponakan senang mendapat nasihat-nasihat dari paman. Tapi kalau masalah utamanya bukan memerlukan nasihat melainkan sedikit kemurahan hati dengan uang, lebih baik seorang paman tidak memberi nasihat.

Seingat Herman, pamannya itu tak pernah memberi nasihat. Hanya berbicara beberapa kalimat sapaan saat berjumpa.

Jadi, Herman tidak mengenal pamannya itu. Hanya tahu dari kulit luarnya.
***

Dibandingkan dengan ayah Herman, pamannya itu lebih berhasil dalam jabatan, ekonomi, dan juga relasi sosial. Keberhasilan dalam pengertian yang berlaku di masyarakat Indonesia. Mungkin begitu. Herman mencoba mengerti perbedaan ayahnya dengan adik kandungnya itu.

Ayah Herman memiliki rumah yang sederhana sekali ketika menyerahkan begitu saja rumah dinas yang sangat bagus. “Lebih baik rumah sendiri, meskipun sederhana...” begitu katanya. Herman sangat sakit hati pada ayahnya pada waktu kitu. Sakit hati karena keluarganya menempati rumah di perkampungan, saat itu masih di pinggir Kota Bandung.

Kampung yang hijau dan pernah memiliki sawah, kebun dan rumpun-rumpun bambu di pinggir kalinya itu, tiga puluh tahun kemudian sudah berada di tengah kota yang padat dengan bangunan. Hilang juga rumah-rumah berkaki yang ada di sekeliling rumah Herman pada masa kanak-kanak.

Ayah memakai motor vespa, ketika adiknya sudah memiliki dua mobil dengan rumah yang bagus dilengkapi garasi. Kelima anak paman masing-masing punya sepeda sehingga garasi itu pun cukup besar untuk memuat semuanya. Sedangkan Herman harus berpuas diri menggunakan sepeda bergantian dengan kakak-kakak dan adik-adiknya. Hanya ada satu sepeda untuk tujuh bersaudara itu.

Paman sering masuk koran lokal karena jabatannya. Pernah juga menjadi berita karena kasus korupsi. Dua tahun kemudian jabatannya naik dan Herman melihatnya bertambah kaya. Rumahnya ganti dengan yang lebih mewah.
***

Herman tahu ibunya sering kesulitan saat ganti semester. Biaya sekolah. Selalu saat itu menjadi momen keluhan ibunya terhadap sang paman. “Apakah dia lupa bahwa sekolahnya dibiayai oleh ayahmu?” tanyanya. “Aku tidak meminta, tapi meminjam. Akan kucicil pembayarannya....” Ibu selalu mengulang hal itu setiap semester. Ayahku adalah anak sulung, sedangkan paman yang kaya merupakan anak ke-6 dari 8 bersaudara.

Paman khawatir pinjaman itu hanya basa-basi. Sebenarnya meminta. Pinjaman untuk biaya sekolah bukanlah hal sedikit. Ibu berjanji akan membayar cicilan sampai 6 bulan. Artinya bukan sedikit. Riskan dengan hal itu, paman selalu mengatakan tidak punya karena anak-anaknya pun menghadapi semesteran. Begitu dugaan Herman.

Tidak pernah pamannya itu memberi uang pada keponakan-keponakannya. Sekalipun hanya untuk sekedar jajan. Apalagi memberi uang untuk pembeli buku atau uang sekolah bulanan. Keponakan-keponakan sebanyak itu. Sebaiknya tidak pernah memberi apa-apa karena akan sangat menyulitkan.

Sesudah dewasa, Herman merasa maklum saja. Itulah jaman yang terakhir sebuah keluarga memiliki anak banyak. Ayah dan ibunya adalah generasi orang tua beranak banyak yang terakhir. Terimakasih pada Keluarga Berencana karena sekarang kebanyakan keluarga hanya punya dua anak. Terimakasih juga pada jaman yang baru karena sekarang tidak punya anak bisa menjadi sebuah gaya hidup yang bebas atau kepongahan bagi mereka yang mengejar karier. Paling tidak di kota besar bisa.
***

Telepon berdering. Herman mendengar suara ibunya yang sudah tua di seberang sana. “Pulanglah, pamanmu meninggal dunia....” begitu inti pembicaraan ibunya. Herman punya jadwal seminar di luar negeri. Tiket pesawat sudah tersedia untuk penerbangan besok. “Kamu harus pulang. Pamanmu sendiri meninggal. Paman kandungmu...” kata ibunya.

Herman mencoba menjelaskan bahwa dia akan datang setelah pulang nanti. Berarti seminggu kemudian. Ibunya menjadi marah. “Ketika kalian menikah, paman kalian menjadi wali karena ayah kalian sudah tak ada....” Selesai sudah perdebatan itu. Herman berangkat dari Jakarta ke Bandung saat itu juga. Langsung menuju rumah duka.

Seperti yang selalu dialaminya sejak kanak-kanak, Herman bertemu dengan para kerabat. Pinisepuh sudah hampir semua tak ada, kecuali seorang uwak yang berusia hampir 100 tahun dan sudah tidak dapat mengenali siapa pun. Seorang uwak yang berusia 85 tahun dan daya ingatnya masih baik, kecuali berjalannya sudah agak terseok. Sedangkan paman-paman dan bibi-bibi sudah menjadi pengganti pinisepuh yang lama, merekalah yang sudah sepuh-sepuh sekarang. Pikun, tuli, dan pemarah. Ibu Herman sendiri sudah sangat tua, pikun, pengomel, dan ajaib... ia melupakan semua hal-hal tak enak yang terjadi dengan saudara-saudara dari suaminya yang jarang membantu kesulitannya.

Para anak, keponakan, sekarang sudah menjadi para orang tua. Anak-anak mereka pun sudah tak terlalu mengingat hubungan persaudaraan keluarga besar. Anak-anak sekarang hanya mengingat paman dan bibi kandung serta sepupu-sepupunya saja. Tidak mengenal cabang dan ranting kekerabatan yang lebih luas.
***

Herman duduk di atas tikar di hadapan jenasah pamannya untuk berdoa. Tikar dan karpet digelar diseluruh ruang tamu dan tengah. Para pelayat duduk di pinggir-pinggir, sepanjang tembok. Jenasah terletak di tengah ruang tamu.

Kehadiran Herman mengorbankan seminarnya yang penting. Herman tak mengenal pamannya. Tak pernah ada percakapan antara paman dan dirinya sepanjang ingatannya. Ketika kanak-kanak, pamannya hanya bersalaman dengannya sambil berkata pada ibunya “Ini anak yang nomor berapa ya....” Ibunyalah yang menjawab. “Itu si Herman, anak nomor empat...” Pertanyaan yang diulang setiap kesempatan bertemu. Tentu saja Herman maklum dengan hal itu. Karena keponakan terlalu banyak dan wajah anak-anak mudah berubah. Setahun kemudian sudah menjadi anak yang lebih besar atau gemuk, atau kurus, atau botak.

Herman menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengenyahkan pikiran-pikiran kacau itu. Ibunya memperhatikan dan memandangnya dengan tajam. Herman menoleh pada bibinya yang sudah tua dan berlinang-linang air mata menangisi jenasah. Haruskah saya memeluk bibi? Tanyanya dalam hati. Seingatnya, belum pernah ada kekariban serupa itu antara dirinya dengan bibinya.

Ibunya memandang Herman terus. Haruskah aku mengucapkan kata-kata sanjungan bahwa aku kehilangan paman? Herman tidak mengenal pamannya dan tidak merasa kehilangan. Herman menjadi canggung.

Sebagai jalan keluar, Herman menyerahkan sebuah amplop tebal kepada bibinya sambil bersalaman. Mengucapkan ikut belasungkawa sambil menepuk pundak bibinya. Sang bibi menangis dan mengucapkan terimakasih. “Itu Herman, anakku nomor empat....” ibunya mengatakan itu dengan rasa bangga pada pada semua yang hadir di dekat dia. Kemudian kepala-kepala itu mengangguk-angguk sambil memandang dan tersenyum pada Herman. Mereka semua juga melihat amplop yang tebal itu. Para orang tua itu memandang Herman dengan wajah lembut. Keponakan yang baik, membantu biaya sang paman. Selama hampir satu tahun keluar masuk rumah sakit telah menghabiskan harta bendanya.

Herman kemudian bergabung dengan saudara-saudaranya yang lain, duduk menunggu pemberangkatan jenasah ke pemakaman. Pamannya meninggal pada usia 76 tahun.
***

Rabu, 15 September 2010

Orang Baik dan Jahat

***
Kang Dedi menerima tamu. Seorang pria tua berumur di atas 70 tahun yang mengetuk rumahnya. Rambutnya telah memutih semua. Wajahnya sangat bersih, lembut dan nampak alim. Memakai kopiah. Sepertinya seorang bapak tua yang baik dan anak-anaknya pasti mencemaskan dia di rumah. Karena bapak itu mengatakan bahwa dirinya tersesat mencari-cari rumah anaknya. Kehabisan ongkos untuk kembali ke Tasikmalaya.

Kang Dedi mempersilakan kakek tua itu untuk minum. Menawarinya makan dulu. Kakek itu pun menumpang shalat ashar.

Kang Dedi seorang yang waspada. Kemudian dia memboncengkan kakek tua itu dengan motor ‘bebeknya’ ke terminal bis, membelikan karcis bis ke Tasik, membekali dengan sebotol minuman, dan menyampaikan pesan agar si kakek berhati-hati dan selamat sampai tujuan. Kakek itu berkali-kali mengucapkan terimakasih dan melambaikan tangannya kepada kakakku ketika bis mulai bergerak.

Dini yang masih di SMA, bertanya kepada kakak lelakinya itu: “Kenapa harus diantar sampai ke terminal bis?” Setahunya lelaki tua itu meminta ongkos angkot untuk ke terminal Cicaheum dan bis untuk ke Tasikmalaya. Kakaknya tinggal menaikkannya ke angkot yang akan membawa si kakek langsung ke terminal Cicaheum tanpa harus jauh-jauh mengantarnya.

Berbulan-bulan kemudian mereka kedatangan tamu yang sama. Kakek yang tersesat jalan itu. Kang Dedi mendengarkan semua cerita si kakek dengan sabar. Cerita yang sama seperti kali pertama. Setelah selesai cerita si kakek, baru Kang Dedi mengambil gilirannya. Diberi nasihatnya si kakek tentang dosa kalau berdusta atau menipu. Kalau mencari uang dengan cara yang tidak halal. Juga dinasihatinya agar si kakek ’eling’ (sadar diri) bahwa dirinya sudah tua dan harus mempersiapkan diri untuk kembali kepada Gusti Allah. Harus berbuat baik, bersih hati dan melakukan banyak ibadah. Supaya masuk surga.

Wajah kakek itu tertunduk. Tetapi kata-kata yang mengalir dari mulut Kang Dedi nampaknya tak menggerakkan perasaannya. Malu. Rasa bersalah.

Kakek itu sudah sangat tua. Kepikunannya membawanya kembali ke rumah yang sama. Orang baik pun tentu harus memaklumi kakek penipu itu.
***

Dunia ini dihuni oleh orang baik dan jahat. Orang jahat lebih militan, agresif dan tak kenal lelah. Orang baik lebih bimbang, tak percaya diri, dan menyerah.

Seorang ibu mengetuk pintu rumah. Kemudian dengan berurai air mata menyampaikan permohonan maafnya atas kedatangannya dan memperlihatkan luka yang buruk di pergelangan kakinya. Memohon bantuan untuk berobat ke rumah sakit dan cerita kecelakaan yang menimpanya.

Orang baik yang menyadari bahwa dirinya sedang ditipu, akan segera mengakhiri sandiwara itu dengan memberikan uang seribu atau mungkin juga lima ribu rupiah. Paling tidak telah terhindar dari tertipu puluhan ribu rupiah yang dimintai.

Orang jahat akan tanpa malu menerima pemberian itu. Berjalan terpincang-pincang sebentar dan kemudian di ujung jalan berjalan biasa. Lantas berjalan terpincang-pincang lagi dan mengetuk pintu rumah lainnya.

Kemudian ditemukannya orang yang percaya pada penderitaan dan kemalangannya. Memberikan dua puluh ribu rupiah dan makanan. Mengantarkannya pulang sampai ke sebuah lokasi yang menurut ibu itu tempat tinggalnya. Kemudian orang baik tak mau bersusah payah untuk membuktikan apakah benar ibu itu tinggal di sana karena gang menuju rumahnya sangat berbelit, seperti ular yang melata ke dalam relung pemukiman kumuh.
***

Seorang teman SD datang ke rumah Dini, menyatakan kegembiraannya bertemu dengan teman sekolah masa kecilnya. Menyatakan bahwa dirinya mendapat tugas untuk mendata teman-teman dalam rangka reuni. Meminta kontak nama di facebook Dini dan teman-teman lainnya. Bersemangat menyatakan bahwa dirinya salah satu panitia reuni itu yang bertugas mengkontak dan menemukan alamat-alamat. Dini mendapatkan fotokopi daftar nama teman-teman SD yang diperoleh temannya dari sekolah dengan membongkar arsip lawas.

Sekitar satu jam berbincang bersama, Dini sempat berfikir bahwa perempuan itu tak terlalu dikenalnya selama di sekolah dulu meskipun memang benar teman satu sekolahnya. Tetapi perempuan itu begitu ramai bercerita tentang masa sekolah, menyebutkan banyak nama teman di sekolah dulu, dan bahkan bersama-sama Dini membuka komputer dan masuk ke facebook untuk mencari teman-teman seangkatan mereka.

Setelah minum teh dan kue bersama, makan siang, dan shalat dhuhur, sang teman kemudian mengatakan bahwa dia besok akan ke Jakarta untuk menengok ibunya yang sakit. Seraya menyatakan rasa tak enaknya, sang teman mengatakan bahwa dirinya sedang kesulitan uang untuk ongkos ke Jakarta dan cerita-cerita tentang adik-adiknya yang masuk sekolah dan membutuhkan biaya. Bahwa dia akan memiliki uang tak lama lagi dan dapat mengembalikan pinjaman dalam 3 hari saja. Pinjamannya sebesar seratus lima puluh ribu rupiah untuk transport ke Jakarta pulang pergi.

Dini berfikir sebentar, kemudian memutuskan untuk menghibahkan saja uang yang diminta itu. Berharap bahwa dirinya tidak bersyak wasangka terhadap seseorang yang mungkin benar-benar membutuhkan, tetapi juga mengikhlaskan bila dirinya sedang dalam proses penipuan.

Sebulan kemudian beberapa teman di facebook mengirim sebuah email kelompok untuk saling menginformasikan tentang kedatangan teman SD yang datang untuk mengajak reuni, bertamu beberapa jam, dan kemudian berakhir dengan peminjaman uang.

Dini terpaksa mengakui bahwa melalui dirinyalah orang itu mendapatkan kontak facebook mereka dan kemudian satu per satu dihubungi dan didatangi rumah demi rumah.

Entah berapa jumlah total uang yang berhasil dikeruknya karena seorang teman yang orang tuanya kaya berhasil dibujuk untuk meminjamkan uang sebanyak satu juta rupiah dengan alasan kekurangan biaya untuk kakaknya yang masuk ke Unpad. Anak yang pandai dan biaya senilai tujuh juta rupiah, kekurangan ”hanya” satu juta rupiah, menjadi rangkaian cerita yang tertata dengan rapi.

Persoalan klise, cara yang klise, dan pikiran klise bahwa mungkin saja kali ini bukan sebuah cerita tipuan. Ternyata tertipu dengan cara yang sama seperti korban lainnya yang sudah pernah didengar kisahnya beberapa kali.

Teman sekolah Dini itu masih sangat muda, namun sudah memilih jalan kejahatan yang lebih memberinya keuntungan seketika.
***

Telepon di kantor berdering dan suara menangis histeris di seberang sana menularkan kepanikan pada si penerima telepon. Telepon berpindah kepada Kang Dedi atas permintaan istri Pak Benny, salah satu stafnya, yang berbicara dengan terbata-bata mengabarkan bahwa suaminya kecelakaan dengan luka parah di kepalanya. Pak Benny sekarang ada di Rumah Sakit Hasan Sadikin untuk segera masuk ruang operasi. Seseorang yang mengaku dari rumah sakit menelpon ke rumahnya dan memberikan nomor handphone dokter yang akan menangani operasi. Membujuk wanita yang shock dan histeris itu untuk tenang dan segera berangkat ke rumah sakit dan bertemu dengan dokter yang menunggunya menandatangani surat persetujuan operasi. Selain itu juga harus menyerahkan sejumlah uang senilai lima juta untuk pembayaran uang muka biaya operasi.

Dengan pikiran kalut, istri Pak Benny terpaksa menelpon ke kantor suaminya karena tidak memiliki uang sebanyak lima juta. Meminta kantor untuk menolong. Pak Benny berdiri di samping atasannya yang sedang menerima telepon sambil memandang ke arah wajahnya dengan mata terbelalak. ”Pak Benny, kepala Bapak tidak pecah kan?” tanyanya.

Pak Benny mengambil gagang telepon dan menenangkan istrinya. Sang istri tak dapat menghentikan tangisnya sehingga akhirnya Pak Benny segera berangkat pulang untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak kecelakaan. Ketika sampai di rumah, Pak Benny menemukan para tetangga sudah banyak yang berkumpul karena mendengar suara tangis yang keras dari istri dan anak-anaknya.

Penipu itu berharap bahwa istri Pak Benny memiliki uang lima juta, tanpa berpikir panjang lagi segera mengambilnya dan berangkat langsung ke rumah sakit sesuai permintaannya. Mungkin usahanya akan berhasil kalau saja yang dimintanya dua juta rupiah saja karena uang sejumlah itu ada. Kawanan penipu itu akan mencoba lagi dan menemukan korban yang lebih tepat.
***

Orang jahat tumbuh di lahan subur di negeri ini. Mulai dari penipu profesional sampai orang yang hanya gemar menipu daya saja karena menguntungkan. Politisi busuk lebih berkuasa daripada politisi baik. Orang baik tersisihkan dan koruptor menjadi pemimpin.

Sedangkan orang baik kehilangan kepercayaan dirinya. Tak ingin melakukan perlawanan terhadap para penjahat. Cukup mencari selamat. Hakim dan jaksa baik terlibas dalam keadaan dan bungkam.

Kecurigaan sering menyelimuti hati orang baik, sekalipun nilai hidup yang diajarkan orang tuanya dahulu adalah larangan untuk su’udzon kepada sesama. Berprasangka baiklah, kata orang tua dahulu.

Setiap datang orang yang meminta pertolongan –seperti salah seorang bibi kandung yang datang meminjam sejumlah uang untuk biaya masuk sekolah anak bungsunya- menimbulkan prasangka pada Kang Dedi. Bukankah bibi membeli TV baru minggu yang lalu? Tanyanya.

Bibi tersinggung dan pulang dengan perasaan marah. Meskipun diterimanya uang pinjaman sebanyak dua juta rupiah, namun dilancarkannya pembalasan bibi terhadap keponakannya itu. Bibi menelpon saudara perempuannya untuk menyampaikan betapa hatinya sakit karena ucapan keponakannya itu. Telepon ini menjalar ke berbagai penjuru seperti sebuah jaring laba-laba dan akhirnya telepon dari ayah Kang Dedi berdering untuk menyelesaikan masalahnya.

Ayah Kang Dedi yang sudah sangat sepuh mengharapkan anaknya meminta maaf atas ucapannya kepada bibinya itu, selaku orang muda kepada orang yang lebih tua. Tapi Kang Dedi menuruti kata hatinya sendiri, tidak meminta maaf pada bibinya.

Beberapa hari kemudian, seorang sepupunya menelpon dan menyampaikan bahwa bibi telah datang kepadanya untuk meminta pinjaman yang sama. Kemudian seorang kerabat lainnya pun menyampaikan informasi yang sama tentang bibi.
***

Pembunuh hati nurani, begitulah sebutan Kang Dedi terhadap orang-orang yang datang kepada orang baik untuk menimbulkan rasa bersalah bila tak punya belas kasihan, tak memberi pertolongan, atau berpraduga bahwa dirinya sedang ditipu.

Pertempuran antara baik dan jahat akan berlangsung sampai akhir jaman. Kekalahan mutlak kebaikan adalah akhir jaman itu.
***